Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Kasus Yang Rumit


__ADS_3

"Sudah aku bilang,aku tidak melakukan apapun padanya, bagaimana kalian bisa menangkapku dan menahanku seperti ini," Teriak sang pelaku saat menjalani interogasi dikantor polisi oleh para petugas.


Rian datang dan mendengar jika pelaku belum juga mengakui perbuatannya terhadap Nilam.


Rianpun merasa geram dan mendekatinya.


"Tidak melakukan apapun padanya?lalu bagaimana dia bisa terluka begitu parah dan kamulah yang berada dilokasi kejadian,"


Pemuda itu terlihat bingung dan masih terus menyangkal, "Dia menelfonku dan menyuruhku datang,aku benar-benar tidak melakukan apapun padanya," bantah pemuda itu dengan keyakinan penuh.


Rian terdiam,ini akan menjadi kasus yang cukup rumit karena sang pelaku masih saja menyangkal,ia harus menunggu sampai korban juga memberi keterangannya, sementara itu pelaku harus ditahan terlebih dahulu.


Pagi menyapa,Rama mengerjapkan matanya,semalaman ia tidur dirumah sakit untuk menemani Nilam,ia membangunkan tubuhnya yang terasa kaku,lalu melihat kearah Nilam yang sudah sadar sembari duduk dan menatap kearahnya dengan wajah kebingungan.


"Kakak sudah sadar?" Rama beranjak dan mendekati Nilam.


Nilam masih diam seperti tidak mengenali Rama, "Kamu?"


"Aku Rama,kamu tidak mengenaliku?" Rama merasa jika sikap Nilam sedikit aneh.


Nilam tersentak, ia mulai menyadari sesuatu, "Rama...kamu Rama..." Iapun langsung histeris dan memeluk tubuh Rama, "Rama kamu harus menolongku,dia ingin melenyapkan aku,kamu harus menghukumnya dengan berat," teriak Nilam dengan penuh ketakutan.


Rama mengusap punggung Nilam dan berusaha menenangkannya, "Tenanglah, siapapun yang sudah melakukan ini kepadamu,dia pasti akan mendapatkan hukuman yang semestinya," ucap Rama.


Zahra membuka pintu dan melihat Nilam yang masih memeluk Rama dengan erat,tapi ia sama sekali tidak menaruh curiga karena Nilam dan Rama bersaudara,Rama memang menelfon Zahra malam tadi dan memberitahu kabar tentang kakaknya dan Zahrapun datang pagi-pagi untuk membawakan makanan untuk mereka.


Rama menoleh kearah Zahra,Nilampun melepaskan pelukannya dan melihat Zahra dengan tatapan aneh.


"Kamu datang?" Tanya Rama yang merasa senang karena kedatangan Zahra.


Zahra tersenyum dan berjalan mendekat dengan rantang ditangannya.


"Aku membawa makanan untuk kalian," jawab Zahra.


Nilam melihat kearah Rama, "Siapa?"


"Dia Zahra,calon istriku," jawab Rama.


Zahra tersenyum dan menyalami Nilam yang masih terlihat tidak senang dengan kehadiran Zahra.


"Bukannya Hana?" Tanya Nilam yang membuat Zahra dan Rama saling melihat dengan wajah bingung.


Ya.. meskipun tidak akrab,namun Nilam tahu jika pacar Rama sedari dulu adalah Hana,bahkan Rama juga memperkenalkan Hana kepadanya saat mereka masih tinggal satu rumah.

__ADS_1


"Aku pikir kalian dulu sangat cocok,tidak menyangka kamu malah menikah dengan gadis lain," ucap Nilam yang membuat Zahra sedikit kikuk.


Ramapun melihat ekspresi Zahra dan sangat mengerti dengan apa yang ia rasakan, "Aku akan menceritakan tentang Hana lain kali," ucap Rama agar Nilam berhenti membahas tentang Hana yang akan membuat Zahra semakin tidak nyaman.


