Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 33 "Unlucky"


__ADS_3

Malam ini Jimmy terpaksa pulang ke rumah nya, dia membuka pintu lalu memasukkan kode passwordnya, namun saat ia mencoba berkali-kali anehnya tak bisa membuka.


Dan tetap mencoba ternyata kodenya tidak bisa masuk kedalam aksesnya.


"Sial , kenapa tidak bisa masuk?, siapa yang berani mengganti kode password pintunya." gerutu Jimmy mengumpat beberapa kali .


"Apa yang harus aku lakukan?, hemmm haaa aku harus menghubungi tukang servis pintu ckkk, benar-benar hari yang sangat sial ."


Jimmy menggerutu karena semua kesialan yang terjadi padanya saat ini, setelah selesai mengacak-acak rambutnya yang rapi, dia pun mengambil ponsel di dalam sakunya.


Setelahnya ia berhasil menghubungi tukang servis pintu rumahnya, lalu kini dia masuk ke dalam rumahnya.


Rumah Jimmy nampak masih rapi tak kotor. Dan anehnya dalam kulkasnya penuh dengan makanan, dan juga ada surat di dalamnya.


Makanannya pun tertata rapi sekali, dengan berbagai macam lauk, kue dan sesuai selera Jimmy, tak berminyak dan semuanya hanya makanan yang sudah biasa di makan oleh pengacara tampan ini.


Jimmy pun kini mulai mengambil surat yang berada dalam kulkas itu. Membacanya dan dengan perlahan alisnya mengernyit.


"Nikmati makanannya, oh iya aku mengganti passwordnya maaf ya, kau tetap sama Jim, selalu saja memakai password yang sama yaitu tanggal lahirmu kan, 120882, dan aku mengubahnya jadi nomer yang cantik ******, bye aku memberi sedikit kejutan untukmu ❤"


"Sialaaaann... siapa dasar orang gila?" ucap Jimmy dan membuang sepucuk kertas yang berada di tangan kanannya.


Lalu ia pun kini membuka isi kulkasnya, dan masih mengamati siapa yang berani sekali mengerjainya. Tapi sama sekali tak terfikir kan siapa orang di balik semua yang terjadi hari ini. Walaupun ia sudah berusaha berfikir keras untuk beberapa detik.


Belum selesai menutup pintu kulkasnya, dia mendengar suara peluru tembak yang mulai melesat ke arahnya.


Desiiiing....dan peluru itu menembus kulkas Jimmy hampir mengenai kepalanya.


"Sialaan, siapa yang memburuku ??" gerutu Jimmy dan ia pun merunduk di bawah sofa miliknya, agar sang penembak jitu tidak bisa membidik dari kejauhan.


"Ha, aku akan menghubungi Alan." ucapnya.


Namun saat mengeluarkan ponsel miliknya, dia menerima satu panggilan lalu Jimmy kini mengangkatnya.


"Hallo..."


"Dengar mari kita bermain..."


Suara kini di samarkan dan tak tahu siapakah yang menghubunginya saat ini.


"Siapa kau...?"


Desiing.... Dan beberapa peluru pun melesat hampir mengenai tubuh Jimmy, beberapa kali dia bisa menghindar dan masih beruntung.

__ADS_1


"Dengarkan, aku menggunakan pelacak suhu tubuh manusia, ha..ha.. tak ada gunanya kau menghindar selamat menikmati..." lalu ia pun menutup ponselnya.


Desiing...


Beberapa kali suara peluru itu sudah berhasil menembus sofa, memecahkan kaca rumah tak itu saja banyak dinding yang berlubang .


"Siaalaannn, berani sekali dia bermain-main denganku ..." sambil menyeringai dan terlihat murka.


Beberapa kali tembakan menghujani Jimmy kali ini nyawanya pun sedang berada di ujung tanduk. Mampukah sang pengacara bertahan dari maut yang menghampirinya.


"Alan ini aku Jimmy, pergi cari bantuan ada yang akan membunuhku." pesan suaranya pun di kirim pada teman satu-satunya yang dapat ia harapkan saat ini.


