
"Siapa pria pertama yang menemukan jasad Andien?" tanya Jimmy kepada Ana.
"Papanya, lihatlah dia sangatlah shock berat." ucap Ana , dan tertunduk melihat sosok ayah yang kehilangan putri kesayangannya.
Seorang pria mengenakkan baju toksedo putih , dan berjalan masuk kedalam kamar.
Dia bingung kenapa banyak polisi , para tim forensik , dan juga banyak para tamu yang saat ini sedang bersedih. Terutama saat ia melihat James, dan kedua orang tua Andien.
"Pa, ada apa ini?" tanya pria itu, pasti di lihat dengan penampilannya di pastikan adalah calon pengantin pria .
"Hiks...hiks...hiks..... Maafkan Papa Arseen Andien.." tangis Papa Andien pecah dan tak meneruskan perkataanya.
"Kak James, bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini ....?" tanya Arseen dengan kebingungan.
Arseen masih belum tahu kalau Andien sang pengantinnya , sudah berada di alam lainnya.
"Ma...maaf- " ucap James terbata-bata.
"Iya Kak, kenapa ada banyak polisi?" ucap Arseen , mengamati sekeliling .
"Hemmm haaaa" menghela nafas panjang.
"Dengarkan Arseen , Andien telah meninggal dunia sepertinya dia di bunuh seseorang, hiks hiks..." ucap James lalu menangis sambil menunjuk jari telunjukknya ke arah kamar mandi.
"Apa?, kenapa bisa begitu Kak?" ucap Arseen, dan berlari masuk kedalam kamar mandi .
Seketika tubuhnya lemas , dan bergetar , dia melihat sang mempelai wanita sudah tidak bernyawa lagi.
"Ada apa ini?, kenapa Andien?, haaaaaa..." dan Arseen pun berteriak sekencang-kencangnya.
"Mohon maaf ya Pak, kami sedang bertugas, bisakah Anda menjauh terlebih dahulu?" ucap salah satu anggota forensik .
Namun Arseen tidak menggubrisnya sama sekali.
"Biarkan Pak," ucap Alan memandangi pria yang sedang shock itu.
"Baik Pak Alan." jawab anggota forensik itu dan pergi meninggalkannya.
Sementara Alan masih melihat bayangan dulu saat kehilangan ibunya. Ibu nya tak dibunuh namun ketika ia pulang dari sekolah , di siang hari yang cerah saat masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Banyak orang yang berdatangan, semuanya menangis kala itu. Ayahnya juga tepat berada di samping mayat ibunya, membuat Alan saat ini melamun.
"Aku tidak tahu kenapa aku memilih menjadi seorang polisi?, tapi ketika kehilangan sosok ibuku , duniaku hancur , apalagi aku bukanlah anak yang pintar , masuk dalam kepolisian itu bukanlah cita-citaku. Tapi ibuku sangat suka dengan profesi ini. Aku anggap ini wasiat dari ibu selama ia hidup. Aku sangat tahu rasanya kehilangan orang yang paling aku cintai. Saat melihat pria ini aku melihat diriku yang dulu." batin Alan kini, sambil melamun , mengingat bayangannya di kala itu.
"Alan, ini semua data yang diminta Jimmy, berikan padanya. Aku tak mau bicara dengan pria itu." ucap Shanon , dan pergi meninggal kan Alan.
Setelah menerima beberapa lembar data dari Shanon, Alan tak bergegas pergi , dia hanya menatap Arseen yang masih tak percaya .
Alan , pun mengingat bayangannya dulu lagi.
"Ibu...ibu..., aku kau tinggal sendirian." ucap Alan sambil menangis.
"Ayah, kenapa ibu tiba-tiba meninggal dunia?" tanya Alan, namun nada bicaranya tinggi.
"Ibumu sudah lama sekali mengidap penyakit jantung Alan, dia tak mau di rawat di rumah sakit , dan tidak mau minum obat pula." jawab Ayah Alan.
"Alan, apakah kau melamun? " ucap Jimmy menggerak-gerakkan telapak tangannya ke arah wajah Alan.
"Hem, iya Jim , sekilas aku menatap diriku sendiri saat kehilangan ibuku dulu." jawab Alan , raut wajahnya sedih .
