
"Haduh, aku lelah sekali rasanya ingin sehari saja bermalas-malasan." keluhnya, kakinya pun di regangkan olehnya.
Rena masuk dan membawa hasil pencapaian kasus yang di inginkan oleh Jimmy.
"Ini Pak, aku rasa memang ada yang tak beres lihatlah ini." ucap Rena menyodorkan kertas berisi dokumen yang di harapkan oleh Jimmy.
"Baiklah, Rena kau memang yang terbaik, dan tercepat, kau tahu hanya kau sekertaris yang berani padaku. Dulu aku sering memecat jika aku tak cocok." keluh Jimmy menatap Rena.
"Ini pujian, atau sindiran?" tanya Rena tanpa basa-basi.
"Ha, tentu saja kau memang begini." ucap Jimmy dan mengacungkan jari jempolnya ke arah Rena.
Wanita itu hanya membalas dengan senyum manis, dan mimik wajah yang datar. Lalu ia pergi meninggalkan bosnya.
Jimmy melihat , menelaah hasil laporan Rena dengan cermat dan teliti. Begitu rapi, semua yang di berikan Rena padanya.
Tertera bagaimana kasus itu menjadikannya tolak ukur, bagaimana Jimmy bisa berusaha menegakkan keadilan untuk Ferdy dan Ferda.
"Mereka seenaknya saja ternyata, selalu saja menggunakannya untuk penyelewengan." lirih Jimmy sambil menutup laporan dari Rena .
Beberapa menit kemudian Rena membawa makan siang untuknya. Dengan makanan yang di sukainya. Jimmy hanya tersenyum kecut ke arah sekertarisnya itu. Karena dia berharap bisa makan di luar, namun apa daya Jimmy harus berkutat dengan semua hal ini.
"Makanlah Pak Jimmy, jangan lupa kerjakan di kantor saja semuanya ok." ucap Rena dan ia pergi keluar dari ruangan Jimmy.
Jimmy memakan makan siangnya melahap karena perutnya sudah tidak tahan lagi. Dan sambil membaca laporan, dia memakannya.
"Ok kalau begitu, aku paham." ucapnya.
Beberapa dokumen miliknya hari ini makin menumpuk tinggi di meja, membuat mata Jimmy membulat, kepenatan dalam bekerja seharusnya bisa terobati dengan keluar dan menghabiskan waktu senggangnya untuk sedikit bersenang-senang, tidak itu saja, bisa pergi sejenak menatap pemanadangan yang indah di luaran sana. Begitu juga adalah salah satu obat paling mujarab untuk merestart lagi otak yang full dengan semua tugasnya itu.
__ADS_1
Beberapa saat setelahnya dia menatap cuaca dari kaca hari ini amat cerah. Perasaanya kini senang, entah apa yang ia fikirkan sehingga membuatnya senang sekali. Padahal hanya melihat menatap langit yang bewarna biru.
Dan Matahari yang sedang bertengger di atas dengan gagahnya, memamerkan semua yang ada padanya, menggertakkan giginya dan ia tersenyum dengan bangganya.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Di toko Ana, Ralin, dan beberapa karyawan lain saat ini sedang bercanda sangat senang karena toko sangat ramai. Banyak orang yang membeli bunga. Untuk keperluan pernikahan dan juga lain-lainnya.
"Dengar, tadi ada seorang bapak-bapak yang membeli beberapa ikat bunga, untuk di beri kepada istrinya, bukankah sangat romantis." ucap salah satu pegawai.
"Benarkah, kenapa hanya di beri beberapa ikat bunga terasa romantis?" ucap Ana polos, dan ia heran dengan para pegawai lainnya yang menatapnya dengan tatapan aneh hari ini.
"Sudahlah An, kami tak mau membahasnya." dan ia tersenyum mendengar pertanyaan Ana
"Hei Ana, kenapa pria tempo hari tidak pergi kemari?" tanya Ralin, dia menatap wajah Ana.
"Entahlah, mungkin dia sangat sibuk, lagipula kami tak seperti yang kalian fikirkan." ucap Ana pada Ralin, seketika Ralin pun semakin merasa penasaran dengan apa maksud Ana.
