
Ponsel Zahra berbunyi,nama Fatma nampak dilayar, dengan berat hati Zahra mengangkatnya.
"Iya Bu," jawab Zahra dengan malas.
"Besok ada acara launching produk baru dikantor Bimo, datanglah,ibu akan memberitahumu alamat nenek dan Aira," ucap Fatma yang terlihat senang karena Zahra sudah menuruti kemauannya.
"Ehm..." Jawab Zahra lalu menutup telepon,ia memandang roti pemberian Rama yang masih berada diatas nakas.
Iapun mengambil roti itu,lalu memakannya dengan lahap,matanya masih berkaca tapi berusaha menahan sesak yang ia rasakan.
Hari ini Rama berkunjung kerumah Aminah, sudah lama tidak datang karena kasus yang begitu membuatnya sibuk,ia berbaring dikamar Hana sembari menatap foto mereka berdua saat pengangkatan Rama menjadi anggota polisi.
"Aku sangat merindukanmu,sangat rindu..." Rama menempelkan foto itu kedadanya lalu memejamkan matanya.
Entah kebetulan atau takdir Tuhan,Zahra siang itu juga berkunjung kerumah Aminah sembari membawa beberapa oleh-oleh,berharap dengan berkunjung ia bisa melupakan segala hal yang membuatnya sedih.
"Assalamualaikum," ucap Zahra saat berada didepan pintu sembari menenteng kantong plastik ditangannya.
"Waalaikumsalam," jawab Aminah yang keluar dari dapur dengan wajah sumringah menyambut kedatangan Zahra.
"Zahra," Aminah menghampiri perempuan yang masih berdiri diambang pintu itu.
Zahra mencium tangan Aminah, "Ibu,aku gak ganggukan?"
Aminah mengusap kepala Zahra, "Gak kok,ibu justru senang kamu main kesini," jawab Aminah.
"Oya,ini aku bawain beberapa bahan masakan buat ibu,sama kue juga," ucap Zahra sembari menunjukkan kantong plastik ditangannya.
"Kebetulan, ibu lagi masak,kamu bantuin ya," ajak Aminah membuat Zahra tersenyum senang,iapun ikut Aminah kedapur sembari membawa bahan makanan yang sudah ia bawa.
Zahra melihat Aminah yang sudah menyiapkan beberapa bahan makanan,cukup banyak jika untuk makan satu orang.
"Ibu banyak banget masaknya?mau ada tamu?" Tanya Zahra.
"Kebetulan,Rama ada disini, jadi ibu masak banyak,biar dia makan disini juga nanti," jawab Aminah sembari memotong sayuran.
Zahra terdiam, "Dia disini?kenapa begitu kebetulan?" Batin Zahra yang mulai bingung dan berpikir apa yang harus dia katakan saat bertemu dengan Rama.
"Zahra,kamu kenapa?" Tanya Aminah yang melihat Zahra melamun.
"Gak papa kok Bu," jawab Zahra sembari tersenyum.
Zahrapun membantu Aminah memasak beberapa menu makanan, meskipun tidak begitu pintar memasak tapi kalau hanya sekedar memotong atau mencuci bahan masakan Zahra juga ahli melakukannya,apalagi Aminah begitu ramah dan kadang mengajari Zahra cara memasak yang benar.
"Kalo ini masakan kesukaan Rama,dulu Hana sering banget masakin ini buat Rama," ucap Aminah sembari mengaduk Sup Iga yang sudah hampir matang.
Zahra menganguk dan benar-benar dengan teliti memperhatikan cara Aminah membuat semua masakan itu.
"Kamu lanjutin sebentar ya,ibu mau ketoilet,ini nanti kalo mendidih tinggal diangkat aja," ucap Aminah,Zahra menganguk tanda mengerti,Aminahpun segera menuju ketoilet.
Rama berjalan menuruni tangga dan mencari Aminah,ia mencium bau masakan dan berpikir jika Aminah pasti didapur,iapun melangkah menuju dapur.
"Bu,aku...." Rama tecekat dan menghentikan langkahnya saat melihat Zahra didapur.
Zahrapun terdiam melihat Rama,keduanya sama-sama diam dengan mata yang saling bertemu.
Sayur sudah mendidih,Zahra yang masih gugup tidak sengaja menyentuhnya dengan tangan kosong.
"Akh..." Pekik Zahra merasakan panas yang teramat ditelapak tangannya.
Rama teringat pada Hana yang sering melakukan hal yang sama ketika memasak,iapun segera mendekati Zahra dan mematikan kompor dengan cepat.
