
"Kau tahu?, semua manusia akan mati, walau aku tak membunuh mereka. Untuk kau masih belum tahu alasannya kau hanya berpura-pura manusia sampah..Aku hanya mempermudah pekerjaan malaikat maut, jika kau lebih lama hidup di dunia ini semakin banyak kerusakan yang akan terjadi..." ucapnya dan menarik ke atas kapak yang ia bawa.
"Lalu apa hakmu?, kau juga manusia biasa seenaknya mengambil nyawa manusia lain." potongnya masih tak terima dengan tindakan biadabnya pada wanita paruh baya itu.
Dia pun tak jadi menebas leher wanita paruh baya itu, kemudian berbalik arah mengambil pisau yang tajam, dengan cepat menarik dagu wanita itu menekannya dengan paksa setelah itu memotong lidah wanita paruh baya .
Seketika darah menyembur kemana-mana. Bak air dari kran yang keluar seketika , wanita itu tak bisa lagi berkata-kata. Walaupun hanya bilang kalau ia sedang kesakitan.
"Kau masih berani berkilah rupanya...Dasar sampah bahkan peliharaanku tak akan sudi makan bangkai dari tubuhmu yang busuk itu, he..he...he..." terkekeh melihat mulut wanita itu penuh dengan darah segar, bau anyirnya yang khas tercium membuatnya bergairah.
Sedangkan wanita itu saat ini kebingungan karena tiga bagian tubuhnya hilang dengan cara mengenaskan.Gadis itu pun mengambil korek api apakah yang akan di lakukanya kali ini.
Lidahnya di buang begitu saja di atas tanah. Wanita paruh baya itu kini bahkan merasakan sayatan di lidahnya yang tadinya utuh, perih sakit, nyeri, dan rasa yang tak bisa di ungkap kan lagi dengan hanya kata-kata saja. Dia pun menangis menitihkan air matanya di kedua pipinya. Sudah tak bisa lagi meminta tolong kepada siapapun lagi. Berakhirlah sudah saat ini kematian menjemputnya dengan cepat .
"Ha...ha..ha..." tawanya terdengar ganjil ada perasaan sedih, ada juga perasaan senang dan ada juga perasaan puas karena nafsu membunuhnya segera terluapkan. Bergairah karena membunuh bukan saja kemauannya tapi merupakan permainannya sehari-hari .
"Wanita bodoh, kau tak melihat dirimu sendiri tetapi kau bertanya alasannya aku melakukan hal ini. Sekarang pergilah kau ke neraka dasar wanita jahanaaam !!!" pekiknya dengan mulai menyalakan pemantiknya dari tangan kanan.
Banyak biji pohon pinus kering saat ini berada di sekitar wanita paruh baya itu. Maka dengan mudah api membara dan membakar dengan cepatnya. Tak itu saja gadis itu memberikan tambahan minyak yang mudah terbakar pada tubuhnya. Melihat itu gadis itu hanya seperti menyaksikan api unggun di malam hari yang kian dingin, di saksikan oleh rimbunnya daun pepohonan pinus yang menari-nari lalu di tiup oleh angin. Sementara saat tubuh wanita itu terbakar cahaya yang terang seperti lampu pijar membuat wajah gadis itu terlihat jelas olehnya. Namun sayang seribu sayang kini adalah salam terakhir karena bertepatan ia tahu pembunuhnya, saat itu juga nyawanya harus melayang di udara terbang bersama angin. Seolah malaikat pencabut nyawa kini merasa sangat di untungkan oleh gadis ini.
Bau asapnya yang khas seperti bakaran sate, daging panggang yang biasa kita nikmati di meja makan , namun kali ini adalah manusia yang dibakar hidup-hidup. Kepulan asapnya kian menebal. Hitam pekat lalu mulai hilang hanya tinggal sisa-sisa abunya saja berserak di bawah tanah. Aroma sate pun hilang tak ada lagi korban yang tadi menatap wajahnya
Angin menderu sebagai saksi dari kekejaman gadis sang pembawa kematian ini. Layaknya pohon pinus yang berdiri berjejer rapi mereka berusaha menutup mulut dan mengunci rapat -rapat . Awan di langit terlihat menggumpal.
