
Pagi menyapa,Rama sudah berada dimobilnya, didepan sebuah apartement mewah,ia meminta alamat Fika dari Rian,entah kenapa namun ia masih merasa penasaran dengan perempuan itu,iapun memutuskan untuk mencari tahu agar rasa penasarannya terobati,ia sudah menunggu sedari pagi namun Fika tak juga keluar.
Rama menghela nafas, terkadang ia merasa bahwa tindakannya ini sedikit konyol,ia seperti penguntit dengan tujuan yang tidak jelas,tapi mengabaikan semuanya juga tidak membuat hatinya tenang,ia seperti dihantui rasa penasaran yang bahkan tidak bisa membuatnya tidur dengan nyenyak.
Hampir 3 jam menunggu, Perempuan itu keluar sembari menggandeng putri kecilnya lalu masuk kedalam mobil,entah kemana mereka akan pergi,namun Rama akan mengikutinya.
Ternyata Fika dan Mita pergi kemall,mereka pergi untuk berbelanja.
Usai membeli beberapa pakaian,mereka pergi ketoko mainan,karena Mita ingin membeli mainan terbaru yang belum ia miliki,Fikapun hanya bisa menuruti putri kecilnya itu.
"Ma...Mita mau yang itu," tunjuk Mita kesalah satu mainan boneka yang berada dirak atas.
Fika mencoba mengambilnya tapi tangannya tidak sampai,ia menoleh kekanan dan kekiri berharap ada petugas yang bisa membantunya namun toko begitu ramai, sehingga petugaspun sibuk melayani pelanggan lainnya.
Melihat Mita yang sudah tidak sabar,Fika berusaha berjinjit untuk bisa meraih mainan itu,namun tiba-tiba sebuah tangan mengambil mainan itu dari tempatnya, seseorang berdiri tepat dibelakang Fika,bahkan Fika bisa merasakan hembusan nafasnya.
Fika segera berbalik dan melihat wajah yang tidak asing didepannya, matanya terbuka lebar dan mulutnya diam membisu menatap pria yang begitu lancang itu.
Rama berjongkok dan memberikan mainan itu pada Mita.
"Makasih Om," ucap Mita dengan senyum sumringah membuat Rama mengusap kepalanya sembari tersenyum.
Sementara Fika masih diam dalam lamunannya.
Rama berdiri dan menatap kearah Fika,Fika memalingkan wajahnya segera, melihat kearah putrinya.
"Ayo sayang kita pulang," Fika sepertinya masih terganggu dengan kehadiran Rama.
"Ma..inikan om yang kemarin,katanya mama mau minta maaf kalo ketemu,kan mama udah mukul om yang baik ini," Mita bahkan mengingat hal itu,Fika langsung mendengus, terkadang kecerdasan Mita juga sangat merugikannya, Iapun menunduk malu.
Rama tersenyum mendengar ucapan Mita dan melirik kearah Fika.
"Mama udah minta maaf kemarin sayang," Fika mengusap kepala Mita dengan gemas.
Rama mendekati Mita, "Gimana kalau syarat minta maafnya,om ngajakin Mita jalan-jalan,Mita mau gak?"
"Mau..." Jawab Mita spontan dengan begitu bersemangat.
Fika langsung menarik putrinya menjauh, "Gak perlu,kita harus pulang," entah kenapa Fika masih saja menaruh curiga pada sikap Rama yang begitu perhatian itu.
"Tapi Ma,Mita mau jalan-jalan,dari kemarinkan gak jadi,papa sibuk terus,"
"Stttt .." Fika langsung menutup mulut putrinya itu,membuat Mita merungut.
Rama menatap kearah Fika, "Aku gak bakalan menculik putri kamu kok,aku akan menjaganya dengan baik,"
"Apa niat kamu sebenarnya,kamu sengajakan mengikuti kami?" Sepertinya Fika sudah tahu jika sedari tadi Rama sudah mengikuti mereka.
Rama justru tersenyum,entah kenapa melihat tatapan Fika yang begitu tajam mengingatkannya pada Zahra, mereka benar-benar mirip.
"Bisa aku jelaskan lain kali,Mita sudah tidak sabar ingin jalan-jalan,yakan Mita?"
Mita menganguk cepat,Rama menggendong tubuh mungil gadis itu lalu membawanya pergi bahkan tanpa seizin Fika,Fikapun mendengus kesal dan segera mengikuti mereka.
Rama mengajak Mita kesebuah taman bermain yang berada didalam Mall,mereka bermain bersama dengan begitu bahagia,Mita benar-benar senang akhirnya dia bisa bermain bersama seseorang selain mamanya,Rama benar-benar pandai mengambil hati gadis kecil itu.
__ADS_1
Fika memperhatikan mereka dari kejauhan,melihat putrinya yang begitu bahagia membuatnya merasa lega, meskipun ia masih terlihat waspada, bagaimanapun juga Rama adalah orang asing dan bisa saja ia berniat jahat pada Mita.
