Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Perasaan Aneh


__ADS_3

Tiara langsung bangun dari duduknya saat melihat nama diponselnya yang berbunyi,iapun sedikit menjauh dari para muridnya yang sedang mengerjakan latihan.


Arman mengerutkan dahi melihat sikap Tiara.


"Zahra,ini beneran kamukan?" Tanya Tiara dengan wajah begitu cemas.


"Iya ini aku," jawab Zahra.


"Kamu kemana aja sih,kenapa pergi gak bilang-bilang,kenapa gak bisa dihubungi,aku khawatir banget sama kamu,Ra,kamu gak papakan?gak terlukakan? Sekarang kamu dimana?" tanya Tiara beruntun.


Zahra tersenyum mendengar sahabatnya itu begitu mengkhawatirkannya hingga mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Aku baik-baik aja,nanti sisanya aku ceritain dirumah, yang pasti sekarang kamu harus jemput aku bisakan?" Ucap Zahra.


"Dimana?" Tanya Tiara.


"Didaerah Marga,nanti aku Sherlock ," jawab Zahra.


Tiara terdiam ,Marga tempat yang cukup jauh, apalagi jalanan yang melewati hutan,Tiara terlihat ragu jika harus pergi sendirian,iapun melihat kearah Arman dan tersenyum.


"Ya udah,aku jemput kamu," jawab Tiara.


"Makasih ya,aku tunggu," ucap Zahra lalu menutup telfonnya.


Zahra kembali kepos polisi karena saat menelfon ia sedikit menjauh dari sana.


Ia melihat Rama dan Fatir sedang berhadapan dengan wajah tegang sepertinya sedang membahas sesuatu yang penting.


"Aku akan segera menyusun laporan nya dan sesegera mungkin melakukan penyergapan ketempat itu, sebelum itu jangan lakukan tindakan apapun yang dapat membahayakan diri kamu," ucap Rama.


Fatir menganguk, "Tapi,apa bukti itu cukup untuk membawa Bimo kepengadilan?" Tanya Fatir memastikan.


Rama terdiam pasalnya ia hanya menemukan bukti tentang adanya produksi ilegal tanpa bukti jika memang Bimo terlibat dengan kasus itu, Iapun menggaruk pelipisnya karena merasa bingung.


"Aku yang akan bersaksi jika Bimo memang terlihat dalam kasus ini," ucap Zahra yang sedari tadi sudah mendengarkan percakapan antara mereka,tapi tidak tahan saat mendengar nama Bimo disebut.


Rama menatap kearah Zahra, "Kasus ini tidak ada hubungannya denganmu,jadi tidak perlu ikut campur," ucap Rama.


Zahra tidak mempedulikan pendapat Rama dan justru melihat kearah Fatir, "Dia yang menyuruhku datang ketempat ini,dan aku bertemu langsung dengannya dimalam itu,apa itu bisa dijadikan bukti,kalo tempat itu memang miliknya?" Tanya Zahra.


Rama mendengus kesal,Fatir melihat kearah Rama.


"Tentu,itu bukti yang cukup kuat kalau memang Bimo terlibat dalam kasus ini,yakan Ram?" Tanya Fatir meminta pendapat Rama.


Meskipun malas mengakuinya tapi itu memang benar,iapun menganguk pelan.


Zahra tersenyum karena mendapat pengakuan dari Rama.


"Bagus,kali ini Bimo tidak akan bisa lolos, karena kita sudah punya saksi untuk memberatkannya," ucap Fatir.


"Tapi apa kamu yakin,akan melawan ayah tiri kamu sendiri?" Tanya Rama sembari menatap Zahra.


Fatir menganga, ternyata Bimo ayah tirinya Zahra,iapun kembali ragu kasus ini akan berhasil.


"Aku akan memberikan kesaksian jika memang diperlukan,jadi hubungi saja aku," ucap Zahra lalu melangkahkan kakinya,ia berhenti dan menoleh kearah Rama, "Jangan pernah lagi menyebut bahwa pria biadab itu adalah ayahku,aku akan sangat tersinggung," ucap Zahra lalu kembali melangkah keluar.


Rama tertegun mendengar ucapan Zahra dengan ekspresi wajahnya yang terlihat marah,apa sebenarnya masalah Zahra dengan Bimo sehingga menyebut ayah tirinya itu biadab,dan lagi apa karena ini Zahra malam itu kabur dari Villa Bimo? sungguh membuat Rama sangat penasaran.


"Jadi gimana Ram?" Tanya Fatir lagi.


"Kita lakukan dulu penyergapan, setelah itu kita akan mencari bukti keterlibatan Bimo," jawab Rama memberikan solusi terbaik tanpa harus melibatkan Zahra.


Fatirpun hanya menganguk.


Zahra duduk dikursi, dibawah sebuah pohon rindang yang membuat udara sejuk meskipun matahari bersinar cukup panas,ia memejamkan matanya membiarkan desiran angin menerpa wajahnya, meskipun sejuk tapi hatinya masih saja terasa sesak.


