Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Akhirnya Sah


__ADS_3

Rama sampai dirumahnya yang sudah siap untuk acara besok,ia terpaksa mengajak Nilam karena Nilam masih trauma jika harus pulang kerumahnya yang merupakan tempatnya disekap,jadi Rama mengajak Nilam untuk tinggal sementara bersamanya.


"Kamu sudah pindah?" Tanya Nilam yang merasa heran karena dulunya Rama tinggal dirumah mendiang orang tuanya.


"Rumah itu mengalami kebakaran,jadi aku membeli rumah baru,maaf jika membuatmu tidak nyaman," ucap Rama sedikit merasa tidak enak hati karena bagaimanapun rumah itu memiliki banyak kenangan untuk Nilam.


"Tidak masalah,rumah ini juga cukup besar dan sepertinya juga nyaman," ucap Nilam membuat kelegaan diwajah Rama.


"Bisakah mengirimkan beberapa pakaian untuk kak Nilam kerumah?" Rama sedang menghubungi Zahra, sementara Nilam sedang melihat-lihat beberapa ruangan dilantai atas.


"Baiklah,aku akan menyuruh pegawaiku untuk mengantarkan beberapa pakaian kesana," jawab Zahra.


Rama merasa lega, "Terimakasih,"


Zahra tersenyum, "Bagaimana dengan kasusnya?" Tanya Zahra dengan wajah yang sedikit merasa cemas.


Rama tahu Zahra bukan orang cuek yang tidak peduli dengan masalah yang sedang ia hadapi,tapi esok adalah hari pernikahan mereka tidak baik juga memikirkan hal lain.


"Sudahlah,kamu tidak perlu terlalu memikirkan soal itu, pikirkan saja tentang acara besok," ucap Rama membuat Zahra tersenyum malu dan melupakan kekhawatirannya.


"Baiklah,kamu juga harus beristirahat,"


Keduanya tersenyum lega dan segera menutup perbincangan mereka.


Satu jam kemudian,pakaian yang dikirimkan Zahra sudah sampai,satu tas besar penuh dengan pakaian baru untuk Nilam yang dikirim langsung dari boutique Zahra.


Rama mengantarkan pakaian itu kekamar Nilam,ya...Nilam memilih salah satu kamar dilantai atas untuk ia tempati,Rama juga tidak keberatan karena memang kamar itu masih kosong.


"Jadi Zahra memiliki boutique?" Tanya Nilam sembari mengeluarkan pakaian-pakaian itu.


Rama menganguk, "Eehm..."


Nilam masih mencari pakaian yang cocok untuk dipakai, sementara Rama sebenarnya masih penasaran tentang kasus yang dialami Nilam,ia sangat ingin menanyakan bagaimana Nilam bisa mengalami hal itu,tapi hari sudah semakin larut,dan besok adalah acara pernikahannya,iapun mengurungkan niatnya dan akan menundanya setelah acara pernikahan supaya lebih merasa leluasa.


"Aku pergi dulu,jika butuh apapun,panggil saja aku," Rama segera beranjak pergi dari kamar Nilam untuk beristirahat.


Nilam terdiam lalu iapun duduk ditepi ranjang, memperhatikan semua pakaian yang berserakan diatas ranjang, "Beruntungnya dia,bisa menikah seperti ini, sementara diriku harus mengalami banyak hal buruk sejak meninggalkan rumah," gumam Nilam dengan tatapan penuh dendam.


Para tamu undangan sudah mulai berdatangan dan memenuhi tempat acara,Ramapun sudah bersiap didepan penghulu didampingi oleh Rian dan juga Aminah,terpancar aura kebahagiaan dari wajah mereka,ya.. meskipun Rama terlihat sedikit tegang karena hari ini ia akan mengambil alih tanggung jawab sebagai seorang suami.


Zahra masih berada diruang rias,ditemani oleh Tiara dan juga Fatma yang hari ini mendapatkan kompensasi untuk menghadiri pernikahan putrinya,sungguh hari yang paling menegangkan serta membahagiakan bagi Zahra,ia berharap semuanya akan berjalan lancar tanpa ada halangan apapun.


"Saya terima nikahnya,Azahra Nadia binti Alm Santoso dengan mas kawin seperangkat alat sholat serta perhiasan 10 gr dibayar tunai," Rama begitu fasih melafalkan ijab dengan penuh keyakinan.


"Sah..." Kata yang membuat ketegangan yang sempat mampir langsung mencair.


"Alhamdulillah," sebut Rama yang merasa sangat lega sembari menunduk dengan rasa haru yang tidak bisa ia sembunyikan.


Zahra yang masih belum keluar dan hanya mendengar suara Rama dari speakerpun terlihat sangat terharu dan mendapatkan pelukan hangat dari sang ibu.

__ADS_1


"Selamat ya sayang," ucap Fatma dengan kebahagiaan yang menyelimuti wajahnya.


