
Berdzikir adalah cara yang tepat untuk mendapatkan ketenangan hati dan pikiran,itulah yang sedang dilakukan oleh Rama,ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang sedang gelisah,dengan mengucapkan nama Allah dalam dzikirnya.
Setelah beberapa saat,ia membuka mata melihat kesamping dan bayangan itu benar-benar terasa nyata, perempuan berbaju putih yang tersenyum lembut sembari menatapnya.
"Hana..." Panggilnya pelan.
"Kamu mencintainya?" Tanya Hana dengan wajahnya yang dipenuhi dengan cahaya yang menyilaukan mata.
Rama menggelengkan kepalanya, "Aku hanya mencintaimu,"
Hana tersenyum, "Kamu berbohong,aku tahu kamu mencintainya,kamu mengkhawatirkannya dan peduli padanya, berhenti menipu dirimu sendiri,Ram," ucap Hana.
Rama hanya diam dengan wajah yang masih menyangkal.
"Hiduplah bahagia dan bahagiakan dia,aku akan sangat bahagia bisa melihat kalian bersama," ucap Hana sembari mengusap lembut wajah Rama lalu tiba-tiba bayangan itu menghilang seperti sebuah kabut yang terbawa angin.
"Hana...." Teriak Rama yang terbangun dari khayalannya,iapun menoleh kesamping kanan dan kiri,tapi tiada siapapun disana,ternyata hanya sebuah mimpi.
"Astaghfirullahaladzim," Rama mengusap wajahnya lalu kembali memikirkan apa yang baru saja ia alami, benar-benar terasa nyata,dan kata-kata Hana begitu mengganggu pikirannya.Iapun kembali memejamkan mata dan melihat bayangan perempuan disana, yang tersenyum sembari mengulurkan tangannya,bukan Hana tapi Zahra.
Rama kembali membuka mata dan terukir senyum dibibirnya, "Apa benar aku mencintainya?" Meskipun masih ragu,tapi Rama tahu inilah petunjuk dari Allah yang membuat pikirannya menjadi lebih tenang.
Malam itu,Zahra sengaja mengundang Fatma dan juga Ana kerumah,Tiara juga ada disana,Zahra berencana memberikan sebuah pengumuman penting pada mereka, meskipun ia yakin akan menimbulkan banyak masalah nantinya
"Jadi...aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting,dan mungkin akan membuat kalian terkejut," ucap Zahra yang terlihat sedikit tegang membuat semuanya semakin penasaran.
"Kalian mungkin sudah mengenalnya,Rama,dia ingin melamar dan menikahiku,"
"Apa..." Pekik Fatma dan Ana bersamaan dengan mata yang terbelalak karena kaget.
Sementara Tiara membungkam mulutnya sendiri dengan wajah yang tak kalah kaget.
"Dan aku akan menerima lamarannya," imbuh Zahra lagi membuat semuanya semakin terkejut.
"Apa kamu bercanda,Zahra," pekik Ana yang langsung berdiri dengan wajah yang penuh dengan kemarahan.
Fatma juga tidak habis pikir dengan keputusan yang sudah diambil oleh putrinya.
"Bagaimana dengan karir kamu,masih banyak pekerjaan yang harus kamu lakukan, bagaimana dengan semua kontrak kerja kita,apa kamu tidak memikirkannya?" Teriak Ana dengan nada melengking membuat telinga semuanya berdengung.
Zahra hanya diam, sebelumnya ia tidak pernah memikirkan tentang semua itu, ia hanya merasakan bahagia saat Rama mengungkapkan keinginannya.
Ana memijat kepalanya yang pusing dengan kelakuan Zahra yang membuat darah tingginya langsung naik.
"Zahra,kamu kemarin bilang tidak ada hubungan apapun dengan pria itu,dan sekarang kamu bilang mau menikah dengannya,apa kamu serius dengan ucapanmu itu," Kali ini Fatma yang menyerang Zahra.
"Bu, sebelumnya kami memang tidak ada hubungan apapun,dan dia yang langsung ingin melamarku,dan dia juga ingin bertemu denganmu secara resmi untuk membicarakan hal ini,bukankah jarang ada pria seperti dia," ucap Zahra mencoba memperjelas semuanya kepada Fatma.
