
Lalu terbuka pintu dari toko, muncul seorang pria memakai jas hitam, dan tiba-tiba duduk di depan Ana.
"Hai gadis, maukah kau ikut denganku?, aku akan memberimu uang yang banyak." ajakkan pria itu tiba-tiba, membuat Ana menghentikan kegiatannya, dan menaruh sendok di atas piring kue itu.
"Siapakah kau??" penasaran dan mengernyit kan kedua alisnya.
"Hem, dengar aku bukan pria jahat, hanya saja aku sedang butuh bantuan aku lihat kau gadis yang butuh uang." ujar Pria itu dengan ringan, senyum kecil terulas dari bibirnya.
"Apa maksudmu?" curiga.
"Aku hanya sedang butuh bantuan, maukah kau membantuku kali ini saja?" tanya pria itu sekali lagi dan memohon pada Ana.
"Maaf yaaa aku sedang sibuk, aku juga tak mengenal dirimu." ucap Ana, dan sudah tak berselera memakan kue itu lagi, dia sebal dan menyeringai ke arah pria itu.
Tak lama ada seorang wanita masuk dan ia hendak membeli seikat bunga mawar yang bewarna merah. Ana pun kini mendekatinya.
"Ada apa Nona...? Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Ana dengan sopan.
Namun dari kejauhan pria itu tetap duduk dan mengamati Ana , sambil tetap melihatnya apa Ana mau dengan permintaanya itu.
"Dasar gadis ini, padahal aku akan memberi uang padanya, dia mengacuhkan aku." batin pria itu sembari merapikan dasi birunya .
Lalu Ana pun menunjukkan bunga mawar merah kepada pelanggan tersebut.
"Kalau boleh saya tahu untuk acara apa anda membeli bunga mawar merah Nona?"
"Ehm, aku hanya akan menghadiri sebuah pemakaman, dia adalah mantan kekasihku, karena aku ingin dia tahu kalau cintaku ini masih tetap bersamanya sampai kapanpun." jawab dari pelanggan tersebut, dia terlihat sedih namun di bibirnya terlihat mengulas senyum namun senyumannya itu terdapat luka dan juga beberapa arti yang lainnya.
__ADS_1
"Apakah Anda tidak seharusnya membawa seikat bunga seruni saja, atau mungkin bunga mawar putih agar jiwa dari mantan anda itu merasa damai di syurga." usul dari Ana, dan memperlihatkan satu buket mawar putih itu kepada pelanggan tersebut .
Nampak dari kejauhan pria yang tidak di kenal itu masih tetap mengawasi Ana, pandangan kedua bola matanya tak lepas dari semuanya tentang Ana.
"Aku disini adalah pembeli, terserah aku mau membeli bunga apa?, ambilkan saja aku satu buket bunga mawar merah pahaaaammm !!!" sambil teriak, dan teriakkannya memekikkan telinga.
Seketika Ana menutup kedua telinganya itu. Pria yang tak di kenal pun mendekati mereka berdua karena terjadi kegaduhan diantara mereka.
"Ada apa ini?" tanya pria itu sambil menoleh ke arah Ana.
"Sudahlah, kau kembali di tempatmu saja, jangan ikut campur." jawab Ana dengan lirih.
Ana mengambil sebuah buket mawar merah, lalu ia pun memberikan kepada pelanggan itu dengan sopan, dan tetap ramah.
"Ini Nona, maafkan saya yang sudah lancang." permintaan Ana ternyata tidak membuatnya merasa baik, malah semakin membuatnya marah besar.
"Kenapa kau melempar bunga itu?, bukankah dia sudah meminta maaf atas kelancangan yang ia perbuat!!!" Seru dari pria itu, dia pun geram akan tindakan yang tak sopan tersebut
"Haaaaa, apakah semua kesalahan di dunia ini akan berakhir begitu saja?, hanya dengan kata minta maaf saja." sambil menyeringai kearah pria itu.
"Setidaknya hargailah, kalau kau tidak berniat untuk membeli maka kau tidak usah berbuat seperti itu." gertak pria itu dan mengambil satu buket mawar merah yang berserakkan di lantai itu.
Namun perkataanya membuat gadis itu mulai marah, sorot matanya tajam merah dan juga menyala. Bagaikan seorang serigala malam yang akan menerkam mangsanya.
Tak lama dia pun menghamburkan beberapa lembar uang seratus ribuan di atas lantai dan berserakkan.
"Kau tahu bahkan nyawamu akan aku beli, ingat kalian berdua jangan harap kalian bisa hidup dengan damai." ancam pelanggan itu keluar dari pintu toko bunga, dengan terburu- buru.
__ADS_1
Setelah kepergian dari pelanggan itu, Ana hanya membersihkan semuanya dan dia berpura-pura tidak ada yang terjadi. Hanya membersihkan lantai dengan tenang.
"Hei, kau baik-baik saja?, apakah kau sering mendapat pelanggan yang seperti anj*ng g*la itu?" tanya pria itu menghawatirkan Ana.
"Sudahlah, pergilah, aku tak mengenalmu, dan aku juga tidak mau berbicara denganmu, aku lelah." Jawab Ana dingin, dia merasa kalau pria itu hanya membuatnya semakin merasa terbebani.
"Setidaknya, jawablah ucapan dari wanita jal*ng itu, dia yang salah aku kira kau hanya patuh, dan bebas di injak-injak harga dirimu, apakah kau tidak marah sama sekali?"
"Sudahlah, aku ini muak, pergilah urusi saja urusanmu itu." jawab Ana ketus dan dia pun mengabaikan pria itu.
Setelah beberapa saat Ana pun kini selesai membersihkan hasil dari kegaduhan barusan.
Semua orang kaya akan sama menganggap kalau manusia adalah sebuah produk yang bisa seenaknya dinilai dengan rupiah atau juga mata uang lainnya, karena berdasarkan dari strata mereka para manusia, yang kaya selalu saja sering kali melihat semua orang miskin yang tak ternilai itu dengan sebelah matanya saja. Dan melakukan tindakan yang tidak beretika sama sekali.Mungkin dari sudut pandang mereka uang adalah segalanya.
Mungkin Ana sudah terbiasa dengan kejadian itu, maka dia sudah tidak terkejut sama sekali atau juga mungkin Ana menyembunyikannya, perasaan tersakiti dan juga di rendahkan yang kerap ia terima oleh beberapa pelanggan lain.
Pria itu aneh di usir Ana malah tak bergeming seharusnya ia segera pergi dari hadapannya.
Ana adalah gadis periang, hangat, baik hati, namun karena kehidupannya yang selama ini ia jalani, sedikit demi sedikit membuat sikap nya agak dingin susah di dekati, dan juga dia sangat sulit berteman. Ana yang mungkin kerap kali mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, sudah merasa kebal akan hal tersebut
"Aku akan segera pulang, setelah pengganti dariku datang." batin Ana.
"Ayolah Ana, ada yang ingin aku bicarakan padamu, maukah kau ikut denganku??" tanya pria itu sambil memegang lengan Ana, dan mereka berdua saling menatap.
Ana memandang dengan pandangan curiga, namun sang pria itu malah memandangnya dengan satu pandangan iba, serta ada sorot mata yang sedikit berarti itu, akan tetapi tak mudah di pahami oleh semua orang.
Kata Mutiara dari JK Rowling
__ADS_1
Buku itu adalah sebuah cermin: Kalau yang berkaca padanya adalah seorang yang bodoh maka jangan berharap yang terpantul adalah orang yang jenius.