
"Ehmm, Ayah kenapa kau tak suka kalau aku jadi polisi?, dan kau selalu memarahi aku jika pulang terlambat?" tanya Alan pada Ayahnya dengan menatapnya lembut ke arah Ayahnya.
"Dasar anak bodoh, Ibumu yang suka kalau kau menjadi polisi, Ayah tak berharap sama sekali. Aku hanya ingin melihatmu pulang tepat waktu anakku." ucap Ayah Alan, sedikit lega bisa menatap wajah putranya dan bisa mengatakan alasan ia sering memarahi Alan.
"Maafkan aku Ayah, selalu saja membuatmu khawatir." permintaan maaf Alan terdengar tulus di telinga Ayahnya kini membuatnya sedikit lega.
"Lalu ceritakan kenapa Jimmy dan gadis itu bisa terkena tembak?" tanya Alan dan melihat wajah Alan dengan tatapan tajam.
Sebelum Alan berkata ia menelan ludahnya dan berfikir sedikit , terlihat beberapa kali ia menggaruk rambutnya terlihat bingung.
"Ayo katakan..."
"Baiklah, Jimmy sedang dalam bahaya Ayah, ada seseorang yang mengincar nyawanya." ucap Alan, dan melihat ekspresi wajah Ayah nya dan setelah itu Ayahnya segera memukul Alan beberapa kali.
"Katanya Ayah tak memukulku, kenapa saat ini tetap mendapat pukulan darimu?" gerutu Alan sebal.
"Haa, jadi ada seorang pembunuh mengincar nyawa Jimmy?, kau dalam bahaya Alan dan kenapa membawa mereka kemari tidak kau bawa ke tempat lain?" cecar Ayah Alan , dan sangatlah mengkhawatirkan nyawa putranya satu-satunya yang ia milikki saat ini.
"Aku sudah bilang padamu, kalau tak punya pilihan lainnya, maafkan aku Ayah..." ucapnya mengerucutkan bibirnya itu setelah mendapat beberapa pukulan dari Ayahnya.
Beberapa jam telah berlalu kini Jimmy sudah berhasil merawat luka tembak Ana. Terlihat gadis itu tertidur karena kelelahan. Karena tak mau mengganggu Jimmy pun pergi berjalan menuju ruang tamu.
"Jimmy kemarilah, ayo makan bersama dulu." ajak Ayah Alan dengan merapikan beberapa menu makanan di meja makan.
"Maafkan saya Paman, karena kedatanganku membuat Anda kerepotan. Saya harap Paman mau untuk hari ini saja gadis itu biar tidur di sini." ucap Jimmy , kemudian tentu saja kini membuat pupil kedua mata Alan melebar dan juga keheranan akan sikap Jimmy saat ini.
"Baiklah, aku tak masalah tapi kau tahu, aku akan berterus terang kepadamu. Aku hanya seorang pria tua yang hanya mempunyai satu putra saja yaitu Alan, aku amat mengkhawatir kan Alan setiap hari, bukan aku tak mau kalau kau tinggal disini, tapi untuk hari ini bolehlah." ucap Ayah Alan, kemudian pria itu pun pergi.
__ADS_1
Karena rasa penasaran yang besar Alan, kini duduk di samping temannya itu, Jimmy pun mulai membuka mulut dan melahap beberapa nasi serta lauk yang sudah di siapkan Ayah Alan untuknya. Sedangkan Alan pun terdiam hanya melihat, mengamati, dan juga beberapa kali menggerakkan kelopak matanya ke arah Jimmy yang tengah menyantap hidangan makan malam. Jimmy sangatlah menikmati hidangan yang tersedia di meja makan, yaitu masakan dari Ayah Alan.
"Kenapa kau seperti itu?" tanya Jimmy dan menaruh sendok di dekat mangkuk nasinya.
"Ehm, dengar kenapa kau bisa menjahit luka?" Alan penasaran, mendekatkan telinga ke arah temannya, lalu menggeser pantatnya ke arah semakin mendekati Jimmy .
"Em, itu seseorang kau tahu beberapa waktu yang lalu aku terkena sayatan di perutku, ini lihatlah..." ucap Jimmy ia melepas beberapa kancing kemeja bagian bawah, dan mulai menunjukkan lukanya kepada Alan.
