
Rama sedang memeriksa berkas yang diberikan Rian untuknya, memeriksa jika benar Alfika Naira sudah meninggal karena sebuah kecelakaan, senyum puas terukir diwajahnya,jika semua ini benar bisa dipastikan jika perempuan yang bernama Alfika Naira itu adalah Azahra,istrinya.
Rama menutup berkas itu dengan tatapan tajamnya, bagaimana bisa Saka memalsukan identitas istrinya seperti ini,pria itu juga sudah bersikap begitu kasar pada Zahra,ia benar-benar tidak akan melepaskannya,tapi Rama tidak ingin bermain terlalu terbuka,lagipula Zahra bahkan tidak mengenali dirinya, masih ada banyak hal yang harus diselidiki sebelum mengungkap semuanya.
"Kita lihat, bagaimana reaksimu pak Saka Wirawan?" Rama dengan senyum smirk lalu segera beranjak dari tempatnya dengan langkah yang begitu yakin.
"Ting tung," bel rumah berbunyi.
Saka masih bermain bersama Mita,Fika bangun dari duduknya dan berjalan kearah pintu,saat melihat seseorang yang berdiri didepannya Fika terdiam.
Rama tersenyum dengan parcel buah ditangannya, "Aku ingin menjenguk Mita,"
Fika menganguk dan tersenyum, "Masuklah,"
Merekapun berjalan masuk menemui Mita,reaksi Saka langsung berubah saat melihat Rama, sepertinya ketegangan mulai muncul diwajahnya.
"Hai Om," sapa Mita yang begitu senang menyambut kedatangan Rama.
"Halo sayang,gimana kabar kamu?" Tanya Rama sembari mengusap kepala Mita dengan lembut.
"Baik..." Jawabnya sembari menunjukkan giginya yang lucu.
Rama tersenyum dan merasa gemas dengan tingkah Mita yang sangat lucu,Fika kedapur untuk mengambilkan minum.
Sementara Mita lanjut bermain,Rama duduk bersebelahan dengan Saka disofa.
"Sebenarnya pak Rama tidak perlu repot-repot menjenguk Mita,dia baik-baik saja," Saka benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran Rama dirumahnya.
Rama tersenyum, sesuai dugaannya Saka terlihat begitu tegang dan cemas.
Fika keluar membawakan segelas jus untuk Rama lalu mempersilakannya untuk minum,iapun kembali menemani Mita bermain.
"Putrimu sangat lucu dan menggemaskan,aku sangat senang bisa bertemu dengannya," ucap Rama yang membuat Saka semakin terlihat kesal.
Rama dengan santainya meminum jus manis yang dibuatkan Fika untuknya.
"Hem..manis sekali,sejak kapan kamu menikah lagi?"
Sontak pertanyaan Rama membuat Saka terkejut,bahkan Fika juga langsung menoleh kearah Rama,Saka cepat-cepat menatap kearah Fika.
"Menikah lagi,ha..ha..Fika istriku satu-satunya aku tidak pernah menikah lagi," jawabnya dengan gugup.
Rama menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban Saka itu, sementara Fika menunduk masih berpikir apa sebenarnya maksud Rama menanyakan hal seperti itu pada Suaminya.
"Bisakah kita bicara berdua," Saka mengajak Rama berbicara sedikit menjauh dari istri dan anaknya, merekapun pergi kebalkon agar lebih leluasa mengobrol.
Rama menghirup udara segar dan melihat pemandangan yang indah dari atas balkon itu, sementara disisi lain,Saka sedang dihantui kecemasan tentang Rahasia besarnya yang hampir saja terbongkar.
__ADS_1
"Aku mohon,jangan bahas soal kecelakaan itu didepan Fika," ucap Saka setelah beberapa saat membuat Rama berbalik menatapnya.
"Sebenarnya,istriku memang sudah meninggal dalam kecelakaan itu," Saka kali ini tidak bisa menyembunyikan semuanya lagi dari Rama.
"Lalu Siapa perempuan itu?" Rama menatap tajam kearah Saka.
