Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 41 "Morning 2"


__ADS_3

"Kau yakin, kalau begitu kalian berdua ikut Ibu ke ruang BK (Bimbingan Konseling)"


Akhirnya mereka berdua duduk di hadapan Bu Guru. Ferdy hanya menunduk dengan pasrah.


Sedangkan siswa satunya itu menatap Ferdy dengan tatapan ingin memukul amat geram.


"Hei Arkan, dengar apakah kau tak berbohong kepada Ibu Guru?" tanya Bu Guru dengan raut wajah serius, nampak alisnya mengernyit.


Menatap intens wajah Arkan, dan Ferdy tetap tenang karena ia merasa tak mencuri ponsel Arkan.


"Ckkk, untuk apa?, akulah seharusnya merasa rugi !, dan kenapa aku lihat Bu Guru memihak pria ini?" kilah Arkan mencibirkan bibirnya ke arah Ferdy, dengan kedua bola matanya yang merah, terlihat raut wajah bandelnya .


Ferdy hanya diam, tak membalas perkataan Arkan, membuat dirinya semakin enggan lalu Ferdy menaruh kedua tangannya diatas meja.


"Baiklah, aku paham tapi tak bisakah masalah ini di selesaikan baik-baik." ucap Bu Guru agar Arkan sedikit mengendurkan egonya.


"Aku tak mau, aku akan memberitahu kepada kepala sekolah saja, agar dia dapat hukuman." ucap Arkan menyilangkan kedua tangannya .


"Ini kan masalah sepele, aku kira hanya salah paham, dan yang penting ponselnya sudah di ketemukan iya kan." ucap Bu Guru begitu lirih dan lembut agar Arkan tak semakin tersulut emosi.


"Ckk, tak mau aku akan melaporkan tindakan ini, karena aku kira kau juga guru yang amat lamban, seharusnya Bu Guru, mendukungku." ucap Arkan, dengan sorot mata tajamnya.


"Aku tahu Arkan, maksud ibu kita selesaikan dengan cara baik-baik dulu, baru setelah itu kau melaporkan kepada kepala sekolah." Bu Guru, memberi saran bijak pada Arkan agar ia tak langsung bergegas melaporkan hal yang sepele ini.


Arkan tak mendengar kata-kata Bu Guru, dan malahan ia menggebrak mejanya beberapa kali.


"Kenapa kau marah Arkan?" tanya Bu Guru.


"Haa..."


"Begini saja, kau mau apa Arkan?, aku hanya tidak mau berdebat, tidakkah kita berunding sudah cukup." ucap Ferdy.


"Sebenarnya, aku ingin kau dapat hukuman." ucap Arkan sambil menyeringai.


"Sudahlah, ayolah Arkan tak baik selalu debat yang tak penting, berbaikanlah beri satu saja kesempatan, yang penting ponselnya sudah ada di depan mata." ucap Bu Guru.


Secara tidak sengaja Ana kini sedang pergi ke sekolahan Ferdy. Ia ingin bertemu pemuda itu


"Ada apa ini Ferdy?, aku tanya seseorang kau sedang di ruang BK." ucap Ana, menatap ke arah Ferdy.


"Kenapa Kak Ana ada disini?" tanya Ferdy.


"Kebetulan oh iya, kenalkan Bu saya Ana, ini ada kue, bisa di makan bersama dengan para murid." ucap Ana menjabat tangan Bu Guru .


"Terimakasih ,"

__ADS_1


"Oh iya ini ada masalah sedikit karena ini kebetulan ponsel Arkan ada di tas Ferdy."


"Oh, begini aja kau minta maaf Ferdy salah atau tak salah penting kau minta maaf dulu."


"Apa, hanya minta maaf ?" ucap Arkan.


"Aku sudah bilang, aku sama sekali tak mau mengambil ponsel Arkan, lagipula pasti ada orang lain yang menaruh di tasku, atau tidak sengaja jatuh kedalam tas." ucap Ferdy.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya seorang pria dengan suara baritonnya, dan berjalan ke arah mereka semua.


"Ini Pak, ada sedikit kesalah pahaman." ucap Bu Guru.


"Hem, salah paham apa?" tanya pria itu.


"Begini, ponsel milik Arkan ada di dalam tas Ferdy, lantas ia mau melaporkan pada anda." tukas Bu Guru.