Telihat perut Jimmy yang six pack, karena ia rajin berolahraga setiap hari.
Luka Jimmy selebar satu jari telunjuk untuk ukuran jari seorang pria dan lebarnya hanya dua centimeter, walau tak lebar, terlihat bekas jahitan masih membekas jelas di perutnya.
"Astaga... Ini luka sayatan, lalu siapa orang yang merawatnya?" tanya Alan lagi sedikit memegangi luka Jimmy.
Dengan cepat Jimmy memakai kancingnya lagi dan merapikan kemejanya.
"Baiklah, sekarang kau mengabaikan aku Jim nanti awas kalau kau perlu aku lagi!" ancam Alan pada Jimmy sedikit sebal mengerucut kan bibirnya ke arah Jimmy.
Setelah selesai menyantap makan malamnya, ia pun berbicara pada temannya itu.
"Dengarkan Alan, maafkan aku membuatmu selalu dalam keadaan bahaya. Aku rasa Ayah mu ada benarnya juga." ucap Jimmy kini ia melihat wajah Alan dengan serius tatapan matanya terlihat tulus pada Alan .
"Heem, menakutkan sekali baru kali ini kata seperti itu muncul dari mulutmu." jawab Alan keheranan, dan beberapa kali menelan ludah.
"Ckkk, aku serius tapi kasihan Ana, kenapa kau mengajaknya tadi?" sambil melirik Alan.
"Hei Jim, apa benar Ana mengetahui rahasia atau di sedang hamil?" tanya Alan untuk yang kedua kalinya memastikan fantansy Alan, kali ini tak salah, kalau Ana adalah wanita yang berhasil memeras Jimmy.
__ADS_1
"Kau bertanya seperti ini lagi." jawab Jimmy dan menggelengkan kepala ingin rasanya Jimmy menjitak Alan, karena untuk sedikit menjernihkan fikirannya yang selalu tentang kehamilan. Padahal tak ada hal yang seperti di fikirkan Alan sama sekali.
"Lalu kalau tidak apa alasannya?" telisik Alan begitu semangat bertanya.
"Alasan apa Alan?!" melihat ke arah Alan dan melotot padanya.
"Ya tentu, baru kali ini kau tertarik pada satu gadis yang aneh itu, lagipula aku tahu sebuah kasus bersangkutan dengan Ana, apa karena itu kau mendekatinya?" ucap Alan lirih dan ia menatap ke arah Jimmy dengan amat serius.
Dengan melihat ke arah kanan dan kiri, lalu Jimmy pun membekap mulut Alan.
"Dengar diamlah, bukan itu saja alasanku."
Alan pun diam karena perlakuan Jimmy yang tak seperti biasanya.
"Kau mencurigakan, apa kasus kedua orang tua Ana itu?" cecar Alan. Dan Jimmy hanya diam tak menjawab mengabaikannya.
"Oh, iya kalau aku ingat semua wanita yang berkencan denganmu selalu bibit unggulan, lalu kenapa kau suka dengan gadis kampung ini Jim?, kalau aku ingat-ingat kau itu pernah berkencan satu malam dengan artis, model, dan juga beberapa wanita berkelas, kali ini aku heran, menjahit kakinya pula." ucap Alan masih tak percaya dengan temannya yang berada di sampingnya itu.
"Lagipula itu urusanku, lalu kenapa kau ikut campur?" jawab Jimmy dan melirik ke arah lain.
"Tentu saja itu urusanku Jim, lihatlah akibat ulahmu sekarang di kejar-kejar mantanmu itu, dengan membawa pistol laras panjang, ckkk bukankah sangat ironis." ledek Alan kepada Jimmy.
"Huu, mulutmu itu." sebal.
"Aku yakin pasti salah satu wanita yang kau ajak kencan semalam, dia cemburu kepada gadis aneh itu, dan dia membalas dendam ." ucap Alan serampangan membuat kedua alis Jimmy mengernyit.
"Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?, bisa saja seorang pria ahli dalam menembak, dan mungkin saja salah satu client yang marah padaku." ucap Jimmy membuat Alan terdiam.
__ADS_1
Bersambung...