
Zahra menatap kearah pria yang berada disampingnya saat mobil sudah berhenti.
"Terimakasih sudah mengantarkan aku,dan Terimakasih juga untuk semuanya," ucap Zahra yang merasa jika Rama sudah melakukan banyak hal untuknya.
Rama hanya membalas ucapan Zahra dengan senyum tipis dibibirnya,Zahrapun segera turun untuk menemui ibunya yang sudah menunggu didalam rumah.
Sementara Rama kembali melajukan mobilnya untuk pulang kerumah.
Zahra menatap wajah perempuan yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya dengan wajah cemas,membuat Zahra berpikir apa yang sebenarnya terjadi hingga malam-malam begini ibunya datang menemuinya,pasti ada hal yang sangat penting.
"Apa hubungan kamu dengan polisi bernama Rama?" Tanya Fatma tanpa basa basi pada Zahra.
Zahra membulatkan matanya, tidak menyangka jika Fatma akan menanyakan soal ini padanya.
"Zahra,jawab ibu," tanya Fatma kembali karena Zahra justru diam dan melamun.
"Untuk apa ibu menanyakan soal ini,aku tidak ada hubungan apapun dengannya," jawab Zahra masih dengan banyak pertanyaan yang menggangu pikirannya.
"Benarkah?lalu kenapa Bimo sangat marah,bahkan dia mengancam akan melenyapkan Rama jika kalian masih berhubungan," ucap Fatma kembali mengejutkan putrinya.
"Apa?" Pekik Zahra.
Zahra tertegun dan berpikir apakah penjahat tadi adalah rencana Bimo,apa ini rencananya untuk melenyapkan Rama,kenapa manusia itu begitu kejam,Zahra terlihat sangat kesal dan marah jika mengingat betapa jahatnya perbuatan Bimo.
"Zahra,pokoknya jangan sampai kamu berhubungan lagi dengannya,kamu tahukan kalo dia mendapatkan bukti jika kamu bersalah,dia pasti akan dengan mudah menjebloskan kamu kedalam penjara,atau dia memang sengaja mendekati kamu untuk mencari bukti itu," imbuh Fatma yang menaruh curiga pada Rama.
"Bu,Rama orang yang baik kok,dan dia gak selicik itu,aku yakin dia tulus saat menolongku tanpa ada niat buruk apapun," Zahra berusaha membela Rama karena dimatanya Rama bukanlah orang jahat yang seperti dituduhkan ibunya.
Fatma menatap sinis kearah Zahra, "Apa benar kamu tidak ada hubungan apapun dengannya,tapi sepertinya matamu mengatakan hal lain," Fatma mengerti jika Zahra mempunyai perasaan lebih pada Rama.
Zahra terdiam dan memalingkan wajahnya,tidak dapat menjawab pertanyaan ibunya,Fatma mulai naik darah, ternyata benar putrinya menaruh hati pada pria itu.
"Zahra,ibu ingatkan,jangan berhubungan lagi dengan pria itu,atau hidupmu akan benar-benar hancur," Fatma berusaha mengingatkan putrinya itu,karena tidak ingin suatu saat ia akan kecewa saat Rama tidak benar-benar membalas perasaannya.
Zahra masih diam,ia tidak ingin merusak hubungannya dengan Fatma yang baru saja membaik dengan membantah ucapannya,meskipun ia juga tidak memungkiri jika perasaannya keRama memang benar,tapi kali ini dia harus mencoba mengalah demi ibunya.
"Aku akan mencoba menjauhinya," ucap Zahra pelan dengan penuh keterpaksaan diwajahnya.
Fatma merasa lega,karena Zahra tidak melawan perintahnya kali ini,iapun memberikan pelukan hangat untuk putrinya itu.
"Apa ibu tahu jika nenek sudah meninggal?" Ucap Zahra membuat Fatma terkejut dan langsung melepaskan pelukannya lalu menatap kearah putrinya itu dengan nanar.
Zahrapun menceritakan semuanya pada Fatma,bahkan tentang kecelakaan yang menimpa Arman.
Rama sampai didepan rumah,ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi rekannya yang mengejar para penjahat tadi,tapi wajahnya berubah kesal,rekannya berkata jika mereka berhasil melarikan diri,tapi polisi masih melacak keberadaan mereka.
"Berikan kabar secepatnya jika mereka sudah tertangkap," ucap Rama dengan seringai tajamnya,lalu meletakkan ponselnya,ia mengingat para penjahat tadi yang begitu sangat menginginkan Zahra,sudah dipastikan mereka adalah orang-orang suruhan Bimo,tapi jika tidak ada bukti,tidak akan pernah bisa menyeret bandit tua itu kepenjara.
"Iblis seperti apa yang sedang aku hadapi," keluh Rama lalu menundukkan kepalanya kekemudi mobil karena merasa jika dirinya selalu bisa dikalahkan oleh lelaki biadab seperti Bimo itu.
Cahaya mentari menyelinap masuk melewati celah jendela,Arman mengerjapkan matanya perlahan, wajahnya masih terlihat pucat dan seperti menahan sakit yang teramat dikepalanya.
