Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 12 "Who"


__ADS_3

"Ayolah Jimmy, kau sudah sangat tua, jangan bermain-main dengan perasaan gadis ??" ucap wanita itu dan menjewernya namun tak sakit.


"Iya, aku tidak bermain tapi merekalah yang selalu menempel kepadaku." jawab Jimmy menaruh piringnya karena makanan yang ada di tangannya sudah habis.


"Maka dari itu pilihlah satu gadis , dan segera menikah. Aku ingin melihatmu bahagia, kita tidak akan tahu berapa umurku yang masih tersisa..." ucapnya kepada Jimmy sembari tersenyum.


"Apa yang Anda katakan?, kau akan berumur panjang, " Lalu Jimmy memeluk wanita itu.


"Apa Andrew tak pernah pulang kemari?"


"Habis ini pulang masih dalam perjalanan." ucap dari wanita itu.


Di dalam mobil Ana menunggu Jimmy yang sangat lama sudah tidak sabar lagi, karena tak kunjung datang Ana keluar dari mobilnya sambil membenahi bajunya.


"Hu, Jimmy lama sekali, apa yang dia lakukan di dalam??" keluh Ana, karena di luar terasa dingin.


Menggosoknya beberapa kali tangannya yang dingin hampir membeku. Lalu Ana mengirimi pesan kepada Jimmy.


"Cepatlah kemari, kau bilang kita harus segera menyelidiki kasus kematian seorang pria." pesan dari Ana, Jimmy melihat layar ponsel miliknya karena bergetar.


"Oh, iya aku pamit dulu karena aku masih ada urusan amat penting yang harus segera aku kerjakan ." pamit dari Jimmy pada wanita itu.


"Kenapa terburu-buru, pesta belum di mulai suamiku juga belum hadir, tunggulah sebentar lagi." ucap wanita itu.


"Gadis yang di mobil sedang kedinginan, aku akan menyusulnya," ucap Jimmy beralasan .


"Ajaklah kemari aku ingin menyapanya." ucap wanita itu.


"Lain kali ya," ucap Jimmy sambil memeluk dan ia mencium pipi wanita itu.


Segera pergi dan melambaikan tangan.


"Oh, iya tak usah di antar." ucap Jimmy lembut dan sopan.


Setelah di luar Jimmy melihat Ana memang kedinginan. Lalu mereka berdua pun segera masuk ke dalam mobil.


"Kenapa lama sekali Jim?, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ana penasaran.


"Wanita yang kau kirimi bunga, ibu temanku." jawab Jimmy dan menyalakan mobil, lalu ia mengarahkan ke tempar kejadian perkara.


"Oh, begitu ya sudah." jawab Ana dan melihat ekspresi Jimmy.

__ADS_1


"Cuaca di luar sangat dingin, pakailah baju yang tebal lain kali." ucap dari Jimmy .


"Baiklah." jawab Ana.


Beberapa menit kemudian mereka berdua kini sedang berada tepat di jalan raya, ternyata hujan yang tidak kunjung berhenti , berakibat banjir, banyak sampah menyangkut, mobilnya sulit untuk melewatinya, terlebih kali ini waktu menunjukkan kalau malam segera tiba.


"Ada apa Pak?," tanya Jimmy kepada salah satu pengemudi yang di dekatnya.


"Oh, itu ada pohon yang tumbang Tuan, entah siapa yang menebangnya terlihat kalau pohon itu baru di tebang." ucap dari salah satu pria yang ikut mengantri ,terjebak macet.


"Iya terimakasih Pak." ucap Jimmy.


"Aku rasa kita harus putar balik Ana, akan tetapi ini sudah menjelang malam, apa kau tidak apa-apa??" tanya Jimmy .


"Mau bagaimana lagi, apakah pohonnya sulit di singkirkan?" tanya Ana celingukkan.


"Entahlah, terlebih lihatlah air yang banjir ini, sangat berbahaya lewat kawasan ini, takut ada tanah longsor." ucap dari Jimmy sambil melihat ke sekeliling.


"Baiklah terserah kau Jim." ucap Ana pasrah.


Mereka pun sekarang memutar balik kemudi mencari jalan alternatif lainnya.


