Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Kejutan Yang Manis


__ADS_3

Rama sedang berhadapan dengan Fatma disebuah ruangan dengan hanya mereka berdua disana,Fatma tidak menyangka Rama akan datang menemuinya usai sadar dari komanya,ia sangat bersyukur bisa melihat Rama dalam keadaan sehat, sesuai yang diharapkan Zahra yang selalu berkeluh kesah tentang keadaan Rama saat datang menjenguknya.


"Aku merasa senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Fatma dengan senyum tulus diwajahnya.


Rama tersenyum, bagaimanapun terakhir bertemu hubungan mereka memburuk,Rama masih tidak menyangka Fatmalah yang justru membongkar semua kejahatan yang dilakukan oleh Bimo,padahal awalnya ia selalu berpikir bahwa hubungannya dengan Zahra tidaklah harmonis,tapi pada kenyataannya seorang ibu rela melakukan apapun demi putrinya.


"Aku sangat berhutang Budi pada ibu dan juga Zahra, Terimakasih," ucap Rama yang sedikit merasa canggung.


Fatma menyambut ucapan Rama dengan sebuah senyuman, "Bagaimanapun yang terjadi pada kita semuanya adalah sebuah kesalahpahaman,semoga setelah ini,kita bisa berhubungan dengan baik,"


Rama menganguk,ia juga meminta maaf atas segala sikapnya yang begitu tidak sopan tempo hari dan Fatma dengan senang hati memaafkan semua kesalahan Rama yang menurutnya itu sangatlah wajar.


"Bisakah aku meminta satu hal pada ibu?" Tanya Rama dengan wajah sedikit gugup.


Fatma mengerutkan dahinya,apa yang diminta Rama dari perempuan sepertinya,bahkan ia tidak memiliki apapun sekarang.


"Bolehkah aku menjaga Zahra?" Tanya Rama dengan penuh harap.


Pertanyaan yang membuat Fatma langsung tersenyum bahagia,dan langsung menganguk cepat dengan wajah penuh haru.


"Tidak ada yang bisa menjaganya lebih baik daripada kamu," ucap Fatma yang membuat Rama merasa sangat lega sembari mencium tangan Fatma,ia akhirnya mendapatkan restu dari sang ibu seperti rencana awalnya untuk datang kemari.


Fatma benar-benar tidak menyangka Rama akan mengutarakan hal itu secara langsung padanya, benar-benar pria yang baik serta penuh dengan tanggung jawab,ia yakin putrinya akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini tidak bisa ia berikan.


Siang itu Zahra masih sibuk diboutiqe untuk menyelesaikan pekerjaannya sembari memeriksa kembali beberapa pesanan baju yang baru saja masuk.


"Mbak..ada yang mencari," ucap seorang pegawainya.


Zahra mengerutkan dahinya dan merasa penasaran dengan siapa yang mencarinya,apakah Arman,tapi kalau Arman pegawainya pasti kenal karena Arman tidak hanya datang sekali.


Iapun beranjak meninggalkan ruangan dan keluar untuk menemui orang itu yang sedang melihat-lihat sebuah gaun didepan.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Zahra dengan sopan.


Orang itu berbalik dan membuat Zahra sedikit tercekat.


Rama tersenyum, "Bisakah membantuku mencari sebuah gaun?"


Zahra masih diam, tidak menyangka Rama yang datang,ia kembali terlihat kikuk setiap berhadapan dengan pria itu.


"Gaun yang seperti apa?" Tanya Zahra dengan gugup dan mencoba memilah baju didepannya agar merasa lebih tenang.


"Untuk perempuan,gaun yang sederhana tapi terlihat anggun" ucap Rama yang terus memperhatikan Zahra, membuat Zahra semakin salah tingkah sembari memilah baju dengan tangannya yang sedikit gemetar.

__ADS_1


Zahra mengambil sebuah gaun cantik panjang,berwarna plum,cukup sederhana tapi terlihat sangat elegan.


"Bagaimana dengan yang ini?"


Rama memperhatikan gaun itu dengan baik.


"Kami akan memberikan Khimar gratis jika kamu membelinya," ucap Zahra.


"Apakah ini cocok dengannya?" Gumam Rama yang membuat Zahra bertanya-tanya dalam benaknya untuk siapa sebenarnya Rama membeli gaun itu.


"Memang ukurannya berapa?" Tanya Zahra sebagai penjual yang baik.


Rama melihat kearah Zahra, "Sama persis denganmu,akan lebih baik jika kamu mau mencobanya," pinta Rama membuat Zahra mulai kesal,tapi berusaha menutupinya.


"Baiklah," Zahra mengambil gaun itu dan pergi keruang ganti.


Rama terlihat begitu menikmati permainannya.


Zahra mencoba gaun itu dengan wajah cemberut.


"Kenapa tidak mengajaknya saja kemari,kenapa justru menyusahkanku?" Gumam Zahra dengan kesal.


Rama masih menunggu, beberapa detik kemudian Zahra keluar mengenakan gaun itu,terlihat sangat cocok dan juga cantik bahkan Rama tidak bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan didepannya itu,Zahra berputar layaknya seorang model dan membuat Rama semakin mengaguminya.


