
"Hai , gadis manis kenapa kau sendirian ?"
"Aku tak sendiri , mereka berdua bersamaku." sambil menunjuk ke arah Jimmy dan Alan .
"Tapi kenapa mereka duduk berjauhan dengan mu , gadis manis ?"
"Terserah mereka saja , aku juga ingin duduk sendirian ." ucap Ana dingin dan agak ketus .
"Wahhh, berani sekali kau berkata seperti itu ," dia pun menghembuskan asap rokoknya ke wajah Ana .
"Uhuk...uhuk.."
"Kau mau aku belikan minum untuk bersantai sejenak , mau kan?" pria itu merayu Ana , dan memanggil pelayan untuk membawakannya minuman beralkohol .
Alan melirik Jimmy , dan memberi tanda pada nya , kalau Ana sedang di hampiri pria hidung belang .
"Ada apa Alan?"
"Lihatlah pria itu , seperti biasa selalu merayu setiap gadis yang dianggapnya baru , Ana kan pendiam dan juga tidak pernah kemari , pasti jadi sasaranya selanjutnya." ucap Alan pada Jimmy .
"Biarkan saja Alan , kita berpura-pura tak tahu saja , nanti aku yang urus jika dia keterlaluan."
"Aku tak minum , pergilah kau, kita tak punya urusan sama sekali ." usir Ana .
"Hei , jangan sok polos , kalau ada seorang gadis masuk di bar ini , itu pertanda mereka butuh hiburan , sedang kesepian , atau kau mencari pria yang kaya , kau sedang butuh uang ? , aku akan memberikannya padamu. Tapi malam ini kau temani aku ..." rayuan itu keluar dari mulut busuk pria hidung belang yang memakai baju ber jas merah , dan dia berambut klimis , dengan wajah pas-pasan.
"Jim, kita harus bertindak." ucap Alan sudah tak sabar lagi.
"Diamlah Alan, biarkan ia menyelesaikannya sendiri , kita lihat seberapa mampu Ana bisa menghadapi kesulitannya ." ucap Jimmy dan ia menenggak minumannya lagi.
Alan mendengar peryataan Jimmy terheran kenapa tak langsung membantunya saja .
Ana menatapnya dengan intens , lalu diam tak menjawab satu patah kata pun , dan ia memakan buahnya lagi.
Pria itu tangannya mulai bertindak kurang ajar meraba-raba pahanya , lalu Ana pun menepis tangan pria itu .
Berdiri dengan wajahnya marah karena berani melakukan tindakan asusila kepadanya.
"Haa, lihatlah di sana, ada cctv aku kira pria yang tak bisa menahan nafsunya , harus di beri sedikit pelajaran sopan santun , " ucap Ana dan memukul botol minuman beralkohol tepat di atas kepalanya .
__ADS_1
Pyaaaaarrrr....
"Ha , berani sekali Ana." ucap Alan , dan akan berdiri , namun Jimmy melarangnya .
"Beraninyaaaa kau gadis Jalaaaaa*g !!" pekik pria berambut klimis itu , kini ia pun meraba kepalanya yang bersimbah darah .
"Setelah kejadian ini, kupastikan tindakanku adalah pembelaan, karena kau berlaku tidak sopan, maka Pak Hakim tentu akan menjatuhi hukuman kepadamu , kau masih tak paham ?" ucap Ana mempertegas.
"Dasar gadis kurang ajaaar !!!" kemarahannya makin meledak .
Ana kini pun naik ke atas sofa menghindari serangan pria itu , namun kakinya sudah di cengkram .
Lalu Ana berusaha mengambil botol lainnya sebisanya dan akan memukul kepalanya lagi . Namun sayangnya tak bisa meraihnya .
Jimmy pun berdiri menatap mereka berdua ,
"Dengar , jika kau mau menyalurkan hasrat mu pergilah cari gadis lain, tapi jika kau mau masuk penjara teruskan saja aksimu !" ucap Jimmy , dengan santainya .
"Siapa kau ?" tanya pria itu dan melepaskan cengkraman tangannya pada Ana.
"Kenapa aku harus berkenalan denganmu ?" ucap Jimmy , dan menyeringai.
"Sialan !!!" Lalu ia berusaha memukul Jimmy , tapi Ana dari belakang sudah terlebih dahulu memukul dengan botol minuman beralkohol lagi , tapi kali ini lebih keras.
