
Dia hanya memberi nafas buatan." Jimmy berbohong pada Alan untuk menggodaanya.
"Tapi kenapa bau busuk?, kau bohong padaku ya?" ucap Alan meringis.
"Bau busuk itu pasti berasal dari kaos kakimu sendiri pria bodoh !!" gerutu Jimmy pada Alan.
Alan terlihat kacau, sudah basah bajunya dan baru sadar dari pingsannya.
"Hei, tadi ada orang tiba-tiba memukulku." ucap Alan.
"Kau melihat wajahnya ?" tanya Jimmy dia mengamati wajah Alan, kebingungan saat ini.
"Entahlah, aku sepertinya ehm," menggaruk rambutnya beberapa kali.
"Ayolah coba ingat-ingat Alan, aku ini akan membantumu untuk menghajar pelakunya." ucap Jimmy.
Ana pun berdiri di dekat para pria yang kini tengah mengobrol seru tentang pelaku yang telah memukul Alan.
"Memangnya kau di pukul dari depan atau dari belakang?" tanya Ana.
"Ehm, entahlah..." lirih Alan.
"Lihat lukamu dari depan Alan, itu darahmu ada di dahi maka kau di pukul dari depan." ucap Ana, dan ia mengamati baju Alan yang basah.
"Apa kau benar-benar tidak tahu Alan?, kalau kau basah kuyub akibat pingsan tadi ?" ucap Jimmy pada Alan.
"Tahu Jimm, tapi aku benar-benar tidak tahu saat aku masuk kedalam toilet tiba-tiba aku pingsan saja." ucap Alan sambil berusaha mengingat-ingat kejadian dalam toilet.
"Ehm, saat kau masuk langsung di pukul ya." ucap Ana pada Alan, dan melihat luka pada dahi Alan.
"Kemungkinan An, ini aku masih pusing ." ucap Alan, dan ia duduk di sebelah Jimmy.
"Kau mau kita cari pelakunya?" tanya Ana.
"Sebentar lihat dompetmu Alan?" tanya dari Jimmy, dan merogoh saku celana Alan.
"Ini masih ada ternyata, siapakah yang orang yang memukulmu Alan?, jika tak mengambil dompetmu untuk apa ia melakukan hal ini?" tanya Jimmy pada Alan.
"Aku rasa ada orang yang mengikuti kita, tak sengaja Alan ke kamar mandinya dan hampir saja tahu orang itu." ucap Ana.
"Berarti ada orang penguntit, mencuri dengar obrolan kita?" tanya Jimmy.
__ADS_1
"Mungkin saja." jawab Ana.
"Apakah kalian tak pulang ini sudah malam?, aku rasa dengan kejadian ini Alan kau bisa sedikit waspada lagi." ucap Ana.
"Benar An, tapi untuk apa menguntit kita?, kita hanya makan di tepi jalan dan mengobrol ya kan?" ucap Jimmy pada Ana dan menatapnya
"Tidak tahu lagi, itu urusan mereka." ujar Alan
"Oh, iya sebelum kita pergi pulang aku mau belanja ke supermarket." ucap Alan dan ia mengajak Jimmy.
"Oh iya kalian boleh pulang , aku akan pulang sendiri saja."ucap Ana.
"Jangan Ana, aku antar saja." ucap Alan dan Jimmy kompak.
Setelah mengantar Ana pun Alan dan Jimmy pergi untuk berbelanja. Mereka memasukkan beberapa bahan makanan di dalam keranjang dan memenuhi isi keranjangnya.
"Ehm, kau ambil itu ya, karena aku pikir ada label ini lihat prosesnya akan baik Jimmy," ucap Alan.
"Kau benar Alan, oh iya apa Ayahmu sedang menunggumu ?" tanya Jimmy kepada Alan.
"Tentu saja, kau mau tidur di rumahku, jika kau mau maka Ayahku mungkin akan sedikit suka denganmu." ucap Alan pada Jimmy .
"Bisa apa kita buatkan makanan saja Ayahmu Alan, agar sedikit menyukaiku." ucap Jimmy.
"Iya Alan, tapi besok aku ada jadwal sidang maka harus segera ke kantor dan membawa semua dokumen." ucap Jimmy.
