
Santi mengerjapkan mata dan mulai sadar.
"Zahra," panggil Santi pelan saat melihat cucu kesayangannya berada disampingnya.
"Nenek," Zahra memeluk tubuh neneknya dengan wajah penuh haru, "Nenek udah bikin aku khawatir tahu gak," ucap Zahra lalu melepaskan pelukannya dan mengecup tangan neneknya.
"Maafin nenek ya," ucap Santi yang masih terlihat lemas.
Zahra menganguk, "Nenek gak boleh bikin aku khawatir lagi kaya gini,janji," ucap Zahra.
Santi menganguk,iapun clingak clinguk seperti mencari seseorang.
Zahra mengerutkna dahinya, "Nenek cari siapa?mbak Aira?" Tanya Zahra.
"Bukan,pria itu,Rama,Dimana dia?" Tanya Santi membuat Zahra terdiam,bahkan nenek sudah berkenalan dengan Rama.
"Oh,dia udah pergi nek," jawab Zahra.
"Kok pergi,kan nenek udah janji mau kenalin dia sama kamu,pasti kalian cocok," ucap Nenek membuat Zahra membelalakkan matanya.
"Tadi dia udah setuju kok,mau kenalan sama kamu," imbuh nek Santi lagi membuat Zahra semakin kikuk.
"Nek,ngapain sih nenek mikirin soal itu,Zahra gak perlu dikenalin sama siapapun,nanti kalo udah jodoh juga ketemu sendiri," ucap Zahra.
"Tapi jodohkan gak turun dari langit Zahra,meskipun nenek baru mengenal Rama,nenek yakin dia pria yang baik dan bertanggung jawab,dia sangat pantas untuk kamu," ucap Nenek dengan semangat hingga melupakan kalau dia sedang sakit.
Zahra tertegun, "Tapi perempuan seperti aku tidak pantas untuk pria sebaik dia,nek," batin Zahra yang tiba-tiba merasa sesak saat memikirkan hal itu,entah ada apa dengan perasaannya,ia pun merasa ada yang aneh.
Santi melihat Zahra yang melamun, "Zahra,"
Zahrapun tersadar dari lamunannya.
"Kamu mikirin apa sayang?" Tanya Santi yang melihat kegelisahan Dimata Zahra.
"Gak papa kok nek,nenek sekarang istirahat ya," ucap Zahra mencoba tersenyum dan menyembunyikan perasaan nya.
Dikantor,Rian menghampiri meja Rama dengan membawa sebuah amplop cokelat.
"Fatir bilang pabrik minuman milik Bimo yang ada diMarga sudah mulai beroperasi lagi," ucap Rian sembari memberikan amplop itu pada Rama.
Rama mengerutkan dahinya dan segera membuka amplop berisi foto-foto sebagai bukti.
Fatir adalah anggota polisi yang bertugas diMarga,sebuah tempat terpencil dipinggiran hutan.Ia sering membantu Rian dan Rama dalam menyelidiki kasus Bimo karena pabrik yang didirikannya bersifat Ilegal.
"Bukannya pabrik itu udah ditutup,makanya Bimo terbebas dari jerat hukum kemarin," ucap Rama.
"Mungkin itu cuma siasat mereka untuk mengelabuhi polisi," jawab Rian.
"Kamu sudah lapor ke pak Tio?" Tanya Rama.
Rian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalo begitu jangan beritahu soal ini padanya,kalo dia terlibat pasti akan sulit mendapatkan bukti kecurangan bandit tua itu,aku akan kesana untuk penyidikan dan mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya supaya kita bisa menangkap Bimo dengan mudah," ucap Rama.
"Tapi,apa alasan kamu,pak Tio tidak akan memberimu izin untuk pergi kesana," ucap Rian.
Rama terdiam, "Aku akan pergi saat wekend,agar tidak ada yang curiga," jawab Rama dengan solusi terbaik.
Rian menganguk dan menepuk pundak Rama.
Rama kembali memperhatikan foto-foto yang dikirimkan Fatir,dimana memang ada proses produksi Miras disana.
Ana datang kerumah sakit,setelah akhirnya bisa menghubungi Zahra,wajahnya masih terlihat kesal dan marah.
Iapun menghampiri Zahra yang masih menjaga neneknya.
"Zahra,kamu benar-benar bikin aku pusing," pekik Ana.
"Sttttt," Zahra menarik tangan Ana untuk menjauh karena nek Santi sedang beristirahat.
"Kita dapat peringatan keras dari pak Irwan tahu gak,kalo begini terus karir kamu bisa hancur Zahra," ucap Ana yang terlihat gemas dengan kelakuan Zahra.
"Maafin aku Ana,tapi aku gak bisa meninggalkan nenek,dia lagi sakit,dia butuh aku," ucap Zahra berusaha meyakinkan Ana.
"Kan ada Aira yang menjaga nenek,udahdeh,masalah kemarin kita masih diberi kesempatan tapi kalau kali ini kamu membuat masalah lagi,pak Irwan akan benar-benar murka," ucap Ana dengan kekesalan penuh.
Zahra terdiam,ia melihat kearah neneknya.
"Ya udah,kita tunggu sampai kak Aira datang," ucap Zahra dengan wajah sedih karena sebenarnya tidak tega harus pergi meninggalkan neneknya.
Seusai dari rumah sakit Zahra dan Ana langsung ketempat pemotretan.