Saka melihat dari kaca,Fika yang sedang bermain bersama putrinya, "Aku menemukannya mengambang di sungai 3 tahun lalu,saat itu pikiranku sedang kalut,aku memikirkan Mita yang baru berusia 2 tahun dan masih sangat membutuhkan ibunya,jadi aku membawanya bersamaku dan memalsukan semua identitasnya," jawab Saka memperjelas semuanya.
Mendengar itu,Rama mengepalkan erat tangannya menahan amarah yang sudah berada diubun-ubun,sungguh Ia adalah Zahra, yang sengaja dibawa oleh seseorang dan diubah menjadi orang lain.
"Aku benar-benar tidak berencana melakukan semua ini,aku hanya memikirkan Mita saat itu," Saka terlihat begitu menyayangi putrinya,membuat Rama sedikit meluluh dan mencoba berpikir lebih terbuka,tidak ingin terburu-buru mengikuti emosinya.
"Lalu bagaimana bisa perempuan itu percaya padamu begitu saja,apa dia tidak punya keluarga?" Rama benar-benar harus mengorek semua informasi tentang Zahra dari Saka.
Saka terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu, "Dia...dia kehilangan ingatan karena luka yang dialaminya,entah mempunyai keluarga atau tidak,aku tidak pernah mencari tahu soal itu dan aku tidak peduli,aku hanya ingin menjadikannya ibu dari putriku,hanya itu,"
"Tapi dia adalah istriku,tuan Saka yang terhormat," batin Rama dengan kekesalan tingkat dewa.
"Kamu tahu, perbuatanmu ini adalah tindakan kriminal,kamu sudah melanggar banyak pasal hanya demi memberikan ibu untuk putrimu," ucap Rama dengan begitu tegas membuat Saka tegang dan juga panik.
"Aku mohon, tolong rahasiakan hal ini, berapapun uang yang harus aku bayar,aku tidak peduli,aku tidak ingin Mita kehilangan Ibunya,aku mohon padamu," Saka memegang tangan Rama dengan wajah memelasnya.
Fika melirik kearah mereka,ia begitu penasaran dengan apa yang kedua pria itu bicarakan, sampai-sampai Saka yang sombong itu begitu memelas kepada Rama.
Rama menoleh kearah Fika,membuat Fika langsung mengalihkan pandangannya,ia menghela nafas berusaha berpikir apa yang seharusnya ia putuskan sekarang,menyeret langsung Saka kepenjara atau memulihkan dulu ingatan Fika agar dia sendiri yang membalas perbuatan Saka padanya,astaga.. sungguh pilihan yang sulit,hingga Rama menatap gadis kecil didepan Fika,tidak mungkin ia membuat gadis itu menangis karena papanya diseret kepenjara.
"Terimakasih," Saka memberikan pelukan untuk Rama yang sudah dianggapnya sebagai pahlawan itu.
"Boleh aku bertanya satu hal lagi?"
Saka mengerutkan dahinya, apalagi sekarang.
"Sampai kapan kamu akan membiarkan perempuan itu menjadi istrimu dan ibunya Mita?"
Saka berpikir, "Aku tidak akan melepaskannya sampai kapanpun," jawaban Saka membuat Rama kembali emosi dan langsung mengepalkan tangannya, bisa-bisanya ia ingin memiliki istrinya selamanya.
Ponsel Saka berbunyi,iapun sedikit menjauh untuk mengangkat telepon,sementara Rama menghirup oksigen karena dadanya yang begitu sesak harus menahan setiap emosi yang ia rasakan.
"Tidak akan melepaskannya sampai kapanpun, yang benar saja,aku yang akan membuatmu melepaskannya," gumam Rama dengan rahang yang mengeras.
Saka mendapatkan telfon dari kantor,ada hal penting yang harus ia urus sehingga ia harus pergi,namun membiarkan Rama tetap dirumahnya karena Mita masih ingin bermain dengan Rama.
Rama dan Mita bermain dengan begitu seru,Rama begitu pandai membuat Mita tertawa,bahkan Fikapun terkadang ikut senyum-senyum sendiri melihat keseruan mereka,hingga beberapa saat kemudian Mita tertidur dipangkuan Rama karena sudah terlalu lelah.
Rama menawarkan untuk memindahkan Mita kekamar,Fika menganguk dan mengantarkan Rama yang menggendong Mita menuju kekamarnya.