"Kamu gak papa?" Tanya Rama cemas.
Zahra masih terlihat kesakitan,Rama menarik tangan Zahra dan melihat telapak tangannya memerah karena memegang panci yang sangat panas,Ramapun membawa Zahra untuk mencuci tangannya diair mengalir agar panasnya berkurang.
Zahra terdiam menatap pria yang sedang merawat lukanya dengan begitu tulus,Rama mengelap lalu mengambil obat yang biasanya digunakan Hana saat terluka didapur dan mengoleskannya ketangan Zahra dengan penuh hati-hati dan pelan.
__ADS_1
Zahra masih diam, perasaan aneh itu kembali hadir, jantungnya berdebar hebat saat Rama meniup lukanya dengan penuh perhatian,wajahnya memerah melihat perlakuan Rama padanya.
"Masih sakit?" Rama menatap Zahra,keduanya diam.
Rama mulai menyadari jika Zahra bukanlah Hana,iapun segera melepaskan tangan Zahra dan mundur sedikit menjauh,wajahnya terlihat sedikit gugup.
"Maaf," Rama menghela nafas panjang, bisa-bisanya dia terbawa perasaan dan mengira jika Zahra adalah Hana.
"Terimakasih," ucap Zahra pelan.
Keduanya terlihat gugup dan salah tingkah.
Aminah kembali kedapur,dan cemas saat melihat tangan Zahra terluka.
"Zahra,tangan kamu kenapa?"
"Maaf Bu, Tadi Zahra kurang hati-hati,tapi udah gak papa kok," jawab Zahra.
"Lain kali kamu hati-hati ya,ibu jadi ingat sama Hana yang suka ceroboh seperti kamu, untung ada Rama yang selalu siaga untuk mengobatinya," ucap Aminah menatap kearah Rama.
Rama hanya tersenyum tipis,Zahrapun melihat kearah Rama.
"Apa tadi dia berpikir jika aku adalah Hana?" Batin Zahra dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Ya sudah,yuk kita makan,makanannya udah siapkan," ajak Aminah.
"Tapi Bu,aku harus pulang sekarang,masih ada sedikit pekerjaan," ucap Rama yang sebenarnya berusaha menghindari Zahra.
"Rama,kamukan jarang kesini, lagian Ibukan udah masak banyak,nanti siapa yang makan,mubadzirkan," Aminah berusaha membuat Rama agar mau makan bersama.
Rama tidak pernah bisa menolak keinginan ibunya,iapun menganguk ,"Ya udah,aku makan dulu," jawab Rama membuat Aminah merasa senang.
Lalu merekapun makan malam bersama,Rama begitu menikmati makanan kesukaannya,sangat jarang ia bisa makan masakan rumah seperti ini,karena dirumahnya ia selalu memesan makanan secara online,kalau tidak iapun pergi keluar untuk makan.
"Hem,masakan ibu emang yang terbaik," puji Rama sembari melahap dengan nikmat.
Rama langsung diam dan melihat kearah Zahra.
Zahrapun menunduk malu.
"Oya,nanti kamu pulangnya gimana,kan tangan kamu masih sakit," tanya Aminah merasa cemas pada Zahra.
"Gak papa kok Bu,inikan cuma luka kecil,aku masih bisa nyetir," jawab Zahra.
"Ya gak boleh dong,gimana kalau nanti lukanya semakin parah,Ram..." Panggil Aminah dengan wajah mengkode menatap Rama.
Rama sudah sangat mengerti maksud dari ibu yang memanggil namanya.
"Nanti biar aku yang anterin," jawab Rama dengan wajah terpaksa.
Aminah tersenyum, "Thu,biar dianterin sama Rama," ucap Aminah pada Zahra.
Zahra tersenyum tipis,ia tahu Rama begitu terpaksa karena permintaan ibu,tapi iapun tidak bisa menolak karena tangannya memang masih terasa perih.
Suasana sangat hening,bahkan mesin mobil terdengar begitu keras ditelinga,Zahra terlihat begitu gugup,ini pertama kali ia semobil bersama Rama,apalagi hubungan mereka yang buruk membuatnya semakin merasa kikuk.
"Maaf, karena sudah merepotkan," ucap Zahra memecah keheningan malam itu.
"Sudah tahu merepotkan,harusnya kamu bisa menolak keinginan ibu,apa kamu sengaja ingin aku mengantarkanmu?" Jawaban yang begitu menohok membuat Zahra menyesal sudah meminta maaf.