"Oh, kau mau apa Arkan?, apakah Ferdy mau ku hukum?" tanya Pak Kepala Sekolah.


"Aku sudah jujur kalau tak mengambilnya, aku mohon maaf Arkan." ucap Ferdy lagi memelas


"Ckk, baiklah aku jadi tak mood hari ini." ucap dari Arkan pergi dan tanpa pamit keluar dari ruangan BK.


Lalu setelahnya Ana, memohon ijin kepada Bu Guru, mengajak Ferdy keluar dari ruang BK.


"Bertahanlah Ferdy, aku tahu kau sangat berat sekali menjalani ini semua." ucap Ana, dan ia mengelus pundaknya.


"Tidak begitu Kak, kenapa dia selalu dengan para rombongannya selalu begitu padaku?" keluh Ferdy.


"Adakalanya kau pasti merasa seperti itu, kau tahu aku juga merasa seperti itu Ferdy, semua yang aku alami beban berat, tetapi aku harus tetap bertahan melewati semua ini." ucap Ana


"Iya Kak Ana, nanti siang setelah kau pulang sekolah, aku mau pergi menjenguk adikmu ."


"Baiklah, makasih Kak Ana, kau baik sekali."


Ferdy pun masuk kelas dan Ana menatapnya dari belakang, terlihat Ferdy selalu menunduk punggungnya yang lebar menghilang ia kini masuk dalam kelasnya.


"Bertahanlah Ferdy, kau itu memang seperti aku, ckkk aku harus pergi ke toko hari ini." ucap Ana, karena dia telah lama duduk di bangku depan kelasnya.


Di toko Ana, melihat ada dua orang pegawai yang menemaninya kini.


"Hai, Ana kemana saja kau?"


"Aku dari sekolahan melihat Ferdy, memang ada apa?" tanya Ana


"Aku kira kau tak masuk, apa kakimu sudah baikkan ?" tanya salah satu pegawai lainnya.

__ADS_1


"Ehm, aku rasa sudah membaik." ucap Ana dan melihat kakinya.


"Kau boleh melanjutkan kerjanya."


"Baiklah,"


Ana kini merapikan dan menata semua bunga dengan rapi sesuai dengan urutannya, serta warna bunga tersebut. Ana mengamati lalu mencium aromanya.


Pintu terbuka masuklah seorang perempuan ia memakai tas bewarna emas, dengan wajah cantik khasnya, serta polesan di pipinya yang membuatnya makin mempesona.


Berjalan dengan anggun, menapaki lantai dengan perlahan.


Klethak, klethok, klethak, klethok.


"Hai, aku mau satu buket itu," ucapnya dan ia melepas kacamata warna coklat terang lalu terlihatlah warna kedua bola matanya yang bewarna coklat hazle, sangat indah.


Beberapa kali ia menggerakkan kelopak mata nya, ke arah Ana.


"Hai."


"Boleh Nona, maaf aku terpana melihat warna kedua bola mata anda saat ini." ucap Ana, dan ia menyodorkan satu buket bunga yang sudah ia tata.


"Terimakasih, apa Ralin tak kemari?"


"Aku rasa, Nona Ralin sedang sibuk hari ini." ucap Ana.


"Sayang sekali, aku mau berbincang dengan Ralin aku rindu."


"Anda temannya?"


"Tentu, aku sangat mengenalnya bahkan, aku dulu sering tidur di rumah Ralin, dia anak yang baik , kau beruntung mendapat bos seperti dirinya." ucap perempuan itu.


"Ehm, kenalkan namaku Jenny." ucapnya.


"Iya Nona Jenny, apakah ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Ana.


"Tak ada Ana, hanya saja kalau boleh aku mau secangkir teh tanpa gula, serta ada camilan di kulkasmu?" tanya Jenny.


"Baiklah,"


Ana bergegas menyeduh air hangat menata dan memasukkan beberapa daun teh, lalu ia pun menuangkan air yang sudah mendidih ke dalam cangkir. Aroma teh hijau tanpa gula itu tercium ke semua sudut ruangan.


"Ada baiknya memberikan kesempatan pada seseorang yang bersalah, kalau dia hanya tak tahu tidak sengaja bisa menegurnya, jangan kau langsung menghakiminnya."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2