Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 22 "Killed"


__ADS_3

Flash back


Ferda saat ini berjalan dengan gontai ke arah atap , setelah berada di atas dia melihat awan hitam , diam sejenak lalu menatapnya dengan tatapan kosong. Air matanya mengalir , akan tetapi tak juga membuat perasaannya kali ini membaik. Setelah ia memastikan bahwa yang ia lakukan kali ini akan menghilangkan rasa malunya, serta perasaan sedihnya.


Mengakhiri semua penderitaan hidupnya, tak ada lagi caci maki, juga dengan siksaan dari teman-temannya yang sudah membuatnya tidak tahan. Perasaan putus asa, serta tidak ada orang yang memberinya semangat hidup.


Blaaaaar.......


Ferdy tahu adiknya jatuh dari atap, langsung berlari ke arahnya. Ferda jatuh dari ketinggian sekitar 4 lantai, jika ia tak segera di bawah ke rumah sakit akan meregang nyawa.


Namun Ferdy langsung membawanya dengan cepat agar nyawa adiknya segera tertolong.


"Dokter sembuhkan adikku tolonglah...." ucap Ferdy kepada Dokter agar segera memberi pertolongan kepada adiknya.


"Tenang ya, tunggulah disana." ucap Dokter itu dengan sopan.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


"Aku baru selesai olahraga Alan, kau makan apa siang ini?" tanya Jimmy dan melihat isi piring Alan.


"Astagaaa, kau makan ini, ini tak sehat sama sekali Alan, banyak lemak dan juga kau bisa terkena kolesterol tinggi, belum lagi penyakit jantung." ucap Jimmy dengan mencibirkan bibirnya ke arah Alan.


"Kenapa kau kemari?, seharusnya kau berada di kantormu saja, dan menyuruh sekertarismu membawakan makanan kesukaanmu, bukan kesini menggangguku saja ..." gerutu Alan.


"Lagipula kau kan bukan Dokter, jangan lupa kau hanya pengacara ingatt...!!!" ucap Alan.


"Kenapa hari ini kalian berdua kompak?, ahhh terserah aku, mau pergi kemana saja, jangan seenaknya mengatur pria tampan sepertiku." ujar Jimmy dengan rasa percaya dirinya amat tinggi.


"Wah, terserah kau.. Lalu kenapa kau kemari?" tanya Alan kepada Jimmy.


"Aku mau makan siang, tapi aku lihat isi piring milikmu hanya akan menambah penyakit di dalam tubuhku..." ucap Jimmy, menggeleng kan kepalanya dan menatap Alan.


"Wah, kalau begitu tak usah makan, diamlah." gerutu Alan.


"Dasar bedebah..." batin Shanon.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Braaaaakkkkkkk....

__ADS_1


Seseorang menggebrak meja , dan terlihat ekspresi wajahnya sangat marah. Kali ini dia sepertinya sudah tak tahan, kemarahannya terlihat dari gerakan tubuhnya


Menarik dasinya, dengan mata merah, lalu ia menyeringai ke arah wanita yang berdiri tepat di depannya kini, mulutnya juga membentuk sudut dan siap akan mengeluarkan kata-kata kasar.


"Dengarkan, kenapa Jimmy tak menemuiku?, kau bilang dia hari ini ke kantor." ucap pria itu.


"Benar Pak, memang benar setiap hari Pak Jimmy datang ke kantor, saya kurang tahu kenapa hari ini dia tak datang?" jawab Rena sekertaris Jimmy.


"Sekarang hubungi dia aku di kantornya, dan bilang padanya kalau tidak mau datang saat ini juga maka, jangan salahkan aku." ucapnya dengan nada mengancam.


"Baik akan saya sampaikan," ucap Rena dan menundukkan badannya, setelahnya ia pergi lalu menghubungi bossnya.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Saat ini Jimmy yang mengetahui kalau Rena menghubunginya, mengacuhkan panggilan dari sekertarisnya tersebut.


"Ada apa?, bukankah ponselmu bergetar, kau tak mau mengangkatnya?" tanya Alan, sambil melirik ke arah temannya itu.


"Biarkan saja Alan, aku rasa salah sambung, nanti juga berhenti sendiri." ucap Jimmy dan menenggak air putih milik Alan.