"He...he...he.." terkekeh menikmati kematian yang telah ia buat sedemikian rupa.
"Aku harus mencari korban baru yang tangguh aku ingin dia tak memohon kematian padaku aku ingin mencari mangsa yang tidak mudah menyerah, dan bisa berlari dengan cepat agar aku bisa melihat, menyaksikan kakinya yang berharga tidak akan terlepas dengan mudah."
__ADS_1
"Ha...ha..ha..ha.." tawanya menggelegar dan di ikuti angin kencang menerbangkan semua sisa abu wanita paruh baya itu ke segala arah
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
"Baiklah Ana, aku menerima usulmu maka kalau aku nanti mati, ingatlah bilang pada Ayahku, kalau aku belum bisa memberikan menantu untuknya." ucap Alan, terdengar ia bersedih , dia khawatir karena tidak terlalu pandai berlari.
"Kau hanya perlu mengalihkan perhatiannya saja, kenapa kau seperti seorang anak gadis merengek minta membeli mainan dan boneka Alan?" ucap Ana yang sedikit sebal, karena Alan seperti anak muda yang alay.
"Hem, aku tak memakai rompi anti peluru, dan lihatlah aku hanya memakai baju tipis." ucap Alan sambil mengamati baju yang ia kenakan.
Tetapi Ana pun mendorongnya agar ia segera berlari menuju lorong. Mengalihkan perhatian sang penembak dari atas gedung .
Alan berlari kencang dengan amat terpaksa, namun dia melupakan sesuatu. Ya itu adalah tali sepatunya terlepas tiba-tiba dan seketika menghambat langkah kaki jenjang Alan.
"Aduh, ini gara-gara Ana aku belum persiapan dia sudah mendorongku." gerutu Alan sambil berlari kencang walau tali sepatunya terlepas.
Suara peluru mulai melesat ke arah Alan tapi beruntungnya Alan masih bisa menghindari.
Jimmy pun menghubungi Alan saat ini, dan pria itu pun memencet tombol loudspeaker agar ia bisa menjawab sambil mengalihkan perhatian sang penembak jitu.
"Apa Jim?, kau tak dengar yaaa aku dan Ana berusaha menyelamatkanmu." ujar Alan dan ia kesal karena merasa nyawanya sedang tak aman, berharap tak mati konyol.
"Kau berada di lantai atas?" tanya Jimmy dan ia mendengar langkah kaki Alan berlarian ia juga mengatur nafas agar tidak kehabisan.
"Benar, sudah aku tutup." ucap Alan dan ia memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
Jimmy pun kini memberi pesan Ana, melalui ponselnya.
__ADS_1
"Kearah parkir mobil, kau bisa mengendarai mobil kan?" pesan dari Jimmy.
"Tentu , tapi kau berada dimana?" balas Ana.
"Aku di lantai bawah." jawabnya.
Ana bergegas ke arah lift, namun karena sang penembak jitu telah mengetahui strategi yang mereka pakai.
Maka sekarang mengarahkan moncong laras panjangnya tepat ke arah gadis cantik yang memakai gaun putih itu.
Ana berlari dengan cepat.
Desiiingg...
Peluru melesat dan hampir mengenai lengan Ana, dia menggeser tubuhnya karena sudah tahu dan mendengar bunyi tembakan sedang mengarah padanya.
"Haaa..untung saja nyaris..." ucap Ana masuk ke dalam lift.
Tembakan demi tembakan melesat, beberapa kali peluru berhamburan, salah satunya kini berhasil mengenai kaki Ana. Dia merasa nyeri hebat karena kaki kirinya terkena sasaran .
"Ha...ha...ha..." nafas Ana yang tersengal, ia merasa peluru itu berhasil menembus kaki , daging dan tulangnya.
Ana pun berkeringat dingin setelah peluru itu berhasil mengenai kaki kirinya, lift kini masih dalam keadaan turun ke bawah.
"Jim, maafkan aku tak bisa pergi kaki kiriku terkena tembakan." pesan Ana kepadanya .
Bersambung...
__ADS_1