
"Hai, dimana kau..??" ucap gadis itu, dan dia menyeringai menatap sebuah tempat yang bisa di jadikan tempat persembunyian.
Ketika ia masuk kedalamnya, ternyata tidak ada sama sekali orang ,bahkan seekor lalat pun.
"He...he...he... pandai juga kau bersembunyi, baru kali ini aku bermain petak umpet, tetapi ada yang bisa bertahan lama dariku."
"Lihat dengan teliti kakimu yang masih utuh itu, setelah ini kau akan merindukkannya di neraka, hihihi...." ucap gadis itu, matanya yang tajam sudah menuju satu arah.
Dan langkah kakinya terdengar pria itu, dan makin ketakutan di buatnya. Perlahan makin mendekat gadis itu ke tempat persembunyian pria itu.
"Tap...tap...tap.."
"Taraaaa..Aku menemukanmu.." ucap gadis itu dan seketika mencengkram pergelangan kaki dengan sekuat tenaganya.
"Lepaskan... Lepaskaaaaaannnn....!!!!" teriak pria dengan sekencang-kencangnya dengan nafas yang kelelahan dan tidak beraturan.
Namun tetap saja tak menghiraukannya, di raihnya kapak besar miliknya yang berada di dekatnya, lalu dia mengayunkannya secepat kilat tepat di kakinya, dengan satu kali tebas.
Seketika darah terciprat dimana-mana. Kaki yang jenjang milik pria itu putus dan terlihat otot-ototnya, beserta tulang berbalut daging itu mencuat seketika itu juga.
Teriakkan yang keras menggema ,namun tak terdengar orang lain, selain mereka berdua.
"Aaaaarrrrgggghhhh.....!!!" teriakkannya keras memenuhi semua sudut dan menggema.
"Kakikuuuuu...!!!" pekiknya dan bola matanya menatap kakinya yang sudah hilang sebelah.
"He...he...he...." gadis itu terkekeh dengan tak normal, menatap potongan kaki yang sudah ia dapatkan, seperti mendapatkan sebuah hadiah.
"Arrrgggg," erangnya kesakitan karena sudah putus sebelah, sambil memegangi kakinya .
"Lihatlah kakimu ini akan aku potong-potong." ucap dari gadis itu, dan seketika membuat kaki yang di bawa nya saat ini juga menjadi potongan-potongan kecil.
"Apa yang kau mau?, kenapa tindakkanmu ini bukan seperti seorang manusia normal ???!" tanya pria itu sambil meringis kesakitan dan ia pucat seketika karena darah di kakinya itu tak mau berhenti mengalir.
"Aku hanya menginginkan tubuhmu saja." ucap gadis itu dengan dingin, dan menaruh semuah potongan kaki itu di bawah.
Setelah itu seperti biasanya, semua kawanan hewan miliknya ia panggil. Mereka datang bersama-sama dengan bergerombol.
"Makanlah, ini makanan penutup kalian, tapi sabar, aku masih ingin menikmati rasa takut dari manusia lemah seperti dirinya." ucap dari gadis itu sambil menyeringai.
__ADS_1
"Aku mohon lepaskan , apa kau mau uangku? Aku akan memberikannya kepadamu." ucap dari pria itu agar nyawanya bisa tertolong.
"Kenapa aku harus melepaskanmu?"
"Aku tak butuh uang, aku juga tidak tertarik sama sekali dengan semua permohonanmu padaku."
"Tapi, kenapa melakukan semua ini?, kenapa kau memotong kakiku...???" ucapnya dengan wajah yang mulai pucat pasih, karena sudah kehabisan banyak darah.
"Aku ingin tahu apakah kau masih bisa berlari jika kakimu hanya satu saja, bagaimana kalau bermain lagi?, jika kau bisa melarikan diri dari tempat ini maka ,aku tidak akan membuatmu menjadi makanan penutup untuk para hewan peliharaanku." ucapnya dengan menyeringai .
"Baiklah, kau berjanji ya ,jika aku bisa keluar maka kau akan melepaskanku."
Pria itu pun mulai menyeret tubuhnya dengan susah payah, namun karena kakinya yang tak lagi utuh, maka dia sangatlah kesulitan untuk bergerak.
