Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 37 "Ask"


__ADS_3

Desiiingg...


Peluru melesat dan hampir mengenai lengan Ana, dia menggeser tubuhnya karena sudah tahu dan mendengar bunyi tembakan sedang mengarah padanya.


"Haaa..untung saja nyaris..." ucap Ana masuk ke dalam lift.


Tembakan demi tembakan melesat, beberapa kali peluru berhamburan, salah satunya kini berhasil mengenai kaki Ana. Dia merasa nyeri hebat karena kaki kirinya terkena sasaran .


"Ha...ha...ha..." nafas Ana yang tersengal, ia merasa peluru itu berhasil menembus kaki , daging dan tulangnya.


Ana pun berkeringat dingin setelah peluru itu berhasil mengenai kaki kirinya, lift kini masih dalam keadaan turun ke bawah.


"Jim, maafkan aku tak bisa pergi kaki kiriku terkena tembakan." pesan Ana kepadanya .


"Benarkah?, baiklah bertahanlah Ana, aku akan menyusulmu." pesan Jimmy.


Saat ini Ana pun merunduk dalam lift yang keadaanya menurun ke lantai bawah. Sedang Jimmy berusaha belari mendekati Ana, lalu tibalah ia di depan pintu lift yang turun, saat terbuka memang Ana terluka kaki kirinya.


Ana terlihat kesakitan karena kakinya terkena timah panas dan harus segera mendapatkan perawatan. Jimmy tanpa banyak pertanyaan langsung membantunya berjalan walau saat ini Ana tak bisa berjalan dengan cepat.


Memapah Ana berjalan dengan kaki pincang.


"Bagaimana kalau kau tinggalkan saja aku?, aku rasa dalam bahaya jika kau membantuku Jim." ucap Ana, tapi Jimmy tak menghiraukan sama sekali ucapan Ana tetap membantunya.


Ana benar-benar merasa kalau perjalanan ini amat berbahaya. Seharusnya salah satu dari mereka segera keluar gedung, daripada malah keduanya terjebak menjadi sasaran tembak.


Di tangga darurat mereka berdua mencoba sembunyi beristirahat sejenak, Jimmy kini mengambil sapu tangan miliknya kemudian menutupnya pada luka Ana.


"Dengar yang penting kita hentikan darahnya." ucap Jimmy dengan menatap Ana, terlihat gadis itu meringis menahan rasa sakit di kaki kirinya, lukanya memang tak dalam tapi jika tak langsung di beri perawatan akan terjadi infeksi. Darahnya masih tetap keluar tetapi sapu tangan milik Jimmy membuat tekanan darah di sekitar luka terhambat. Sedikit agak meringankan , walau tak menyembuhkan luka Ana kali ini.


Jelas luka tembakanya menghambat gerakan mereka untuk keluar gedung. Lalu Jimmy pun mengambil ponsel miliknya di dalam sakunya menghubungi Alan saat ini juga dengan raut wajah yang tegang.

__ADS_1


"Hei, Alan kau berada dimana?" tanya Jimmy


"Tentu saja masih di lantai atas." ucapnya dan dengan nafas yang tersengal Alan terdengar kelelahan sudah berlarian sambil berusaha menghindari semua tembakan yang melesat padanya.


"Ana tertembak kaki kirinya, bisakah kau turun dan menyiapkan mobil untuk melarikan diri?" tanya Jimmy pada Alan.


"Ha kau ini, aku sedang berlarian mengalihkan perhatian penembak itu, kau sudah berhasil di bawah ternyata." gerutu Alan, dengan sedikit kesal karena sifat Jimmy yang seenaknya itu menyuruhnya ini dan itu. Tetapi tetap saja ia menempel padanya sampai sekarang.


"Ayolah Alan, kaki Ana terluka tidak mungkin aku meninggalkannya, lagipula kau kan bisa mengatasi ini. Anggap saja kalau kau sedang bersimulasi menghadapi musuh yang tidak terduga, bukankah Bapak Alan akan semakin tangkas." ucap Jimmy dan menutup ponsel.


"Dasar dia seenaknya saja, menyuruh orang." gerutu Alan ,dengan terpaksa dia mencari cara turun ke parkiran mobil lantai bawah.


Berlari dengan kecepatan penuh.


Ana terlihat berkeringat dingin, lukanya pasti terasa sakit. Jimmy menatapnya dengan iba.


"Kenapa kau menatapku seperti itu Jim?" tanya Ana , dan memegangi luka di kakinya.