"Sial, aku harus bagaimana dia menggunakan pelacak suhu?, haaa, apa aku akan mati hari ini?, siaalaaaannnn...." umpat Jimmy kesal .


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Ana pun kini bersama Rian untuk menghadiri pemakaman , Ana mengenakkan gaun putih dan membawa beberapa tangkai bunga yang di beli oleh Rian.


Acara pemakaman diwarnai dengan derai air mata dan pecahan isak tangis juga teriakkan suara beberapa anak dan saudara yang hadir.


Ana kini melihat pemandangan tersebut dan menundukkan wajahnya ikut berduka walau tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan semua yang ada di tempat itu.


Setelah selesai acaranya mereka berdua kini duduk tak jauh dari pemakaman itu.


"Kau lelah, ini minumlah." ucap Rian dia pun memberikan sebotol air mineral pada Ana.


"Terimakasih." jawab Ana singkat dia hanya membawa air mineral itu dan tak meminum nya walaupun setetes, menggenggamnya dengan tangan kanannya saja.


"Kau tak haus?" tanya Rian dan heran kenapa ia tak segera meminumnya.


Ana hanya menggelengkan kepalanya ke arah Rian.


"Ehm, apa jangan-jangan kau curiga dengan air itu, aku tak memasukkan racun kedalam botol itu." ucap Rian dan menatap wajahnya.


Dengan serius , masih tak percaya kalau Ana mencurigainya saat ini.


"Aku tak mencurigaimu, dan aku tidak haus. Jika kau mau meminumnya kau boleh ambil kembali ini." ujar Ana, dia bermaksud untuk mengembalikan botol air mineral itu.


Namun Rian tak menerimanya dan dia hanya menatap heran ke arah Ana.


"Ayolah An, jangan curiga pada semua orang, dan mungkin saja ada salah satu orang yang amat peduli padamu dan benar-benar tulus."


"Hem, kau membicarakan siapa Rian ?"

__ADS_1


"Tentu saja membicarakan aku sendiri."


Rian membelalakkan kedua bola matanya ke arah Ana, dan menatap lekat-lekat wajahnya .


Ana pun tersenyum dengan senyumannya yang khas, namun bukan senyuman bahagia melainkan senyuman getir.


"Apakah yang membuatmu tersenyum seperti itu ?, apa kau sedang kesepian dan bersedih?"


"Tidak, aku hanya menikmati semua hal yang terjadi kepadaku kau tak perlu tahu, dan kau juga tak perlu ikut campur ."


"Apa maksudmu An?"


"Ya menikmati saja, kau tahu Rian kau hanya tahu aku adalah Ana si penjual bunga di toko milik sahabatmu bukan?" sambil menyeringai ke arah Rian.


"Apa kau menakutiku?" telisik Rian dan ia pun menatap lekat bibir Ana, yang terlihat senyum ke arahnya dengan senyuman miring .


"Untuk apa?" tanya Ana sekali lagi, dia pun melihat ke arah lain.


"Siapa pria yang menemui di toko tadi?" Rian mengalihkan pembicaraan.


"Hem, apa urusanmu ?, setelah bunga yang aku kirim ini selesailah pekerjaanku dan aku mau pulang." ujar Ana berdiri membersihkan gaun putihnya.


Karena gadis itu tak mau berlama-lama lagi mengobrol dengan Rian hendak pulang.


"Apakah kau belum selesai bekerja?" tanya Rian lagi.


"Berhentilah Rian, aku tidak mau berteman dengan siapapun, pergilah ..." ujar Ana dan terlihat raut wajahnya yang dingin , dan ia berbalik ke arah berlawanan meninggalkan Rian sendirian.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Setelah Alan menerima pesan dari Jimmy ia pun bingung harus berbuat apa, karena ia tak tahu keberadaan temannya sekarang sedang berada dimana. Dia pun menghubungi Ana.


"Ana kau berada di mana?"


"Aku berada di pemakaman Alan, ada apa?"


"Apa di pemakaman?, siapa yang meninggal?"


"Kenapa kau bertanya ?"


"Jawab dulu Ana siapa yang mati?, apakah Jimmy?" cecar Alan kebingungan karena dia baru saja mendapat pesan dari sahabatnya .


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2