Fatma terdiam,meskipun kesal dan marah tapi ia juga tidak memungkiri ucapan Zahra.
"Bu,nenek sudah tiada, sekarang ada seseorang yang ingin menjagaku,apa ibu tidak bahagia jika melihatku bahagia?" Zahra menatap kearah ibunya dengan penuh harap.
__ADS_1
Fatma tidak ingin hubungannya dengan Zahra kembali memburuk,iapun menghela nafas dan mencoba untuk menahan keegoisannya, "Ibu akan pikirkan terlebih dahulu,ajak dia kerumah besok malam untuk makan malam bersama," ucap Fatma yang membuat Zahra langsung memeluknya dengan bahagia.
Ana merasa sangat kecewa dengan keputusan Fatma, yang justru memberikan lampu hijau untuk hubungan Zahra.
"Ibu..." Pekik Ana.
"Kita bicarakan sisanya nanti,ikut denganku," ucap Fatma lalu iapun mengajak Ana untuk pergi bersamanya meninggalkan kediaman Zahra.
Tiara langsung memberikan pelukan bahagia kepada sahabatnya itu,keduanya tertawa bersama.
"Apa ini?jadi kamu akan benar-benar menikah dan meninggalkan aku?" Ejek Tiara sembari mencubit kedua pipi Zahra dengan sangat gemas.
Zahra mendengus kesal, "Aku bahkan merasa jika semua ini masih seperti mimpi,"
Tiara merangkul sahabatnya itu, "Meskipun pertemuan kalian tidaklah harmonis,tapi yang aku lihat,Rama adalah pria yang baik,dia pasti akan menjagamu dengan sangat baik," ucap Tiara mengukir senyum diwajah Zahra.
"Aku harap juga seperti itu,aku akan menghubunginya sekarang,"
Tiara menganguk lalu iapun masuk kedalam kamarnya.
Rona bahagia masih terus terpancar dari wajah Zahra,iapun menelfon Rama.
Rama baru saja selesai mandi,masih dengan handuk dilehernya,ia mengangkat ponselnya yang sedari tadi berbunyi.
"Halo..."
Mendengar suara Rama dari telepon saja sudah membuat wajah Zahra memerah dan bingung harus berbicara apa.
Rama mengerutkan dahinya karena tidak ada jawaban dari Zahra.
"Ehm..iya..Halo..." Jawab Zahra dengan gugup.
"Ada apa?kamu merindukanku?" Tanya Rama yang membuat Zahra semakin salah tingkah.
"Tidak...bukan begitu," terdengar jelas jika Zahra sangat gugup membuat Rama semakin merasa gemas.
"Jadi...tidak merindukan aku?" Rama sepertinya sengaja menggoda Zahra sembari duduk ditepi tempat tidurnya.
"Baiklah,aku merindukanmu,apa kamu puas?"
Rama terkekeh mendengar jawaban Zahra,juga membuat Zahra tersenyum malu.
"Ibu ingin mengundangmu makan malam besok,apa kamu ada waktu?" Tanya Zahra sembari menggigit bibir bawahnya berharap Rama memberikan jawaban yang memuaskan.
"Tentu,aku pasti akan datang," jawab Rama dengan yakin.
Zahra merasa sangat lega, "Tapi..makan malamnya dirumah Bimo,aku tidak yakin dia akan menyambutmu dengan baik," Zahra merasa tidak nyaman karena hubungan Rama dan Bimo yang kurang baik.
"Tidak masalah,jam berapa aku harus datang?"
Jawaban Rama benar-benar membuat Zahra heran,apa pria ini benar-benar serius hingga tidak mempedulikan apapun,justru Zahra yang merasa khawatir sendiri.
__ADS_1
"Tapi...ibu bilang hanya makan malam,dia belum menyetujui tentang lamaranmu,dia bilang akan memikirkannya lebih dulu," Zahra berusaha menjelaskan lagi pada Rama.
Rama menyunggingkan bibirnya,menyadari kekhawatiran yang sedang Zahra rasakan.
