Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Tiba-tiba Dilamar


__ADS_3

Pagi menyapa,kali ini Zahra bersama Tiara datang bersamaan kerumah sakit, kebetulan Arman menelfon Zahra dan sudah diperbolehkan pulang hari ini.


"Biar aku bantu," Tiara mencoba membantu Arman yang ingin turun dari ranjangnya.


"Aku bisa," jawab Arman yang secara halus menolak bantuan Tiara.


Tiarapun terlihat sedikit kikuk tapi berusaha menutupinya, meskipun begitu Zahra tetap bisa merasakan kekecewaan diwajah sahabatnya itu.


"Zahra,apa kamu bisa mengantarkan aku kerumah?" Tanya Arman sembari menatap kearah Zahra.


Zahra melihat kearah Tiara yang langsung memalingkan wajahnya.


"Maaf,aku ada pekerjaan hari ini,jadi tidak bisa mengantarmu,sekali lagi maafkan aku," ucap Zahra yang langsung mengukir kekecewaan diwajah Arman.


"Kalau begitu,apa Tiara bisa mengantarku?" Tanya Arman pada Tiara yang sedari tadi berusaha membantu tapi ditolak.


"Hari ini aku harus mengajar,aku akan pesankan taxi,bagaimana?" Jawab Tiara.


Zahra melotot kearah Tiara dan mengulum senyum,Tiarapun mengedipkan mata pada Zahra.


"Baiklah,kalau begitu aku akan naik Taxi," ucap Arman yang kali ini benar-benar merasa kecewa karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengantarkannya pulang.


Disiang yang terik itu,panas matahari serasa membakar kulit,Rama masih berada dilokasi kecelakaan tragis yang terjadi pagi tadi yang menewaskan dua pengendara motor,iapun masih melakukan penyidikan untuk mengumpulkan bukti-bukti kronologi kejadian,ia juga bertanya kepada beberapa orang dilokasi sebagai saksi.


Benar-benar sungguh melelahkan harus bekerja diluar ruangan dalam cuaca sepanas ini,iapun duduk dipinggir jalan untuk beristirahat sejenak.


Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebotol air untuknya, Ramapun mendongak dan mengerutkan dahi saat melihat orang itu.


"Pasti sangat lelah bekerja dicuaca seperti ini," ucap Zahra sembari menggoyangkan botol ditangannya berharap Rama mau menerimanya.


Ramapun menyunggingkan bibirnya dan mengambil botol itu dari tangan Zahra,lalu segera meminumnya,membuat Zahra tersenyum lega.


"Kebetulan atau memang sengaja?" Tanya Rama sembari menatap kearah perempuan yang masih berdiri didepannya itu.


"Kebetulan lewat,dan sengaja turun," jawab Zahra membuat Rama tersenyum geli mendengar jawaban konyol Zahra.


"Bagaimana keadaan Arman?" Tanya Rama saat Zahra mulai duduk disampingnya.


"Kamu begitu memperhatikan Arman,kenapa tidak menanyakan kabarku?" Sindir Zahra yang sengaja menggoda Rama.


"Sejak kapan kamu bersikap dominan seperti ini?" Tanya Rama yang merasa sedikit aneh dengan sikap Zahra yang blak-blakan.


Zahra tertegun,lalu memalingkan wajahnya yang baru menyadari jika sikapnya sungguh memalukan.


Rama menatap kearah Zahra dengan wajah yang cukup serius, "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepadamu,


sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini ditempat yang lebih pantas,tapi karena kita sudah berada disini sekarang,aku tidak ingin menundanya lagi,"

__ADS_1


Zahra menatap kearah pria disampingnya itu dengan wajah penuh penasaran,apa sebenarnya yang ingin Rama bicarakan hingga terlihat begitu serius.


Rama menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan agar lebih rilex,"Apa kamu punya rencana untuk segera menikah?"


Sontak pertanyaan Rama membuat Zahra langsung membelalakkan matanya karena kaget,pertanyaan macam apa itu,dan apa maksudnya,membuat Zahra merasa kikuk sendiri.