"Kamu sudah sadar?" Tiara menyambut Arman dengan senyuman Haru diwajahnya.
Arman meringis sembari memegangi kepalanya membuat Tiara ikut miris melihatnya.
"Apa masih sakit?" Tanya Tiara lagi yang mulai merasa cemas dengan keadaan Arman.
"Aku baik-baik saja," jawab Arman pelan meski wajahnya masih terlihat menahan sakit.
"Aku akan panggilkn dokter," Tiara ingin melangkah tapi Arman menahan tangannya,membuat Tiara berbalik menatapnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Zahra,apa dia baik-baik saja?" Tanya Arman yang terlihat khawatir pada keadaan Zahra.
Dada Tiara tiba-tiba terasa sesak mendengar pertanyaan Arman,begitu pentingkah Zahra baginya,bahkan dalam kondisinya yang seperti ini,ia masih menanyakan keadaan Zahra.
"Dia baik-baik saja,kamu ingin bertemu dengannya?" Tanya Tiara dengan wajahnya yang menahan perih.
Arman mengedipkan mata membuat Tiara mengerti,iapun mengirim pesan agar Zahra segera datang kerumah sakit.
"Dia akan datang sebentar lagi," ucap Tiara.
"Terimakasih," jawab Arman.
Tiara berusaha tersenyum meskipun ada sakit yang ia rasakan dihatinya.
Saat dalam perjalanan,Rama melihat kerumunan warga ditepi jalan,sepertinya ada lakalantas,iapun turun untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, ternyata benar sebuah kecelakaan mobil yang masuk kedalam sungai.
"Mobil itu?" Rama membelalakkan matanya,ia teringat pada mobil yang mencegatnya semalam,ternyata mobil itu jatuh kejurang,tapi sepertinya tidak ada satupun korban.
Ramapun segera mengambil ponsel untuk menghubungi rekannya agar segera datang kelokasi.
"Inikah caranya menghilangkan saksi dan barang bukti,dasar licik," pikir Rama dengan amarah yang berkobar dimatanya.
"Assalamualaikum," ucap Zahra saat memasuki ruang rawat Arman dengan buah-buahan ditangannya.
"Waalaikumsalam," jawab Arman dan Tiara bersamaan.
Zahra mendekat dan menaruh buah itu dimeja lalu menghampiri pria yang masih terbaring lemah itu.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Zahra yang terlihat cemas karena demi dirinya Arman harus sampai seperti ini.
"Sudah lebih baik," jawab Arman dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"Harusnya kamu tidak perlu melakukan ini,kamu sudah membahayakan nyawa kamu sendiri hanya demi perempuan seperti aku," ucap Zahra dengan penuh penyesalan.
Tiara merasa sesak melihat Arman yang begitu memperhatikan Zahra,bahkan sama sekali tidak menganggapnya ada,apakah selama ini ia terlalu berharap, tapi yang sebenarnya Arman justru menaruh hati pada sahabatnya itu.
"Ra,kamu bisakan temenin Arman,aku harus pulang dan mengajar hari ini," ucap Tiara yang mulai tidak tahan dengan keadaan yang semakin lama membuat nafasnya semakin sesak.
"Iya,aku yang bakalan jagain Arman," jawab Zahra yang sama sekali belum menyadari akan kegelisahan sahabatnya.
Tiarapun beranjak pergi dengan wajah yang dipenuhi kepedihan,sementara Arman dan Zahra kembali mengobrol dan membicarakan banyak hal.
Rama sampai dikantor dan langsung duduk dengan wajah yang dipenuhi kekecewaan.
Lagi dan lagi ia begitu mudah kehilangan bukti tentang kejahatan Bimo, benar-benar pekerjaan rumah yang sangat sulit,Bimo bukan orang sembarangan,bahkan saat melakukan kejahatan ia sudah memperhitungkan semuanya dengan sangat matang.
"Kunci utamanya ada pada ibunya Zahra,kalau saja kamu bisa mendekatinya pasti kita akan bisa dengan mudah mendapatkan bukti tentang kebiadaban Bimo," ucap Rian dengan solusi terbaik yang bisa ia pikirkan untuk mengurangi beban sahabatnya.
Rama terdiam,tidak salah dengan apa yang dikatakan Rian,tapi ia juga tidak ingin bermain licik dan memanfaatkan orang lain dalam kasus ini,apalagi Zahra,ia tidak ingin Zahra berpikir bahwa ia sedang mencoba mengambil keuntungan dari kedekatan mereka.
"Bimo terlalu licik,kita harus mengikuti permainnanya,atau kita tidak akan pernah bisa menang darinya," imbuh Rian lagi yang Sepertinya bisa membaca arah pemikiran Rama.
"Tidak akan semudah itu mendekati ibunya," jawab Rama sembari meraup wajahnya karena merasa frustasi dengan keadaan.
Rian mendekat dan berbisik, "Tidak akan sesulit saat mendekati putrinya,"
Rama menatap kearah Rian dengan tajam, "Apa maksudmu?"
