
Munculah wanita memakai gaun yang sangat cantik, saat ini rambut panjangnya berkibar, ia sangatlah elegan, parfum yang ia pakai bukan parfum murahan, harumnya bisa tercium dari kejauhan. Semerbak membuat para lelaki itu akan mabuk kepayang jika hanya menciumi aromanya saja.
"Kenapa kau kesini lagi?" tanya pria itu dan ia menatap heran wanita yang tempo hari sudah di lihatnya, menawarinya sesuatu namun tak tahu apakah itu.
"Hem, aku sudah bilang tinggalkanlah, kau masih kembali, dan sekarang kau meracau." ucapnya.
"Apa yang kau maksud aku tidak tahu?"jawab pria itu dengan menatapnya tajam.
"Bukankah kau sudah di tinggal oleh istrimu, tapi kau tak tahu kesalahanmu." ucap wanita itu dengan tertawa,
"Ha...ha...ha..ha..." terbahak-bahak, sehingga malam yang indah ini menjadi malam yang sedikit ganjil.
"Aku tak tahu apa yang kau maksud itu?, aku sangat mencintainya, walaupun aku jarang bekerja, aku masih tetap berusaha ." ucapnya.
"Dengar, makanya ikutlah denganku ." ajak dar
wanita itu, dengan satu sudut bibir yang di tarik ke atas.
"Aku tidak mau, aku hanya ingin menikmati angin malam disini." ucap pria itu menenggak minuman alkohol lagi.
"Haaaa, lalu sampai kapan kau seperti itu?" tanya wanita itu, sedikit tersenyum dengan tatapan tajam, alisnya sedikit terangkat ke atas.
"Pergilah, aku tak mencari perempuan lain." ucap pria itu, dan duduk di bawah .
"Ha..ha..ha..." tertawa dengan penuh amarah.
"Dasar, kau...!" bentaknya.
Tak lama kemudian pun Ana, Alan, dan Jimmy sedang berjalan menikmati suasana dikala itu karena Ana tak punya pilihan maka dia hanya bisa mengikuti para pria itu. Jimmy mengajak Alan dan Ana untuk mencari makanan hangat di pinggir jalan ia amat ingin makan bersama dengan temannya, sambil menikmati dingin harumnya aroma udara di kala malam hari.
Saat berjalan sedang bersenda gurau Ana, terlihat fokus menatap pria yang saat ini di bujuk oleh wanita tadi. Pria yang hoby minum alkohol itu, hampir tak sadar. Akibat terlalu banyak meminum cairan tersebut, pria itu hampir oleng.
Ana , Jimmy , dan Alan yang sedang makan di warung dekat jalan. Netra Ana terperanjat dan menatap pria yang menurutnya saat ini masih diliputi perasaan tersiksa.
Sesekali di meracau, tak tentu arah, Ana pun tetap mengamatinya dengan seksama.
__ADS_1
Jimmy pun melihat Ana, dan menepuknya sedikit agar bisa membangunkannya dari lamunannya saat ini.
"Hem, ada apa?" tanya Ana, dan menoleh ke arah Jimmy.
"Kau lihat apa?, terlihat kau agak melamun."
"Lihatlah di depan itu, ada pria yang sedang mabuk, apakah semua pria akan melakukan hal demikian?" tanya Ana penasaran jawaban mereka para lelaki.
"Kalau aku, memang sering minum tapi aku tak pernah mabuk, bukan aku tak peduli akan kesehatan, tapi aku hanya sudah agak biasa saja." lirih Jimmy, dan Alan kini menjitaknya.
"Hei, beraninya kau kenapa menjitakku?!" tanya Jimmy dan mengelus kepalanya.
"Ehmmm, aku hanya ingin menjitakmu saja." ucap Alan dan tersenyum puas setelah dia menjitak kepala Jimmy.
"Dasaar kau ini !!" jawab Jimmy.
"Lihatlah kau lihat wanita itu?" tanya Ana dia menunjuk ke arah tempat pria yang sedang mabuk itu.
"Mana An?" tanya Jimmy kedua bola matanya mencari wanita yang di bicarakan Ana kepada dirinya.