"Bagaimana kalau aku menyiapkan makanan untuk kakak?" Tanya Zahra yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Nilampun menganguk, bagaimanapun kejadian semalam juga membuat perutnya lapar,Zahra dengan senang hati segera menyiapkan makanan itu.


Rama tersenyum lega,ia berharap Zahra dan Nilam bisa berhubungan dengan baik.


"Drttttt," ponsel Rama berbunyi,telepon dari Rian,Rama keluar untuk mengangkat telfon dan meninggalkan Nilam bersama Zahra.


"Ada apa?" Tanya Rama dengan wajah penasaran.


"Pelakunya masih menyangkal jika ia sudah melakukan kekerasan pada Nilam, bagaimana dengan keadaan Nilam,apa dia bisa kekantor untuk memberikan keterangan?" Tanya Rian.


Rama terdiam dengan wajah kesal, bagaimana bisa seseorang yang sudah tertangkap masih belum mau mengaku,ia terdiam sesaat.


"Aku akan bertanya pada dokter,jika memang diperbolehkan siang ini aku akan mengantarnya kekantor," jawab Rama.


Rian menganguk,ia akan datang kerumah sakit jika memang korban masih tidak bisa datang untuk memberikan keterangan kekantor,Rama mengerti,ia menutup telefon dan masih berpikir kenapa pelaku masih tidak mau mengakui perbuatannya,iapun beranjak untuk menemui dokter dan menanyakan tentang kondisi Nilam.


"Sejak kapan kamu dan Rama berhubungan?" Tanya Nilam sembari menatap kearah Zahra.


"Satu bulan dan langsung memutuskan untuk menikah,hebat sekali," Entah sedang memuji atau mengejek,tapi perkataan Nilam benar-benar membuat Zahra merasa tidak nyaman.


"Kami sudah lama mengenal,tapi baru saling menyadari jika kami cocok dan memutuskan untuk langsung menikah," ucap Zahra memperjelas semuanya agar Nilam tidak berpikiran aneh terhadap hubungannya dan juga Rama.


Nilam menganguk,terlihat jelas jika ia tidak menyukai perempuan didepannya itu,entah apa alasannya.


Rama kembali masuk menemui mereka dengan wajah sedikit cemas.


"Kak Nilam,bisakah ikut kekantor denganku,dokter bilang kondisimu sudah membaik dan bisa rawat jalan," ucap Rama membuat Nilam sedikit bingung.


"Untuk apa?" Tanya Nilam dengan tatapan curiga.


"Kakak harus memberikan keterangan,karena pelaku masih tidak mau mengakui perbuatannya," jawab Rama membuat wajah Nilam langsung dipenuhi dengan amarah.


Zahra melihat kearah Rama, sepertinya kasus ini sedikit rumit dan akan membuat Rama sangat sibuk,padahal besok adalah hari pernikahan mereka,tapi Zahra berharap semuanya cepat selesai.


"Pria itu,aku akan membuatmu mendekam dipenjara seumur hidup meskipun harus melenyapkan diriku sendiri," pikir Nilam dengan seringai tajamnya.


"Kak.." Rama merasa heran yang melihat Nilam justru diam.

__ADS_1


Nilam menganguk dan bersedia ikut dengan Rama,ia juga sudah merasa jika tubuhnya lebih baik,karena selain luka memar tidak ada luka lain yang serius.


Rama melihat kearah Zahra, "Kamu pulanglah dulu,besok adalah hari pernikahan kita,pasti banyak yang harus dipersiapkan," ucap Rama sembari mengusap lembut pipi Zahra.


Zahra menganguk dan tersenyum,ia sebenarnya khawatir dengan keadaan Rama tapi tetap berusaha yakin jika Rama akan baik-baik saja dan segera bisa menyelesaikan semua tugasnya.


Disebuah ruangan,Rama mendampingi Nilam untuk memberikan keterangan tentang kasusnya,disana juga ada Si pelaku bernama Aldo, yang sedari tadi mengarahkan tatapan tajam kearah Nilam.


