
Rama sampai kembali dirumah Aminah untuk mengambil mobilnya,iapun berpamitan untuk pulang karena hari semakin larut, sebenarnya Aminah meminta Rama untuk menginap karena khawatir setelah kejadian yang menimpa dirinya saat mengantarkan Zahra tadi,tapi Rama menolak dan tetap memilih untuk pulang kerumahnya.
Tiba-tiba ponsel Rama berbunyi,Rama mengerutkan dahi melihat nama pak RT menelfonnya,pasalnya ia merasa tidak mempunyai urusan apapun dengan pak RT.
"Halo..." Jawab Rama.
Mata Rama terbelalak dan wajahnya terlihat sangat syok saat mendengar berita dari pak RT ditelefon, "Apa?"
Aminah yang masih berdiri didepan Rama terlihat cemas melihat Rama.
Rama menutup telfon dan terlihat tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.
"Kenapa nak?" Tanya Aminah.
"Rumah kebakaran Bu," jawab Rama masih dengan ketegangan diwajahnya.
Aminah juga terkejut, "Apa?"
"Aku harus segera pulang," Rama mencium tangan Aminah lalu segera menuju kemobilnya dengan buru-buru.
"Ya Allah,cobaan apalagi ini?" Aminah mengelus dadanya yang sesak melihat Rama kembali harus menerima cobaan yang berat.
Suara sirine mobil damkar terdengar bersahutan,Rama berdiri menatap rumahnya yang sudah hangus terbakar,api masih berkobar hebat,ini berarti kebakaran baru saja terjadi.
Rian dan polisi yang lain juga datang kelokasi.ia mendekati Rama dan menepuk pundaknya berusaha menguatkan sahabatnya itu.
Rama meraup wajahnya berkali-kali,seakan tak percaya ia harus kehilangan rumahnya,semua kenangannya bersama Hana,foto-foto prewedding mereka, semuanya hangus terbakar.
"Kamu yang sabar ya,mungkin ini ujian dari Allah,kita akan selidiki apa penyebabnya," ucap Rian kembali menguatkan Rama.
Rama hanya bisa diam masih menatap kedepan,sementara para petugas damkar masih berusaha memadamkan api.
Zahra sedang berbaring dikamarnya,wajahnya terlihat sumringah,setiap mengingat Rama senyum terukir di bibirnya.
Tiara masuk kekamar Zahra dengan wajah tegang, "Ra,kamu belum tidurkan?" Panggil Tiara mendekati Zahra.
Zahra mendudukkan tubuhnya dan sedikit heran melihat Tiara yang terlihat cemas.
"Ada apa?"
"Aku membaca digrub,berita yang di-posting oleh ibu panti," ucap Tiara semakin membuat Zahra penasaran.
"Berita apa?"
"Rumah Rama kebakaran," jawab Tiara.
Zahra membelalakkan matanya, "Apa?kok bisa?"
Tiara menggelengkan kepalanya,Zahra terdiam padahal baru sekitar dua jam yang lalu ia masih pergi bersama Rama dan dihadang penjahat,tapi tidak menyangka sekarang Rama harus mendapat musibah kebakaran,kenapa begitu bertubi-tubi ujian yang harus ia hadapi.
"Ra, kamu gak papakan?" Tiara menyentuh lengan Zahra yang melamun.
"Gak kok," jawab Zahra yang masih terlihat cemas pada keadaan Rama.
Rama sampai dikantor,ia segera duduk dan meletakkan kepalanya diatas meja,wajahnya terlihat begitu lelah,begitu banyak hal yang terjadi hari ini.
"Malam ini tidur dirumahku saja,besok aku akan berbicara pada pak Tio,agar kamu bisa menempati rumah dinas," ucap Rian.
Rama diam tak menjawab,ia sudah terlalu lelah bahkan untuk bicara.
"Rama," Aminah datang membuat Rama dan juga Rian terkejut,pasalnya ini sudah dini hari.
"Ibu,ibu ngapain kesini malam-malam begini?" Tanya Rama yang terlihat khawatir pada ibunya.
"Ibu khawatir sama kamu,gimana keadaan kamu,kenapa bisa begini,nak?" Aminah begitu terlihat cemas dengan kondisi Rama.
__ADS_1
"Aku baik-baik aja Bu,inikan udah malam,mendingan ibu pulang ya istirahat," ucap Rama.
"Terus,kamu sekarang mau tinggal dimana?" Tanya Aminah masih tetap cemas.
Rama melihat kearah Rian.
"Rama,biar nginep aja dirumah aku Bu," jawab Rian.
