Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 15 "Twins"


__ADS_3

Dengan perlahan kakinya itu melangkah satu demi satu ,Ana pun akhirnya berada di dapur asal suara keras, bunyi dari benda jatuh itu.


Perlahan dia melihat dari balik pintu, apakah yang jatuh di dapurnya kini. Ternyata benda itu adalah benda yang di bungkus kantong plastik hitam. Ana pun membuka bungkusan itu, dengan perlahan-lahan.


"Drrrrt...drrrttt....drttt...." ponsel Ana bergetar.


Dia menghentikan kegiatannya beralih untuk membuka ponsel miliknya.


"Maaf aku tidak jadi menginap, aku tidur di rumah temanku bernama Alan, kunci pintu dengan rapat, pastikan tidak ada orang yang bisa masuk kedalam rumahmu." pesan dari Jimmy.


Ana merasa kecewa, tidak biasanya gadis ini merasa seperti itu. Karena dia sudah terbiasa hidup sendirian maka setiap hari tak ada yang menemami Ana, namun dengan pesan Jimmy yang akan menginap di rumah temannya itu membuat Ana harus sendirian di rumahnya lagi.


"Apakah kau yakin Jim?, aku kira kau akan menginap lagi di rumahku, aku sedikit merasa takut kali ini, karena masih mengingat mayat pria yang bunuh diri kemarin." balas Ana pada Jimmy.


"Jika kau takut aku akan pulang, akan tetapi apa aku boleh mengajak temanku?, karena ada banyak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan dengannya." balas Jimmy lagi pada Ana.


"Boleh Jim, tapi apakah dia mau menginap di rumahku yang kecil dan kumuh ?" tanya Ana membalas pesan Jimmy.


"Tentu saja, dia temanku , dan tidak pilih-pilih tempat , jika kau memperbolehkannya aku akan segera pulang." pesan dari Jimmy .


Setelah menutup ponselnya Ana, membuka kembali isi dalam kantong plastik hitam itu.


Ternyata isinya adalah beberapa buku note, atau catatan kecil milik Ana, dia melupakan beberapa benda miliknya itu. Lalu setelahnya merapikan dan menaruhnya di dalam lemari .


"Hampir saja jantungku akan copot, kenapa aku ketakutan seperti ini?, dan fikiranku tak bisa berhenti membayangkan jasad pria yang bunuh diri itu ." gumam Ana.


Dan dia pun kembali menikmati mie nya yang mulai dingin. Hampir saja tak enak rasanya.


"Ha, mie ku mengembang, namun jika aku tak memakannya aku akan kelaparan." gumam Ana, dan segera menghabiskan mie itu.

__ADS_1


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Malam ini tentunya Ferdy sedang berada di sebuah rumah sakit. Dia duduk di samping kembarannya yang bernama Ferda. Gadis yang malang itu sudah beberapa mingu, dia di rawat di ruangan ini. Karena Ferdy sangatlah sayang kepada kembarannya, dia selalu setia menjaga setiap waktu , sepulang sekolah .


Ferda sedang terlelap tidur, dengan bantuan alat penambah cairan atau infus, dan juga di hidungnya terdapat selang oksigen, agar dia bisa bernafas.


Ferdy pun mulai menggenggam erat tangan kembarannya itu dengan lembut, tiba-tiba ia menitihkan air mata di kedua pipinya.


"Ferda , aku sangat sayang kepadamu, aku harap kau bisa bertahan, dan kita lalui semua bersama." ucap Ferdy putus asa.


"Bertahanlah, aku akan menjagamu ya ,aku mohon." ucap Ferdy lirih, sambil menitihkan air mata di kedua pipinya.


Kembaran Ferdy masih tetap saja terbujur di kamar, dengan bantuan alat kesehatan, dia amat beruntung masih bisa bertahan, tidak meregang nyawa.


Flash back saat mereka berdua di masa kecil.


Akibat kecelakaan pesawat yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu, mereka berdua pun harus bisa merelakan kepergian kedua orang tuanya. Walaupun nasib sial yang terjadi tiba- tiba itu, bagaikan menelan beberapa pil pahit dengan terpaksa.