Rian nyengir, "Masih ingin menyembunyikan hubungan kalian,pergi bersama selama dua hari,apakah itu sebuah kebetulan?" Ejek Rian.
Rama menghela nafas, ternyata Rian sudah salah paham dengan hubungannya dengan Zahra.
__ADS_1
"Tidak apa-apa,justru ini kesempatan yang baik untuk bisa menjerat bandit tua itu,jadi harus kamu manfaatkan dengan baik," ucap Rian dengan penuh semangat yakin jika kali ini Rama pasti akan bisa mengalahkan Bimo.
Rama tertegun,haruskah ia melakukan taktik licik seperti ini,hatinya masih dipenuhi keraguan,ia benar-benar tidak ingin memanfaatkan Zahra ataupun ibunya.
Sepulang mengajar,Tiara langsung pergi kerumah sakit untuk menjenguk Arman,ia melangkah sembari membawakan kue kesukaan Arman yang sering mereka makan bersama saat diyayasan,ia yakin Arman pasti menyukainya.
Saat didepan,ia justru bertemu dengan Rama.
"Kamu disini?" Tanya Tiara
"Ehm..aku ingin melihat kondisi Arman, apakah sudah membaik?" Tanya Rama pada Tiara.
"Sudah lebih baik lagi tadi,tapi untuk lebih pastinya kita lihat saja kesana," jawab Tiara lalu melanjutkan langkahnya diikuti Rama dibelakangnya.
Saat sampai didepan ruangan,Tiara menghentikan langkahnya,nampak dari celah pintu yang tidak tertutup rapat itu,Zahra sedang menyuapi Arman,mereka terlihat sangat akrab sembari bercanda dan tertawa bersama,Dada Tiara kembali sesak, sepertinya memang benar dugaannya jika Arman menyukai Zahra dan itu terlihat jelas dari cara Arman menatap wajah Zahra.
Rama melihat kearah Tiara dan merasa heran.
"Kenapa?"
Tiara tersentak,ia menundukkan wajahnya tidak ingin seorangpun melihat kepedihan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Tolong berikan ini pada Arman,aku masih ada urusan," Tiara memberikan tas berisi kue itu pada Rama lalu segera beranjak pergi dengan terburu-buru setengah berlari.
Rama mengerutkan dahinya lalu melihat kearah Arman dan Zahra dari tempat Tiara, dugaannya selama ini tidak salah,begitu jelas jika Arman menyukai Zahra,apakah ini yang membuat Tiara pergi,pikir Rama.
Rama mengetuk pintu dan masuk tanpa disuruh.
Zahra dan Arman langsung menoleh kearah pintu dan melihat Rama.
"Maaf sudah mengganggu," ucap Rama sembari berjalan menghampiri mereka.
"Apa maksudmu,sama sekali tidak menganggu," jawab Zahra tapi tidak begitu dengan ekspresi wajah Arman yang terlihat memang terganggu.
"Tiara menitipkan ini padaku,dia bilang masih ada urusan," ucap Rama memberikan kue itu pada Arman.
Zahra mengerutkan dahinya, "Dimana kamu bertemu dengannya?" Tanya Zahra.
"Didepan," jawab Rama.
Zahra merasa heran,kenapa Tiara tidak masuk dan justru menitipkan kue pada Rama,sangat aneh pasti sudah terjadi sesuatu.
"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Rama pada Arman yang masih terlihat tidak suka dengan kedatangannya.
"Cukup baik,asalkan Zahra merawatku,aku pasti akan segera pulih," jawab Arman yang sepertinya sengaja membuat Rama cemburu.
Zahra melihat kearah Arman lalu kearah Rama,ada sesuatu yang aneh diantara mereka,terasa hawa panas dan ketegangan yang begitu kontras.
"Baik...kalau begitu Zahra pasti akan senang bisa merawatmu sampai sembuh," ucap Rama melirik kearah Zahra dan membuat Zahra menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Arman tersenyum, "Aku sudah mengorbankan nyawaku untuknya,bukankah itu sudah menjadi kewajiban Zahra untuk merawatku,"
Rama menyunggingkan bibirnya, sekarang benar-benar terbukti maksud dan tujuan Arman sebenarnya,bahkan Zahrapun tidak menyangka Arman akan mengucapkan hal seperti itu pada Rama,padahal dia awalnya berpikir jika Arman tulus ingin menyelamatkan dirinya.
"Baiklah,cepatlah sembuh,aku permisi," ucap Rama lalu iapun beranjak pergi dari ruangan yang membuat hatinya panas itu.
Zahra ingin mengejar Rama tapi Arman menahannya, "Mau kemana?"
Zahra melihat kearah Arman, meskipun kesal tapi Zahra tetap tidak tega pada pria yang sedang sakit itu, "Ketoilet," jawab Zahra.
Armanpum melepaskan tangan Zahra, "Cepat kembali,"
__ADS_1
Zahra segera melangkah keluar dari ruangan Arman, sementara Arman membuka kue yang diberikan Tiara.
Arman tersenyum,ternyata kue kesukaannya, Tiara memang benar-benar orang yang sangat perhatian.