Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 10 "Bully 2"


__ADS_3

"Ada apa ini?, kenapa ribut sekali?" tanya pria itu, lalu melihat Ana yang mungil, sedang di kerumuni, dia menatapnya dengan pandang an dingin lalu menyeringai.


"Ini Kak, dia mengganggu kami, berani-berani nya masuk di wilayah kami, dan dia membuat kami sebal, sembarangan ikut campur urusan orang !!" jawab salah satu siswa itu.


"Sudahlah bubar saja, aku yang mendengar dari kejauhan ingin menjitak kepala kalian semua, sangat berisik !!" gerutunya sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Tapi Kak,"


"Tidak ada tapi-tapian, pulanglah, aku sedang pusing." gerutu pria yang berbadan gempal .


"Huuuu, tidak seru." gerutu mereka semua


"Ayo kita main game saja." ucap beberapa siswa.


Mereka semua kini bubar karena perintah dari pria yang berwajah angker, serta Ana menarik lengan siswa yang babak belur itu, memapah dan mereka duduk di tempat yang aman.


Ana pun mengeluarkan plester dari tas kecil miliknya setelah itu Ana, memberikan sebuah jaket miliknya karena baju siswa tadi sangat kotor, seragam bewarna putih banyak bekas dari sepatu para teman-temannya yang tadi berbuat sarkas padanya.


Namun kenapa siswa ini tidak melawan sama sekali sehingga badannya kini di penuhi luka.


"Kenapa kau tidak melawannya?, seharusnya kau berani, dan jangan seperti ini." ucap Ana sambil membersihkan luka dan memberikan plester.


"Aku hanya tak mau melawan karena mereka semua mengancamku." ucap siswa itu, dan ia terlihat ketakutan.


"Katakan saja, apa masalahnya?" tanya Ana.


"Ehm, ehm, aku punya saudara kembar dan jika aku melawan mereka dia akan..." ucap siswa itu terbata-bata.


"Hei !!!" sapa pria berbadan gempal dan mulai berjalan mendekati Ana.


"Dengar, pergilah dari sini kalian harus segera pulang jangan pergi ke kawasan ini lagi ok." ujar dari pria berbadan gempal itu memberi peringatan.


"Oh, ya satu lagi kau gadis kecil, jangan kau merasa menjadi lebih tua, kau akan di segani, disini banyak anak brutal, lebih baik fikirkan dirimu sendiri daripada orang lain." ucapnya.


"Memang kenapa?, aku sedang menolong anak ini, lalu setelah kau tahu ada banyak sekali perundungan kenapa kau diam saja?" tanya Ana, lalu dia melotot pada pria itu dan menyeringai.


"Kau iniiiii, sudah aku tolong, aku melihatmu kecil dan juga sangat lemah, aku tidak berani jamin jika kau bertemu dengan para berandal yang tadi pasti mereka akan balas dendam padamu." ucap dari pria berbadan gempal pada Ana.

__ADS_1


"Jika kau terpaksa jangan menolongku, biar saja mereka menghajarku, dasar..!" ucap Ana.


"Huuuu, kau ini memang gadis keras kepala.


Fikirkan dirimu dulu sebelum orang lain, aku kira mereka para berandal itu akan menunggu di gang itu, mereka akan melakukan semua yang mereka mau padamu. Misalnya mereka semua akan memper*osamu." ujarnya lalu dia pun pergi meninggalkan Ana dan salah satu siswa yang telah di rundung.


"Haaa... Aku tidak takut." ucap Ana dengan sinis.


"Oh, iya aku ingin tahu namamu siapa?" tanya Ana.


"Namaku Ferdy, dan kembaranku itu bernama Ferda, kami kembar, dan Ferda sekarang ada di rumah sakit, dia dirawat. Oh iya kak, aku rasa kakak juga sebaiknya jangan menolong aku, pergi saja dari sini." ucap Ferdy sambil meringis kesakitan.


"Tidak dik, aku hanya akan mengantar buket bunga ini saja. Apa kau mau ikut denganku?" tanya Ana.


"Aku akan mengantarmu pulang ayooo." ajak Ana.


Setelah itu mereka berjalan di gang, dan akan naik motor , sangat pas sekali, ternyata saat ini memang benar yang di katakan pria tadi, para siswa berandal kini masih menunggu Ana dan Ferdy di gang yang sepi .