"Karena kau berbohong padaku, aku tahu kau tak suka makanan berminyak, sedangkan kau bilang kau membeli nasi goreng di pinggiran jalan dan menemuiku untuk pertama kalinya, omong kosong apa itu?" cecar Ana, walaupun dia kesakitan masih bisa dan cukup tenaga untuk bertanya kebenarannya pada Jimmy.


Dengan sebal, karena berani membohongi Ana, dia pun menunduk dan melihat lukanya.


"Aku tak berbohong, waktu itu Alan memang menyuruhku membelikan nasi goreng , lalu malam itu aku tak membawa dompet, jadi kau membayar nasi goreng Alan waktu itu, namun sama sekali kau tak menghiraukan aku saat mengucapkan terima kasih kepadamu." ucap Jimmy pun menatap Ana, terlihat dia sedikit canggung dengan sedikit merapikan dasinya.


"Tetapi benar, aku sama sekali tak pernah beli nasi goreng yang kau katakan, apakah kau itu tidak salah orang?" tanya Ana, ia mengernyit ke arah Jimmy menatapnya lekat-lekat apa benar yang di katakan pria yang berprofesi sebagai pengacara ini.


"Aku tak salah memang benar kau, walau tak jelas malam itu, postur wajah dan juga rambut aku ingat benar itu adalah kau." ucap Jimmy.


"Hanya saja kau tak mau menatap wajahku, jadi belum sempat bertanya lagi, kau pergi." ucap Jimmy lagi menjelaskan dengan rinci.


Ana seketika diam seribu bahasa, mencoba menelaah penjelasan Jimmy kali ini padanya.

__ADS_1


"Aku memang sering begonta-ganti wanita, dan aku tahu salah. Tapi untuk pertama kali benar aku berhutang kepadamu. Ku pikir kau adalah wanita yang jujur dan polos, makanya aku mendekatimu untuk aku jadikan perisai jika ada perempuan yang menggodaku." ucap Jimmy pada Ana.


"Satu lagi, aku bosan di dekati semua gadis seksi, makanya aku sedikit memanfaatkan dirimu, maafkan aku ya." ucap Jimmy sedikit terdengar lembut , tapi tidak membuat Ana puas akan jawabannya.


"Lalu kenapa kau bermalam di rumahku?, apa alasan di balik itu?, dan satu lagi jika kau tak berbohong padaku. Katakan kenapa kau tahu tentang kematian kedua orang tuaku?" cecar Ana, dengan seketika raut wajah Jimmy yang tadinya santai. Berubah drastis menjadi agak khawatir.


"Kau berbohong lagi padaku?" telisik Ana memperhatikan wajah Jimmy yang terlihat gusar dan sedikit ada sesuatu yang sudah terjadi namun ia tutupi.


"Tidak, aku akan menjawabnya tapi jangan sekarang , kita keluar dari gedung ini segera merawat lukamu." ucap Jimmy ia pun mulai memapah Ana menuruni tangga darurat.


Perlahan dengan mengendap-endap langkah kaki mereka benar pelan tak bisa lebih cepat, Ana makin kelelahan kakinya sudah tak kuat lagi. Jimmy pun tetap memapahnya turun ke bawah.


Alan berusaha menghindari beberapa aksi tembak dari seseorang yang berusaha untuk membunuh Jimmy.


"Kenapa ya Jimmy amat banyak musuhnya, aku jadi repot setiap kali dia kesulitan." ucap Alan dan menggerutu, dia berusaha turun ke lantai bawah.


Beberapa kali terdengar lesatan tembak dari atas gedung mengarah pada Alan.


"Jika kalian tak mati hari ini, maka aku bisa membunuh gadis yang terlemah itu untuk pertama ." ujar seseorang yang mengarahkan moncong pistolnya itu ke arah kepala Ana.


Desinggg... Ana masih bisa menghindarinya.


"Kenapa dia selalu mengarahkan pistolnya ke arahmu Ana?" tanya Jimmy menatap Ana.


"Mungkin dia tahu aku sudah cedera Jim, aku bilang pergilah kau, aku hanya menghambat perjalananmu kali ini." ucap Ana dan saat ini wajahnya pucat pasih.


"Bertahanlah Ana, sedikit lagi ok, Alan sedang berusaha mengambil mobil untuk kita." ucap Jimmy.


Alan tetap berlari berusaha sekuat tenaganya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2