
Terdengar bunyi suara keras di dalam gudang membuat pria itu pun bertanya-tanya dalam benaknya, suara apakah yang membuat bulu kuduknya mulai meremang.
Di luar gudang ternyata seorang gadis berkulit pucat akibat berlama-lama bermain air hujan , dia sedang asyik memotong-motong sesuatu.
Dak...!!! daaaakkk!!!
Suaranya yang keras, hampir mirip seorang penjual daging ayam atau daging sapi ketika ia memotong jualannya .
Ternyata gadis itu asyik memotong bagian tubuh seseorang, dia memotong kaki dan juga tangan seorang manusia. Dengan pandangan tak wajarnya, seperti seorang gadis yang tak normal sekali. Setelah ia memotong-motong bagian berukuran kecil-kecil dia pun terdengar memanggil sesuatu .
"Swiiiiit..." bunyi panggilannya.
Ternyata ada beberapa hewan datang mulai mendekati gadis itu. Lalu ia memberikannya pada mereka. Yaitu potongan-potongan kecil tubuh seseorang.
"Makanlah, aku rasa kalian sudah tidak sabar." ucapnya sambil mengelus bulu hewan itu .
Mereka semua makan dengan lahap hanya menyisakan tulangnya saja. Hanya sekejap saja.
"Kalian boleh pergi, nanti aku akan memberi makanan penutup tunggu saja ." ucapnya dan tersenyum miring ke arah lainnya,dan dengan tatapan yang tidak normal.
Kini dia pun di penuhi dengan bercak darah, rok putihnya pun terkena noda. Dan bau anyir serta beberapa sisa bangkai jasad manusia tergeletak di tempat itu. Tak sedikit juga dari belatung yang sedang berpesta , berjoged ria menikmati sisa-sisa bangkai itu.
Siapapun yang melihatnya bisa di pastikan akan segera muntah di tempat itu juga.
Gadis itu bangkit dan membawa pisau yang tajam, dan masuk ke dalam ruangan, tempat menyekap seorang pria.
Penerangan di ruangan itu amat minim, dan pria itu tak bisa melihat wajah gadis dengan jelas, lalu dia pun mulai mendekatinya sambil menyeringai ke arah pria itu. Plakban di mulut di lepasnya agar bisa berbicara dan meminta tolong kepada seseorang.
"Bwaaah, apakah yang kau inginkan dariku?, dan siapa kau sebenarnya!?" tanya pria itu , berusaha untuk melihat wajahnya dengan jelas.
"Toloooong....tolooong.... !!!!" teriak pria itu.
__ADS_1
"Hmm, he...he...he..." terkekeh dengan tidak normal, dia jongkok dan menatap lekat wajah pria yang di sekapnya. Menikmati ketakutan dari korbannya.
"Baji*gan !!!, bang*at !!!" umpat pria itu, dia makin geram, karena merasa dipermainkan.
"Berteriaklah semampumu,dan aku harap kau di tolong oleh seseorang...hi..hi..hi..." sambil cekikikkan, gadis itu mengangkat dagunya .
"Dengarlah, kau mau bermain petak umpet denganku ?" tanya gadis itu, dan dia menatap kedua bola mata sang pria itu dengan tatapan tajam. Seolah bisa membaca isi hati darinya.
"Cuuuuiiih...!!!" pria itu meludahi wajah gadis itu.
Sambil menyeka air liur tepat di wajahnya itu, lalu sang gadis hanya tersenyum miring .
"Ckkk, sebentar lagi lidahmu tak akan bisa meludah lagi, jangan harap kau bisa keluar dari sini." ucapnya dan melepaskan tali di tangan serta kakinya agar dia bisa berlari.
Lalu pria itu pun berusaha berlari sekencang mungkin, agar ia bisa lepas dari kejaran gadis yang ia anggap gila.
"Dasaaar gadis gila sialan, dimana ini kenapa aku tak pernah tahu tempat ini?" gerutu dan gumam pria itu, lalu dia mencari tempat untuk bersembunyi, agar bisa tak terlihat sang gadis predator.