"Dia yang sudah melukaiku sampai seperti ini,dia juga memaksaku untuk melayaninya bahkan dia mengancam akan melenyapkanku jika aku melawannya, itu semua karena dia dendam padaku karena aku sudah menolak untuk menikah dengannya," ucap Nilam dengan wajah yang dipenuhi ketakutan.


Aldo terlihat sangat geram mendengar keterangan Nilam yang memberatkannya "Wanita gila, bisa-bisanya kamu menuduhku seperti itu," bentak Aldo yang mulai tidak bisa menahan emosinya karena merasa jika ucapan Nilam tidaklah benar.


Nilam terlihat ketakutan dan menggenggam erat lengan Rama sembari menyembunyikan wajahnya dibelakang Rama.


Rama melihat kearah Aldo dengan tatapan tajamnya, "Katakan yang sebenarnya,maka hukumanmu tidak akan terlalu berat,"


Aldo berdiri dari duduknya sembari menggebrak meja, "Apa yang harus aku akui,aku benar-benar tidak melakukan apapun padanya," Teriak Aldo dengan begitu yakin.


"Dia berbohong," bantah Nilam dengan suara gemetar.


Melihat Nilam seperti itu membuat Aldo semakin kesal, "Dasar kamu wanita gila,inikah caramu membalas diriku karena aku meninggalkanmu?"


Nilam memasang wajah ketakutan sembari menundukkan kepalanya.


Rama dan Rian semakin dibuat pusing dengan kasus ini,entah siapa yang berkata jujur dan siapa yang berbohong,bahkan melihat bagaimana Aldo bersikap membuat Rama sendiri tidak yakin pada kakaknya.


Nilam masih menunggu Rama didepan kantor, sementara Rama dan Rian masih sedikit berdiskusi.


"Aku akan menyidiki lagi lokasi kejadian,siapa tahu masih ada bukti disana,aku juga akan mengecek sidik jari yang berada dibeberapa barang bukti,tapi Ram...sampai saat ini tidak ada bukti yang memberatkan pelaku,selain keterangan dari Nilam," ucap Rian yang secara tidak langsung mulai curiga kepada Nilam.


Meskipun tidak ingin,tapi Rama juga memikirkan hal yang sama dan membuatnya semakin merasa bingung.


"Kamu pulanglah dan istirahat,besok hari pernikahanmu,jangan terlalu terbebani dengan kasus ini,aku yang akan mengurusnya dan secepatnya mencari bukti," ucap Rian sembari menepuk pundak Rama.


Rama menganguk,ia sangat percaya jika Rian bisa mengurus semuanya dengan baik,iapun beranjak pergi untuk mengantarkan Nilam pulang kerumahnya.


Zahra sedang membereskan pakaian yang akan ia kenakan besok diacara Pernikahannya kedalam koper dan juga membereskan beberapa baju yang akan dia bawa kerumah Rama,Tiara membantunya.


"Besok akan menikah tapi masih sibuk menangani kasus,itukah yang disebut profesional?" Sindir Tiara yang kesal dengan kelakuan Rama yang justru tidak fokus pada acara pernikahan.


Zahra hanya menyunggingkan bibirnya, "Bagaimanapun ini adalah kasus kakaknya, mereka sudah lama tidak bertemu,mungkin Rama tidak ingin membuat kakaknya kecewa, apalagi hubungan mereka dulu tidak terlalu baik," jawab Zahra yang tidak ingin berpikiran jelek terhadap siapapun.


Tiara melihat kearah Zahra dengan wajah heran "Tapi bukannya dia diluar negeri,lalu bagaimana bisa ia tiba-tiba disini dan mengalami penyekapan seperti itu, bukankah sedikit aneh,"

__ADS_1


Zahra terdiam,jika juga berpikiran sama seperti Tiara, seperti sebuah kebetulan yang sangat aneh,tapi mudah-mudahan ini tidak berpengaruh besar pada hubungannya dan juga Rama,ia hanya ingin acara besok berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun.


__ADS_2