Belum jauh pergi, gadis itu pun menebasnya dengan kapak kepalanya, hingga lepas dari tubuh sang pemilik. Seketika darah terciprat semua hewan peliharaan miliknya menikmati mayat pria itu. Seperti semut menemukan gula, berkerumun , sang gadis mulai jongkok dan mengelus bulu salah satu hewan miliknya
Tatapan dingin dengan mengulas senyum ala psikopat gila, dan sangatlah senang karena perburuan kali ini berhasil dengan tuntas tak bersisa. Dia merasa lawannya lemah, dan tak berdaya sehingga ia akan mencari mangsa baru yang membuatnya bergairah.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
"Haaa... Sudahlah sebaiknya kita makan dulu, sudah lama aku tak makan bersama seperti ini." ucap Jimmy sambil melahap ayam di mulutnya.
Ana hanya mengamati tingkah mereka berdua
"Hei, Alan kau tahu ?, kenapa aku masih tak percaya sama sekali, kalau kau bisa masuk ke dalam anggota kepolisian sampai detik ini." ucap Jimmy tiba-tiba membuat Alan terkejut dengan ucapan sahabatnya itu.
"Ckkk, apa yang kau maksud Jim?, apa kau itu sedang menyombongkan dirimu sebagai seorang pengacara." tanya Alan dan menarik satu sudut bibirnya, ke arah Jimmy.
"Tentu saja ,aku pengacara handal, lihatlah dirimu, amati dengan seksama..." ujar Jimmy sambil mengunyah makanannya.
"Oooh, kau sekarang merendahkanku." ucap Alan tidak terima dengan ucapan Jimmy.
Namun di tengah perdebatan mereka Ana, terlihat tersenyum kecil saat ini, menatap mereka dan mengenang memori indah saat bersama kedua orang tuanya berdebat pun adalah momen terindah dan manis di kala itu.
Jimmy menjitak kepala Alan dengan keras. Lalu mengunyah ayam goreng di mulutnya.
"Plethakkkk...!!!"
"Sialan sakit tau, apa yang sebenarnya kau mau Jim?" ucap Alan, lalu ia menaruh ayam dari tangannya.
__ADS_1
"Ckkk, kau semakin membuatku kesal..." ucap Alan merajuk dengan tingkah Jimmy.
"Ayolah Alan, lihatlah saja kau tidak pandai membaca situasi, kau juga lemah daya ingat mu, aku rasa kau masuk kedalam anggota kepolisian hanya seperti , sebuah nila setitik merusak susu sebelanga." ucap Jimmy lalu menyeringai ke arah Alan temannya.
"Ingat nilai sekolahmu tidak ada yang bagus, tapi kenapa kau bisa masuk di kepolisian?" tanya Jimmy dengan senyum meremehkan.
"Ckkk, kau itu begitu tega sekali Jim, aku ini sahabatmu..." ucap Alan tidak terima akan ucapan sahabatnya, dia terlihat kecewa dan terlebih ucapan itu harus di dengar gadis di sebelahnya.
"Aku tahu..." jawab Jimmy dan tersenyum lalu lesung di pipi nya terlihat sangat menawan.
"Lalu kenapa kau meledekku di depan gadis ini?, apakah kau menyombongkan dirimu??"
"Tidak, aku hanya berbicara fakta Alan," ucap Jimmy dengan tersenyum kecil ke arah Alan
"Aku nila setitik, sialan kau...!!" umpat Alan.
"Sudahlah Alan, anggap saja kau tak dengar, maafkan Jimmy ya Alan." ucap Ana dengan suaranya yang lembut dan juga lirih, melerai pertikaian kecil mereka berdua.
Beberapa kali Alan menggerakkan kelopak matanya, lalu mengerucutkan bibirnya.
"Apakah kau membela Jimmy?" tanya Alan.
"Tidak.." jawab Ana.
"Lalu,..."
"Aku hanya ingin melihat kalian berdua akur, dan aku rasa kalian adalah pasangan kakak beradik." ucap Ana tersenyum sumringah .
"Wah... Kau dan Jimmy benar-benar... " ucap dari Alan , dan memasukkan ayam goreng di mulutnya sambil mengunyahnya, ekspresinya sebal karena Ana dan Jimmy membuatnya makin sebal.
"Sudahlah, ayo makan setelah ini bantu aku, besok jangan berangkat pagi, malam ini kita begadang." ucap Jimmy pada Alan, lalu dia menyeruput minumannya .
"Kau ini benar-benar menyebalkan seenaknya sendiri Jim..." ucap Alan semakin kesal.
Bersambung...
By the way ini gambar dari tokoh utama pria Jimmy sang pengacara, 🤩🙏 makaci ya para readerku sudah terus stay di novelku jika aku terlambat up date mohon bersabar saranghae
__ADS_1