Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 20 "White 2"


__ADS_3

Ana yang duduk di dekat air mancur melihat seorang pria dengan tubuh atletis, hidungnya mancung, dengan kaki jenjangnya melangkah mendekati Ana, lalu dia menyapanya.


"Hai, Ana..."


"Iya, ada apa?"


"Kau tak ikut mengobrol dengan Ralin?"


"Aku sedang ingin duduk disini, beristirahat sejenak."


"Ehm, mau aku temani." ucap pria itu .


"Boleh, silahkan." jawab Ana.


"Kau sudah makan?" tanya pria itu, lalu Ralin dan Andien ternyata sudah berada di dekat Ana dan pria itu.


"Hemmmm..." Ana bergumam.


"Kebetulan sekali sekarang kalian berkumpul, bagaimana kalau kita makan bersama?" ajak dari pria itu kepada kami bertiga.


"Baiklah James, kau tahu aku sudah lama sekali tak melihatmu." ucap Ralin pada pria yang bernama James.


"Aku sangat sibuk bekerja, kali ini aku harus menyempatkan untuk mengurusi pernikahan adikku yang tersayang." ucap James, dan dia menatap Andien dengan senyuman khasnya.


"Benar sekali yang kau katakan, jika kau tak bisa membantuku, untuk apa aku mempunyai kakak laki-laki..." cibir Andien ,lalu memeluk erat James.


"Kau ini, akan menikah tapi tetap seperti anak kecil saja, ayo kita makan dahulu ya, perutku sudah mulai keroncongan." ucap James dan dia berjalan mendekati meja penuh hidangan dan makanan yang lezat.


Beberapa saat makan siang dengan suasana hangat, Ana mengunyah makanannya terhenti karena ponsel miliknya bergetar.


"Kau dimana?" pesan dari Jimmy.


"Aku sedang berada di luar." jawab Ana.


"Ehm, kau tidak bilang sedang dimana?, aku tadi mampir ke toko bunga ,namun kau tak ada, makanya aku kini mengirimimu pesan." pesan dari Jimmy.


"Memang ada perlu apa?, katakan di pesan ini saja." jawab Ana.


"Ehm, aku mau mengajakmu keluar, tapi kau sibuk, ya sudah teruskan saja urusanmu Ana." pesan dari Jimmy.


Setelah melihat pesan terakhir Jimmy ,Ana tak membalasnya dan memasukkan ponsel miliknya kedalam saku celananya.

__ADS_1


"Ralin, apakah kau besok sibuk?, jika tidak kau harus menemaniku ya..." ucap Andien, sambil memegangi jari jemari sahabatnya itu.


"Tentu saja, aku besok tak sibuk sama sekali." jawab Ralin pada Andien.


"Ana, makanlah yang banyak, kau itu terlihat makin kurus saja." ucap James mengamati Ana dengan seksama.


"Aku tak kurus, tapi memang tubuhku kecil." jawab Ana, dan tersenyum kecil.


"Benarkah?, setahuku badanmu dulu tidak sekurus ini." ucap James lagi dan tetap saja menatap Ana.


"James, aku lihat kau sangat perhatian pada Ana, kenapa demikian?, apa jangan-jangan kau menyukai Ana." tanya Andien pada Kakak laki-lakinya tersebut.


"Memang kenapa jika aku menyukai Ana?, ia gadis baik dan pendiam ,aku suka gadis yang tak banyak bicara, anggun, dan hanya bicara seperlunya saja." ucap James terang-terang an, dan tersenyum ke arah Ana.


"Hmmmm, kau terlambat James, Ana sudah punya pacar baru." ucap Ralin.


"Benarkah?" tanya Andien tak percaya.


Terlihat James makin bingung, heran kenapa Ana yang pendiam sudah mendapatkan pria baru, James pun tersenyum kecut.


Lalu James terdiam seketika karena Ana tak bereaksi menyangkal ataupun meng iya kan perkataan Ralin, menurutnya itu seperti kata iya, dan membuat pria itu makin kecewa.


"Wah James, kenapa kau baru sekarang ?, kau tahu kalau pria yang berkencan dengan Ana itu seorang pengacara, aku dengar dia amat tampan tetapi aku tidak pernah sama sekali bertemu dengan pria itu." ucap Ralin, kedua bola matanya mengamati Ana.


"Ayolah, kenapa kalian mencecarku dengan berbagai pertanyaan ?, aku ingin makan ini." jawab Ana dingin.