Aminah menghela nafas, "Kamu pulang kerumah aja ya,kan masih banyak kamar kosong,kamu bisa tinggal dikamar Hana,ya..." Aminah begitu berharap Rama mau menerima tawarannya.
Rama masih terlihat bingung,ia tidak mau merepotkan Aminah, tapi juga tidak ingin membuatnya kecewa.
Rian menganguk memberikan kode pada Rama.
"Ya udah,aku kerumah ibu," ucap Rama memberikan kelegaan diwajah Aminah.
Keesokan harinya,Aminah sudah menyiapkan sarapan untuk Rama,Rama menuruni tangga dan terlihat sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Sarapan dulu," ucap Aminah.
Ramapun duduk dimeja makan,memakan nasi goreng terlezat buatan calon ibu mertuanya,yah meskipun tidak jadi karena pernikahan itu batal,tapi justru Rama lebih mengangap Aminah sebagai ibunya sekarang ini.
"Makasih ya Bu,maaf udah ngerepotin," ucap Rama yang sebenarnya masih merasa sungkan harus tinggal dirumah Aminah.
"Rama,kan ibu ini ibu kamu,kamu gak perlu berterimakasih kasih dan juga minta maaf," ucap Aminah dengan begitu lembut.
Rama membalasnya dengan senyuman.
"Sejak Hana pergi,cuma kamu yang ibu punya,ibu udah nganggep kamu seperti anak kandung ibu sendiri,jadi kamu gak perlu sungkan ya sama ibu," imbuh Aminah lagi.
"Iya Bu,makasih," jawab Rama mengukir senyum diwajah Aminah.
Zahra sedang dalam perjalan menuju kekantor Bimo untuk memenuhi undangan ibunya,tapi sebelum itu dia mampir untuk melihat kondisi rumah Rama yang terbakar malam tadi.
"Apa dia dirumah ibu ya?" Pikir Zahra dan iapun berniat untuk mengunjungi ibu saat pulang dari acara nanti.
Rama sampai dikantor,Rian memberikan rekaman CCTV yang merekam penyebab kebakaran dirumah Rama semalam.
Keduanya terkejut,ternyata kebakaran itu disengaja,beberapa orang berbaju hitam dan memakai penutup wajah menyiramkan bensin keteras rumah lalu menyalakan api,CCTV diambil dari jalan di depan lokasi kejadian.
Rama terlihat sangat marah,rahangnya mengeras dengan tangan yang mengepal kuat.
Rian melihat kearah Rama, "Apa ini ada hubungannya sama orang yang nyerang kamu semalam?" Rian merasa tidak mungkin ini sebuah kebetulan,pasti sudah direncanakan.
Rama tertegun,ia juga memikirkan hal yang sama,dan pastinya pelakunya juga orang yang sama.
"Siapa sih orang yang dendam sama kamu sampai ngelakuin hal ini?" Tanya Rian yang tidak menyangka sahabatnya yang orang baik itu harus dikerjai sampai seperti ini.
Rama melihat kearah Rian, "Selidiki terus,aku ada urusan sebentar," ucap Rama lalu iapun beranjak pergi keluar kantor dengan emosi yang menyelimuti hatinya.
Rama pergi kemobilnya,mengambil jaket dan topi serta masker untuk menutupi wajahnya,ia juga mengambil sebuah pistol yang sama sekali belum pernah ia gunakan sebelumnya,keraguan bersarang dihatinya,iapun kembali menaruh pistol itu lalu keluar dan menaiki sebuah taxi.
Semua bertepuk tangan menyambut launching produk baru yang diluncurkan Bimo dan Fatma.
Zahra hanya duduk dan menonton,wajahnya terlihat bosan dan tidak bersemangat.
Tapi demi informasi tentang neneknya diapun rela datang dan mengikuti acara tersebut.
Rama sampai didepan kantor Bimo,penjagaan disana sangat ketat,siapapun yang masuk harus membawa undangan dan juga diperiksa.
Rama harus memutar otak supaya bisa masuk,hingga sebuah rombongan pengisi acara masuk,Ramapun menyelinap dalam rombongan tersebut dan berhasil masuk tanpa ketahuan oleh penjaga.
Sesampainya didalam,Rama mencari arah keruangan pribadi Bimo untuk mencari sesuatu disana,dari awal ia sudah menduga jika Bimolah yang melakukan semua hal buruk terhadapnya tapi dia harus menemukan bukti tentang itu.
Zahra berjalan menuju toilet.
__ADS_1
"Bruk.." Ia bertabrakan dengan pria misterius memakai topi dan masker.