"Sudahlah , berikan kertas yang kau pegang itu kepadaku." ucap Jimmy kepada Alan.
Setelah memberikan berkas yang di minta , Jimmy membacanya dengan seksama.
"Tinggal menemukan bukti pembunuhannya, aku akan mengamati tempat itu ." ucap Ana dan pergi meninggalkan Jimmy.
Jimmy pun kini menatap Arseen , nampaknya pria yang memakai toksedo putih itu , mulai diam memandangi jasad calon pengantinnya.
"Jim, apakah kau sudah tahu pembunuhnya ?" tanya Alan ,
"Tentu saja , ini adalah kasus pembunuhan yang tak sulit sama sekali , dilihat dari jasad Andien, dia bukan pembunuh profesional, dia membunuh karena Andien , sepertinya sudah mengetahui rahasia pelaku, terpaksa ia harus membungkam gadis ini . " ucap Jimmy .
"Haaa...Rahasia.. Apa yang kau maksud itu ?" tanya Alan penasaran kepada Jimmy.
"Sepertinya pelaku adalah orang terdekat ,dia terpaksa membunuhnya jika tidak dunia akan tahu kebenaran akan rahasianya , tapi sayang sekali karena dia membunuh , semua orang akan tahu alasan pembunuhan ini, dengan kata lain maka dia menyebarkan rahasianya sendiri Alan." ucap Jimmy dan melangkahkan kakinya ke arah Ana.
Lalu Jimmy berhenti sejenak dan berkata.
"Pelaku akan menyesal karena pembunuhan bagimanapun adalah satu tindak pidana, dan terlebih lagi mereka masih berhubungan amat dekat Alan." ucap Jimmy lalu ia meneruskan langkahnya.
__ADS_1
"Hem, sangat mengerikan kenapa jika masih berhubungan dekat membunuhnya, bukankah dia seperti monster." ujar Alan.
"Bagaimana Ana?" tanya Jimmy mendekati Ana.
Ekspresi Ana serius dan datar , ia menatap ke suatu arah.
"Apa yang kau lihat An?" tanya Jimmy sambil menatap wajah Ana yang sedang serius kali ini.
Lalu Ana menunjukkan sebuah foto Andien, dan di dekatnya ada sebuah boneka kecil milik Andien.
Mereka berdua berjalan mendekatinya, Jimmy mengamati dengan seksama , kalau boneka itu adalah kesayangan Andien.
"Ini kenapa berada di sini?, padahal Andien hanya tinggal satu hari saja , kenapa ia harus membawa boneka kecil ini dan foto ini juga?" tanya Jimmy , dan mengamatinya.
Ana berbisik ke telinga Jimmy, dengan lirih.
"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Jimmy.
"Ayahku pernah membelikannya untukku, dia sangat khawatir padaku , walau keluarga kami miskin tapi ayahku sangat menyayangiku, dia rela menabung hanya untuk membeli boneka mahal itu." ucap Ana.
"Jika seperti itu , pekerjaan kita akan mudah." ujar Jimmy tersenyum ke arah Ana.
Tapi gadis itu tetap berekspresi datar , tidak tersenyum sama sekali.
"Hei, tersenyumlah Ana, jika kau tersenyum setidaknya kau menutupi sikap dinginmu itu." ujar Jimmy.
"Bukan aku tak mau tersenyum Jim, tapi aku sedang tak ingin bercanda." jawab Ana , dan tanpa ekspresi di wajahnya.
"Dasar gadis ini," gerutu Jimmy.
"Bagaimana Jim?" tanya Alan.
"Suruh masuk beberapa orang ini, dan kau akan tahu kebenarannya Alan." ujar Jimmy.
"Baiklah."
Setelah itu beberapa orang yang masuk ke dalam daftar tersangka semua di persilahkan masuk kedalam ruangan kamar Andien.
__ADS_1
Mereka ada lima orang , dua orang gadis yang bertugas make over , dan membantu Andien mengenakkan gaun pengantinnya, serta tiga orang lainnya , yaitu ibu , ayah , serta kakak Andien. Mereka berlima masuk dalam daftar lima tersangka pembunuhan pengantin kali ini. Karena hanya mereka berlima yang masuk ke dalam ruangan sebelum kematian Andien.
Bersambung...