Apalagi jika teringat ucapan Rama yang selalu menindasnya,"Kenapa rasanya begitu sakit, siapa dia sehingga bisa membuatku merasakan perasaan seperti ini,"


Zahra tercekat saat merasa sesuatu jatuh dipangkuannya,iapun membuka mata dan melihat sebungkus roti.


Zahra menatap kearah pria yang sedang berdiri disampingnya sembari melahap roti ditangannya.


"Aku gak lapar," ucap Zahra.

__ADS_1


Rama menyunggingkan bibirnya lalu duduk disebelah Zahra, "Kalau begitu aku akan memakannya," Rama ingin mengambil roti itu kembali tapi Zahra mendahuluinya.


"Kenapa selalu mengambil milikmu kembali,bukannya kamu sudah memberikannya padaku," Zahra memprotes sikap Rama.


"Tadi kamu bilang gak lapar,daripada mubazir,mendingan aku makankan," Rama berusaha mengambilnya tapi Zahra tidak memberikannya.


"Aku akan menyimpannya untuk nanti," ucap Zahra,Ramapun hanya diam, keduanya kembali diam.


"Malam itu,kenapa kamu pergi dari Villa,apa terjadi sesuatu?" Tanya Rama yang ingin mengobati rasa penasaran dihatinya.


Zahra terdiam,ia teringat pada pria biadab itu.


Rama ingat betul saat Zahra meminta untuk membawanya pergi dari tempat itu dengan ekspresi ketakutan.


"Tolong bawa aku pergi dari sini,"


"Aku merasa hubunganmu dengan ayah tirimu tidak cukup baik," ucap Rama lagi sembari melirik kearah Zahra.


"Sudah aku bilang jangan pernah menyebutnya ayah tiriku,dia adalah pria biadab,tidak punya etika,dan...." Zahra menyudahi kata-kata kasarnya.


"Apa yang dia lakukan padamu sehingga kamu sangat membencinya?" Tanya Rama yang semakin penasaran.


Zahra terdiam dengan wajah gugup dan bingung harus menjawab apa.


"Yang pasti dia bukan pria yang baik,dan dia pantas untuk dibenci," jawab Zahra yang masih merasa sungkan jika harus membuka semuanya pada Rama.


Rama terdiam melihat kearah perempuan yang terlihat berapi-api ketika mendengar nama Bimo disebut, "Kenapa dia lebih memilih tersesat dihutan belantara daripada harus bermalam diVilla itu,apa pria itu mencoba melecehkannya?" batin Rama merasa tidak percaya dengan apa yang sudah ia pikirkan.


"Kalau kamu begitu membencinya kenapa kamu mau datang ketempat ini untuk menemuinya?" Tanya Rama lagi.


Baru kali ini Rama dan Zahra bisa mengobrol dengan tenang tanpa ada selisih paham diantara mereka.


"Karena nenek,dia bilang dia tahu keberadaan nenek,tapi ternyata dia menipuku,aku yang terlalu bodoh sudah mempercayainya," jawab Zahra yang masih menyesali kebodohannya dan terlihat begitu sedih saat mengingat neneknya.


Rama ingat betul saat Zahra menangis didepannya saat nenek meninggalkannya.


"Pasti nenek adalah orang yang sangat berharga untukmu?"


Zahra menganguk "Eem,aku bahkan rela melakukan apapun demi nenek, karena dialah orang yang paling peduli padaku, bahkan melebihi ibuku sendiri," jawab Zahra.


Asalkan tidak menyangkut soal kasus Hana,Rama begitu mudah merasakan duka dimata Zahra.


"Apa sudah ada yang menjemputmu?" Tanya Rama.


"Mereka masih dijalan," jawab Zahra.


"Baiklah," Rama beranjak dan melangkah.


"Apa kamu akan pulang duluan?" Tanya Zahra.


Rama menoleh kearah Zahra, "Aku akan menunggumu," jawab Rama lalu melanjutkan langkahnya.


Deg...


Zahra terdiam,terjadi sesuatu pada hatinya,berdebar begitu keras,ia mengarahkan tangan kedadanya.


"Perasaan apa ini ya Allah? Kenapa seperti ada ribuan bunga yang jatuh dari atas langit,"


Zahra menghadap keatas dan membayangkan ada ribuan kelopak bunga yang jatuh kearahnya,begitu merasa bahagia.


Ia kembali melihat Rama yang semakin menjauh sembari tersenyum.


"Makasih ya kamu udah mau nganterin aku buat jemput Zahra," ucap Tiara pada Arman yang sedang mengemudi.


"Zahrakan teman aku juga,jadi kamu gak perlu berterimakasih,aku senang bisa membantunya," jawab Arman.


Tiara tersenyum,Arman memang pria yang sangat baik.


"Jadi,kapan kamu akan berangkat mengajar ketempat itu?" Tanya Tiara membuang waktu dengan mengobrol agar tidak bosan.


"Ehm... sepertinya mengajar disini lebih menyenangkan,aku akan mencoba mengajukan hal itu,agar bisa tetap mengajar disini," jawab Arman.


