
"Argghhh, Jim aku serius tanya, apa otakmu tidak waras?" tanya Alan lagi dan mengelus kepalanya
"Lihatlah Jim, rumah ini lebih jelek dari rumah hantu, dan tidak layak sama sekali, bahkan itu wanita yang masuk dalam kamar itu, sangat.. dan itu bukan sama sekali tipemu." ucap Alan
"Syuuuuut... Diamlah, jika tidak aku robek..." ucap Jimmy dan mendekatkan jari telunjuk ke bibir Alan, dan dengan suara lirih.
"Apakah dia hamil??" tanya Alan lagi dengan ekspresi wajahnya, bak seperti seorang biang gosip menantikan kabar berita terbaru, siap akan mengedarkan keseluruh penjuru dunia.
"Haaaa Alan, aku rasa kau seharusnya tak memakai celana, mulai besok pakailah rok, dan jangan menjadi seorang pria lagi." ucap Jimmy dengan dinginnya, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Alan terdiam mendengar ucapan Jimmy, lalu melanjutkan mengunyah makanan miliknya di mulutnya itu.
Sedangkan di kamar Ana masih belum bisa menutup kedua kelopak matanya, dia masih bisa mendengar ucapan Alan, membuat gadis itu mengernyitkan kedua alisnya.
Sebenarnya apakah alasan Jimmy, sangat peduli dengan sosok Ana ini, mau tinggal di rumah kumuh, serta memberi banyak uang pada Ana, akan tetapi dengan tiba-tiba.
Ana di dalam kamarnya yang kecil duduk, dan ia merasa sangatlah merindukan sosok kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Bayangan dari kedua orang tua Ana muncul seketika. Ana pun melamun dan berharap kembali ke masalalu.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Flash Back
Aku tahu hari ini sangat cerah, tetapi kenapa aku merasa sangat sedih. Walaupun tidak ada yang terjadi ataupun keadaan yang membuat aku merasakan demikian.
Siang ini matahari mulai tepat di atas kepala, dan dia seenaknya memancarkan sinarnya sekalian memamerkan keahliannya ,membuat semua orang gerah.
Sialnya angin saat ini juga sama sekali tak berhembus membuat kulitku terasa terbakar.
Sang mentari memperlihatkan giginya yang putih, meringis menatapku dari atas, tatkala ia menyombongkan dirinya supaya aku lebih tunduk kepadanya. Dan beberapa kali juga aku menghela nafas panjang, karena jalanku teramat berat, tak itu saja sinar matahari ini menambah beban langkahku juga.
Setelah meneguk beberapa air putih dalam botol minuman yang aku bawa dari rumah. Aku melanjutkan perjalananku.
Dengan langkah pelan tetapi pasti, berjalan menyusuri dan menuju pulang ke rumahku.
Ada mobil berhenti tepat disisi kananku, lalu membuka kaca pintunya.
"Ana, kau pulang sekolah?, naiklah ke mobil." ajak seorang pria kepadaku.
"Hem, iya terimakasih, rumahku sudah dekat jadi tidak usah memberiku tumpangan." ucap ku menolak dengan sopan dan menundukkan kepala.
__ADS_1
"Ayolah, cuacanya panas sekali, biarkanlah aku membantumu kali ini saja...." dan dia pun melepas kaca matanya yang hitam, sambil tersenyum ke arahku.
"Maaf, bukan menolak kebaikanmu, namun biarkanlah aku berjalan ." ucapku lalu setelah itu melanjutkan kembali langkahku.
Akhirnya pria itu pun pasrah dengan kata- kataku, berlalu memutar kemudi mobilnya.
"Hati-hati kalau begitu." ucapnya dan berlalu.
Setelah beberapa menit kemudian aku pun sampai di depan rumahku, rumah kecilku dan bisa di katakan adalah tempat terindah yang aku miliki bersama keluarga kecilku.
Aku pun di sambut dengan hangat oleh kedua orang tuaku ini amat kusayangi, lalu mereka tersenyum menatapku yang baru saja sampai
"Ana, apa kau lapar?" tanya ibuku menatapku dengan hangat, sambil tersenyum ke arahku.
"Tentu, aku juga sangat lelah, aku mencium aroma masakan, ibu sedang memasak apa?" tanyaku pada ibuku, sambil mencium aroma harum masakannya.
