
"Hanya ini, kecantikanmu akan hilang jika ada kotoran ini." ucapnya dan mengelap dengan tisu kering.
"Ha, kau bisa saja aku tak cantik, kalianlah yang cantik, tetap semangat bekerja walau kadang aku tak bisa melihat toko, aku harap kalian bisa bekerjasama terus." ucap Ralin.
"Tentu saja, mana bisa kami akan mencari kerja di luar sana jika Nona pemiliknya baik dan secantik Anda." ucap salah satu pegawai.
Sebut saja namanya Ria, dia adalah gadis yang berasal dari kampung halamannya dia kemari merantau dan mencari uang untuk menyambung hidup. Beruntung Ria masuk menjadi salah satu pegawai Ralin, dengan begitu dia krasan tak mau cari pekerjaan lain padahal di toko gajinya tak seberapa. Namun cukup untuk bertahan hidup dan mengirimi sedikit uang untuk keperluan keluarganya di desa. Ana melihat mereka kompak sangatlah terenyuh, baginya mereka adalah keluarganya
"Ayo Ana, makanlah aku lihat badanmu yang kurus itu menandakkan kau jarang makan ya."
"Tidak Nona, aku hanya makan makanan yang membuatku kenyang , bukan aku tidak suka makan, terkadang aku lupa untuk makan hi hi hi..." Ana tertawa, Ralin memperhatikannya .
"Apakah, kau sudah menghentikan kebiasaan burukmu untuk minum kopi berlebihan?, aku akan sangat senang jika kau mendengarkan aku An..." ucap tulus Ralin.
"Hemmm, iya Nona aku sedikit mengurangi, masih berusaha. Aku rasa pendapatmu itu sangat bagus. Bukankah kesehatan itu kita sendiri yang memilih bukan orang lain." lirih Ana, menyendok makanan masuk kedalam mulutnya.
Semua pegawai Ralin menikmati makanan yang terhidang, walau hanya sederhana itu terasa mewah.
Sore hari telah tiba semua pegawai saat ini kembali pulang kecuali Ana membereskan semua sisa-sisa kotoran , dan merapikan.
Alan pun masuk kedalam toko bunganya, dan menyapa Ana.
"Hei An, apa kabar?" tanya Alan.
"Baik-baik saja, tumben kau kemari ?" telisik Ana.
"Ehm, aku hanya mampir aku kira jimmy akan kemari , jadi aku menghampirimu." ucap Alan.
Dia pun menyalakan sepuntung rokok, dan menghisapnya.
"Kau merokok, seharusnya kau merokok pada tempatnya Alan, jangan dalam ruangan yang ada orang lainnya, lagipula jika kau itu sering merokok tak baik untuk kesehatan." pesan Ana pada Alan, agar menghentikan kegiatan merokoknya.
"Ehm, iya-iya maaf , aku akan menguranginya, tetapi aku sedang pusing An, pekerjaanku itu tak selesai, semakin hari semakin banyak." keluh Alan pada Ana dengan raut wajahnya yang sedikit kacau.
"Kau bisa santai sejenak, menurutku kau perlu berlibur Alan, bukankah kepenatan dan juga kelelahan akan hilang jika kita pergi berlibur." ucap Ana sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya benar An." sambil manggut-manggut .
Tak lama Jimmy masuk kedalam toko Ana. Terlihat wajahnya kacau balau, karena yang ia lakukan seharian adalah mengerjakan tugas sebagai seorang pengacara, dia pun melepas dasinya, lalu menaruh jasnya di kursi di dekat Alan.
"Kenapa kau sudah ada disini?" tanya Jimmy.
"Aku sudah menebak kau pasti akan kemari." tukas Alan, dan melempar puntung rokoknya di sampah.
"Hei, kau merokok Alan..?" tanya Jimmy pada Alan menatap lekat kedua bola matanya.
"Tentu saja, kau tak merokok?" tanya Alan.
"Ha... Tak aku tak tertarik pada rokok..." ucap Jimmy menghela nafasnya agak panjang.
"Benarkah?,cobalah kau pasti tahu, pusingmu akan hilang jika kau merokok." tawar Alan ke Jimmy.
Sedangkan Ana saat ini, hanya melihat saja mereka berdua yang sedang asyik bercakap- cakap mengenai rokok. Jimmy menatap satu puntung rokok yang di berikan Alan padanya.
