
Awal yang baik untuk semua keluarga akan tetapi terkecuali dengan Ana, dia adalah gadis malang karena ia tak mempunyai orang tua lagi. Ada yang bilang kalau kedua orang tua Ana terbunuh sangat mengenaskan dan tak ada yang bisa menemukan pelakunya.
Kini Ana tinggal sendirian di tempat yang jauh dari kata layak, dengan rumah kecil berukuran sangat mini. Bisa di katakan hanya cukup di tinggali seorang saja. Ana yang hidup miskin namun ia tidak sama sekali merasa hidup yang dia alami sangat mengenaskan.
Kecuali ia sangat penasaran dengan siapakah pelaku sebenarnya, yaitu pembunuh kedua orang tua Ana. Di usianya yang saat ini mulai menginjak 25 tahun, dia semakin rajin dalam bekerja sembari menyelidiki kasus daripada kematian kedua orang tuanya.
Ana tinggal di sebuah rumah kecil di daerah kumuh di Kota A, dia hanya memiliki barang- barang yang bisa di bilang hanya sederhana.
Satu ruang tidur, tanpa sekat dan ada ruang memasak, tak ada ruang tamu dan hanya ada satu kamar mandi yang kecil dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Kemiskinan Ana tidak menyurutkan niatnya untuk tetap hidup karena ,kehidupanya yang kini ia milikki itu terpacu karena ingin mengetahui siapakah dalang pembunuh kedua orang tuanya.
Ana bahkan mengumpulkan semua berita tentang kematian kedua orang tuanya, mulai dari potongan surat kabar, artikel , dan juga potongan majalah serta semua hal yang berbau tentang pembunuhan, ia tempel di dinding kamarnya yang kecil dan hanya muat satu orang saja.
Kini ia sedang memperhatikan semua hal yang ia tempel itu dengan seksama, sambil berfikir keras apakah pembunuhan dari kedua orang tuanya itu, akan terungkap olehnya .
Setelah beberapa menit ia puas memandang dia pun kini menyeduh kopi hangat kesukaan, tanpa gula dan hanya ada rasa pahit di lidah nya yang panjang itu.
Setelah dia menyeruput secangkir kopi yang pahit, hitam dan pekat itu. Dia pun berjalan ke arah luar rumahnya lalu menuju ke tempat kerjanya. Sesampainya disana ia menemui sang boss yaitu pemilik dari toko bunga yang bernama Ralin.
"Nona Ralin, hari ini apakah aku boleh bekerja setengah hari saja aku mohon ya?" ucap Ana memohon pada sang pemilik toko bunga itu.
__ADS_1
"Untuk apa Ana?, kau sering sekali bekerja setengah hari Ana, apakah kau itu mendapat pacar baru lagi?" tanya Nona Ralin, dia mulai menelisik dan penasaran kenapa Ana sudah beberapa kali ijin untuk berjualan setengah hari saja.
"Tidak Nona, aku beberapa hari ini tidak enak badan, hanya ingin sedikit beristirahat dan tanpa absen bekerja, karena aku butuh uang." jawab Ana bijak, karena ia tidak mau gajinya di potong , dan memilih tetap bekerja akan tetapi hanya setengah hari saja.
"Hem, baiklah ini yang terahir besok kau harus bekerja sampai malam, dan berjanjilah kalau kau tidak akan melakukan ini lagi, dengar aku ingin kau bercerita padaku tentang apapun aku menganggapmu sebagai seorang adikku." ucap Ralin pemilik toko bunga dengan ramah.
"Baik Nona, terimakasih atas kebaikanmu."
"Sama-sama oh ya, dengar di kulkas ada kue, makanlah aku rasa kau selalu mengisi perut mu hanya dengan secangkir kopi, kau tidak pernah memperhatikan kesehatanmu, aku pergi dulu." ujar Ralin berpamitan dan berjalan
"Baik Nona, terimakasih."
Setelah itu Ralin keluar dari tokonya, sembari membawa tas mahal bewarna pink, Ana pun hanya melihatnya dari belakang tubuhnya itu.
Setelah beberapa pelanggan itu pergi, Ana membuka kulkasnya. Ternyata benar ada kue kesukaan Ralin, namun ia rela membabaginya pada Ana. Karena Ralin adalah pemilik toko yang baik hatinya menganggap Ana adalah adiknya sendiri.
Ana memakannya sedikit demi sedikit, karena ia amat lapar . Sambil melamun dan tatapan nanar, kosong dan terlihat sedih.
"Astaga, aku tak pernah merasa hidupku amat rumit, tapi ketika kematian kedua orang tuaku yang tidak kunjung terungkap, itu membuatku sangat penasaran apakah alasan di balik ini semua??" batin Ana sambil menyendok suap demi suap kue itu.
__ADS_1
Lalu terbuka pintu dari toko, muncul seorang pria memakai jas hitam, dan tiba-tiba duduk di depan Ana.
"Hai gadis, maukah kau ikut denganku?, aku akan memberimu uang yang banyak." ajakkan pria itu tiba-tiba, membuat Ana menghentikan kegiatannya, dan menaruh sendok di atas piring kue itu.
"Siapakah kau??" penasaran dan mengernyit kan kedua alisnya.
"Hem, dengar aku bukan pria jahat, hanya saja aku sedang butuh bantuan aku lihat kau gadis yang butuh uang." ujar Pria itu dengan ringan, senyum kecil terulas dari bibirnya.
"Apa maksudmu?" curiga.
"Aku hanya sedang butuh bantuan, maukah kau membantuku kali ini saja?" tanya pria itu sekali lagi dan memohon pada Ana.
"Maaf yaaa aku sedang sibuk, aku juga tak mengenal dirimu." ucap Ana, dan sudah tak berselera memakan kue itu lagi, dia sebal dan menyeringai ke arah pria itu.
Tak lama ada seorang wanita masuk dan ia hendak membeli seikat bunga mawar yang bewarna merah. Ana pun kini mendekatinya.
"Ada apa Nona...? Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Ana dengan sopan.
Namun dari kejauhan pria itu tetap duduk dan mengamati Ana , sambil tetap melihatnya apa Ana mau dengan permintaanya itu.
__ADS_1
"Dasar gadis ini, padahal aku akan memberi uang padanya, dia mengacuhkan aku." batin pria itu sembari merapikan dasi birunya .
Bersambung...