"Ibu memasak makanan kesukaanmu, lihat semua ini bisa kau makan nak..." ucap ibuku dan membuka tudung saji makanan di meja.
"Ganti baju dulu, baru kita makan bersama." ujar Ayahku, sambil mengelus pundakku.
"Baiklah Ayah." jawabku, dan aku pun masuk berganti pakaianku setelahnya bergabung di meja makan.
Saat itu kami bertiga makan dengan suasana yang sangat hangat, aku tak akan pernah bisa melupakan memory yang tersemat di kepala ini sampai kapanpun juga .
Banyak sekali kekurangan keluarga kami, tapi
aku tidak pernah merasa kekurangan sama sekali dalam hidup.Selama aku hidup, tinggal bersama kedua orang tuaku.
Makan dengan suasana seperti ini, padahal makanan yang terhidang bukanlah makanan mahal, jauh dari kata mewah. Makanan yang murah, kami memakannya dengan lahap.
Ibuku hari ini memasak beberapa menu, dan andalan miliknya yaitu makanan jaman dulu dengan resep yang sudah lama pula.
Tapi seketika lamunanku pecah mendengar, ketukan pintu kamarku tiba-tiba.
"Tok, tok, tok..."
"Ana, kau belum tidur, jika belum keluarlah." suara Jimmy lirih terdengar dari balik pintu.
"Iya, aku belum tidur, ada apa?" jawab Ana dan membuka pintu.
"Ayoo Ana kita makan bersama ,dan lihatlah beberapa gambar yang sudah berhasil aku dapatkan ..." ucap Jimmy dan menarik lengan Ana.
__ADS_1
Alan beberapa kali terlihat mengamati gerak- gerik Ana, mulai dari hal terkecil, sampai saat Ana akan mengambil makanan.
Untuk sesaat Jimmy memperlihatkan gambar di laptop miliknya dan menunjuk suatu benda.
"Apa ini?" tanya Jimmy pada Ana.
"Ehm, aku rasa itu benda..." jawab Ana.
"Bukankah benda itu milikmu Jim??" Alan menyela percakapan mereka.
"Benarkah?" tanya Ana mengamati gambar dengan seksama.
"Hem, benar, sayangnya benda itu rusak." jawab Jimmy pada Alan dan Ana.
"Apa fungsi alat itu?" tanya Alan penasaran.
"Sebenarnya benda ini terjatuh saat aku akan mengambil gelas wine Alan, aku kira itu akan berguna namun sekarang tak gunanya karena rusak." ucap Jimmy serta wajahnya itu terlihat kecewa.
"Apa itu alat penyadap?" tanya Alan lagi.
"Bukan, " jawab Jimmy ringan.
"Lalu?" tanya Alan lagi.
Ana hanya menyimak obrolan mereka berdua dan memakan makanan dengan pelan-pelan.
"Haaa... Sudahlah sebaiknya kita makan dulu, sudah lama aku tak makan bersama seperti ini." ucap Jimmy sambil melahap ayam di mulutnya.
Lalu Alan beberapa kali memandang teman karibnya dengan pandangan keheranan, apa yang sebenarnya terjadi.
Ana hanya mengamati tingkah mereka berdua
"Hei, Alan kau tahu ?, kenapa aku masih tak percaya sama sekali, kalau kau bisa masuk ke dalam anggota kepolisian sampai detik ini." ucap Jimmy tiba-tiba membuat Alan terkejut dengan ucapan sahabatnya itu.
"Ckkk, apa yang kau maksud Jim?, apa kau itu sedang menyombongkan dirimu sebagai seorang pengacara." tanya Alan dan menarik satu sudut bibirnya, ke arah Jimmy.
"Tentu saja ,aku pengacara handal, lihatlah dirimu, amati dengan seksama..." ujar Jimmy sambil mengunyah.
"Oooh, kau sekarang merendahkanku." ucap Alan tidak terima dengan ucapan Jimmy.
Namun di tengah perdebatan mereka Ana, terlihat tersenyum kecil saat ini, menatap mereka dan mengenang memori indah saat bersama kedua orang tuanya berdebat pun adalah momen terindah dan manis di kala itu.
__ADS_1
"Terkadang memory kecil dalam ingatan kita sangat berharga untuk di kenang, saat waktu sudah berlalu, dan bagaikan serpihan serbuk emas yang bertebaran di udara." Pungkies
Bersambung...