Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Bukti Yang Kembali Hancur


__ADS_3

Disebuah club' mewah,sedang diadakan pesta ulang tahun pernikahan Bimo dan Fatma,acara begitu mewah diiringi musik DJ yang mengalun keras,membuat siapapun yang datang langsung menari mengikuti alunan musik.


Begitupun Tio kepala polisi yang ikut berdisco Ria dengan segelas minuman ditangannya.


Zahra baru saja sampai,ia menghampiri Fatma dan Bimo yang sedang berdiri dipanggung dengan wajah datar,tanpa bersemangat bahkan terkesan malas.


"Sayang,makasih ya kamu udah datang," ucap Fatma memberi kecupan manis kepipi Zahra.


"Zahra,sini peluk ayah," Bimo merentangkan tangan dengan lirikan maut yang justru membuta Zahra merasa sangat jijik.


"Aku langsung pulang ya," ucap Zahra yang tidak merespon Bimo.


Iapun langsung melangkah pergi.


"Zahra," panggil Fatma tapi tidak direspon.


"Lihat anak kamu,selalu saja bikin malu," bisik Bimo ketelinga Fatma.


Fatma terlihat kesal, "Aku akan menangani dia," Fatma beranjak mengikuti Zahra.


Zahra masih terus berjalan,Fatma mengejarnya hingga kelorong pintu masuk yang sepi.


"Zahra," panggil Fatma dengan wajah yang terlihat marah.


Zahra berhenti dan menoleh kearah ibunya, "Apalagi sih Bu?"


"Kamu bisa gak bersikap sopan sama Bimo,dia itu ayah kamu," ucap Fatma pada Zahra.


Saat itu Rama baru datang dengan topi yang ia pakai agar tidak ada yang mengenalinya,ia berhenti saat melihat Zahra bersama ibunya.


Zahra menatap ibunya, "Ayah?aku gak akan pernah sudih mengakui dia sebagai ayah aku," ucap Zahra membuat Fatma semakin kesal.


Rama tidak menyiakan kesempatan ini,ia bersembunyi dibalik dinding lalu mengambil ponsel dan merekam perbincangan Zahra dengan ibunya berharap terselip sebuah bukti disana.


"Zahra,apa sih masalah kamu sama Bimo,kenapa kamu begitu membencinya,padahal dia sangat peduli sama kamu," tanya Fatma yang sudah diperdaya oleh Bimo sampai dia bisa berkata seperti itu pada putrinya sendiri.


"Bu,aku udah berkali-kali bilang,dia bukan pria yang baik,dia itu pria brengsek,"


"Plakkk...." Lagi dan lagi tamparan itu selalu Zahra dapatkan setiap mereka membicarakan tentang Bimo.


"Kamu jaga bicara kamu Zahra,kalau bukan karena Bimo,kamu sudah mendekam dipenjara," pekik Fatma dengan bola matanya yang hampir melompat keluar.


"Sudah aku bilang,aku lebih memilih mendekam dipenjara,daripada menerima bantuan dari pria brengsek itu," ucap Zahra tak kalah tegas dari Fatma.


"Kamu benar-benar gak tau diri,ibu malu mengakui kamu sebagai anak," ucap Fatma lagi dan lagi membuat Zahra tidak percaya bahwa perempuan yang berdiri didepannya itu adalah ibunya.


Apa yang sudah Bimo lakukan pada ibunya,Hati Zahra terasa teriris menatap wajah ibunya yang begitu kejam padanya,ia begitu merindukan ibunya yang dulu,meskipun hidup dalam kesusahan tapi ibunya Tidak pernah berkata kasar padanya.


Fatma melangkah pergi meninggalkan Zahra,Zahrapun berpegangan pada dinding menahan tubuhnya yang terasa lemas dengan tangis yang menghiasi wajahnya.


Rama terdiam dengan ponsel yang masih ia pegang,melihat tangisan Zahra dari layar ponsel membuat hatinya sedikit terenyuh.


Zahra berusaha kuat,ia menghapus air matanya dan kembali melangkah,tapi langkahnya terhenti saat sekilas ia melihat pria bertopi dengan ponsel ditangannya.


Rama menarik ponselnya dan segera berbalik berharap Zahra tidak mengenalinya.

__ADS_1


Zahra sudah menaruh curiga,iapun kembali melangkah menghampiri pria itu.


"Siapa kamu?" Tanya Zahra saat berhadapan dengan pria itu.


Rama bukan pria pengecut yang harus lari ketika sudah tertangkap basah,iapun membuka topinya dan membuat Zahra terperanjat.


"Kamu,"


"Kenapa?" Tanya Rama dengan santainya saat melihat ketegangan Dimata Zahra.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Zahra penuh curiga,apalagi sekilas ia melihat Rama mengarahkan ponsel kepadanya.


"Mencari bukti," jawab Rama dengan tegas.


Zahra membelalakkan matanya.


"Ternyata satu keluarga semuanya terlibat,akan menarik jika kalian semua masuk kesel bersama-sama," ucap Rama menyiratkan pertanyaan kebenak Zahra.


"Apa maksud kamu?"


Rama menatap tajam wajah Zahra, "Tersangka dan juga pelindungnya akan sama-sama masuk penjara,termasuk ibu juga ayah tiri kamu yang kamu bilang brengsek itu," ucap Rama sembari menyunggingkan bibirnya.


Zahra tertegun,jelas jika Rama mendengar percakapannya dengan Fatma.


"Bawa aku dan hukum aku seberat mungkin,tapi jangan seret ibu aku dalam masalah ini," pinta Zahra.


Rama menaikkan kedua alisnya, "Aku sedang tidak memberi pilihan padamu,karena mereka yang bersalah harus menerima hukumannya," ucap Rama lalu melangkah meninggalkan Zahra.


