
"Ehm, bolehkah aku mengajak Ana Mam, dia biar membantuku, lagipula aku kesepian tak ada teman lainnya, boleh ya Mamaa." bujuk Ralin dengan lemah lembut.
"Ana pegawaimu itu, yang selalu kau suruh- suruh." ucap Mama Ralin.
"Iya Mam, kenapa Mama tidak suka?" tanya Ralin dan menatap wajah Mamanya.
"Ehm, kau berjanji tak marah jika Mama akan memberimu nasihat." ucap Mama Ralin.
"Apa Mam?" tanya Ralin, dengan antusiasnya.
"Jangan terlalu dekat dengan para pegawai, kau tahu kita harus mempuyai jarak Ralin, em walau kau memang sudah lama mengenal ia." ucap Mama Ralin, seketika ekspresi wajah gadis itu berubah masam dengan kedua alis yang mengernyit.
"Kenapa Mama bilang begitu?" tanya Ralin.
"Ya karena menurut Mama, bukankah terlalu dekat itu tidak baik, terlalu jauh juga kurang baik, bagaimana kalau menjaga jarak?, Ralin kau masih muda jadi masih panjang cerita yang akan di torehkan. Mama sudah lebih berpengalaman." ucap Mama Ralin bijaksana.
"Tapi aku menganggapnya sebagai adikku." ucap Ralin sedikit sebal, karena menurutnya Ana adiknya. Salah satu pegawai Ralin yang ia sukai adalah Ana, mungkin karena Ralin tak punya adik. Karena mereka sering bersama maka terjalin rasa persaudaraan dalam diri mereka berdua.
"Ehm, ya sudahlah Mama tak mau berdebat, tapi jika kau mau mengajaknya kemari boleh, ingatlah jangan terlalu dekat dengan pegawai lebih baik menjaga jarak." ucap Mama Ralin dan ia membaca sebuah majalah mode.
"Ehm, baiklah aku akan menurut." ucap Ralin pasrah pada Mamanya.
Tak lama ia pun memberi sebuah pesan pada Ana, karena ingin di temaninya. Ana pun kini membaca pesan di layar ponselnya. Sebuah pesan dari Nona Ralin.
"Lihatlah, ini Nona Ralin sedang ada acara malam ini benarkan?, dia sangat sibuk hingga dia tidak bisa kesini." ucap Ana pada semua pegawai .
"Oh begitu," jawab salah satu pegawai.
Rian mendekat, dan hendak membantu para pegawai wanita. Tapi Ana pun menepisnya.
"Dengar, tidak usah membantu ini pekerjaan kami, kalau kau sibuk boleh melanjutkan saja kegiatanmu." ucap Ana sopan.
"Tak apa, beberapa hari ini aku sedang free, jadi biarkanlah aku mengobrol dengan para gadis cantik ini." ucap Rian tersenyum manis.
"Ckkk, kau itu kenapa keahlian semua lelaki selalu sama yaitu menggombal ?" tanya Ana, dan menatap sinis wajah Rian.
"Oew, aku tidak menggombal." ucapnya polos.
"Namamu siapa?" tanya Lila salah satu dari pegawai, menatap Rian dengan sedikit genit.
Lalu Ana memandang mereka berdua, dan menatap akan ada drama romansa diantara keduanya. Ana menarik sudut bibirnya ke arah atas, lalu mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Rian." jawab pria itu dan tersenyum lembut.
"Ehm, namaku Lila." ucap gadis itu suaranya terdengar manja.
"Dengar, disini bukan biro jodoh, kalian berdua membuat aku mual..." ucap Ana kesal karena ia melihat Rian tersenyum pada Lila.
"Kau iri?" tanya Rian pada Ana.
"Tidak," ucap Ana sambil tersenyum.
"Kau ini aneh." ujar Rian.
"Aku tak aneh sama sekali, " jawab Ana .
Setelah beberapa menit kemudian masuklah Jimmy dan Rena, kedalam toko. Mereka pun duduk dan menatap Ana.
"Hem, aku kira kau sangat sibuk." ucap Ana dan berjalan mendekati mereka berdua.
"Iya, setelah beberapa sidang aku lelah, oh iya kau dapat undangan dari Ralin ada pesta di rumahnya malam ini." ucap Jimmy .
