
Pada suatu hari tak sengaja merekam James yang sedang asyik bermesraan , dan saling memag*t dengan seorang pria , Andien tidak mengenalnya sama sekali, saat mengetahui rahasia kakaknya tak memberitahukan pada siapa-siapa , karena dia sangat mencintainya memilih untuk bungkam , mungkin berharap kalau kakaknya akan sadar kembali menjadi manusia normal tak menyukai sesama jenis.
Namun karena James sangat takut suatu hari rahasianya terbongkar maka membunuh adik kandungnya sendiri .
Seketika wajah James pun memerah malu dan juga marah bercampur putus asa.
Tidak bisa berkata-kata karena Jimmy yang sudah berhasil membongkar semua perilaku menyimpang James .
"Dasaar anak tak tahu diri !!, kau benar-benar menyimpang !!! , kau berani membunuh adik mu sendiri dan memilih berbuat hina !!" pekik ayah Andien.
"Sekarang aku akan membunuhmu !!" ucap ayah Andien , namun Alan memeganginya.
"Sangatlah dramatis sekali , mereka semua bodoh !!" batin seseorang kini menatap satu pertunjukkan drama baginya , dan menutupi ekspresi wajahnya yang sebenarnya sedang menertawakan semua adegan panggung ini.
"Sudahlah Om , tenangkan dirimu , aku harap kau bisa bersabar jika kau emosi yang ada akan ada penyesalan kelak." ucap Alan yang berubah menjadi bijaksana.
James kini tertunduk lemas karena semuanya sudah diketahui dan berhasil di bongkar oleh Jimmy, mulai dari pembunuhannya pada adik kandungnya sendiri.
Juga perbuatan menyimpangnya , menjadi salah satu kaum gay penyuka sesama jenis.
"Kenapa kau bisa mengetahuinya dengan mudah ?" tanya James pada Jimmy .
"Ana yang membantuku , dia tahu kalau kau berusaha menutupi sesuatu ." jawab Jimmy.
"Apakah kau kemarin membuat alibi ? , jika kau menyukai Ana , padahal kau sama sekali tak menyukai lawan jenismu." papar Jimmy .
"Haaaa , ..."
"Aku rasa penyeselan akan datang ketika kau bertindak tanpa berfikir dahulu , dan kau pasti merasa bersalah seumur hidupmu dan tentu dibayangi adik kecilmu ." ucap Jimmy .
"Aku membunuhnya karena amat takut semua orang akan tahu kalau tindakanku menjijikkan dan menyimpang , karena seringkali di hianati oleh wanita ." jawab James , lalu ia tertunduk .
"Tapi dalam kenyataanya kau sendirilah , yang menyebarkan rahasiamu James."
Para polisi pun memborgol kedua tangannya, lalu membawa James ke dalam mobil polisi.
"Dengar , manusia akan dewasa setelah dia melewati masalah demi masalah , belajarlah memahami keadaanmu sekarang , dan terima hukumanmu James." ucap Jimmy , ia berdiri tegak dan menatap James yang mulai hilang.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Ana , Jimmy , dan Alan , pergi ke suatu Bar , mereka bertiga kali ini dalam misi menyelidiki sebuah kasus .
__ADS_1
"Kau jangan minum , karena aku benci bau alkohol , " ucap Ana.
"Kenapa kau melarangku ?" sanggah Jimmy.
"Ayolah Ana , Jimmy tidak akan mabuk , kita bertiga harus terlihat seperti sedang berpesta dan asyik minum-minuman ini." ucap Alan .
"Terserah kalian , aku mau duduk saja ." Ana pun menggelengkan kepalanya.
"Oh iya Jimmy boleh aku tanya padamu ?" tanya Alan .
"Tentu , apa ?"
"Kau bisa tahu pembunuhnya James karena Ana? , atau kau tahu sendiri ." cecar Alan .
"Aku tahu di bantu oleh Ana ." jawab Jimmy dengan ringannya.
"Bukankah aneh , dia bisa tahu semua kasus tadi , beserta barang buktinya ..." ucap Alan .
"Maksudmu..."
"Ya Ana itu hanyalah penjual bunga , bukanlah seorang detektiv atau polisi di bagian kriminal Jim , maksudku kenapa dia amat tahu ?, dan mengetahui trik pembunuhannya ." bisik Alan.