"Ehm, bagaimana ya?, aku memang pusing seharian Rena tak mengijinkanku pergi dari kantor. Kau tahu dokumen dan semua tugas hari ini banyak sekali yang aku kerjakan ." keluh Jimmy pada Alan.
Ana menatap mereka berdua tak berucap satu patah kata pun.
"Maafkan Alan, sepertinya aku tak merokok, bukan aku tak menghargaimu, tapi pahamilah pilihanku." ucap Jimmy menolak rokok dari Alan.
"Kita kan sudah dewasa, tidak apa-apa.." ucap Alan lagi menyodorkan rokok pada Jimmy.
"Ayolah Alan, jika kau memilih untuk merokok silahkan, kau tahu kau itu harus menghormati keputusanku juga ok." ucap Jimmy, dan dia mengembalikan rokoknya pada Alan.
"Terserah Kau, tapi ini adalah yang satu solusi untuk para pria, jika sedang pusing." ucapnya.
"Hem, ckkk aku tidak pernah merokok, karena mungkin aku tak suka asapnya." ujar Jimmy .
"Benarkah, kenapa kalian berdebat masalah rokok?" tanya Ana tertarik pada percakapan mereka berdua.
"Ehm, karena memang itu pilihan orang kau tak bisa memaksakannya juga, terserah mau merokok silahkan, dan tidak juga silahkan." ucap Jimmy pada Ana, dia menatap lekat wajah Ana.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau memilih tak merokok?" tanya Ana.
"Ehm, karena aku lebih menyukai kesehatan, dan juga aku tidak terlalu suka bau asapnya." jawab Jimmy yang bijaksana, Ana menatap terheran tumben dia berubah menjadi orang yang seperti itu.
"Lalu kau Alan?" tanya Ana, menatap wajah Alan semakin intens, berharap jawabannya berbeda membuat Ana makin paham.
"Yaa karena aku merokok mulai aku masih sekolah, dan aku tidak berhenti sampai saat ini." ucap Alan pada Ana, dan ia menatapnya.
"Ehm, berarti kalian mempunyai perbedaan pandangan tentang rokok, dan intinya adalah kalau kalian memilih tidak karena menjaga kesehatannya, yang satunya merokok untuk sedikit meredakan stres..." ucap Ana kepada mereka berdua.
"Benar, tetapi yang lebih baik tidak merokok, misalkan seperti Alan sudah kecanduan itu, hanya bisa menguranginya saja." ucap Jimmy
"Kalian memang aneh iya kan, semua para pria selalu melakukan hal yang aneh." ucap Ana menggelengkan kepalanya.
"Tak juga, karena terkadang aku melihat ada para wanita juga merokok, bahkan di tempat umum, benarkan Alan?" ucap Jimmy kepada Ana.
"Benarkah?" tanya Ana, penasaran.
"Benar, malah banyak." jawab Alan.
"Hidup ini pilihan An, ada yang merokok, ada juga yang tidak terserah mereka yang penting kitalah sendiri yang memilih pilihan kita itu." ucap Jimmy dan tersenyum.
Ana, pun tak menjawab dan menganggukkan kepalanya.
"Haaaa, aku lelah sejenak saja jangan kalian keluar, jangan di tutup tokonya An, biarkan kami duduk sementara disini." ucap Jimmy.
"Iya, aku juga penat, kau tahu seharian tak ada habisnya pekerjaanku makin bertambah, kau tahu tadi juga sempat di marahi atasanku ." keluh Alan curhat pada Jimmy sambil dia mengacak-acak rambutnya.
"Kau sama aku juga punya sekertaris sangat disiplin, jadi tidak punya pilihan lagi untuk mengahadapinya, haaaa... aku lelaaaahhh!!" teriak Jimmy.
"Apa yang kalian ucapkan ini?, aku sangatlah senang mempunyai atasan seperti Ralin, dia baik selalu memberi kami kelonggaran tidak segan-segan membantu, dan ramah." jawab Ana, pada kedua pria itu.
"Kau itu berbeda dengan kami, sudah diam saja untuk sementara ok." ucap kompak Alan dan Jimmy.
Ana terdiam mendengar ucapan mereka yang sedang kompak, lalu Alan dan Jimmy untuk sementara bisa bernafas lega bahwa duduk dengan santai untuk sementara adalah salah satu pilihan mereka berdua yang sama saat ini. Ana mengerucutkan bibirnya karena dia lah satu-satunya yang senang, tidak sama dengan para pria ini.
__ADS_1
Bersambung...