Usai puas bermain,mereka membeli ice cream dan makan bersama,Fika masih diam meskipun terkadang senyum itu menghiasi bibirnya ketika melihat tingkah lucu Rama yang menggoda Mita,namun ia langsung membuang muka ketika Rama menatap kearahnya.
Rama sangat mengerti kecemasan diwajah Fika,tapi inilah yang membuatnya semakin penasaran, entah kenapa semakin lama ia merasa jika perempuan itu semakin mirip dengan istrinya.
Mita sedang bermain mandi bola,Rama menghampiri Fika yang sedang duduk untuk mengawasinya,iapun duduk disamping Fika, membuat Fika sedikit tidak nyaman.
"Aku tidak akan memakanmu," celetuk Rama yang gemas dengan sikap Fika yang sepertinya sangat berhati-hati padanya.
Fika hanya diam dengan wajah cemberut,ia tahu sikapnya mungkin terlalu berlebihan,tapi ia benar-benar harus berhati-hati dengan pria asing yang tiba-tiba bersikap baik padanya dan juga pada putrinya,pasti ada niat terselubung dibalik semua ini.
"Masih mau mendengarkan penjelasanku?" Tanya Rama membuat Fika langsung menatap kearahnya.
"Putrimu gadis yang sangat lucu dan juga cerdas,aku menyukainya," ucap Rama sambil tersenyum,membuat Fika mendengus kesal,jelas bukan itu penjelasan yang ingin Fika dengar.
"Ini sudah sore,kita harus pulang," Fika membangunkan tubuhnya namun Rama reflek menarik tangan Fika.
"Tunggu,"
Tarikan yang begitu kuat membuat tubuh Fika oleng dan jatuh kepelukan Rama.
Keduanya terkejut,sungguh Rama sama sekali tidak berniat seperti ini,apalagi saat ia bisa merasakan pelukan hangat ditubuhnya,dadanya mulai terasa sesak.
Fika masih diam,kembali getaran aneh itu menjalar keseluruh bagian tubuhnya,darahnya seakan mendidih,merasakan begitu hangatnya pelukan Rama,namun ia berusaha mengendalikan dirinya dan langsung bangun dan menjauh dari Rama dengan wajahnya yang sedikit kesal.
"Apa lagi sekarang?".
Rama berdiri dan menatap wajah Fika dengan begitu intens, membuat Fika menjadi sedikit gugup.
"Apa benar namamu Fika?Apa kamu yakin?"
"Tolong pikirkan lagi," Rama berjalan menghampiri Mita untuk berpamitan lalu ia segera pergi meninggalkan putri kecilnya itu.
Fika masih diam menatap kepunggung pria yang meninggalkan banyak pertanyaan dikepalanya.
Didalam mobilnya,Rama masih bisa merasakan harumnya tubuh Fika yang seakan masih mengikutinya,ia semakin yakin jika banyak kemiripan antara Fika dan Zahra,ia harus mencari petunjuk lagi tentang perempuan itu.
Iapun mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Ya Allah, berikanlah petunjuk bagi hamba," Rama terus berdo'a dan berharap bahwa kali instingnya benar bahwa memang perempuan itu adalah istrinya.
Malam harinya,Fika keluar dari kamar sang putri usai menidurkannya,ia duduk diruang tengah,masih teringat dengan ucapan Rama yang terus memenuhi kepalanya.
Sekarang bahkan ia mulai merasa ragu dengan dirinya sendiri, harusnya ia tidak boleh berpikir seperti itu,ia adalah Fika,mama dari Mita,ya...ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang kebenaran itu.
Saka baru saja pulang,ia menatap kearah Fika yang bahkan tidak menyadari kehadirannya karena terlalu sibuk dengan lamunannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Saka yang duduk disamping Fika.
Fika terdiam melihat pria yang katanya adalah suaminya itu,ia menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak ada,"
"Dimana Mita?"
"Sudah tidur, mungkin dia lelah setelah seharian bermain," jawab Fika dengan ketus.
__ADS_1
Saka tahu,Fika masih marah padanya, "Baiklah,besok aku akan mengajak kalian untuk pergi menonton sirkus,jadi istirahatlah sekarang," Saka menepuk pundak Fika lalu beranjak menuju kekamarnya.
Fika terdiam,inikah cara Saka menebus kesalahannya,namun kenapa hatinya sama sekali tidak tergerak.
Keesokan harinya,Rama mengambil salinan data Fika dari kantor,ia memperhatikan dengan seksama kertas ditangannya itu, "Alfika Naira? kenapa nama itu terdengar tidak asing?" Rama masih berusaha mengingat dimana ia pernah mendengar nama itu,namun ia masih belum mengingatnya.
Rama duduk,kali ini dia berusaha untuk lebih tenang agar ingatannya kembali terbuka,ia begitu konsentrasi sembari memejamkan matanya.