"Bagaimana?" Tanya Zahra.


Zahra menganguk, "Baiklah,tunggu sebentar," Zahra kembali masuk ruang ganti untuk berganti baju masih dengan wajahnya yang muram.


Rama kekasir untuk membayar,kali ini Zahra sendiri yang sengaja melayaninya.


"Bisakah langsung dikirim dari sini?" Tanya Rama.


Zahra melihat kearah Rama yang semakin menjengkelkan itu.


"Alamatnya," Zahra mengambil kertas dan pulpen untuk menulis.


"Jalan Subrata, Apartement XXX,no 45,"


Zahra menulisnya tanpa rasa curiga sedikitpun, "Atas nama,"


"Azahra Nadia," ucap Rama.


Zahra kembali menulisnya,namun ia tiba-tiba berhenti dan baru menyadari jika itu adalah alamat rumahnya dan juga namanya sendiri.Ia menatap kearah Rama dengan wajah penuh dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rama masih dengan wajahnya yang tanpa dosa.


"Harusnya memberikannya langsung,untuk apa seribet ini," sindir Zahra sembari mengerucutkan bibirnya karena merasa jika Rama sudah mempermainkannya sedari tadi.


Rama tersenyum lalu mengambil tas berisi gaun tadi, "Jadi,kau mau menerimanya?"


Zahra terdiam, ternyata benar-benar untuknya, "Untuk apa?"


"Untuk pergi denganku malam ini,ada hal penting yang ingin aku sampaikan,kamu maukan?" Tanya Rama kali ini dengan cukup serius.


Jantung Zahra berdebar dengan begitu cepat mendengar Rama yang seperti ini,ia menelan Salivanya dan berusaha lebih tenang lalu mengambil gaun itu.


"Tentu saja,"


Rama tersenyum lega, "Aku akan menjemputmu,"


Zahra hanya menunduk malu,ia yang tadinya kesal dan berpikiran negatif pada Rama akhirnya dibuat luluh dengan kejutan yang terasa begitu indah.


Rian dan Tiara pergi untuk membeli cincin pernikahan mereka.


Mereka sering berselisih paham tentang setiap hal,bahkan menjelang pernikahan selera mereka terasa semakin jauh berbeda, seperti saat ini,Rian memilih A dan Tiara memilih B,membuat penjualnya bingung dengan perdebatan mereka.


"Lihat,ini terlihat lebih cantik," ucap Tiara.


"Itu dijarimu, bagaimna dengan jariku,aku tidak mungkin memakai cincin seperti ini,seorang perwira polisi memakai cincin dengan batu permata,akan sangat memalukan," bantah Rian.


Tiara masih terus membantah dan kekeh dengan pendiriannya,Rian menghela nafas,jika tidak ada yang mengalah ia akan seharian ditempat itu tanpa ada solusi.


"Bagaimana jika dipasangkan saja,kita akan membuat versi wanita juga versi prianya dengan perpaduan keduanya," ucap penjual dengan solusi terbaik karena sudah merasa tidak tahan dengan perdebatan yang tiada akhir.


Tiara dan Rian saling melihat.


"Bukan ide yang buruk," ucap Tiara.


Rian menyunggingkan bibirnya, "Kalau begitu,kami akan memesannya," ucap Rian kepada penjual itu dan masalahpun selesai.


Usai membeli cincin,Rian harus kembali kekantor karena masih ada pekerjaan yang harus ia urus,tapi sebelumya ia akan mengantarkan Tiara pulang terlebih dahulu,masih dengan motor kesayangannya.


Meskipun sering berdebat namun mereka merasa jika perdebatan itu membuat hubungan mereka makin terasa erat, mereka selalu mendapatkan solusi dari setiap masalah yang mereka hadapi dan berharap kedepannya hubungan mereka akan semakin harmonis.


Dimalam yang indah itu,Rama sedang menunggu Zahra didepan Apartement dan kurang dari 5 menit Zahra datang mengenakan gaun yang diberikan Rama dari boutiquenya sendiri, yang terlihat berbeda Zahra menggunakan Khimar untuk menutupi kepalanya dan semakin terlihat cantik membuat Rama enggan memalingkan pandangannya.


"Ini gratis,sayang jika tidak dipakai," ucap Zahra berdalih karena merasa sedikit malu dengan penampilan barunya.

__ADS_1


Rama terkekeh mendengar alasan Zahra yang menurutnya sangat konyol, "Pakailah jika kamu sudah merasa siap,jangan memaksakan diri," ucap Rama yang membuat Zahra langsung terdiam,Rama yang dulu begitu pengertian kembali ia melihatnya sekarang.


Zahra menganguk, Merekapun segera berangkat kesuatu tempat yang sudah Rama persiapkan,Zahra bahkan tidak tahu kemana mereka akan pergi dan apa hal penting yang akan Rama sampaikan padanya,dia hanya berharap kebahagiaan malam ini tidak akan pernah berakhir.


__ADS_2