"Ehm...untuk apa menanyakan hal seperti itu?kamu tidak sedang ingin melamarkukan?" Jawab Zahra dengan wajah yang terlihat gugup.


Rama menegapkan badannya dan menghadap kearah Zahra, "Azahra,bolehkah aku bertemu dengan walimu untuk membicarakan tentang pernikahan kita?"


Deg....


Zahra terdiam menatap pria didepannya itu,


"Apa dia sedang mempermainkan aku?ada apa ini?kenapa tiba-tiba dia melamarku seperti ini? Ataukah semua ini hanya mimpi?" Zahra masih bergelut dengan pikirannya yang dibuat kacau dengan pertanyaan Rama.


Rama bisa melihat kebingungan diwajah Zahra,ia juga merasa jika niatnya untuk menikahi Zahra secara tiba-tiba ini akan membuat Zahra kebingungan,tapi ini satu-satunya cara agar Rama bisa dekat dengan keluarga Zahra, terutama ibunya Zahra yang akan membantunya menemukan bukti tentang kelicikan Bimo.


Zahra menelan Salivanya dengan kasar masih berusaha memahami keterkejutan yang benar-benar membuat jantungnya terasa akan meledak.


"Pikirkan saja dulu,aku tidak menginginkan jawaban itu sekarang," ucap Rama yang mulai tidak tega melihat wajah Zahra yang semakin tertekan.


Zahra menatap lagi kearah Rama setelah berpikir untuk beberapa waktu.


"Kenapa?"


"Bukankah sangat aneh, tiba-tiba menyatakan lamaran ditempat seperti ini,tanpa ada persiapan apapun, apalagi kita juga sedang tidak terikat dalam hubungan apapun,apa kamu sedang mempermainkan aku?" Wajar saja jika Zahra menaruh curiga pada sikap Rama yang tiba-tiba berubah seperti ini apalagi dengan begitu tiba-tiba menyatakan keinginannya untuk menikahi Zahra.


Rama terdiam dan menatap kedepan,ia menghela nafas berat, "Hubunganku dengan Hana berlangsung selama 5 tahun,kami punya impian menikah lalu hidup bahagia bersama,tapi ternyata Allah berkehendak lain,Dia lebih menyayangi Hana dan mengambilnya dari sisiku,Semua itu membuatku berpikir jika kebersamaan bisa berakhir kapan saja sesuai kehendak Allah,dan ketika ada kesempatan untuk menyatukan sebuah hubungan,aku ingin melakukan itu secepatnya,sebelum Allah menghilangkan semua kesempatan itu,aku tidak ingin menunda sesuatu yang baik dalam hidupku," ucap Rama lalu melihat lagi kearah perempuan yang terdiam dan begitu meresapi kata-katanya.


"Apa kamu ingin menikahiku karena kamu mencintaiku?,atau hanya ingin melampiaskan hasratmu?" Tanya Zahra dengan tatapan nanarnya.


Rama menunduk dan terdiam,sulit jika harus mengatakan kebohongan didepan orang lain,apalagi ia sama sekali tidak ingin menipu Zahra dan membuatnya sakit hati.


"Selama 5 tahun aku hanya mencintai perempuan yang sama,akan sangat sulit untuk jatuh cinta lagi,tapi jika aku mengatakan ingin menikah denganmu karena kamu sudah membuatku nyaman,apa kamu keberatan?"


Zahra terdiam, "Ternyata bukan cinta?" Pikirnya yang merasa konyol karena terlalu mengharapkan hal lebih dari Rama.


"Aku tidak ingin memaksamu,hanya ingin mengatakan ini dan berharap kamu akan memikirkannya,maaf jika sudah membuatmu kaget dan bingung," ucap Rama sembari mengusap lembut kepala Zahra.


Zahra berdiri dan menghela nafas panjang, "Dilamar seperti ini, perempuan mana yang tidak syok,apalagi ditepi jalan yang panas, sangat tidak romantis," sindir Zahra yang menunduk menatap Rama sembari memanyunkan bibirnya.