"Iya berangkat pagi saja besok ok, aku akan mengatur alarm untukmu." ucap Alan.
Mereka bergegas ke rumah Alan dengan naik mobil , beberapa kali terlihat udara malam ini kian dingin, tertiup beberapa plastik dan daun yang terbang terkena desiran angin.
Untuk beberapa saat di depan pintu rumah Alan, berdiri menunggu seorang pria yaitu Ayah Alan. Dengan tersenyum hangat dia menatap putranya tiba tak sesuai jam pulang.
"Kenapa kau telat pulang Alan?" tanya Ayah Alan.
"Aku habis keluar makan dengan Jimmy dan Ana Ayah, maaf aku sudah terlambat pulang?" ucap Alan sambil memeluk Ayahnya.
"Iya tak apa-apa, kenapa Jimmy ikut apakah mau menginap?" tanya Ayah Alan.
"Iya Paman, aku mau menginap disini untuk hari ini saja, apa Paman mau aku masakan sesuatu?" tanya Jimmy.
"Apakah kau pandai memasak?" tanya Ayah Alan.
__ADS_1
"Tidak Paman, cuma karena aku itu terbiasa hidup sendirian, maka mau tidak mau harus bisa memasak sendiri." ucap Jimmy.
"Baiklah, kau boleh memasakkan sesuatu untukku." ucap Ayah Alan memberi izin.
Setelah beberapa menit terlihat, wajah Alan yang sedang di bersihkan oleh Ayahnya, dia berganti baju, dan Ayahnya memberikan obat oles pada dahinya.
Jimmy meletakkan beberapa makanan yang sudah ia siapkan dengan susah payah.
"Kau tahu Jim, Alan bukan anak yang pintar dan dia juga bukan pria yang terlalu tegas namun aku ingin menjadi seorang berguna karena dia anak satu-satunya maka sangat menyayanginya." ucap Ayah Alan.
"Maafkan aku ya Paman, karena aku belum menjadi seorang Ayah maka aku tidak tahu rasanya mempunyai anak." jawab Jimmy polos.
"Ha..ha..ha..ha Begitulah aku dulu demikian selalu tidak tahu kenapa kedua orang tuaku sering memarahiku?, ternyata saat aku sudah dewasa barulah mengerti." ucap Ayah Alan.
Keesokan paginya Jimmy sudah berada di ruangan kantor bertemu dengan sekertaris yang sangat disiplin, pagi-pagi Rena sudah membawakan jadwal padat Jimmy .
"Ini, jadwal anda hari ini." ucap Rena.
"Ehmm, ada jadwal sidang beberapa kasus Anda akan saya dampingi Pak." ucap Rena.
"Baiklah, terimakasih Rena aku akan siap melakukan sesuai jadwalmu ini." ujar Jimmy.
"Hem, itu sudah pekerjaanku, bukankah Aku di bayar untuk ini menjadi sekertaris Anda."
"Baiklah, habis ini kita berangkat mari kita menangkan kasusnya." ucap Jimmy yang penuh semangat.
"Baik Pak." jawab Rena.
Pukul 11.00 wib adalah jadwal sidang karena klien Jimmy adalah seorang wanita, maka ia segera datang.
Hari ini Jimmy menangani kasus penipuan. Karena semua buktinya sudah ada di dalam dokumen, ia siapkan bersama sekertarisnya maka Jimmy amat siap memenangkan kasus ini.
Di dalam sidang yang sudah berdiri beberapa orang, setelah Pak Hakim tiba mereka semua yang hadir duduk, ini adalah penghormatan untuk Pak Hakim. Karena dalam sidang ialah yang memutuskan untuk siapa yang bersalah dan tidaknya.
Beberapa menit berlalu karena sidang akan mudah jika, beberapa orang berkata sesuai dengan kesaksiannya.
Jimmy menerangkan beberapa alasannya dan juga beberapa bukti kasus penipuan itu.
Pak Hakim mendengarkannya, lalu sesaat di tetapkanlah berapa hukuman yang sesuai dengan penipuan yang di lakukan oleh orang itu. Jimmy pun terlihat senang karena sudah pasti menang akan kasus ini.
Ketok palu terdengar, maka putusannya akan di ambil.
__ADS_1
Bersambung...