Dia pun pingsan ,
"Dasar kenapa semua pria sama saja ?, kalau begini rasakan..." ucap Ana.
"Jika kau mati itu lebih baik." umpat Ana kesal
Jimmy pun menatap Ana lekat-lekat , karena ia melihat Ana yang pendiam membuka suara dan mengumpat seorang pria di depannya itu membuatnya heran.
"Kau tak apa-apa An?" tanya Jimmy lalu ia pun memeriksa tubuh Ana.
"Tak apa-apa , tapi kenapa semua pria sama saja selalu seenaknya sendiri, apakah mereka fikir memperlakukan semua wanita dengan seperti itu terlihat keren dan juga kuat ?" ucap Ana menyeringai ke arah Jimmy .
"Haaaaa, mana aku tahu , tapi otak orang ini tak waras , dia di kendalikkan otak kotornya." ucap Jimmy , dengan agak gugup bingung ia harus berkata apalagi.
"Ha, jangan munafik kau juga pria, pasti otak mu itu juga kotor !!!" ucap Ana, ia menyeringai ke arah Jimmy.
__ADS_1
"Kenapa aku juga kena ?, dia yang salah aku kau marahi..." gerutu Jimmy sambil menelan ludahnya.
"Sekarang kita pulang saja , atau aku pulang sendiri ." ucap Ana dan berjalan ke arah pintu keluar .
"Haaa, Alan ayo kita pulang Ana marah." ajak Jimmy pada Alan.
Mereka bertiga tidak jadi mengintai karena Ana marah .
Saat mereka bertiga masuk kedalam rumah Ana sangatlah terkejut , rumah Ana bagaikan medan pertempuran dan sudah tidak bisa di bayangkan lagi.
Semua baju kotor berantakan di lantai juga .
Rumah Ana tak terkondisikan , semua kotor tak pada tempatnya. Alan pun melihat CD dan Bra Ana yang tercecer di lantai , namun Ana hanya santai seperti tak ada yang terjadi .
"Apa ini Jim?" tanya Alan sangat terkejut melotot.
"Ha, biarkan saja berpura-pura lah tidak tahu jika tidak Ana akan marah lagi." ucap Jimmy lirih.
"Ini bukankah tempat parkir dua gunung itu ?" ucap dari Alan , dan mebulatkan kedua bola matanya ,
"Kenapa jangan sok suci?" ucap Ana lalu ia menyeringai ke arah Alan dan Jimmy.
"Padahal kalian sudah beribu-ribu , berjuta- juta kali melepaskannya kan , dasar pria otak kotor yang sok suci ..." ucap Ana dan pergi ke arah lainnya.
Jimmy kini menelan ludahnya dengan kasar, dia pun membersihkan ruangan yang lebih tepatnya bisa di sebut medan pertempuran .
Padahal sudah sering kali Ana di ingatkan tapi Ana tetap dengan kebiasaan buruknya selalu membuang benda sembarangan, tak itu saja tak pernah rapi sama sekali.
Bahkan Ana sangatlah menyukai beberapa sampah dan mengoleksinya, atau bungkus mie di simpan di lemari piring dengan rapi.
Pernah setelah ia membunuh seekor kecoak, dia tidak cuci tangan langsung melanjutkan makannya lagi. Padahal serangga yang satu itu dipenuhi bakteri serta sumber penyakit lainnya. Ana adalah gadis yang aneh dan juga jorok sekali.
Jimmy pun langsung mengambil japit , dan memasukan semua pakaian kotor Ana ke dalam keranjang bajunya.
"Jim, kau yakin dia adalah manusia ?" tanya Alan .
"Tentu itu lebih baik Alan , biarkan saja dia."
"Aku merasa Ana bukanlah manusia Jimmy, setahuku jika seorang gadis mengetahui ada pria masuk kedalam rumahnya pasti dia akan merapikannya dan juga memberi parfum, itu bertujuan agar image nya bagus , tapi untuk gadis satu ini aku tak tahu harus bicara apa ?" ucap Alan masih heran , dan tertunduk lemas.
__ADS_1
"Menurutku dia hanya ingin mengusir kita ." jawab Jimmy lirih dan dia pun melanjutkan membersihkan rumah Ana , karena ia tak mau banyak kotoran membuat pandangannya tak nyaman sama sekali .
Bersambung...