James pun tahu bahwa Ana pasti mempunyai hubungan dengan pria yang di bicarakan oleh Ralin, karena melihat ekpresinya Ana , sama sekali tak menyangkal.


James terlihat tertunduk sambil menyendok makanan ke dalam mulutnya.


"Kak, kenapa?, jangan bersedih lagipula jika Kakak menyukai Ana, kenapa Kakak itu baru sekarang bilang?" tanya Andien ,mengelus punggung James.


"Haaaaa, ada apa ini?" ucap Ralin sambil menggelengkan kepalanya.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


"Ayo, lihatlah ini video syur adikmu..." ucap salah satu siswa memperlihatkan video di ponsel miliknya kepada Ferdy.


Ferdy pun tercengang, menatapnya dan dia menundukkan kepalanya.


"Dengarkan, makanlah makanan itu jika kau tidak mau hal ini menyebar layaknya udara." ancam siswa itu dan mendorong kepalanya ke arah makanan yang sudah berserakan di tanah.

__ADS_1


"Ayolah makan, aku hanya menyuruhmu ini saja, kenapa kau keberatan?" ucapnya dan menyeringai ke arah Ferdy.


"Aku harap kalian jangan mengganggu adik ku, kalian bebas semau kalian mengerjaiku tapi berhentilah mulai saat ini jahat kepada adikku." ucap Ferdy memohon.


"Ayo makanlah makanan di tanah itu." ucap salah satu siswa dan menginjak makanan yang sudah berserakan di tanah itu.


Ferdy tetap saja memakan makananan itu, dia melahapnya seolah semua makanan yang jatuh tidak masalah sama sekali.


Mereka semua yang saat ini melihat kejadian itu tertawa terbahak-bahak menikmati semua kesusahan Ferdy. Bahkan psycopath gila tak akan melakukan hal yang sehina itu.


Ferdy memakan, melahapnya dengan nikmat seolah makanan itu adalah masakan Ferda baginya.


"Ha...ha...ha...." tawa mereka dengan kompak, menikmati keadaan yang saat ini mereka lihat


"Bodoooohhh !!!"


"Pria bodoh !!!"


"Kenapa ada anak lemah sekolah disini?, dan kembarannya seorang wanita yang menjual dirinya dengan harga murah, lebih murah dari harga sepatuku..." ucap salah satu siswa.


Ferdy pun bangkit dan menendang siswa itu matanya merah menyala, karena kemarahan pria itu pun meledek seketika.


"Arggghhh, sialan, kau menendangku !!!," ucap dari pria yang sudah berani menghina Ferda.


"Aku sudah bilang padamu, dan berhentilah mengganggu adikku!!, kau bebas sesuka hati mu, tapi tidak dengan Ferda." ucap Ferdy dan dia murka.


"Kau masih berani membela adikmu itu, lihat kau buta, adikmu hanya wanita jala*g yang berpura-pura suci !!, untuk apa kau bersusah payah membelanya."


"Kau tak punya adik perempuan, makanya kau seenaknya saja kepadaku, bagaimana kalau kau punya adik perempuan satu?, lalu dia di hina oleh banyak orang." tukas Ferdy dan dia mengepalkan tangannya dengan erat.


"Woooeee....aku takut sekali, apa kau mau membunuhku?, kau berani padaku??" tanya siswa berandalan, dengan tersenyum miring.


Ferdy pun murka dengan ledekan tersebut, lalu memukul siswa itu dengan sekuatnya.


Namun dia di tangkis, dan di pukul balik oleh para anak buahnya, beberapa kali Ferdy harus menerima tendangan, pukulan juga siksaan para berandalan itu, hingga tubuhnya remuk darah dari hidung serta mulutnya mengucur.


Tak lama dia pingsan karena mendapatkan semua tindakan itu, membuatnya tidak kuat.


Terkapar di bawah pohon, dan tak sadarkan diri. Dedaunan yang rontok , berterbangan lalu berserakan di bawah tanah, tubuh Ferdy yang terkulai lemas tak berdaya. Ditinggal semua para berandalan begitu saja.


Beberapa orang mengira tindakan mereka tak akan pernah mendapatkan balasan setimpal, atas apa yang mereka lakukan,tapi terkadang jikalau hukum bisa di beli dengan uang, maka sang penguasa waktu yang akan mengembali kan atau mungkin memutar balikkan keadaan

__ADS_1


Pungkies


__ADS_2