Zahrapun keluar setelah sah menjadi istri Rama,didampingi sang ibu dan juga Tiara ia berjalan kearah pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.


Rama tersenyum melihat Zahra yang terlihat begitu cantik dengan gaun pernikahan sederhana serta hijab yang terpasang dikepalanya, benar-benar sangat cantik.


Zahra menunduk dan mencium tangan Rama,dibalas dengan kecupan manis didahinya oleh sang suami membuatnya tersipu malu.


Keduanya bertukar cincin pernikahan yang sudah disiapkan lalu menandatangani surat nikah dan beberapa dokumen lainnya.


Setelah itu mereka berfoto bersama, benar-benar pasangan yang sangat serasi,membuat semua mata yang melihat ikut merasakan kebahagiaan.


Kecuali satu orang yang sedang berdiri sembari melihat sinis kearah mereka dari lantai atas,ialah Nilam,ia juga bermimpi bisa menikah dan hidup bahagia seperti yang sedang dirasakan oleh Rama dan Zahra,tapi justru kehidupannya berbanding terbalik,ia harus mengalami banyak hal buruk dalam kehidupannya,sampai kasus kemarin harus terjadi,dan bagaimana mereka bisa begitu bahagia bahkan saat kasusnya belum bisa diselesaikan,jelas itu mengukir luka dihati Nilam yang semakin menaruh rasa iri kepada Zahra.


Malam harinya pesta yang sederhana tapi terasa begitu meriah,kali ini Rama mengenakan seragam kebesarannya sementara Zahra menggunakan gaun elegan dengan warna yang senada dengan Rama,keduanya berdiri berdampingan dipelaminan dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajah keduanya,para tamupun memberikan ucapan selamat kepada keduanya lalu menikmati jamuan yang sudah dipersiapkan.


Sebuah mobil berhenti didepan rumah Rama,Arman membuka kaca mobilnya dan melihat kearah pelaminan,wajahnya terlihat sedih,ia mendapatkan undangan dari mereka tapi meskipun sudah sampai didepan rumah ia enggan untuk masuk kedalam,hatinya terlalu sakit melihat perempuan yang ia cintai justru harus menikah dengan lelaki lain, meskipun ia mencoba ikhlas dan meyakini bahwa Zahra bukanlah jodohnya namun rasa sakit hati itu tetap saja muncul dan membuatnya memilih untuk tidak menemui Zahra sampai beberapa waktu.


Pesta yang cukup melelahkan akhirnya selesai menjelang dini hari,para keluarga dan sahabat berpamitan untuk pulang dan meninggalkan Rama serta Zahra dirumah mereka.


"Jangan mendahuluiku dalam memiliki anak," bisik Rian pada Rama.


Rama memicingkan mata menatap sahabatnya itu,Rianpun memilih kabur dari hadapan Rama dengan cepat membuat Zahra dan Tiara keheranan.


"Aku pulang dulu,jaga dirimu baik-baik," Tiara memeluk sahabatnya itu lalu segera menyusul calon suaminya.


"Ayo masuk," Rama mengulurkan tangannya dan mengajak Zahra kekamar.


Sontak ajakan Rama langsung membuat pipi Zahra memerah dan iapun menunduk malu dengan jantung yang berdebar kencang.


Rama merasa gemas melihat ekspresi wajah Zahra yang seperti itu,iapun mendekati telinganya dan berbisik, "Mau jalan sendiri atau digendong?" Tanya Rama yang membuat Zahra langsung menatapnya.


"Jalan sendiri," Zahra mendorong pelan tubuh Rama lalu segera berjalan dengan cepat menuju kekamar mereka sembari mengejek Rama yang masih diam ditempat.


Rama tersenyum geli melihat tingkah istrinya itu,iapun buru-buru pergi menyusulnya.


Nilam berjalan kesana kemari, entah kenapa pikirannya tidak bisa tenang,ia masih tidak terima dengan perlakuan Rama yang seharian ini tidak mempedulikan dirinya sama sekali,itu membuatnya merasa sangat kesal dan marah.


"Dasar anak pungut,tidak tahu Terimakasih,dia seharusnya membantuku menyelesaikan kasus ini dan menghukum pria itu,bukan mengadakan pesta seperti ini," Nilam benar-benar dipenuhi dengan amarah,dan merobek beberapa pakaian yang dikirimkan Zahra untuk meluapkan amarahnya.


"Akan aku buat kalian merasakan apa yang sudah aku rasakan,hancur seperti baju ini," Nilam melemparkan baju yang sudah rusak itu ketempat sampah, "Lalu dibuang," ucapnya dengan penuh penekanan.


Zahra selesai mandi,ia keluar mengenakan baju tidur sembari mengusap rambutnya yang masih basah,Rama terdiam dan terus menatap perempuan yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu dengan penuh kekaguman.