Zahra segera berganti baju dan make up,lalu menjalani fotoshoot yang sebenarnya sudah terlambat,tapi untungnya Farel tidak keberatan, yang penting fotoshoot tetap dilakukan.
Mereka bekerja hingga larut malam,karena banyak sekali permintaan klien yang harus cepat selesai.
Rama sampai didepan rumahnya,ia melihat sebuah selendang dibawah jok mobilnya,ia berusaha mengingat-ingat, ternyata itu milik Santi yang tertinggal.
"Aku kembalikan besok saja sambil melihat keadaan nenek," gumam Rama lalu menyimpan selendang itu dengan baik.
Pukul 10.00
Zahra menggeliat,ia baru saja bangun karena terlalu lelah dengan pekerjaan semalam.
Bahkan ia merasa enggan untuk meninggalkan tempat tidurnya.
Ia melihat secangkir cokelat hangat yang sudah berada diatas nakas,pasti Tiara yang membuatnya sebelum berangkat mengajar.
Zahrapun meminum cokelat itu,dan segera kekamar mandi,ia akan pergi kerumah sakit untuk menjenguk neneknya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Fatma dengan tatapan tajam kearah Nek Santi dan Aira.
Santi terdiam,merasa jika perempuan didepannnya begitu terasa asing,bisa-bisanya ia menawarkan sejumlah uang agar Nek Santi dan Aira pindah keluar kota dan tidak berhubungan dengan Zahra lagi.Padahal Fatma yang dulu begitu ramah pada nek Santi meskipun bukan keluarga kandung,Santi dengan tulus menyayangi Zahra seperti cucu kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Ibu tenang aja,setiap bulan saya akan kirimkan uang yang cukup untuk hidup kalian berdua,tapi tolong pergi dari kehidupan Zahra, kalian hanya akan menghambat karir Zahra," imbuh Fatma lagi.
Aira melihat kearah ibunya yang terlihat sedih mendengar ucapan Fatma.
"Ibu maukan Zahra bahagia,Zahra mendapatkan apa yang dia mau,jadi saya mohon jangan pernah lagi membebani Zahra, biarkan dia hidup bebas tanpa harus memikirkan ibu terus," ucap Fatma semakin membuat Santi nelangsa.
"Kalo memang ini untuk kebahagiaan Zahra,ibu akan memenuhi permintaan kamu," jawab Santi dengan wajah terpaksa,Aira hanya bisa menurut dengan keputusan Santi.
Fatma tersenyum, "Memang harusnya seperti itu Bu," ucap Fatma yang Benar-benar sudah banyak berubah dimata Santi.
Zahra baru sampai dirumah sakit sembari menenteng tas berisi makanan kesukaan neneknya,saat ditikungan ia sebenarnya berpapasan dengan Santi juga Aira,tapi karena ada pasien yang lewat diantara mereka,merekapun tidak saling melihat.
Zahra terdiam saat melihat ruang rawat Santi sudah kosong dan ada suster yang sedang beres-beres.
"Lho sus,nenek saya mana?" Tanya Zahra dengan wajah cemas.
"Nek Santi baru saja pulang mbak,Oya,nenek menitipkan ini buat mbak Zahra," ucap Suster itu yang sudah mengenal Zahra dengan baik.
Zahra menerima sepucuk surat dan membacanya,
"Cucuku tersayang,Azahra,maaf nenek harus pergi tanpa berpamitan padamu,nenek melakukan semua ini demi kebahagiaan kamu sayang,tolong jaga kesehatan dan semoga Allah selalu melindungi kamu,"
Zahra tertegun,ia tidak percaya nenek akan meninggalkannya,Iapun berlari dengan cepat,siapa tahu nenek masih belum pergi karena suster bilang nenek baru saja pulang.
Zahra terus berlari dengan air mata yang berderai,apa maksud dari surat itu,kemana neneknya akan pergi.
Rama sampai didepan rumah sakit dengan selendang ditangannya,ia melihat nek Santi dan Aira masuk kedalam taxi.
"Lho,nenek udah pulang," Rama ingin menyapa tapi ia melihat Zahra yang keluar dan menghampiri taxi itu sambil menangis.
"Nek...nenek..apa maksud nenek,nenek mau pergi kemana?nenek gak boleh ninggalin aku nek," Zahra mengetuk jendela taxi itu tapi tidak ada respon dari dalam.
"Nenek aku mohon,jangan tinggalin Zahra nek," Zahra merengek sambil menangis.
Santi terlihat tidak tega pada Zahra,ia ingin membuka pintu tapi Aira menahannya.
"Jalan pak," ucap Aira pada sopir taxi.
Taxipun melaju meninggalkan Zahra.
"Nenek....nenek..." Teriak Zahra hingga ia terjatuh keaspal dan menangis sejadi-jadinya.
Kenapa orang yang begitu peduli padanya dan sangat menyayanginya harus pergi,bagaimana dia akan hidup sekarang.
Rama masih terdiam melihat Zahra yang masih menangis dihadapannya.
Ia memalingkan wajah,Rama bukan orang yang berhati batu karena meskipun membenci tapi melihat Zahra menangis seperti itu tetap membuatnya tidak tega.
Zahra berusaha tenang dan berpikir,iapun menghapus air matanya,dan berdiri lalu melangkah kan kakinya,ia melihat Rama yang juga sedang melihat kearah nya.
Keduanya hanya diam,Zahra tidak ingin terlibat masalah apapun dengan Rama,iapun bergegas pergi menuju kemobilnya karena yang terpenting sekarang adalah neneknya.
__ADS_1