Zahra terdiam sesaat,matanya tertuju pada ponsel yang dipegang Rama,Zahra menghela nafas dan mulai melangkah cepat dan merebut ponsel itu dari tangan Rama yang memang pegangannya tidak terlalu kuat,Zahrapun berlari sekencang mungkin.


"Azahra," pekik Rama yang langsung mengejar perempuan yang membawa kabur ponselnya.


"Aish..." Dengus kesal Zahra dengan nafas terengah Karena terus berlari hingga ditempat parkir.


Rama mendekat dan menarik pundak Zahra,hingga tubuh Zahra oleng dan berbalik langsung berpegang pada lengan Rama dengan erat agar tidak jatuh.


Keduanya terdiam dengan mata yang saling bertemu.


Rama berusaha mengambil ponselnya tapi Zahra segera bangun dan tidak membiarkan Rama mendapatkan ponsel itu.


"Zahra," pekik Rama yang berusaha hingga ia memeluk tubuh Zahra dari belakang,Zahra berusaha keras menyembunyikan ponsel itu diperutnya tapi Rama tetap tidak menyerah.


Zahra menatap Rama saat tangan Rama melingkar erat diperutnya,bahkan hembusan nafas Rama dileher Zahra,membuat bulu kuduk Zahra berdiri.


Ramapun terdiam saat sadar akan posisinya,ia segera menjauh dengan wajah yang sedikit kikuk.


Keduanya malah jadi salah tingkah setelah pertempuran yang cukup sengit.


"Kembalikan ponsel itu," ucap Rama mengulurkan tangannya.


Zahra menggelengkan kepalanya.


"Azahra," tatap Rama dengan tajam.


Zahra melemparkan ponsel itu keaspal saat sebuah mobil melintas dan "prakkk" ponsel itupun hancur tergilas ban mobil.

__ADS_1


Rama menganga,untuk kedua kalinya ponsel yang berisi bukti hancur didepan matanya.


"Aku akan ganti," Zahra mengambil uang ditasnya lalu memberikannya pada Rama.


"Ini udah lebih dari cukup,"


Rama menyeringai tajam kearah Zahra,dan mendorong perempuan itu hingga tubuhnya menempel dimobil lalu mengunci satu tangannya.


"Tidak semuanya bisa kamu nilai dengan uang Azahra,ingat,Allah yang akan memberikan karma keperempuan seperti kamu," ucap Rama dengan tegas lalu melepaskan Zahra dan melangkah pergi dari hadapan Zahra.


Zahra tertegun,sekarang kesalahan apalagi ynag sudah ia perbuat,dosa apalagi yang sudah ia lakukan.


"Ya Allah," sebut Zahra sembari menyingkap rambutnya dengan perasaan sesal yang singgah dihatinya.


Rama sampai dirumahnya,ia langsung merebahkan tubuhnya kesofa dengan perasaan kesal yang masih mengikutinya sampai kerumah.


Kenapa ia merasa tidak pernah bisa mengendalikan emosi ketika bersama dengan Zahra,ia lupa bahwa Zahra seorang perempuan dan pantang baginya berbuat kasar pada perempuan,tapi tanpa ia sadari ia selalu melakukan itu pada Zahra.


Pikirannya benar-benar terasa buntu,perempuan itu sudah membalikkan dunia Rama yang dulu begitu tenang dan damai menjadi kehidupan yang dipenuh dengan dendam dan rasa benci.


"Hana...seandainya kamu masih disini," gumam Rama karena cuma Hana yang bisa membuatnya nyaman ketika sedang kalab seperti saat ini.


Zahra dalam perjalanan pulang,ia berhenti disebuah counter Hp.


Setelah membeli sebuah HP dia kembali masuk kemobilnya lalu menghubungi seseorang.


"Kirimkan aku alamat rumah Rama," ucap Zahra pada Tiara.


Tiara yang sudah berada dirumah merasa heran dengan permintaan Zahra.


"Kamu mau ngapain sih Ra,?" Gak usah cari masalah dech," ucap Tiara yang merasa cemas jika Zahra bertemu dengan Rama.


"Justru aku mau menyelesaikan masalah, kamu kirim ya," ucap Zahra lagi.


Tiara terdiam sejenak, "Aku tanyain dulu sama Bu Siti," jawab Tiara karena dia sendiri juga tidak tahu tempat tinggal Rama.


"Makasih ya," ucap Zahra lalu mematikan teleponnya.


Beberapa menit kemudian,Zahra sudah menerima pesan dari Tiara,iapun segera mengemudikan mobilnya menuju keRumah Rama.


Rama masih terbaring ditempat yang sama meskipun matanya terpejam tapi ia tetap tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Ting tung," suara bel rumah yang berbunyi.


Rama membuka mata dengan dahinya yang berkerut,siapa yang malam-malam begini datang kerumah,apa Rian?


Ramapun beranjak menuju kearah pintu,matanya terbuka lebar saat melihat siapa yang berdiri dibalik pintu.


Zahra sedikit kikuk melihat ekspresi wajah Rama.


"Aku cuma mau ngasih ini, dan maaf," ucap Zahra dengan suara gugup.


Rama menerima barang itu dan melihatnya,ia menyunggingkan bibirnya.


"Apa kamu pikir aku membutuhkan ini,aku bisa membelinya sendiri,yang aku butuhkan adalah bukti yang akan menyeret mu kepenjara," ucap Rama lalu mengembalikan barang itu pada Zahra.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu mau melakukan ini padaku,bukankah kamu juga tersiksa dengan keadaan seperti ini?"


Keduanya saling menatap tajam.


__ADS_2