Kini si kembar pun harus menjadi anak yatim piatu, dan saling menjaga satu sama lainnya.


Beberapa minggu yang lalu Ferda yang tidak mampu membayar uang sekolah, terpaksa menjual dirinya kepada seorang pria hidung belang, karena saat ia menjual diri di ketahui oleh beberapa teman sekelasnya, Ferda pun di ancam mereka, jika tak menuruti kemauan beberapa temannya, video syur nya akan di sebar luaskan di internet. Karena ia ketakutan Ferda menuruti semua yang di perintahkan.


Lalu ketika Ferda sudah tak tahan lagi dengan semua penghinaan serta perlakuan mereka terhadap dirinya. Dia pun putus asa dan ingin sekali mengakhiri hidupnya.


Tak ada yang bisa di jadikan tempat bercerita, apalagi untuk membagi beban pedih teramat sakit, saat Ferda berusaha bunuh diri, dengan meloncat dari atap rumahnya, Ferdy berhasil membawa ke rumah sakit tepat waktu, Ferda masih bisa di selamatkan, karena dia gadis yang masih mempunyai keberuntungan .


Ferdy yang sangat menyayangi, karena tidak ada lagi saudara ataupun orang tua, baginya kembarannya adalah segala-galanya.


Ferdy tertidur di dekat tubuh Ferda, sambil menggenggam erat jemarinya.

__ADS_1


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


"Alan, ayo kita pulang kita bicarakan masalah ini di rumah Ana.." ajak Jimmy kepada Alan.


"Ana siapa?, apa dia pacar barumu?" tanya Alan kepo mendekati Jimmy ,yang sedang membereskan semua peralatannya.


"Nanti kau juga tahu, diamlah mulutmu , dan berhenti bertanya." ucap dari Jimmy, sambil memakai tas ransel miliknya.


"Huuu, galak banget sich..." gerutu Alan.


"Ck, aku kan hanya bertanya Jim, kalau begitu kita mampir beli ayam crispy dan nasi hangat ya." ajak Alan, dan melingkarkan lengannya di pundak Jimmy.


"Baiklah, aku juga lapar, belilah yang banyak aku rasa Ana, juga mau." ucap Jimmy.


"Wauw, perhatian sekali kau pada Ana, baru kali ini ada seorang wanita yang membuatmu seperti ini, menjadi seorang pria yang yang sok care, menginap di rumahnya membawaku juga, apa tidak apa-apa?" tanya Alan makin penasaran.


"Sudahlah Alan, diam mulutmu." jawab Jimmy ketus.


Mereka berdua, teman karib itu kini berjalan menyusuri koridor, dan menuju tempat parkir mobil. Saat masuk kedalam lift untuk turun, seorang wanita memakai rok mini bewarna merah pekat, ikut masuk kedalam.


Sambil menenteng tas biru branded terkenal. Aroma parfumnya samgatlah menyengat, dan baunya mirip dari bunga lilac, aromanya kuat dan membuat siapa saja mencium aroma itu akan menutup hidungnya. Jika kau tak tahan maka akan mual seketika.


Alan mulai melirik ke arah Jimmy, lalu sambil menelan saliva, ia menggerak-gerakkan kedua alisnya yang tebal. Dia bermaksud mengajak Jimmy untuk segera keluar dari lift, berharap memencet tombol keluar agar tida berada satu lift dengan wanita itu.


Namun Jimmy hanya menyilangkan kedua lengannya dan mengabaikan Alan. Karena ia tidak mau ambil pusing dengan tingkah laku Alan yang seperti anak kecil.


"Sialaan Jimmy, aku ini ingin muntah, karena aroma parfum yang menyengat, kenapa dia tenang saja, seolah tak mencium apa-apa?" batin Alan, sambil melirik ke arah Jimmy, dia melihat Jimmy dengan mengerucutkan bibir nya, sambil menggaruk beberapa kali rambut walau tak gatal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2