Rama terkekeh, "Kalau begitu tolak saja,"


Zahra terdiam sesaat dan berpikir,lalu kembali menengok kearah Rama, "Aku akan mengatur pertemuanmu dengan ibuku,"


Deg....

__ADS_1


Rama terdiam saat mendengar ucapan Zahra,apa itu berarti dia menerima lamaran itu.


Zahra tersenyum saat melihat Rama yang masih syok, "Aku pergi dulu dan akan menghubungimu secepatnya, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab Rama dengan wajahnya yang masih terlihat syok.


Zahrapun beranjak pergi meninggalkan Rama.


Rama meraup wajahnya beberapa kali,apa yang telah ia lakukan,kali ini dia benar-benar sudah melakukan penipuan yang luar biasa,bahkan sampai membawa nama Allah.


"Astaghfirullahaladzim,ya Allah,apakah hamba berdosa sudah melakukan ini demi mengungkapkan kejahatan seseorang,tolong ampuni hamba ya Allah," Penyesalan Rama yang baru ia sadari setelah mendengar jawaban Zahra yang begitu bahagia menerima lamarannya.


Tapi sekarang sudah satu langkah didepan, tidak mungkin bisa mundur lagi,apa yang akan dilakukan Bimo jika mengetahui tentang lamaran itu,pasti dia akan murka dan mungkin akan menelan Rama hidup-hidup.


Rian sedang duduk dimejanya,Rama datang dan melemparkan berkas kepadanya lalu iapun duduk di kursinya dengan wajah penuh gelisah dan juga cemas.


"Kenapa?apa terjadi masalah?" Tanya Rian sembari memeriksa hasil kerja Rama yang sempurna seperti biasanya.


Rama menarik nafas panjang berkali kali seperti orang yang baru saja kehilangan banyak oksigen,membuat Rian semakin bingung.


"Ada apa?" Tanya Rian lagi yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Rama menatap kearah Rian, "Karena saranmu aku sudah melakukan kesalahan besar," jawab Rama membuat Rian mengerutkan keningnya.


"Aku baru saja melamar Zahra untuk menikahinya,"


"Apa?" Pekik Rian, "kamu benar-benar melakukannya?" Rian masih terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Rama hanya diam sembari menyandarkan kepalanya kebelakang.


"Selamat, akhirnya kamu bisa move on dari Hana," ucap Rian yang justru cengengesan melihat sahabatnya yang sedang diselimuti kegelisahan.


Rama mendengus kesal mendengar celotehan Rian.


"Apa yang salah,Zahrakan perempuan cantik,baik dan juga terkenal,bagus jika kamu bisa menikah dengannya bukan,selain mendapatkan istri kamu juga bisa menangkap si bandit tua itu,bukankah ini namanya jackpot," ucap Rian yang terlihat begitu bersemangat.


"Apa kamu pikir mudah melakukan semua ini, secara tidak langsung aku sudah mempermainkan sebuah pernikahan,dan juga menipu Zahra,aku pasti akan sangat menyakitinya nanti," keluh Rama yang masih tidak tega jika melihat kebahagiaan Zahra yang nantinya akan dia hancurkan.


"Kalo begitu jangan menipunya,kamu begitu takut menyakitinya apa itu bukan cinta namanya,kamu mencintainya jadi apa yang salah dengan hubungan kalian," bantah Rian.


Rama terdiam,ia bahkan tidak menyadari hal itu,ia hanya takut menyakiti Zahra tapi tidak pernah mengakui jika ia mencintai Zahra,sungguh membuatnya semakin bingung dan galau,apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya,kenapa begitu sulit mengerti tentang perasaannya sendiri,kenapa begitu rumit untuk dijabarkan, benar-benar membuat depresi.


Rian berdiri dan menepuk pundak Rama yang masih kalut itu.


"Allah yang akan menjawab semua kegelisahanmu, serahkan semua kepada-nya," ucap Rian lalu iapun beranjak untuk menyerahkan berkas ditangannya kepada atasannya.


Rama terdiam,iapun kembali beranjak pergi dari tempatnya usai mendengarkan saran Rian.

__ADS_1


__ADS_2