Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 9 "Bully"


__ADS_3

Di toko bunga kini kedatangan seorang pria memakai baju rapi, dengan warna jas hitam.


Pria itu memakai tongkat saat berjalan, dia mungkin berusia sekitar 80 tahunan, langkah kakinya agak gontai, karena sudah tua maka tulang kakinya tak lagi kuat seperti saat ia muda dahulu.


Lalu ia mendekati Ralin dan Ana yang sedang asyik mengobrol. Karena toko masih sangat sepi, sebelum ia datang.


"Hallo selamat siang ." sapanya amat sopan


"Selamat siang juga ,oh iya Tuan, bisa saya bantu." jawab Ana amat sopan,ia mendekati pria itu.


"Aku akan membeli beberapa bunga, bisakah kau mengantarnya? " tanya pria itu lalu dia tersenyum ke arah Ana.


Ralin hanya diam namun ia melihat pria itu, mengamatinya, dan mengecilkan suara dari musik yang ia nyalakan.


Sedangkan Ana sedang melayani pelanggan itu, dan dia memperlihatkan beberapa bunga yang bisa di beli oleh pria itu.


Setelah memilih beberapa bunga yang cocok, maka pria itu mulai menjatuhkan pilihan, yaitu sebuket bunga warna-warni indah. Terdapat banyak macam bunga, ada lily, mawar, dan ia juga memilih bunga lavender bewarna ungu.


Setelah pilihan di tetapkan, maka ia meminta untuk mengantarnya sesuai alamat, karena hari ini adalah aniversary yang ke 52 tahun.


Pernikahan langgeng, dan itu jarang sekali terjadi pada kalangan pasangan suami istri jaman sekarang.


Ana melihat keromantisan pria itu sangatlah terharu. Sangat beruntung sekali pasangan dari bapak yang memesan buket bunga ini.


"Jangan lupa berikan aroma parfum ini pada bunga itu." ucap sang pria, dan menyemprot kan pada sebuket bunga itu.


Setelah membayarnya ia pun pergi , menaikki mobil hitam mewahnya itu, menuju arah yang berlawanan.


"Nona, aku antar bunga ini dulu sebentar lagi penggantiku akan datang, jadi jika nona ingin pergi silahkan saja." ucap Ana berpamitan.

__ADS_1


"Iya hati-hati di jalan Ana." jawab Ralin.


Dia pun keluar dan meminjam sepeda motor dari toko bunga tersebut.


Kini Ana, sedang menuju alamat dari sang penerima buket bunga itu. Melewati jalanan yang jauh, serta Ana harus rela menerjang kemacetan. Jalanan hari ini penuh sesak.


Dia mencari jalan pintas untuk segera datang tepat waktu, namun di saat yang bersamaan, di gang yang ia lewati ada segerombolan para siswa , entah kenapa pandangan Ana tertuju kepada mereka. Setelah ia memarkir sepeda motornya.


Dia mendekati para siswa yang bergerombol.


"Hei, kalian apa yang kalian lakukan disini?" tanya Ana, mereka semua kini membentuk lingkaran, terlihat ada seorang anak laki-laki sedang di hajar mereka, wajahnya banyak luka dan bibirnya berdarah, serta anak yang di hajar terlihat sudah pasrah, dan sangat putus asa.


"Hei, kenapa kalian melakukan itu?, jika kalian di laporkan polisi kalian akan dapat masalah." ucap Ana dan mendekati pria yang sudah di hajar mereka.


"Kenapa kau ikut campur urusan orang lain?!" ucap salah satu siswa itu, dia menyeringai ke arah Ana. Lalu ia mendekatinya, namun Ana tidak gentar, nyali gadis ini tetap tidak kendur sama sekali.


"Lepaskan anak ini atau kalian akan masuk dalam penjara !!" tegur Ana, memberi mereka peringatan .


"Ha, kami kenapa harus masuk penjara?, haa hahaha..." terbahak-bahak , memandang Ana dengan pandangan meremehkan.


"Kau ini !!, tidak pernah di ajari sopan santun, seharusnya kalian hormat, aku lebih tua dari kalian...!!" gertak Ana ,sambil menggertakkan giginya ke arah mereka, dan sedikit maju.


" Kami tidak takut !!, walau kau lebih dewasa dari kami, kau hanya seorang wanita lemah." ucap salah satu siswa itu, di tangannya dia membawa rokok, lalu ia pun mulai meniupkan asapnya di wajah Ana.


"Uhuk...uhuk..." Ana terbatuk-batuk.


"Sudah pergilah, kau hanya mengganggu kami saja..." gerutunya.


"Lihatlah dia sudah lemah, jika dia mati apa kalian tidak takut??" tanya Ana, kepada para siswa yang kini mengitarinya.

__ADS_1


"Apa urusanmu?, apa dia adikmu?, apa dia kekasih gelapmu?, atau kau adalah..."


Sebelum pembicaraanya berlanjut kini, ada seorang pria datang, dengan badanny yang gempal, tinggi sekitar 190 cm, dan di tangan terdapat banyak tatoo, para siswa melihatnya sudah mulai terintimidasi. Mereka seketika menciut mendengar langkah kakinya yang mulai berjalan mendekati mereka semua.


"Tap....tap...tap..."


Rambutnya yang panjang itu di ikat, baju di tubuhnya hanya mengenakkan kaos kutang bewarna putih. Celananya robek, serta wajah dari pria itu sangat seram.


"Ada apa ini?, kenapa ribut sekali?" tanya pria itu, lalu melihat Ana yang mungil, sedang di kerumuni, dia menatapnya dengan pandang an dingin lalu menyeringai.


"Ini Kak, dia mengganggu kami, berani-berani nya masuk di wilayah kami, dan dia membuat kami sebal, sembarangan ikut campur urusan orang !!" jawab salah satu siswa itu.


"Sudahlah bubar saja, aku yang mendengar dari kejauhan ingin menjitak kepala kalian semua, sangat berisik !!" gerutunya sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Tapi Kak,"


"Tidak ada tapi-tapian, pulanglah, aku sedang pusing." gerutu pria yang berbadan gempal .


"Huuuu, tidak seru." gerutu mereka semua


"Ayo kita main game saja." ucap beberapa siswa.


Mereka semua kini bubar karena perintah dari pria yang berwajah angker, serta Ana menarik lengan siswa yang babak belur itu, memapah dan mereka duduk di tempat yang aman.


Ana pun mengeluarkan plester dari tas kecil miliknya setelah itu Ana, memberikan sebuah jaket miliknya karena baju siswa tadi sangat kotor, seragam bewarna putih banyak bekas dari sepatu para teman-temannya yang tadi berbuat sarkas padanya.


Namun kenapa siswa ini tidak melawan sama sekali sehingga badannya kini di penuhi luka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2