Lalu terlihat dari kaca pintu mobil, ada satu orang gadis yang memakai rok putih, dengan rambut yang tergerai panjang. Nampaknya ia sedang bermain sendirian.


"Jim, apakah gadis itu tersesat?" tanya Ana.


"Ada apa?," tanya Jimmy sambil melihat ke arahnya.


"Lihatlah , bisakah kita mendekatinya dan..."


"Oh, ini sudah malam, dan gelap akan sangat berbahaya Ana, dan aku tak mau menolong sembarang orang , karena kita tak tahu niat orang pada kita?, kalau orang yang kita tolong itu adalah seorang pembunuh bagaimana??" tanya Jimmy, sambil mengendarai mobilnya.


"Benar, tapi dia hanya seorang gadis, apakah tidak bahaya meninggalkan dia sendirian??" tanya Ana lagi berharap kalau kali ini dia tak salah.


"Sudahlah, mungkin rumahnya ada di sekitar sini An." ucap Jimmy dan berlalulah mobilnya melewati gadis itu.


Mereka pun melewati arah kembali lagi ke rumah Andrew , dan merasa berputar-putar.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


"Dak, dak, dak.....!!!!" bunyi sesuatu yang keras namun karena hujan masih deras mengguyur maka suara itu hanya terdengar oleh seorang gadis.

__ADS_1


Terlihat seorang gadis, dia memainkan kapak besar yang ia bawa. Dan tersenyum menatap hujan yang membasahi tubuhnya kini.


"Aku akan menjadikan hujan ini, darah yang segar pasti semua air merah itu akan nampak indah, Ha..ha..ha.." sambil tertawa terbahak- bahak, lalu menyeringai.


Terlihat dari wajahnya gadis itu sangat cantik hidungnya juga mancung, bulu matanya amat lentik, kulit putihnya nampak pucat karena ia sudah sangat lama bermain hujan, mungkin ia sedang kedinginan. Berjalan sambil menyeret kapak besarnya.


"Sreeeegkkkkkkk......" deritan suara kapak itu.


Kaki yang tak beralas, tak memakai sandal, sepatu, dan lainnya. Terlihat kotor terkena lumpur . Dia berjalan, terlihat wajahnya yang cantik berubah seram, karena tatapannya tak normal.


Dia menatap satu arah tentu ke depan sambil tersenyum miring, berjalan mendekat ke arah beberapa mobil yang sedang terjebak macet.


Ada beberapa yang putar balik, dan kini hanya ada satu mobil yang tak bisa lewat, kebetulan mobilnya mogok terkena air banjir. Tak bisa menyala.


Gadis itu sangat senang, karena apa yang dia inginkan sesuai dengan rencana nya.


Terlihat pengemudi itu menelepon seseorang, namun karena efek cuaca serta disini sinyal sangat sulit. Jadi jika dalam keadaan darurat sangat di sayangkan.


Gadis mengintai duduk dengan tenangnya, lalu ia melihat pria itu turun dari mobilnya .


Saat itu lah dia menyergapnya dengan cepat.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Kini Ana dan Jimmy sudah berhasil melewati rumah Andrew, karena sudah malam tentunya tempat kejadian perkara akan sulit di lihat oleh orang yang tak berkepentingan .


"Ana, bagaimana kalau aku menyelidikinya sendiri?, hari ini kau pulang saja, lihatlah kau terlihat kacau." ucap Jimmy karena memang sudah malam, lagipula baju Ana juga sangat kacau.


"Tapi Jim,"


"Kau pulanglah, aku akan menyelinap sendiri, dan lebih mudah ,kalau aku sendirian." ucap Jimmy, agar Ana bisa segera istirahat.


"Apa kau akan menginap di rumahku lagi?" tanya Ana.


"Tentu saja, sekarang aku akan mengantarmu pulang ok." ucap Jimmy.


Setelah Ana turun, dan Jimmy memastikan kalau Ana masuk ke dalam rumahnya dengan selamat. Dia memutar mobilnya ke arah tkp.


Karena waktu menunjukkan pukul 22.00 wib maka tidak banyak orang. Namun ada empat pria berjaga di tempat itu. Ada garis kuning pembatas dari kepolisian yang tidak boleh di lalui sembarang orang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2