"Sudahlah, ayo kita makan bersama, jarang sekali bisa berkumpul seperti ini." ucap dari Jimmy, lalu mengabaikannya saja.
"Iya An, abaikan saja biarkan saja kali ini, kita makan dan mengobrol saja, kita mempunyai urusan sendiri-sendiri." ucap Alan, setelahnya tersenyum ke arah Jimmy.
"Benar, makan saja dengan tenang ya." ucap Jimmy lalu dan memberikan satu mangkuk makanan ke arah Ana, tak lupa memberikan segelas minuman.
"Warung ini lumayan juga." lirih Alan sambil melirik ke arah kanan dan kiri.
"An, kenapa kau?" tanya Alan dan melihatnya kalau masih saja pandangannya tertuju pada seorang pria yang sedang mabuk itu.
"Sebentar ya, aku akan kesana kalian boleh makan duluan." lirih Ana, berjalan ke arah pria itu, dan sekarang gadis itu berdiri di dekatnya.
"Kenapa kau tak pulang Pak?" tanya Ana.
"Aku pusing." ucapnya sambil minum dan terjatuh botolnya.
__ADS_1
Ana pun membuang botol itu, lalu berdiri di sampingnya.
"Dengar, pulanglah jangan mabuk-mabukkan lagi, aku rasa itu tak menyelesaikan masalah kau hanya akan menambah bebanmu saja." ujar Ana, dan ia terlihat mengamati wanita itu pergi karena melihat Ana datang menasehati pria yang sedang mabuk tersebut.
Saat akan mengejar langkah kaki jenjangnya, Ana terhalang oleh banyak orang maka dia tidak bisa melihat wajah wanita tersebut.
"Siapa wanita itu?, kenapa ia pergi saat aku datang, dan kenapa Jimmy tak tahu wanita tadi?" gumam Ana sendirian.
Namun karena pria yang mabuk itu saat ini pingsan tak sadarkan diri, maka Ana pergi meninggalkannya, berharap pria yang ada di depannya inu akan berubah. Kini ia kembali duduk bersama kedua pria yang sedang santai dan mengobrol seru.
Ana mendengar curhatan Alan dan Jimmy yang sedang membahas sebuah kasus, tak itu saja mereka membahas beberapa orang yang membuat kesal hari ini. Jimmy sangat antusias sekali karena Alan memang adalah tempat curhat terbaik , dan temannya yang setia. Sedangkan Alan asyik makan karena ia sangat suka makan.
"Sudahlah, ayo makan berfikirlah sederhana saja ok, setelahnya kami akan mengantarmu pulang An." ucap Alan berhenti makan, dan ia menatap Ana.
"Iya makan saja, tak usah berfikir keras lagi." ucap Jimmy dan tersenyum.
"Haaa, baiklah terimakasih para pria, kenapa kalian hari ini begitu kompak iya kan?" tanya Ana yang penasaran dengan para pria.
"Ehm, itu karena kami fikir akan lengkap jika makan denganmu, agar kau tak kesepian ya kan Jim...?" ucap Alan.
"Baiklah.." jawab Ana.
Setelahnya mereka mengobrol dengan santai pemilik warung pun mendekati mereka dan ia berdiri di dekat Jimmy.
"Hei, kenapa aku tak pernah tahu kau kemari?, apa baru kali ini?" tanya Ibuk pemilik warung itu, menatap wajah tampan Jimmy.
"Ha..ha...ha.. , iya baru kali ini aku ingin sekali makan dengan mereka berdua, aku rasa kali ini masakanmu sangat enak." ucap Jimmy .
"Benarkah pria tampan trimakasih pujiannya." ucap ibuk pemilik warung.
"Kami mau nambah ini buk." ujar Alan.
"Kau mau lagi An?" tanya Jimmy dan melihat wajah Ana, yang terlihat datar, namun ada yang berbeda , ada sesuatu yang sedang ia fikirkan.
"Tidak, kau saja, aku sudah kenyang." ujar Ana
__ADS_1
Bersambung...