Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 38 "Daddy"


__ADS_3

Alan berusaha menghindari beberapa aksi tembak dari seseorang yang berusaha untuk membunuh Jimmy.


"Kenapa ya Jimmy amat banyak musuhnya, aku jadi repot setiap kali dia kesulitan." ucap Alan dan menggerutu, dia berusaha turun ke lantai bawah.


Beberapa kali terdengar lesatan tembak dari atas gedung mengarah pada Alan.


"Jika kalian tak mati hari ini, maka aku bisa membunuh gadis yang terlemah itu untuk pertama ." ujar seseorang yang mengarahkan moncong pistolnya itu ke arah kepala Ana.


Desinggg... Ana masih bisa menghindarinya.


"Kenapa dia selalu mengarahkan pistolnya ke arahmu Ana?" tanya Jimmy menatap Ana.


"Mungkin dia tahu aku sudah cedera Jim, aku bilang pergilah kau, aku hanya menghambat perjalananmu kali ini." ucap Ana dan saat ini wajahnya pucat pasih.


"Bertahanlah Ana, sedikit lagi ok, Alan sedang berusaha mengambil mobil untuk kita." ucap Jimmy.


Alan tetap berlari berusaha sekuat tenaganya. Dan saat sudah makin mendekat ke tempat parkir , melihat mobilnya terparkir rapi kali ini dia makin mempercepat larinya.


Untunglah kali ini Alan berhasil menghindari beberapa tembakan yang mengarah padanya.


Alan segera melesatkan mobilnya untuk pergi ke ujung tangga darurat, mendekat .


"Cepatlah Jim, jangan papah gendong saja Ana, biar cepat jika kita berhasil keluar dan berada jauh dari gedung penembak itu tidak akan berhasil memburu kita." pesan Alan.


Setelah menerima pesan dari Alan Jimmy pun segera membungkuk agar Ana naik punggung dan mempercepat pergi ke arah tempat parkir Alan sudah menunggu mereka.


"Ayo Ana, cepatlah naik punggungku , kulihat badanmu kecil, lebih cepat baik." ucap Jimmy.


"Baiklah."


Ana tak menolak sama sekali tawaran Jimmy padanya, mungkin agar mempercepat .

__ADS_1


Jimmy sedikit kesusahan membawa tubuh Ana, menuruni anak tangga, walau demikian akhirnya mereka berdua pun berhasil turun ke bawah. Bertepatan dengan turunnya mereka Alan membuka pintu mobilnya dengan cepat.


Setelah mereka berdua berhasil masuk kini Alan, menginjak pedal gas dan mengarahkan stir mobilnya pergi ke tempat lainnya.


"Ayo cepat Alan." ucap Jimmy.


"Baiklah,"


Mereka bertiga pun kini akhirnya lepas dari kejaran sang penembak jitu. Alan Berhenti di sebuah rumah kecil , ada seseorang berada di depan rumah itu memasang wajahnya sedikit cemberut juga terkejut.


Karena Alan yang keluar dengan Jimmy dan juga seorang wanita dari mobilnya. Apalagi Ana terlihat kakinya berdarah membuat pria itu langsung menghujani pertanyaan kepada Alan.


"Alan, kenapa kau membawa gadis yang ini?, apa yang terjadi?, kenapa Jimmy juga ikut?"


"Ayah, maafkan aku, kami tak punya tempat lain, nanti ceritanya. Maafkan aku dia ini Ana, temanku , dia sedang terluka." ucap Alan dan ia menatap wajah Ayahnya dengan sedikit takut karena Ayah Alan khawatir pada Alan, putra satu-satunya.


"Kau tak apa-apa?" tanya Ayah Alan dengan membalikkan badan Alan karena memeriksa apakah putranya tak terluka. Melihat tubuh Alan dan memastikan tak terkena tembak.


"Tidak apa-apa Ayah, Ana terkena tembak di kaki kirinya." ucap Alan lirih, ia takut terkena marah Ayahnya.


Ayah Alan hanya diam tak menjawab sama sekali namun untuk sementara.


"Maafkan aku Paman, sedikit mengganggu ini semua karena aku." permintaan maaf Jimmy


Lalu segera memapah Ana duduk di kursi, dan menyandarkan kepalanya, menaruh kakinya di atas kursi kecil. Memasukkan sumpalan dari beberapa kain yang di bentuk bulat ke mulut Ana. Bermaksud agar Ana bisa menggigitnya.