"Aku hanya berteman dengannya Nona, tak punya hubungan lainnya." ucap Ana dan dia menatap Pemilik dari toko bunga itu.
"Begitukah?, ckkk sayang sekali, dia pria yang keren dan aku pernah melihatnya tapi dimana ya?, Apa di sampul majalah model baju kali ya." ucap Ralin sambil mengingat-ingat lagi .
"Tidak tahulah Nona, oh iyaaa kalian jangan memberiku banyak pertanyaan lagi, apakah tak makan siang?, ini sudah waktunya." lirih Ana, ia mengamati Ralin masih penasaran .
"Terserah Kau An." sambil tersenyum ke arah Ana, dan ia pun melihat isi kulkas yang masih banyak bahan makanan, dan Ralin segera ke dapur dan memasakkan semua pegawainya.
"Nona, kenapa kau yang masak?" tanya salah satu pegawai, dan ia hendak mengambil alih supaya Nonanya tak repot-repot menyiapkan masakkan itu.
"Tak apa, lagipula kalian semua pegawaiku, hari ini kerja keras kalian sangat aku kagumi, duduk saja kita makan bersama, dengan gini aku merasa banyak teman." ucap Ralin dan meneruskan memasaknya.
__ADS_1
Beberapa menit sudah ia menghidangkannya duduk bersama sambil makan, Ralin sangat suka sangat jarang baginya berkumpul .
"Dengar An, aku rasa masakanku tidak terlalu enak ya, tapi aku harap kalian mau memakan karena itu hasil jerih payahku." ucap Ralin, dia menatap semua pegawainya dan tersenyum.
"Tentu saja Nona, aku akan makan masakan Anda." ujar salah satu pegawai.
"Coba aku cicipi." ucap dari pegawai lainnya.
Ana terdiam hanya melihat wajah Ralin yang berseri-seri. Ia adalah salah satu sosok gadis yang cerdas, bertalenta, baik kepada seluruh pegawainya. Sama sekali tak menganggap mereka bawahan, namun dia menganggap semua pegawainya adalah temannya.
"Nona, bolehkah aku bertanya?" tanya salah satu pegawai, dengan penasaran ia melihat wajah Ralin bersemu kemerahan, dan rahang yang tirus, terlihat rambutnya juga nampak berkibar. Namun ada beberapa noda di wajah karena bekas bumbu, dan sedikit saos yang menempel.
"Ehm, kenapa?" tanya Ralin menggerakkan beberapa kali kedua kelopak matanya .
Lalu salah satu pegawai pun mengusap pipi Ralin, agar bersih kembali.
"Hanya ini, kecantikanmu akan hilang jika ada kotoran ini." ucapnya dan mengelap dengan tisu kering.
"Ha, kau bisa saja aku tak cantik, kalianlah yang cantik, tetap semangat bekerja walau kadang aku tak bisa melihat toko, aku harap kalian bisa bekerjasama terus." ucap Ralin.
"Tentu saja, mana bisa kami akan mencari kerja di luar sana jika Nona pemiliknya baik dan secantik Anda." ucap salah satu pegawai.
Sebut saja namanya Ria, dia adalah gadis yang berasal dari kampung halamannya dia kemari merantau dan mencari uang untuk menyambung hidup. Beruntung Ria masuk menjadi salah satu pegawai Ralin, dengan begitu dia krasan tak mau cari pekerjaan lain padahal di toko gajinya tak seberapa. Namun cukup untuk bertahan hidup dan mengirimi sedikit uang untuk keperluan keluarganya di desa. Ana melihat mereka kompak sangatlah terenyuh, baginya mereka adalah keluarganya
"Ayo Ana, makanlah aku lihat badanmu yang kurus itu menandakkan kau jarang makan ya."
"Tidak Nona, aku hanya makan makanan yang membuatku kenyang , bukan aku tidak suka makan, terkadang aku lupa untuk makan hi hi hi..." Ana tertawa, Ralin memperhatikannya .
"Apakah, kau sudah menghentikan kebiasaan burukmu untuk minum kopi berlebihan?, aku akan sangat senang jika kau mendengarkan aku An..." ucap tulus Ralin.
__ADS_1
Bersambung...