Zahra mendekat kearah Rama lalu menutup mata Rama dengan telapak tangannya, "Matamu hampir melompat keluar," sindir Zahra yang merasa risih karena Rama tidak berhenti memandangnya.


Rama memegang tangan Zahra dan menyingkirkannya dari matanya,lalu menarik Zahra hingga jatuh kepangkuannya dan melingkarkan tangannya ke perut Zahra.


"Ih...kamu belum mandi," Zahra berusaha melepaskan dirinya tapi Rama justru mempererat pegangannya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mandi," Rama mengecup pundak Zahra,membuat Zahra memejamkan matanya dan terlihat malu-malu,untuk pertama kalinya ia akan menyerahkan dirinya kepada pria yang sudah sah menjadi suaminya.


Iapun menatap kearah Rama dengan sendu dan penuh haru, akhirnya kebahagiaan yang selama ini hanya sebuah mimpi baginya kini bisa menjadi sebuah kenyataan.


"Aku sangat bahagia," ucap Zahra yang kini sudah duduk berhadapan dengan Rama dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.


Rama menyingkap rambut Zahra, memegangi tengkuknya dan menarik wajahnya mendekat lalu mengecup dahinya dengan lembut lalu menempelkan dahi mereka berdua, keduanya menutup mata dan merasakan hembusan nafas masing-masing,hingga sebuah ciuman mesra dari Rama mendarat kebibir Zahra untuk pertama kalinya.


Keduanya membuka mata dan saling menatap dengan pancaran Kebahagiaan dari mata mereka.


"Aku mencintaimu,istriku," ucap Rama lalu kembali mencium Zahra dengan lebih dalam,Zahrapun menikmati setiap sentuhan yang Rama berikan.


Selimut menjadi saksi penyatuan cinta mereka berdua yang begitu indah malam itu.


Adzan subuh berkumandang,Rama dan Zahra selesai mandi dan langsung menunaikan sholat subuh bersama,bahkan mereka belum sempat tidur karena terlalu asyik bermain dimalam pertama.


Keduanya memanjatkan doa dan rasa syukur atas kebahagiaan yang sudah mereka rasakan.


Zahra mencium tangan Rama usai sholat, Ramapun mengusap lembut kepala Zahra.Zahra menguap karena merasa ngantuk dan juga lelah.


"Tidurlah,kamu pasti lelah," ucap Rama yang melihat Zahra begitu letih.


Zahra mengusap wajah Rama dengan lembut "Kamu tidak lelah?


"Aku akan beristirahat setelah bicara dengan kak Nilam,ada hal penting yang harus aku tanyakan padanya," Rama melepaskan mukena Zahra lalu mengecup keningnya dengan mesra.


Zahra tersenyum lalu iapun menuju ketempat tidur untuk kembali beristirahat.Sementara Rama membereskan peralatan sholat mereka lalu keluar dari kamar untuk menemui Nilam.


Kebetulan Nilam juga sudah bangun dan berada dibalkon untuk melihat fajar yang mulai nampak diujung timur sembari menikmati udara sejuk dipagi hari.


Rama berjalan menghampirinya dengan secangkir teh hangat yang sengaja ia buatkan untuk Nilam.


"Terimakasih," ucap Nilam lalu menyeruput pelan teh hangat itu yang membuat tubuhnya juga merasa hangat.


"Selamat atas pernikahanmu,kamu terlihat sangat bahagia hingga tidak mempedulikan kasusku lagi," ucap Nilam dengan sindiran keras kepada Rama.


Rama terdiam, tidak menyangka jika Nilam sampai berpikiran seperti itu,padahal ia sepagi ini menemuinya hanya untuk membahas kasusnya agar bisa cepat diselesaikan.


"Bukan begitu kak...."


"Baiklah,jika kamu tidak bisa membantu,aku juga tidak ingin memaksa," Nilam sudah mengambil kesimpulan bahkan sebelum Rama mengucapkan apapun.


Rama menghela nafas, "Aku akan kekantor dan menyelesaikan kasus ini secepatnya serta akan menghukum pelakunya sesuai peraturan,tapi bisakah kak Nilam lebih bersabar,kami sedang berusaha menemukan bukti atas kesalahannya,"


"Bukti apalagi,apa luka ditubuhku tidak bisa dijadikan bukti,apakah kesaksianku itu bukan sebuah bukti," bantah Nilam yang mulai kesal karena merasa jika Rama tidak mempercayainya.


Rama tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada Nilam, apapun yang ia katakan seperti hanya membuat Nilam semakin marah, "Kakak sabar saja dan menunggu hasilnya dirumah," Rama beranjak pergi meninggalkan kakaknya yang arogan itu.


Nilam mendengus kesal lalu membanting cangkir teh ditangannya hingga pecah dan hancur diatas lantai.

__ADS_1


__ADS_2