Mita begitu terlelap,Fika memasangkan selimut untuknya lalu merekapun keluar meninggalkan sang putri kecil yang sedang tidur.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Fika saat mereka berjalan keluar.
Rama tidak menjawab,ia menghentikan langkahnya dan menatap sayu kepunggung Fika.
"Dia Zahra,dia istriku yang sudah kembali, Terimakasih ya Allah, ternyata Engkau masih melindunginya," batin Rama yang merasa sangat terharu karena bisa melihat lagi istrinya setelah perpisahan yang cukup lama.
Fika pun menghentikan langkahnya saat sadar jika Rama tidak lagi mengikuti dibelakangnya,ia ingin berbalik namun tiba-tiba sebuah ikatan yang begitu erat memeluk tubuhnya.
Rama sudah berusaha menahannya namun pada kenyataannya ia tetap tidak bisa,rasa rindu yang begitu besar mengalahkan akal sehatnya,ia seperti orang yang kehausan dipasang pasir yang akhirnya menemukan air segar,ia tidak akan mengabaikannya begitu saja.
Fika terpaku,tubuhnya kaku saat merasakan detak jantung Rama yang begitu terasa dipunggungnya,apa ini?harusnya dia berontak tapi bahkan bibirnya terasa seperti dibungkam,tangannya seakan diborgol dan kakinya terasa dirantai.
"Apa yang terjadi padaku?" Fika ingin berteriak tapi hatinya terus menolak dan bahkan merasa nyaman dengan pelukan itu.
Rama memejamkan matanya dan menaruh dagunya dipundak Fika, sungguh ia ingin membiarkan rasa rindu ini menemukan melampiasannya,ia mengeratkan tangannya yang melingkar diperut Fika dengan nafas yang menderu.
"Aku sangat merindukanmu," ujar Rama dengan suara berat yang hampir tidak terdengar.
Jantung Fika seakan meledak,nafasnya memburu, bisa-bisanya pria ini mengucapkan hal itu kepada perempuan yang sudah beristri,apa dugaannya benar jika Rama memang bukan pria yang baik.
"Lepaskan aku," pinta Fika sembari menarik tangan Rama dari perutnya,namun Rama tetap bertahan.
"Tolong biarkan, sebentar lagi," Rama masih tidak bergeming dari posisinya membuat Fika kesal dan mendorongnya sekuat tenaga lalu berbalik dan melayangkan satu tamparan kewajah Rama.
"Plakkkk"
"Beraninya kamu melakukan ini dirumahku?" bentak Fika yang merasa tidak terima dengan perlakuan Rama yang sudah sangat lancang kepadanya.
Rama mengangkat wajahnya dan menatap kearah Fika yang masih marah itu,bukannya kesal ia justru tersenyum,ia sangat merindukan Zahra yang marah seperti ini,terlihat begitu menggemaskan.
Melihat senyum diwajah Rama membuat Fika menaikkan kedua alisnya, "Kenapa?"
Rama tidak bisa menahan tawa saat melihat Fika seperti itu,ia benar-benar sudah lama merindukan wajah itu,dan sekarang impiannya telah menjadi kenyataan, "Sangat cantik,"
"Bisa-bisanya kamu berbuat mesum dirumahku,aku akan melaporkanmu pada Saka," Fika mengambil ponselnya dan berusaha menelfon suaminya namun tidak diangkat.
Rama bersikap santai seakan ancaman Fika tidak berarti untuknya,toh Fika sebenarnya adalah Zahra istrinya.
Fika menaruh kembali ponselnya dengan wajah malu karena Saka tidak peduli padanya.
"Masih mengharapkan pria yang tidak mempedulikanmu,dasar bodoh," Rama menjitak pelan kepala Zahra lalu berjalan pergi kearah pintu.
Melihat sikap Rama,benar-benar membuat Zahra kebingungan,apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu,kenapa dia begitu berani sekarang.
Rama berbalik saat sudah didepan pintu keluar, "Aku akan pulang,telfon aku jika kamu merindukanku," Rama tersenyum membuka pintu lalu keluar dan kembali menutupnya.
Fika masih diam dengan wajah yang dipenuhi pertanyaan, "Ada apa dengannya?"
__ADS_1