"Kulihat, sepertinya dari sekertarismu, angkat saja siapa tahu itu penting." ucap Alan lagi.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


"Kenapa dia tidak mau menemuiku?, apa kau sudah menghubungi boss mu?" tanya pria itu dan sudah habis kesabarannya, menyeringai ke arah Rena.


"Ehm, bagaimana kalau besok anda bertemu dengan Pak Jimmy?, saya usahakan tepat waktu." Rena memohon dengan sopan pada pria itu.


"Hem haaaa...." mengela nafas panjang.


"Kau tahu , dia sudah menyita waktuku, dan dengan seenaknya mengabaikan aku." ucap pria itu dan pergi keluar dari kantor Jimmy, dengan kemarahan hebat, sambil melihat arloji di tangan kanannya.


"Aduh, Pak Jimmy itu selalu saja seenaknya sendiri, kenapa setiap kali ada masalah dan akan bertemu client selalu seperti ini?" gerutu Rena dengan kesal.


"Seperti anak kecil saja."


"Sampai kapan?"


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅

__ADS_1


Keesokan harinya, hari ini adalah pernikahan Andien, dia berada di sebuah kamar sedang berganti gaun pengantin putih cantik sekali, memakai riasan di wajahnya, kali ini dengan perhiasan cincin melingkar di jari manisnya, dan sebuah kalung indah di lehernya. Di atas kepalanya memakai mahkota kecil, dengan ornamen kristal putih.


Andien nampak anggun dan sudah siap untuk acara resepsinya kali ini. Ana , Ralin, dan juga banyak para tamu lainnya sedang menunggu.


"Ana, lihatlah acaranya mewah bukan?" tanya Ralin kepada Ana dengan tersenyum senang.


Ana hanya mengangguk dan ekspresi datar.


Terdengar ketukan pintu dari kamar Andien, tempat ia berada, namun beberapa kali sudah tetap tak ada jawaban. Lalu Papa Andien pun masuk ke dalam kamar, dan pintu tak terkunci sama sekali. Namun Andien tak ada di dalam.


Papa Andien berjalan ke arah kamar mandi, dan ternyata yang ia lihat adalah tubuh putri kesayangannya sudah tergeletak , dengan kepala yang basah dan berantakkan.


Seketika teriakkan pun terdengar dari dalam kamar Andien, Papanya sangat histeris.


"Andiiiiieeeeeennnnn !!!!!"


Ralin dan Ana, serta semua para tamu yang datang mendengar teriakkan tersebut, datang melihatnya sang pengantin wanita telah mati.


"Ada apa ini om?" tanya Ralin dan berjongkok lalu ia merasakan denyut nadi Andien teman nya itu, ternyata tak berdenyut. Jarinya pun di letakkan pada kedua lubang hidungnya, tapi nihil tak ada nafas sama sekali.


Ralin pun lemas berharap sahabatnya itu masih bisa tertolong.


Ana pun kini menghubungi Jimmy, agar dia bisa datang secepatnya .


"Putrikuuuuu...." teriak Mama Andien, lalu ia pun masih tidak percaya dengan apa yang saat ini terjadi.


Merasa amat terpukul dengan kejadian itu, hanya bisa menangis di atas jasad putri kesayangannya.


"Ha...ha...ha... Kematianmu indah bukan?, sesuai keinginanmu kalau mawar putih ini adalah pengantar tidur panjangmu." ucap seseorang dan menyeringai ke arah jasad Andien.


Sang pengantin pria masih dalam perjalanan dan belum mengetahui jika pengantinnya itu sudah tak bernyawa, meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Ini pembunuhan, kepala Andien di masukkan kedalam bath up penuh dengan air hingga dia kekurangan oksigen, tak bisa bernafas hingga ia mati." batin Ana, dan ia mengamati sekitar siapakah pelaku pembunuhan ini sebenarnya.


James, Mama, dan Papanya Andien masih menangis karena tak bisa menerima kejadian ini, sang pengantin yang akan di antar ke altar sucu, tak bernyawa , seharusnya pernikahan yang menggembirakan itu, membuat terharu menangis bahagia untuk semua keluarganya.


Tapi yang terjadi adalah pernikahan yang di penuhi derai air mata kesedihan. Andien yang kini terbujur kaku, jasadnya yang mulai dingin dan membiru. Ana mendekat dan memegang tubuh Andien. Ralin pun meneteskan air mata lalu menatap Ana, dengan pendangan yang amat pilu, kehilangan sosok sahabatnya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2