Pria itu menatap Zahra,begitupun Zahra yang menatap mata pria itu,tapi pria itu langsung berjalan meninggalkan Zahra.
Zahra terdiam sembari mengerutkan dahinya,melihat kepunggung pria yang semakin menjauh itu, "Sepertinya bukan orang asing," gumam Zahra yang masih memikirkan siapa dia sebenarnya.
Rama sampai disebuah ruangan dengan pintu yang tertutup rapat,berharap jika benar ini memang ruangqn pribadi Bimo.
Ia menghela nafas lalu memegang gagang pintu.
"Siapa disana?" Teriak seorang ajudan yang melihat Rama.
Rama tercekat,iapun segera pergi dengan terburu-buru.Ajudan itu mengejarnya sembari menelfon pada rekannya yang lain jika ada penyusup dikantor bosnya.
Rama terus berlari,kalau tertangkap mungkin ia tidak akan bisa keluar dalam keadaan hidup,ia sadar betul sudah memasuki kandang singa yang sangat membahayakan nyawanya.Tapi kemarahannya pada Bimo membuat otaknya tidak berpikir panjang saat masuk ketempat itu.Beberapa ajudan sudah bergerak untuk mencari Rama.
Rama berhenti dengan nafas memburu karena kelelahan,tiba-tiba sebuah pintu terbuka dan menariknya kedalam sebuah ruangan.
Ajudan tadi melewati ruangan itu tapi tidak melihat ada Rama.
Rama menatap kearah perempuan didepannya yang sedang mengintip kearah luar memastikan jika semuanya aman,iapun kembali menutup pintu dan melihat kearah Rama.
"Apa kamu sudah bosan hidup?" Tanya Zahra yang dari awal sudah curiga jika pria itu adalah Rama.
Rama membuka maskernya dengan nafas yang masih terengah,ia enggan menjawab pertanyaan Zahra.
"Tempat ini cukup aman, istirahatlah dulu,aku akan mencari waktu yang tepat untuk membawamu keluar dari sini," ucap Zahra.
"Aku tidak butuh bantuanmu," ucap Rama dengan datar namun penuh penekanan.
"Kalau begitu keluarlah,aku pastikan kamu akan tertangkap dan mati dengan sia-sia," ucap Zahra lagi yang kesal karena Rama sama sekali tidak menghargai usahanya.
Rama terdiam,benar yang dikatakan Zahra,para ajudan itu semuanya dibekali dengan senjata,satu tembakan saja bisa menghilangkan nyawanya,ia tidak ingin berakhir sekarang,karena masih banyak kasus yang harus diselesaikan.
Ramapun duduk dan menuruti ucapan Zahra untuk menunggu waktu yang tepat.
"Apa?" Bimo membelalakkan matanya saat mendengar dari ajudannya ada penyusup yang masuk kekantor.
"Kami sedang melakukan pencarian pak," ucap salah satu ajudan Bimo.
"Pastikan dia tidak keluar dalam keadaan selamat,habisi orang yang sudah berani masuk kekandang Bimo," ucap Bimo dengan seringai tajam wajahnya.
"Baik pak," jawab Ajudan itu lalu enyah dari hadapan Bimo.
"Periksa semua ruangan,cari dia sampai ketemu,hidup atau mati," ucap Ajudan itu pada rekannya yang lain,lalu merekapun menyebar untuk mencari Rama.
Zahra melihat kearah Rama yang masih terlihat tegang, entah sampai kapan mereka harus menunggu,tapi untuk keluar masih tidak memungkinkan,karena penjagaan pasti semakin diperketat.
"Tok..tok..tok" seseorang mengetuk pintu membuat Zahra dan Rama tersentak kaget.
Zahra menyuruh Rama bersembunyi dibalik gorden,lalu iapun berusaha tenang dan membuka pintu.
"Mbak Zahra,apa kami bisa memeriksa ruangan ini?" Tanya Ajudan pada Zahra.
"Emang ada apa?aku lagi sibuk dan butuh ruangan ini," jawab Zahra dengan tegas.
"Tapi mbak..."
"Kalau kamu masih mengganggu,aku akan lapor keBimo dan pastikan jika kamu akan dipecat," ucap Zahra lagi.
Ajudan itu tahu jika Bimo sangat menyayangi Zahra,akan sangat fatal jika Zahra benar-benar melaporkannya.
"Baiklah,saya permisi," ucap Ajudan itu lalu melangkah pergi dari hadapan Zahra.
Zahra merasa lega,ia melihat kesekeliling,semakin banyak Ajudan yang berjaga,tidak ada kesempatan untuk membawa Rama keluar jika situasinya seperti ini.Zahrapun kembali masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1