Tiara terlihat bahagia mendengar jawaban Arman, "Benarkah,apa yang membuatmu tidak ingin pindah dari sini?"

__ADS_1


Arman terdiam lalu tersenyum malu, "Ada seseorang," jawab Arman sembari menatap sekilas kearah Tiara.


Deg...


Kenapa Tiara merasa malu mendengar Arman mengucapkan hal itu,ia begitu berharap jika seseorang itu adalah dirinya.


"Jadi Zahra sudah ketemu?" Tanya Fatma antusias saat Ana memberikan kabar baik tentang putrinya.


"Iya Bu,Tiara sedang kesana buat jemput Zahra,kedaerah Marga," ucap Ana.


Fatma terdiam, "Daerah itukan tempat Bimo...." Batin Fatma.


"Ya udah,nanti kalau Zahra sudah sampai aku kabarin lagi ya Bu," ucap Ana.


"Iya Ana, terima kasih," Fatma mematikan telepon,wajahnya berubah menjadi waspada dan mulai berpikir untuk apa Zahra pergi ke Marga,apa ini ada hubungannya dengan Bimo?


"Tit..tit.." bunyi klakson mobil yang berhenti didepan pos polisi.


Zahra terlihat sangat bahagia melihat mobil itu,Tiara langsung turun dan memeluk erat sahabatnya itu.


"Aku khawatir banget sama kamu,kamu gak papakan,gak ada yang lukakan?" Tanya Tiara sembari memeriksa tubuh Zahra.


"Aku baik-baik aja kok," ucap Zahra yang kembali memeluk Tiara.


Arman turun dari mobil dan menghampiri mereka, "Kamu baik-baik aja?" Tanya Arman.


Zahra tersenyum "Maaf ya udah ngerepotin,"


"Gak papa kok," ucap Arman yang tidak merasa repot justru ia terlihat senang bisa membantu Zahra.


"Oya, kalian mau istirahat dulu,pasti capekkan?" Tanya Zahra.


Tiara dan Arman saling melihat.


"Mending kita langsung pulang aja,takut kemaleman, soalnya tempatnya jauh," ucap Arman.


Tiara menganguk, Zahrapun tidak bisa memaksa.


Rama keluar dari pos dan melihat Tiara juga Arman.


Tiara dan Arman tediam sekaligus terkejut saat melihat Rama.


Tiara mendekati Zahra dan berbisik, "Kok dia bisa ada disini?"


"Ceritanya panjang,nanti aku ceritakan dirumah," jawab Zahra balik berbisik.


"Oh,jadi ini mobil anda?" Tanya Arman.


Rama menganguk, "Kalian mau jemput Zahrakan,cepat bawa dia pulang,dia pasti sangat lelah," ucap Rama membuat mata Zahra langsung menatapnya.


Tiara nyengir, "Bukannya kamu bawa mobil,harusnya kita gak perlu jemput Zahrakan?"


Zahra mencubit lengan Tiara,membuat Tiara melotot padanya.


Arman sebenarnya juga berpikir demikian.


Rama terdiam, "Masih banyak hal yang harus aku urus," ucap Rama lalu menuju kemobilnya dan segera pergi dari tempat itu.


Tiara tidak habis pikir dengan pria bernama Rama itu, "Benar-benar sulit dipercaya,kita menempuh perjalanan hampir 7 jam,padahal dia bawa mobil,apa susahnya sih bawa kamu,kamukan gak berat," ucap Tiara dengan wajah kesal.


"Jadi kamu gak ikhlas neh jemput aku kesini?" Ejek Zahra.


"Bukan gitu Ra,tapi..."


"Udahlah,kamukan tahu masalah aku sama dia,hanya akan ada pertengkaran jika aku satu mobil sama dia,yakan?" Ucap Zahra yang memang dibenarkan oleh Tiara.


"Ya udah, mendingan kita cepat pulang,sebelum gelap," ucap Arman.


Merekapun segera masuk kedalam mobil untuk pulang kekota.


Dalam perjalanan Rama masih mengingat apa saja yang ia lalui dihutan selama bersama Zahra,banyak hal baru yang ia rasakan dihatinya,entah kenapa,hanya saja ada perasaan aneh yang menghampirinya,apalagi saat mendengar bagaimana perempuan yang paling ia benci itu menghadapi banyak masalah dalam keluarganya,rasa simpati itu mulai menjalar kehatinya.


Zahrapun menatap kejendela dan mengingat dua hari yang ia lalui bersama Rama,penuh drama dan air mata,semuanya terasa tidak nyata,apakah ini hanya sebuah mimpi?,ataukah memang sungguh terjadi?, apakah setelah ini hubungannya dengan Rama akan membaik?,atau justru sebaliknya akan semakin buruk,tapi melihat sikap Rama yang tadi sudah mulai lembut membuat Zahra berharap hal baik akan terjadi.

__ADS_1


Biarlah Allah yang memutuskan segalanya.


__ADS_2