
Untuk beberapa saat ahli forensik datang, dan mereka siap untuk menyelidiki kasus bunuh diri ini. Ana dan Jimmy melihat dari kejauhan.
"Sampai kapan kita akan terjebak disini??" tanya Ana.
"Tenang saja, jika ini adalah kasus bunuh diri maka kita semua akan segera keluar, tetapi jika ini kasus pembunuhan, semua yang saat ini hadir adalah tersangkanya." ucap Jimmy.
"Haaaa, aku kira kita akan lama berada di tempat ini." gerutu Ana dan melepas sepatu high heels nya, dan ia meringis menahan kaki nya yang kesemutan.
Ana mengeluh karena kakinya sudah lama memakai sepatu yang sama sekali tak pernah ia pakai. Ana hanya terbiasa memakai sepatu cat, atau sepatu casual.
"Bertahanlah Ana sebentar lagi, aku harap ini adalah sebuah kasus bunuh diri, agar bisa cepat keluar ." ujar Jimmy meyakinkan Ana.
"Apakah tujuan kita saat berangkat ke pesta masih dalam pelaksanaan??" tanya Ana, lalu ia menatap Jimmy serius.
"Diamlah, nanti aku akan menceritakannya padamu tapi tidak disini Ana." ucap Jimmy dengan lirih.
Ana hanya mengangguk saja, karena ia tahu kalau kedua bola mata Jimmy saat ini sedang mengamati seseorang dari kejauhan.
Ana diam-diam melihat serta mengamatinya, yaitu kedua bola mata Jimmy, lalu sekilas ia tahu siapakah orang yang saat ini sedang di amati olehnya.
Jimmy pun beberapa kali meneggak wine di tangannya, lalu Ana pun mengambil gelas yang berisi wine dan menaruh di atas meja.
"Kenapa kau melarangku minum??" protes Jimmy pada Ana.
"Kita ini sedang dalam misi, jika kau mabuk maka akan repot jadinya." tegas Ana.
"Ha, kau seperti seorang istri yang sedang memarahi suaminya saja." ucap Jimmy, dia pun tersenyum kecut.
"Ckkk, siapa yang memarahi siapa???" ucap Ana, sambil meliriknya.
"Haaa, sudahlah...." ucap Jimmy dan mulai menggelengkan kepalanya.
Lalu beberapa saat Helen datang bersama satu orang temannya. Dia mendekati Jimmy.
"Jim, apakah setelah kau bertunangan kau tidak bisa lagi bersenang-senang bersama kami lagi??" tanya Helen, dia melingkarkan tangannya di lengan Jimmy.
"Apa yang kau maksud Helen?, kau tidak tahu situasinya, lihatlah kita terjebak di dalam sini, kita semua akan jadi tersangka pembunuhan." ucap Jimmy dengan serius.
__ADS_1
"Haaaa, tidak mungkin aku rasa ini hanya kasus bunuh diri saja, dan aku akan minta supirku menjemput kita bertiga bagaimana?" ucap Helen, dengan nada menggoda pada Jimmy.
"Untuk apa menjemputku juga, aku ini akan pulang dengan tunanganku, iya kan sayang." ucap Jimmy dan tersenyum ke arah Ana.
"Haaaaaa,kenapa ya jaman sekarang banyak sekali gadis bodoh ??!" ledek Ana , dan dia melirik ke arah Helen.
"Hei, gadis jala*g , kau mengataiku bodoh!" ucap Helen yang tidak terima akan perkataan Ana.
"Sudah tahu, masih bertanya..." ucap Ana dan tersenyum miring ke arah Helen.
Jimmy tersenyum melihat pertengkaran dari mereka berdua, serasa ia sekarang adalah tokoh pria yang di perebutkan para wanita.
"Kau kan sudah tahu jika pria yang berada di sampingmu adalah tunanganku, kenapa kau masih mendekatinya?, apakah kau tak punya harga diri?, siapakah yang jalan*g?" ucap Ana
"Wah, jika kau tahu hoby pria ini bermain dengan banyak perempuan ,apa kau masih mau dengannya?" tanya Helen, ia tersenyum dengan maksud membingungkan Ana.