Setelah beberapa saat,ia membuka matanya, benar-benar mengingat sesuatu, "Korban kecelakaan,istri dari Saka Wirawan,namanya Alfika Naira?apakah hanya sebuah kebetulan?" Rama memijat kepalanya untuk berpikir.
Mita terlihat sangat bahagia bisa pergi ketempat sircus bersama papa dan mamanya,ia bersemangat melihat berbagai pertunjukan yang ditampilkan sembari berada dipangkuan papanya.
Fika merasa lega,akhirnya kali ini Saka tidak mengingkari janjinya lagi,namun itu hanya berlangsung sesaat,ponsel Saka berbunyi dan ekspresi wajahnya langsung berubah.
"Sayang,papa ada pekerjaan sebentar,kamu nonton sama mama aja ya,papa janji cuma sebentar," ucap Saka sembari mengusap kepala sang putri.
Mita menganguk,ia masih ingin melihat pertunjukan itu,hingga tidak terlalu memikirkan papanya yang akan pergi, sebaliknya,Fika memasang wajah culas,tidak bisakah sehari saja mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama tanpa ada masalah pekerjaan.
Saka tahu Fika kesal,namun ia sama sekali tidak peduli,ia langsung pergi begitu saja, menurutnya pendapat Fika tidaklah penting,yang penting sang putri sudah mengizinkannya pergi.
Fika hanya bisa menghela nafas berat,lalu merangkul sang putri tercinta dan menemaninya melihat pertunjukan yang masih berlangsung.
Rama masih sibuk dikantor,ada beberapa kasus yang harus segera ia selesaikan, tiba-tiba suasana Riuh,ada sebuah kebakaran ditempat sirkus dan polisi harus datang untuk melakukan pengamanan disana.
Ramapun bergabung dalam Tim dan menuju kelokasi tersebut.
Api berkobar begitu besar,angin yang bertiup kencang membuat Api semakin membesar,para penontonpun berlarian dengan langkah yang panik untuk menyelamatkan diri,Fika masih menggandeng tangan putri kecilnya sembari berdesakan diantara banyaknya orang yang melarikan diri,hingga tangan mereka tiba-tiba terlepas.
"Mita..." teriak Fika sekencang mungkin,namun ia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya ditengah kerumunan,tubuhnya dengan sendirinya terdorong keluar meskipun sekuat tenaga ia berusaha melawan.
"Mama..." teriak Mita yang ketakutan karena ia tertinggal oleh mamanya dan masih berada didalam lokasi kebakaran,dengan api yang berada disekelilingnya.
Fika terus menangis dan ingin kembali kedalam untuk menyelamatkan putrinya namun petugas melarangnya karena sangat berbahanya, "Tolong biarkan saya masuk pak,putri saya didalam pak," teriak Fika histeris.
Rama dan Timnya baru saja tiba dilokasi,tapi suara tangisan itu sudah menggema ditelinganya,iapun berlari kearah perempuan yang berlutut didepan petugas damkar agar diizinkan masuk.
"Ada apa?" tanya Rama dengan wajah tak kalah panik.
"Mita...Mita masih didalam,tolong selamatkan Mita," teriak Fika sembari menarik jaket Rama dengan histeris.
Rama melihat kedepan dengan api yang semakin membesar,ia berbicara dengan beberapa petugas agar diizinkan masuk untuk menyelamatkan Mita,petugas mengizinkannya namun harus memakai beberapa alat pengaman, akhirnya Ramapun masuk bersama beberapa petugas lain untuk menyelamatkan korban yang masih terjebak didalam, sementara diluar api mulai dipadamkan dengan beberapa mobil damkar.
"Mita..." teriak Rama mencari keberadaan Mita ditengah suhu panas yang seakan membakar kulitnya.
Mita bersembunyi dibawah meja dengan tangis ketakutan,Rama melihatnya,ia membuka jaketnya dan langsung menyelimuti tubuh mungil Mita.
"Kamu gak papa sayang?"
Mita menganguk,Rama langsung menggendong tubuh Mita dan membawanya keluar dari lokasi itu.
Fika terus berdo'a dan berharap putri kecilnya akan selamat,ia tidak akan bisa hidup tanpa Mita,Mita adalah alasan kenapa ia tetap bertahan sampai saat ini.
Hingga ia melihat seorang pria yang membawa putrinya mendekat kearahnya,Fika serasa hidup kembali melihat sang putri yang selamat.
"Mita..." Fika langsung memeluk erat sang putri yang lemas,ia sangat bersyukur masih diberikan kesempatan seperti ini,namun Mita jatuh pinsan ,mungkin karena menghirup banyak asap.
__ADS_1
"Kita harus membawanya kerumah sakit," ucap Rama dengan wajah yang sedikit panik.
Fika menganguk,kali ini ia merasa jika Ramalah satu-satunya orang yang bisa ia andalkan.