"Kenapa kamu begitu khawatir,aku akan baik-baik saja dan menerima semua keputusan mereka,jadi jangan terlalu tertekan dengan semua ini," Rama berusaha membuat Zahra lebih tenang.
Zahra tersenyum, "Baiklah,aku akan menunggumu jam 7 malam," jawab Zahra.
"Baik," ucap Rama lalu mematikan telefon.
Wajah Zahra kembali berbunga-bunga saat mendengar keseriusan Rama.
Ramapun tersenyum dan menaruh ponselnya kembali,lalu iapun membaringkan tubuhnya sembari menatap langit-langit.
"Datang kerumah Bimo sebagai calon menantu,pasti akan sangat seru," gumam Rama dengan seringai tajamnya.
"Apa?" Pekik Bimo saat mendengar ucapan Fatma bahwa Rama telah melamar Zahra,rahangnya langsung mengeras menahan amarah,tangannya mengepal dengan erat.
"Aku sudah mengundangnya untuk makan malam besok,apa kamu tidak keberatan?" Tanya Fatma sedikit terlihat takut melihat ekspresi Bimo.
Bimo menatap tajam kearah Fatma dan langsung mencengkeram leher Fatma dengan kasar,membuat perempuan itu syok.
"Beraninya kamu mengundangnya kerumahku tanpa memberitahu aku terlebih dahulu," bentak Bimo yang mempererat cengkeramannya membuat Fatma sesak dengan mata yang memerah.
Bimo menghempaskan wajah Fatma dengan kasar, meskipun ingin melenyapkannya sekarang juga tapi ia masih berusaha menahan emosinya karena tujuannya mendapatkan Zahra belum tercapai.
Fatma tersungkur dilantai dengan nafas yang memburu sembari memegangi dadanya yang masih terasa sesak.
"Maaf..aku akan membatalkan rencana itu," ucap Fatma dengan wajah yang masih syok karena baru kali ini mendapatkan perlakuan yang begitu kasar dari suaminya.
Bimo menyeringai tajam, "Tidak perlu, biarkan dia datang kemari,pria itu,aku akan melihat seberapa besar nyalinya," ucap Bimo lalu melangkah pergi meninggalkan sang istri yang masih belum bangun dari tempatnya.
Fatma merasa lega,kini ia mulai berpikir tentang apa yang dikatakan oleh putrinya bahwa Bimo bukanlah pria yang baik,dan dia harus lebih berhati-hati.
Malam ini terasa begitu indah, bintangpun dengan setia menemani sang bulan yang bersinar cukup terang,langit serasa menyiratkan perasaan hati Zahra yang sedang dipenuhi dengan Kebahagiaan.
Rama masih berdiri sembari menyandarkan tubuh kekarnya kemobil,menunggu sang bidadari yang masih bersiap menghias diri.
Hingga suara sepatu itu mengganggu telinga Rama,iapun mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk,nampak perempuan bergaun biru dominan keabu-abu itu berjalan perlahan kearahnya dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya,sangat cantik dengan selendang yang terpasang dileher jenjangnya membuat keindahan semakin terpancar dari tubuhnya.
"Maaf harus menunggu lama," ucap Zahra yang merasa jika ia terlalu lama bersiap dan membuat Rama bosan menunggunya.
Rama hanya tersenyum tipis,dengan tangannya ia meraih selendang dileher Zahra lalu menaikkan kekepala Zahra untuk menutupi rambutnya yang tergerai panjang.
Zahra terdiam menatap kearah pria didepannya itu.
"Terlihat lebih cantik," ucap Rama yang membuat Zahra langsung menunduk malu.
"Apa sebelumnya tidak cantik?" Sindir Zahra yang sengaja ingin menggoda Rama.
Rama tersenyum tipis, "Aku berkata lebih cantik,itu berarti awalnya sudah cantik,apa masih perlu dijelaskan?"
__ADS_1
Zahra terkekeh melihat Rama yang begitu terlihat serius menanggapi candaannya,entah kenapa semenjak lamaran kemarin,Zahra merasa jika Rama sudah menjadi orang yang sedikit berbeda dan lebih bisa diajak bercanda.
Merekapun tidak berlama-lama dan segera langsung menuju ke rumah Bimo untuk makan malam bersama.