"Gigitlah aku akan mengeluarkan peluru di kakimu." ucap Jimmy dan Alan menyiapkan semua peralatan kesehatan yang di minta Jimmy padanya.


Beberapa alkohol, jarum , dan juga peralatan kesehatan lainnya. Karena tidak ada anestesi maka Ana harus menahan rasa sakitnya pada kaki kirinya untuk sementara waktu ini, Jimmy memulainya dan ia berhasil mengeluarkan isi peluru di kaki kiri Ana.


Ana terlihat mengeluarkan keringat dingin di wajahnya dan sekujur tubuhnya terlihat juga menggigit sumpalan kain yang tepat berada di mulutnya dengan sekuat tenaganya, masih terdengar gertakan giginya akibat menahan sakitnya saat Jimmy mengeluarkan peluru di kakinya. Beberapa menit pun sudah selesai dan kini Jimmy menjahit luka Ana .

__ADS_1


Ayah Alan dan Alan menyaksikan hal tersebut melihat Jimmy seperti seorang dokter, sama sekali Alan tidak menyangka temannya yang sangat menjengkelkan dan selalu seenaknya sendiri ternyata mampu berbuat baik.


Terlebih Alan heran, karena beberapa waktu yang lalu Jimmy kerap kali mempermainkan wanita. Tapi kali ini bersimpati hanya pada seorang gadis penjual bunga ini.


Ayah Alan menyeret putranya agak menjauhi mereka berdua hendak bertanya pada putra satu-satunya itu karena rasa penasarannya.


"Dengar Alan, kenapa mereka berdua aneh?, kenapa bisa tertembak?" cecar Ayah Alan, ia bingung dan juga penasaran dengan kejadian yang menimpa putranya.


"Maaf, Jimmy sedang dalam bahaya Ayah, dia tadi hampir terkena tembak." jawab Alan dan menundukkan kepalanya karena takut terkena pukulan Ayahnya.


"Aku tidak akan memarahimu, kau tahu Alan hanya saja Ayah sangat khawatir kepadamu, hanya kau yang Ayah punya, aku harap kau tak gegabah dalam bertindak. Semenjak aku di tinggal Ibumu, aku selalu mengkhawatirkan dirimu. Ayah hanya ingin kau pulang dengan selamat." ucap Ayah Alan , membuat senyum Alan mengembang, karena ia merasa sangat di sayangi Ayahnya merasa dia adalah satu- satunya harta yang di milikki oleh Ayahnya.


"Ehmm, Ayah kenapa kau tak suka kalau aku jadi polisi?, dan kau selalu memarahi aku jika pulang terlambat?" tanya Alan pada Ayahnya dengan menatapnya lembut ke arah Ayahnya.


"Dasar anak bodoh, Ibumu yang suka kalau kau menjadi polisi, Ayah tak berharap sama sekali. Aku hanya ingin melihatmu pulang tepat waktu anakku." ucap Ayah Alan, sedikit lega bisa menatap wajah putranya dan bisa mengatakan alasan ia sering memarahi Alan.


"Maafkan aku Ayah, selalu saja membuatmu khawatir." permintaan maaf Alan terdengar tulus di telinga Ayahnya kini membuatnya sedikit lega.


"Lalu ceritakan kenapa Jimmy dan gadis itu bisa terkena tembak?" tanya Alan dan melihat wajah Alan dengan tatapan tajam.


Sebelum Alan berkata ia menelan ludahnya dan berfikir sedikit , terlihat beberapa kali ia menggaruk rambutnya terlihat bingung.


"Ayo katakan..."


"Baiklah, Jimmy sedang dalam bahaya Ayah, ada seseorang yang mengincar nyawanya." ucap Alan, dan melihat ekspresi wajah Ayah nya dan setelah itu Ayahnya segera memukul Alan beberapa kali.


"Katanya Ayah tak memukulku, kenapa saat ini tetap mendapat pukulan darimu?" gerutu Alan sebal.


"Haa, jadi ada seorang pembunuh mengincar nyawa Jimmy?, kau dalam bahaya Alan dan kenapa membawa mereka kemari tidak kau bawa ke tempat lain?" cecar Ayah Alan , dan sangatlah mengkhawatirkan nyawa putranya satu-satunya yang ia milikki saat ini.


"Aku sudah bilang padamu, kalau tak punya pilihan lainnya, maafkan aku Ayah..." ucapnya mengerucutkan bibirnya itu setelah mendapat beberapa pukulan dari Ayahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2