"Dimana kau?, aku akan mencarimu, jika aku menang kupastikan kakimu dulu yang akan aku potong, awas jangan lengah...." ucapnya dan menyeringai sambil mencari keberadaan pria itu. Berjalan tanpa alas kaki, telapaknya di penuhi lumpur dan juga terkena duri tetapi gadis itu tak terpengaruh sama sekali.
Lalu pria itu menutup mulutnya, karena nafas yang ia hembuskan masih saja bisa terdengar olehnya. Matanya pun terlihat ketakutan dan tubuhnya menggigil bergetar hebat, karena ia mendapati seorang gadis aneh yang bisa saja memutilasi tubuhnya kapan saja.
Dengan degup jantung yang terpacu makin kencang, ia merasa nyawanya sudah berada di ambang kematian, dan berharap bertemu dengan seseorang yang bisa menolongnya.
"Na...na...na....," sambil menyanyi dengan nada yang sedikit aneh, ia mencari pria itu layaknya teman bermain petak umpet.
Sambil menyeringai, dan juga telinganya yang peka berusaha mendengar degup jantung dan juga nafas yang tersengal itu.
"Jangan harap kau lepas dariku, pastikan kau tak tertangkap olehku, karena aku pasti akan memotong kakimu yang jenjang , he..he..he.." sambil terkekeh dia menyusuri tempat itu, dan membawa sebilah pisau di tangannya.
"Ya Tuhan, apakah dia adalah manusia?,atau dia malaikat maut yang menyamar sebagai manusia?" batin pria itu, menahan nafasnya
__ADS_1
agar tak terdengar oleh gadis yang berbahaya
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Glodaaakkkkk !!!!
"Suara apa itu?" ujar Ana amat terkejut, dan dia berjalan ke arah sumber suara terdengar keras di telinganya. Seperti benda berat yang jatuh.
Detak jantung Ana semakin bertambah cepat
Ponsel Ana bergetar, lalu dia membuka pesan ternyata dari Jimmy , ia akan pulang malam tak usah lagi menunggunya, dan jika tidak dia akan tidur di rumah temannya hari ini.
"Siaaaal, kenapa perasaanku takut?, ada apa ini?" batin Ana yang sedang berkecamuk, dan ia berjalan dengan pelan sambil mendekati sumber suara yang membuatnya terkejut itu.
Dengan perlahan kakinya itu melangkah satu demi satu ,Ana pun akhirnya berada di dapur asal suara keras, bunyi dari benda jatuh itu.
Perlahan dia melihat dari balik pintu, apakah yang jatuh di dapurnya kini. Ternyata benda itu adalah benda yang di bungkus kantong plastik hitam. Ana pun membuka bungkusan itu, dengan perlahan-lahan.
"Drrrrt...drrrttt....drttt...." ponsel Ana bergetar.
Dia menghentikan kegiatannya beralih untuk membuka ponsel miliknya.
"Maaf aku tidak jadi menginap, aku tidur di rumah temanku bernama Alan, kunci pintu dengan rapat, pastikan tidak ada orang yang bisa masuk kedalam rumahmu." pesan dari Jimmy.
Ana merasa kecewa, tidak biasanya gadis ini merasa seperti itu. Karena dia sudah terbiasa hidup sendirian maka setiap hari tak ada yang menemami Ana, namun dengan pesan Jimmy yang akan menginap di rumah temannya itu membuat Ana harus sendirian di rumahnya lagi.
"Apakah kau yakin Jim?, aku kira kau akan menginap lagi di rumahku, aku sedikit merasa takut kali ini, karena masih mengingat mayat pria yang bunuh diri kemarin." balas Ana pada Jimmy.
"Jika kau takut aku akan pulang, akan tetapi apa aku boleh mengajak temanku?, karena ada banyak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan dengannya." balas Jimmy lagi pada Ana.
"Boleh Jim, tapi apakah dia mau menginap di rumahku yang kecil dan kumuh ?" tanya Ana membalas pesan Jimmy.
__ADS_1
Bersambung...