"Itu , karena dia suka nonton film thriller Alan, atau suka membaca berita kriminal bisa juga kan ?" ucap Jimmy dan menenggak minuman di tangannya.
"Kalau dia mahir dalam memecahkan kasus kriminal , aku akan mengajaknya kerjasama Jim , bukankah sangat pas." ujar Alan .
"Apanya yang pas ?, kemarin saja dia masih terbayang-bayang mayat pria yang bunuh diri menggunakan senar biola di lehernya ." ucap Jimmy pada Alan.
"Apa dia takut ?" tanya Alan.
"Tentu , dia bilang pertama kalinya melihat mayat dalam hidupnya ,"
"Dan sekarang yang kedua kalinya ,"
"Jika kau mengajaknya sangat kasihan Alan."
"Haaa sayang sekali Jim , kan bagus kalau ia sangat paham , jadi aku lebih mudah dalam memecahkan kasus."
"Hei kalau kau, apa tidak pernah takut kalau melihat mayat langsung , apalagi dalam satu kasus pembunuhan, menggunakan sebuah senjata tajam ?" tanya Jimmy penasaran .
"Aku sangat takut Jim , pernah dalam kurun satu minggu tak makan , karena masih ingat usus dan jantung memburai keluar dari tubuh mayat pembunuhan , saat akan makan sudah mual , dan tak berselera makan sama sekali." keluh Alan dan mengingat pertama kalinya ia menangani kasus pembunuhan .
__ADS_1
"Baguslah..."
"Apanya yang bagus?" tanya Alan penasaran.
"Tentu saja , kau tahu yang di rasakan orang jika bertemu mayat dalam keadaan seperti itu makanya jangan ajak Ana , biarkan dia jadi seorang penjual bunga saja." ucap Jimmy lalu ia memandang Ana dari kejauhan, ia sedang duduk di sofa .
"Apa kau sangat menyukainya ?" tanya Alan makin penasaran oleh Jimmy , karena di lihat dari ekspresi wajahnya kali ini, amat berbeda dengan saat ia bertemu dengan gadis lainnya
"Haa, kau ini bodoh sekali aku tak menyukai Ana sama sekali Alan , kau akan tahu nanti ."
"Lalu jika tak menyukainya kenapa kau amat khawatir padanya?"
"Sudahlah.."
Ana kini duduk sambil makan beberapa buah yang terhidang di meja. Sambil melihat ada banyak sekali para wanita dan pria berjoged di bar itu , mereka menikmati alunan musik .
"Hai , gadis manis kenapa kau sendirian ?"
"Aku tak sendiri , mereka berdua bersamaku." sambil menunjuk ke arah Jimmy dan Alan .
"Tapi kenapa mereka duduk berjauhan dengan mu , gadis manis ?"
"Terserah mereka saja , aku juga ingin duduk sendirian ." ucap Ana dingin dan agak ketus .
"Wahhh, berani sekali kau berkata seperti itu ," dia pun menghembuskan asap rokoknya ke wajah Ana .
"Uhuk...uhuk.."
"Kau mau aku belikan minum untuk bersantai sejenak , mau kan?" pria itu merayu Ana , dan memanggil pelayan untuk membawakannya minuman beralkohol .
Alan melirik Jimmy , dan memberi tanda pada nya , kalau Ana sedang di hampiri pria hidung belang .
"Ada apa Alan?"
"Lihatlah pria itu , seperti biasa selalu merayu setiap gadis yang dianggapnya baru , Ana kan pendiam dan juga tidak pernah kemari , pasti jadi sasaranya selanjutnya." ucap Alan pada Jimmy .
"Biarkan saja Alan , kita berpura-pura tak tahu saja , nanti aku yang urus jika dia keterlaluan."
"Aku tak minum , pergilah kau, kita tak punya urusan sama sekali ." usir Ana .
"Hei , jangan sok polos , kalau ada seorang gadis masuk di bar ini , itu pertanda mereka butuh hiburan , sedang kesepian , atau kau mencari pria yang kaya , kau sedang butuh uang ? , aku akan memberikannya padamu. Tapi malam ini kau temani aku ..." rayuan itu keluar dari mulut busuk pria hidung belang yang memakai baju ber jas merah , dan dia berambut klimis , dengan wajah pas-pasan.
__ADS_1
Ana menatapnya dengan intens , lalu diam tak menjawab satu patah kata pun , dan ia memakan buahnya lagi.
Bersambung...