
Malam itu,Tiara baru pulang dari yayasan,tapi mobilnya tiba-tiba mogok,iapun kebingungan sembari berjalan kesana kemari hendak meminta bantuan seseorang yang lewat,tapi jalanan juga cukup sepi,ia mengambil ponsel, awalnya ingin menghubungi Zahra,tapi ia ingat Zahra ada acara malam ini,jadi dia mencoba menghubungi Ana,tapi teleponnya tidak diangkat, sepertinya Ana masih marah pada Zahra sehingga pada Tiarapun dia juga ikut merajuk.
Tiara menghela nafas dan berdiam untuk berpikir sesaat,hingga sebuah motor berhenti didepannya.
Tiara mengerutkan dahinya,menebak siapa pria masih mengenakan helm itu.
Orang itupun membuka helm dan menoleh kearah Tiara,Tiara langsung teringat sandal berbentuk Spongebob yang salah ia pakai malam itu.
"Masih mengingatku?" Tanya Rian sembari turun dari motornya dan menghampiri Tiara.
"Spongebobkan?" Tanya Tiara yang membuat Rian sedikit malu,ia bahkan masih mengingat bentuk sandal itu.
"Namaku Rian,bukan Spongebob," ucap Rian.
"Ouh...maaf,aku Tiara," ucap Tiara memperkenalkan dirinya.
Rian menganguk dan terlihat senang bisa bertemu lagi dengan perempuan pujaannya.
"Kenapa mobilmu?ada yang bisa aku bantu?" Tanya Rian sembari menengok mobil Tiara.
"Mogok,aku akan sangat berterimakasih jika kamu bisa membantu," jawab Tiara dengan penuh harap Karena sudah cukup lelah menunggu petugas bengkel yang tak kunjung datang.
Rian melipat lengan baju panjangnya,"Baiklah,aku akan mencobanya," Iapun mulai memeriksa mesin mobil Tiara dengan sangat serius, meskipun bukan bidangnya tapi kalau hanya membetulkan mesin mobil yang rusak tidak terlalu sulit juga baginya.
Rama dan Zahra sampai diistana kebesaran Bimo, entah kenapa Rama merasa penjagaan disana cukup ketat,bahkan ada beberapa ajudan yang berjaga dipintu masuk.
Zahrapun merasakan hal yang sama, tidak biasanya rumah dijaga seketat ini, pikirannyapun mulai parno.
"Apa kita pulang saja,aku merasa sedikit tidak nyaman," ucap Zahra dengan wajah khawatir akan keselamatan Rama.
"Sudah disini, kalau harus pulang lagi tanpa bertemu dengan orang tuamu akan menjadi sebuah kerugian bagiku," jawab Rama sedikit bercanda untuk menghilangkan ketegangan diwajah Zahra, meskipun ia sendiri juga terlihat sedikit cemas, karena kali ini dia sendiri yang akan masuk kekandang singa.
Merekapun turun, seorang ajudan menghampiri dan akan mengantarkan mereka menuju kedalam rumah.
Rama melirik senjata yang dibawa para ajudan Bimo, bagaimana bisa bukan seorang anggota memiliki senjata yang begitu lengkap, harusnya ini adalah sebuah pelanggaran.
"Zahra," panggil Fatma yang sudah menunggu mereka sedari tadi,iapun langsung memeluk putri cantiknya itu.
__ADS_1
"Halo Tante,saya Rama," Rama dengan sopan menyalami Fatma sembari menunduk.
Fatma tersenyum,baru kali ini dia bertemu langsung dengan pria bernama Rama,tampan dan juga tidak terlihat seperti orang yang jahat, sikapnya juga cukup sopan.
"Jadi pak Rama benar-benar berani datang kerumah saya?" Ucap Bimo yang berjalan menuruni tangga.
Rama menatap kearah pria yang sudah menjadi musuhnya selama ini,hawa panas benar-benar terasa saat mereka saling berhadapan secara langsung.
Zahra mulai cemas dan tegang.
"Selamat malam pak Bimo, sayangnya saya datang bukan untuk menangkap anda," gurau Rama sembari mengulurkan tangannya.
Bimo tidak menyambut uluran tangan Rama,tapi justru menepuk pundak Rama dengan cukup kasar.
"Anak muda yang pemberani," ucap Bimo dengan wajah yang menahan amarah.
"Aku akan menganggapnya sebagai pujian," jawab Rama membuat pria tua itu semakin kesal mendengar jawaban Rama yang begitu santai tanpa ada rasa takut sedikitpun padahal bisa saja Bimo menghabisinya malam ini juga.
"Lebih baik kita makan dulu, bicaranya nanti saja," ucap Fatma yang berusaha mencairkan suasana yang semakin tegang.
Merekapun setuju dan langsung menuju kemeja makan.
Ya..usai membenarkan mobil,Rian meminta ongkos perbaikan kepada Tiara, kebetulan ada pedagang siomai disekitar lokasi,jadi Tiara mentraktir Rian untuk makan.
