
"Baiklah, terimakasih karena kau sudah baik padaku, maafkan aku tempo hari jika aku sedikit menyinggung dirimu Rian, terkadang kita sebagai manusia tak sengaja berkata kasar dan sedikit berlebihan." ucap Ana pada Rian.
"Tentu saja, aku tahu memang perempuan itu lebih sedikit emosional daripada pria, walau begitu aku cukup mengerti. Terimakasih tisu ini aku gunakan, sekarang aku akan segera mengantarmu untuk kembali." ucap Rian dia sangay senang .
Ana masuk dalam mobilnya, selang beberapa saat mereka berdua kembali kedalam toko banyak karyawan sibuk untuk menata bunga.
"Hei, kenapa kalian lalu lalang?" tanya Ana pada salah satu pegawai toko.
"Kau baru kembali, ini banyak pesanan, ayo kita kerjakan bersama." jawab dari salah satu pegawai toko.
"Baiklah." Ana pun berjalan mendekati mereka dan membantunya.
Setelah beberapa menit ada beberpa kurir yang mengambil paket bunga pesanan itu.
Ana memberikan tulisan serta beberapa nota agar tidak salah ambil, dan tak salah alamat.
"Kalau kau sibuk kau boleh lanjutkan saja urusanmu Rian." ucap Ana.
"Tak apa Ana, kebetulan masih senggang so, bolehkah aku minta minuman apa aja yang penting bisa di minum." ujar Rian dengan lirih.
"Ehm, boleh ambil saja sendiri Rian, tak perlu sungkan itu dalam kulkas." ucap Ana lalu ia tersenyum.
"Baiklah aku akan mengambilnya sendiri." ujar Rian.
"Hei, An kenapa Nona Ralin tidak kemari hari ini?, Kau tahu kenapa?" tanya salah satu dari pegawai toko.
"Entahlah, mungkin sibuk." ucap Ana sambil menggendikkan bahunya, lalu ia melanjutkan kembali menata bunganya.
"Tapi kadang walau sibuk , mampir sebentar lho aneh ya, kenapa ya?" ucap salah satu dari teman Ana dan mengernyitkan kedua alisnya
"Lagian Nona, kan pemilik terserah dia, kalau aku fikir pasti ada kepentingan yang tak bisa di lewatkan. Atau mungkin dia sedang ada tamu di rumahnya." ucap Ana , meneruskan menata semua bunganya.
Terlihat kejauhan Rian menatap para pegawai Ralin. Semua pegawai Ralin masih muda dan semua berpakaian rapi. Tak itu saja karena si pria itu sedang mencuri pandangan ia melihat wajah Ana dari kejauhan juga. Karena gadis itu tidak tahu maka ia tak memperhatikannya sama sekali.
"Berapa banyak lagi pesanannya?" tanya Ana
"Ini lihat, kau jangan mengantar paket, biar beberapa kurir saja An." ucap salah satu dari pegawai.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan disini saja kenapa hari ini amat melelahkan?, kita sangat sibuk..." ucap Ana.
"Tentu saja, jika agak sepi kita bisa sedikit istirahat, namun jika ramai maka usaha kita harus lebih di tambah." ucap salah satu dari pegawai lainnya.
"Tumben, kau bijaksana sekali." ucap Ana menggeleng kepalanya beberapa kali.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Disisi lain kini ternyata pria yang memesan bucket bunga tadi, terlihat sedang menyiksa beberapa ekor hewan.
Padahal beberapa hewan itu sudah merintih kesakitan akibat ulahnya. Pria itu melihatnya seakan menyukai perlakuan anehnya.
Beberapa hewan di siksa sehingga terlihat banyak luka, darah untuk apa semua ini dia lakukan. Beberapa kulit para hewan banyak yang ia jajar, giginya juga ia pajang berderet- deret.
Beberapa anjing sempat terlihat tidak mau bersuara karena ketakutannya lebih besar. Sehingga membuatnya terpaksa untuk diam.
Namun ada juga yang di gunakan sebagai souvenir, entahlah apa yang ia maksudkan.
Suara rintihan beberapa hewan itu terdengar dari arah luar. Pria itu berjalan dan merogoh kan tangannya kedalam kandang yang berisi banyak hewan. Di ambilnya secara acak lalu dengan paksa ia menariknya.