"Mau lari kemana kau?, sekarang giliran kami membalasmu, lumayan juga kulitmu terlihat putih dan mulu*, membuat kami bergair*h..." ucap salah satu siswa berandalan itu, mulai mendekat ke arah Ana, pandangan liarnya membuat Ana geram.


"Hei, anak kecil jaga ucapanmu, atau aku akan mengirimu ke neraka." ucap Ana, lalu dia pun menatapnya tajam ke arah mereka, berusaha untuk menggertak .


Mereka kompak mengerubuti Ana. Ada yang berusaha membuka baju Ana, dan ada yang memegangi tangan Ana.


Ana memberontak tapi, dia hanyalah seorang gadis yang lemah. Ferdy yang tahu kejadian itu, segera berlari mencari bantuan, secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang pria, dia pun mengajaknya untuk menyelamatkan Ana.


"Hei... Para berandal tengik kalian tahu jika kalian terbukti bersalah, maka dapat di jatuhi tindak pidana, karena kalian berani bertindak asusila kepada seorang wanita, terlebih lagi kalian tahu dia adalah calon istriku." ucap dari Jimmy, membuat aksinya para berandalan itu terhenti seketika, mereka kompak menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Siapa kau?" tanya salah satu berandal itu.


"Tentu saja, aku adalah mimpi burukmu, jika kalian segera pergi kali ini maka aku tentu akan memaafkan kalian." gertak dari Jimmy.


"Siaaaallll, Cuih..." mengumpat dan meludah.


"Apa kalian berani meludahiku?! " Jimmy menyeringai namun emosinya ia tahan.


"Lihat ini kartu namaku, aku pengacara ,jika kalian ingin masuk penjara silahkan saja." ucap Jimmy, mereka pun akhirnya pergi karena mereka semua ketakutan.

__ADS_1


"Siaaalllan..." ucap mereka dari kejauhan


Jimmy pun melepas jasnya, dan memakaikan pada Ana.


"Kenapa kau berada disini?, aku mencarimu di toko tapi tak ada, kebetulan aku bertemu anak ini, jika tidak apa yang terjadi??" tanya Jimmy.


"Aku mau mengantar buket bunga , tapi sial para anak berandal itu sangat kurang ajar..." ucap Ana kesal, dan merapikan bajunya yang sudah robek, dan tak pantas untuk di lihat.


"Anak sekarang tidak seperti dahulu, mereka sudah bermutasi, hampir menjadi monster." ucap Jimmy pada Ana.


"Sangat berbahaya..." ucap Jimmy dan ia menggelengkan kepalanya ke arah Ana.


"Siapa dia Ana?" tanya Jimmy sambil melirik ke arah Ferdy.


"Dia Ferdy, anak yang sudah di rundung para berandal tadi." Jawab Ana.


"Oew, kau menolong orang lain sedangkan kau lemah, ingat jagalah dirimu sendiri, lalu jika kau hanya gadis lemah siapa yang akan menolongmu?" tanya Jimmy kepada Ana .


"Sudahlah, antar aku ya , dan antar Ferdy juga pulang ke rumahnya." ucap Ana.


"Baiklah." jawab Jimmy renyah.


"Tapi tak usah repot-repot kak Ana, aku akan pulang sendiri saja, maafkan aku kak karena sudah merepotkan kak Ana." ucap dari Ferdy sungkan.


Sebelum Ana dan Jimmy menjawab, Ferdy berlari dan meninggalkan mereka berdua.


"Apakah tidak sebaiknya kita mengejarnya?" tanya Ana kepada Jimmy.


"Sudahlah Ana, ayo kita cepat pulang setelah mengantar buket bunga, apa kau yakin buket itu tak terlambat datang kepada pemiliknya?" tanya Jimmy, sambil menatap Ana ,melihat raut wajah Ana yang ketakutan dan merasa kebingungan.


"Aku rasa pasti terlambat Jim." ujar Ana agak kecewa.


"Ayo kita bicarakan di dalam mobil saja, biar motormu aku yang urus." ucap Jimmy .


Mereka berdua kini masuk kedalam mobil, dan menuju ke rumah sang penerima buket bunga. Karena memang ada acara perayaan anniversary, karena keadaan Ana yang tidak bisa masuk, maka Jimmy lah yang mengantar buket itu masuk kedalam.


Saat ia masuk ke dalam rumah itu di kejutkan oleh sosok wanita, yang sangat ia kenal.

__ADS_1


"Jimmy." ucapnya.


Bersambung...


__ADS_2