"Jadi, gara-gara Thu sandal Spongebob, akhirnya sampai sekarang tidak ada yang mencurinya lagi..." Sambung Rian yang sedari tadi berceloteh tentang sandal mahalnya yang sering hilang saat sholat dimasjid membuat Tiara merasa sangat terhibur.
Merekapun kembali makan,Rian melihat kearah perempuan cantik didepannya itu.
"Tapi sayangnya,ada yang hilang gara-gara kamu pake sandal itu," ucap Rian yang mulai mengeluarkan jurus super modusnya.
Tiara mengerutkan dahinya, " Apa?"
"Hati aku," jawab Rian dengan cengengesan membuat Tiara sedikit tidak paham dengan tingkah pria didepannya itu.
Meskipun tampangnya kekar tetapi sepertinya ia orang yang konyol dan suka bercanda.
"Kali ini Aku serius, apakah ananda Tiara sudah memiliki kekasih?" Tanya Rian membuat Tiara langsung berhenti makan dan melihat kearahnya.
__ADS_1
"Jujur, meskipun aku adalah orang yang suka bercanda tapi aku bukan orang yang suka basa basi,dari awal bertemu denganmu didepan masjid itu,hatiku benar-benar langsung tertarik padamu,jika kamu mau memberikan kesempatan,bolehkah aku melamar menjadi pendamping sang Puteri?" Ucap Rian membuat Tiara semakin bingung dibuatnya.
Benar-benar pria yang sangat jujur tapi juga terburu-buru,padahal baru dua kali bertemu tapi langsung menyatakan cintanya,Tiara merasa sedikit konyol dengan dirinya sendiri.
"Maaf,tapi aku belum memikirkan tentang hal itu,kita bahkan baru dua kali bertemu," jawab Tiara dengan wajah yang sedikit tidak enak hati pada Rian.
"Tidak masalah,berikan saja kesempatan untuk sering bertemu,pasti lama kelamaan cinta itu akan tumbuh," ucap Rian yang tendengar seperti seorang pujangga membuat Tiara tidak bisa menahan senyumnya.
Melihat senyum Tiara membuat Rian semakin yakin bahwa ia akan mendapatkan kesempatan itu.
Usai makan malam,Rama dan Zahra duduk berhadapan dengan Bimo dan juga Fatma, entah kenapa suasananya kembali menegang dan juga terasa sangat panas.
"Jadi Tante,dan pak Bimo, sebenarnya maksud kedatangan saya Kemari tidak hanya untuk menumpang makan,tapi saya juga ingin membicarakan hal yang lebih penting,saya...." Rama melihat kearah Zahra lalu memegang tangannya.
"Ingin melamar Zahra untuk menjadi pendamping hidup saya," ucap Rama dengan penuh penekanan.
Fatma merasa kagum dengan keberanian Rama, sementara Bimo seperti menahan Amarah, rahangnya mulai mengeras karena merasa sangat cemburu melihat musuhnya itu memegang tangan lembut sang pujaan hati.
"Saya tidak akan meminta jawabannya sekarang,saya siap untuk menunggu sampai kalian menyetujui hubungan kami," imbuh Rama lagi yang kali ini sedikit melirik kearah Bimo yang sudah dipenuhi amarah.
Zahra tersenyum menatap pria disampingnya itu, ternyata dia benar-benar serius,meskipun belum mencintainya dengan sepenuh hati, setidaknya cara Rama membuktikan bahwa ia akan bertanggung jawab pada keputusannya untuk memperistri Zahra.
Bimo menatap kearah Rama, "Nak Rama,bukankah sebelumnya hubungan kamu dan Zahra tidaklah baik, tiba-tiba melamarnya,apakah kamu punya niat tersembunyi?" tanya Bimo yang dari awal sudah menaruh curiga pada pria itu.
"Tentu saja," jawaban Rama membuat Zahra dan juga Fatma syok,Bimo menyunggingkan bibirnya.
"Saya ingin melindungi Zahra dari orang-orang yang berniat buruk padanya," ucap Rama lagi dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Bimo membuat pria tua itu langsung tersulut emosi,jelas Rama sedang menuduhnya adalah orang yang berniat buruk pada Zahra.
Zahra terlihat lega mendengar jawaban Rama.
"Apa kamu sedang menyindir saya?" bentak Bimo yang mulai tidak bisa mengontrol dirinya.
Fatma memegang tangan Bimo dan berusaha membuat suaminya lebih tenang.
"Apa anda merasa tersindir,kalau begitu saya minta maaf," jawab Rama.
Bimo sepertinya sudah tidak tahan lagi dan memilih pergi meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang dipenuhi amarah.
__ADS_1
Rama menyunggingkan bibirnya karena berhasil mempermainkan Bimo hingga membuatnya sangat marah, Fatma meminta Zahra dan Rama untuk pulang sementara ia menyusul suaminya yang merajuk itu.