Namun karena hewan tidak bisa berbicara seperti layaknya manusia maka dia pasrah beberapa ayunan pisau daging terdengar di telinga. Suaranya yang nyaring makin tidak karuan.
Setelah suara pisau berhenti, maka beberapa hewan diantaranya mati. Darah di masukkan di dalam ember, dia tersenyum menyeringai sambil mengiris lembut sayatannya.
"Aku harus mencari hewan liar lainnya." lirih pria itu sambil membulat kedua bola matanya ke arah depan, tak berbicara dengan siapapun namun tatapanya tajam.
Ganjil sorot matanya tajam dan menarik salah satu sudut bibirnya sedikit membuka mulut dan terlihat giginya yang kotor.
Bunga dari Ana, kemudian ia pasang dalam vas sisanya ia tabur. Lalu pria itu tertawa tak normal, seperti seorang kurang waras.
"Hi..hi...hi.."
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
"Ralin, ini gaun malam yang kau pakai cocok untuk malam nanti." ucap seorang wanita itu ia perlahan berjalan mendekati Ralin.
"Ehm Mama, ini kenapa hari ini aku tak boleh keluar?" tanya Ralin pada Mamanya, dengan wajahnya yang sumringah.
__ADS_1
"Besok kau boleh keluar, untuk hari ini kita kedatangan tamu penting Papamu sebentar lagi pasti akan datang." ucap Mama Ralin.
Mama Ralin itu wanita yang berperawakan tinggi sekitar 170 cm, dengan rambut yang bergelombang memakai lipstik warna cream dan mengenakan gaun warna merah muda.
Dengan gaunnya yang indah, terlihat wajah wanita yang berusia sekitar 55 tahun itu tak terlihat tua sama sekali. Karena nampaknya wajah wanita itu masih muda tak ada kerutan, serta rambutnya yang hitam alami.
Bentuk tubuhnya sangat proporsional, karena wanita itu amat rajin berolahraga, tidak heran jika di usianya yang menginjak kepala enam itu, masih nampak begitu muda.
"Kenapa kau memandangku seperti itu Ralin?" tanya Mama Ralin dan senyum mengembang di bibirnya.
"Ehm, tentu saja karena Mama sangat telihat muda dan cantik, lihatlah kecantikanmu itu." ucap Ralin dan memeluknya tubuh Mamanya dari depan, sesaat setelahnya ia melepaskan.
"Kau kan putriku, jadi kaulah yang mewarisi wajahku ini Ralin." ucap dari Mama Ralin.
"Mama darimana saja?" tanya Ralin dengan antusias.
"Ehm, ini hanya membeli beberapa gaun untuk mu, Mama sudah bilang nanti malam kan ada acara, cobalah dulu baru pilih salah satunya." ucap Mama Ralin, menatap wajah putrinya.
"Kenapa harus beli?, banyak di lemari, malah aku sering tak memakainya." ucap Ralin.
"Ehm, sekali-kali Mama ingin membelikan beberapa untukmu, tidak apa kan?" ucapnya.
"Baiklah-baiklah." Ralin pun pasrah.
"Ehm, bolehkah aku mengajak Ana Mam, dia biar membantuku, lagipula aku kesepian tak ada teman lainnya, boleh ya Mamaa." bujuk Ralin dengan lemah lembut.
"Ana pegawaimu itu, yang selalu kau suruh- suruh." ucap Mama Ralin.
"Iya Mam, kenapa Mama tidak suka?" tanya Ralin dan menatap wajah Mamanya.
"Ehm, kau berjanji tak marah jika Mama akan memberimu nasihat." ucap Mama Ralin.
"Apa Mam?" tanya Ralin, dengan antusiasnya.
"Jangan terlalu dekat dengan para pegawai, kau tahu kita harus mempuyai jarak Ralin, em walau kau memang sudah lama mengenal ia." ucap Mama Ralin, seketika ekspresi wajah gadis itu berubah masam dengan kedua alis yang mengernyit.
"Kenapa Mama bilang begitu?" tanya Ralin.
__ADS_1
Bersambung...