"Iya, kau dapat undangan juga ternyata, kau mau berangkat bersama?" tanya Ana.
"Kenalkan nama saya Rena, saya sekertaris Pak Jimmy." ucap Rena dengan sopan santun memotong percakapan mereka berdua.
Rena adalah wanita dengan wajah tirus, dan kedua bola matanya bulat sempurna, tak itu saja karena ia seorang sekertaris maka, tidak diragukan lagi kepandaiannya. Rena terlihat serius namun juga menatap Ana, lalu ia pun tersenyum hangat setelahnya duduk diam di samping Tuannya.
"Hei, Ana dengarkan aku kau ikut apa tidak?" tanya Jimmy pada Ana dengan sedikit keras.
"Oh, iya ikutlah Jim.Tetapi biar pekerjaan toko ini selesai dulu ya." ucap Ana, melirik ke arah para pegawai lainnya.
"Ehm, ya sudah nanti aku jemput karena aku masih tinggal satu klien lagi." ucap Jimmy .
"Hai An, siapa pria ini?" tanya Rian penasaran.
"Oh, ini temanku Rian dia adalah pengacara, kenalkan ini Jimmy." ucap Ana menatapnya dan memperkenalkannya.
"Hem, kau punya teman pria lainnya selain Alan dan Aku?" tanya Jimmy pada Ana, dia menatapnya terkejut.
"Iya, dia pelanggan juga disini, beberapa kali membeli bunga." ucap Ana dan ekspresinya yang datar.
"Oh, kenalkan namaku Jimmy." ujar Jimmy melihat wajah Rian menatapnya mereka pun saling menatap. Rian heran dan Jimmy kini sedikit tak percaya ada seorang pria ada di dalam toko selain dia, karena setahunya ada Alan dan Jimmy lah yang sering bertandang.
__ADS_1
"Sudah, kenapa kalian saling memandang seperti itu?" tanya Ana dan berdecak kesal.
"Ehm, maaf." ucap Jimmy dan mengalihkan pandangan.
"Tak apa-apa, bagaimana kalau aku saja yang mengantar ke rumah Ralin nanti?" usul Rian .
"Hem, akulah yang mengajaknya." ujar Jimmy
"Sudahlah, kalian jangan berdebat disini, aku masih sibuk. Kalau kalian seperti itu aku akan berangkat sendiri tak apa." ucap Ana santai.
Rena terlihat mengernyitkan kedua alisnya, entah apa yang ia fikirkan tentang semua ini.
"Hem, baiklah aku akan kembali nanti aku jemput jangan lupa ya An." ucap Jimmy lalu ia memberi tanda pada Rena untuk pergi .
Setelah kepergian Jimmy Rian bertanya pada Ana, tentang pria yang barusan datang itu .
"Kau dekat dengannya?" tanya Rian makin kepo.
"Ehm, lumayan, kau bertanya dekat, maksud mu kami sahabat karib?" tanya Ana.
"Bukan itu maksudku?" ucap Rian.
"Sudahlah, aku mau meneruskan tugasku." ucap Ana dan melanjutkan tugasnya .
"Aku akan ikut bersamamu, kerumah Ralin dan aku akan menunggu." ucap Rian.
Malam pun datang Ana berada di rumah Ralin bersama Rian dan juga Jimmy. Mereka berdiri di dekat sudut meja yang penuh makanan.
"Kau lapar?, ayo kita makan." ajak Rian.
Namun percakapan mereka terpotong karena ada Ralin yang hadir, diantara mereka bertiga.
"Rian, Jimmy, kalian datang bersama-sama." sapa Ralin dengan menggunakan gaun cantik polesan make up nya yang natural, tidak itu saja wajah Ralin cantik membuatnya terlihat seperti bintang malam ini.
"Wah, kalau boleh tahu acara apa ini Ralin?" tanya Jimmy.
"Entahlah, Papa dan Mama sedang ada acara mungkin dia memperkenalkan produk baru ." ucap Ralin, dan menatap Ana memakai baju yang biasa-biasa saja.
"An, kenapa kau tak memakai gaun?, kau mau aku pinjami?" tanya Ralin.
"Tak usah Nona, aku hanya akan menemani Anda, lalu setelah itu pulang." ucap Ana dan tersenyum hangat melihat wajah Ralin.
__ADS_1
Bersambung...