"Harusnya kamu yang menolak kalau memang tidak mau,bukannya kamu sendiri yang bilang mau nganterin, sekarang justru menyalahkan aku, benar-benar tidak manusiawi," balas Zahra membuat Rama menatap sekilas kearah perempuan disampingnya itu dengan sinis.
Saat melewati jalanan yang cukup sepi,Rama tiba-tiba mengerem mobil karena ada sebuah motor yang menghadang mereka.
Zahrapun terkejut dan juga panik,melihat dua orang membawa alat pukul yang turun dan menghampiri mobilnya.
"Mau apa mereka?" Zahra terlihat cemas dan panik.
__ADS_1
Rama tetap bersikap tenang,ia mengambil ponsel dan menelfon.
"Ada begal disekitaran jalan Akrami,cepat kemari," ucap Rama ditelefon.
Begal itu mengetuk jendela mobil disisi kanan dikira.
"Jangan dibuka,biarkan saja" ucap Rama pada Zahra yang mulai ketakutan.
"Turun,kalau tidak aku akan menghancurkan mobil ini," Ancam begal itu yang mulai mengayunkan alat pukulnya.
Rama mulai terpancing, "Tetap diam dimobil dan jangan keluar," ucap Rama lalu iapun membuka pintu mobil dan keluar,Zahra terlihat sangat khawatir pada Rama,pasalnya dua begal itu membawa senjata.
"Mau apa kalian?" Tanya Rama dengan tatapan tajam.
Begal itu langsung mengarahkan alat pukul keRama,untungnya Rama bisa menghindar,iapun langsung menendang tubuh begal itu hingga terpental,satu begal lagi datang dan menyerang Rama,merekapun berkelahi satu lawan dua.
Rama mendapatkan beberapa pukulan diwajahnya,meskipun begitu ia tetap mendominasi permainan.
Zahra semakin terlihat cemas, "Ya Allah,tolong lindungi Rama,"
Rama adalah seorang anggota polisi berkelahi seperti itu sudah biasa baginya,apalagi jika harus melawan rampok atau begal,asalkan tidak dikeroyok terlalu banyak orang,pasti Rama akan bisa mengalahkan mereka.
Dua pembegal itupun tersungkur diaspal setelah Rama berhasil menghajar mereka.
Suara sirine polisi terdengar,rekan Rama menghampirinya.
"Bawa mereka,aku akan mengurusnya dikantor," ucap Rama.
"Baik pak," jawab beberapa polisi yang merupakan bawahan Rama,merekapun menyeret begal itu kedalam mobil polisi untuk membawanya kekantor.
Rama kembali kedalam mobil,Zahra merasa sangat lega, ternyata Rama begitu pandai berkelahi, kecemasannya benar-benar tak beralasan.
"Bibir kamu berdarah," ucap Zahra memberikan sapu tangannya.
Ramapun mengusap bibirnya dengan sapu tangan Zahra,sedikit terasa pedih,tapi bukan luka yang berat,Rama juga menahan perih dipelipisnya yang tergores.
Zahra mengambil plester dikotak obat lalu melihat kearah Rama.
"Apa boleh?"
Rama terlihat sedikit tidak nyaman,iapun menundukkan wajahnya agar Zahra bisa memasangkan plester itu.
Dug..Dug..Dug..
Suara jantung mereka saling bersahutan,apalagi saat mata mereka saling bertemu,debarannya semakin kuat dan cepat.
"Sudah?" Tanya Rama.
Zahra menganguk,dan keduanya segera menjauh,dengan wajah yang sama-sama memerah.
Ramapun kembali menyalakan mesin mobilnya,dan segera mengantarkan Zahra pulang.
Rama langsung pergi kekantor menggunakan taxi,usai mengantar Zahra selamat sampai apartemen.
Rian sedang memeriksa dua begal yang menghadang Rama tadi.
"Bagaimana?" Tanya Rama.
"Bukan begal,mereka dibayar untuk melukai kamu atau mungkin Zahra, tapi mereka tidak tahu yang menyuruh,mereka hanya ditelfon dan mendapatkan bayaran dengan ditranfer," jawab Rian.
Rama terdiam dan mengerutkan dahinya,ia ingat pada surat ancaman yang diterimanya.
"Apa ini ulah Bimo?" Batin Rama dengan wajah yang terlihat marah.
"Selidiki lagi orang yang membayar mereka," ucap Rama lalu ia melangkah pergi dari kantor.
Rian merasa heran dengan sikap Rama yang sedikit aneh.
__ADS_1