"Terserah dia, lagipula sekarang dia sudah tak bermain dengan gadis sembarangan seperti dirimu !!" bentak Ana ,dan ia terlihat geram .
"Haaaa, baiklah aku pergi, lagipula hubungan kalian tidak akan bertahan lama." ucap Helen dan ia mengajak temannya pergi meninggal kan Ana dan Jimmy.
"Hebat sekali kau, bisa mengusir Helen, dia itu gadis yang sangatlah sulit ditangani." ucap Jimmy dan tersenyum ke arah Ana.
"Aku rasa dia hanya gadis yang seenaknya sendiri." ucap Ana dia memakai sepatu high heels nya lagi, dan berdiri.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Setelah beberapa saat dari para tim forensik telah mengambil keputusan, dari beberapa bukti-bukti yang ada, maka kasusnya telah dinyatakan sebagai kasus bunuh diri,lalu para tamu undangan semua bisa pulang dengan aman.
Jimmy dan Ana masih tak percaya akan hal itu, karena dilihat dari beberapa hal seperti ini adalah kasus pembunuhan terencana dengan baik, matang, sistematis dan tak ada celah.
Jimmy dan Ana, terlihat mendekati mayat itu, karena sebelum mayat di bawa ke tempat ahli forensik Ana ingin memastikan sekali lagi.
"Saya adalah pengacara ini kartu nama saya." ucap Jimmy dengan mengeluarkan selembar kartu nama miliknya.
"Tapi Tuan mohon maaf, ini bukanlah kasus anda, anda tidak berwenang." ucap polisi itu
"Aku hanya melihat dari kejauhan, tak akan mendekati mayat itu." ucap Jimmy, dan ia mengarahkan jam arlojinya ke arah mayat agar bisa mengambil gambar.
__ADS_1
Di dalam arloji Jimmy bisa di gunakan untuk mengambil gambar, serta memvideo, karena pekerjaannya itu menyelidiki banyak kasus.
Maka dia harus di dukung oleh banyak alat canggih selain ponsel. Untuk keadaan yang tertentu, untuk memudahkan pekerjaannya.
Terlebih untuk keadaan darurat seperti ini misalnya.
Ana mengamati lagi dengan seksama jikalau memang kasus kali ini apakah benar-benar hanya bunuh diri saja.
"Sudah cukup anda boleh pulang karena saat ini mayatnya akan segera di bawa ke tempat forensik." ucap dari Pak polisi itu .
"Baiklah." ucap Jimmy dan menarik lengan Ana.
Saat di ruang parkir Ana melirik ke kanan ke kiri, melihat banyaknya orang yang menuju pulang , mereka masing-masing masuk mobil mewah mereka.
Terlihat mobil yang mereka kendarai, mobil mewah dan sangat mahal.
Dalam mobil Ana bertanya pada Jimmy.
"Kita tadi itu , sedang menghadiri acara apa?" tanya Ana penasaran.
"Oh, itu adalah acara launching produk baru dari perusahan yang ternama, karena dalam bisnis harus banyak koneksi, maka setiap ada acara penting seperti itu maka, banyak dari kolega akan hadir semua. Yang hadir barusan adalah orang penting semua." ucap Jimmy.
"Jika tak ada orang mati, pasti kita bisa lebih lama menyelidiki orang yang aku incar." ucap Jimmy dan menyalakan mobil sport warna birunya.
"Oh iya, untuk hari ini terimakasih, dan ini untukmu gunakan saja." ucap Jimmy sambil memberikan kartu atm miliknya beserta kredit card.
"Apakah kau serius?" tanya Ana dan tanpa ekspresi.
"Serius gunakanlah, tapi ngomong-ngomong kenapa wajahmu berbeda dengan yang aku harapkan Ana." ucap Jimmy, sambil menyetir mobilnya.
"Memang kenapa?" tanya Ana polos.
"Tidaklah, terserah kau nomer pin nya akan aku kirim ke nomer ponselmu ok, aku akan mengantarmu pulang." ucap Jimmy masih tak percaya dengan ekspresi Ana.
Mobil yang mereka kendarai sekarang melaju dengan kencang.
Bersambung...
__ADS_1