Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 52 "Enough"


__ADS_3

Pukul 11.00 wib adalah jadwal sidang karena klien Jimmy adalah seorang wanita, maka ia segera datang.


Hari ini Jimmy menangani kasus penipuan. Karena semua buktinya sudah ada di dalam dokumen, ia siapkan bersama sekertarisnya maka Jimmy amat siap memenangkan kasus ini.


Di dalam sidang yang sudah berdiri beberapa orang, setelah Pak Hakim tiba mereka semua yang hadir duduk, ini adalah penghormatan untuk Pak Hakim. Karena dalam sidang ialah yang memutuskan untuk siapa yang bersalah dan tidaknya.


Beberapa menit berlalu karena sidang akan mudah jika, beberapa orang berkata sesuai dengan kesaksiannya.


Jimmy menerangkan beberapa alasannya dan juga beberapa bukti kasus penipuan itu.


Pak Hakim mendengarkannya, lalu sesaat di tetapkanlah berapa hukuman yang sesuai dengan penipuan yang di lakukan oleh orang itu. Jimmy pun terlihat senang karena sudah pasti menang akan kasus ini.


Ketok palu terdengar, maka putusannya akan di ambil.


Beberapa menit kemudian setelahnya semua usai klien Jimmy keluar, di iringi dengan Rena beserta bossnya. Wanita itu berterimakasih kepada Jimmy karena bantuannya membuat kasus dan sidangnya berjalan dengan lancar.


Setelahnya mereka bersalaman. Jimmy pun membalas dengan sopan karena memang itu adalah tugas pengacara. Selama semuanya lancar wanita itu pergi dengan mengendarai mobil bewarna kuning, mobilnya tak mewah sangat sederhana, namun terlihat mobilnya yang kuning itu bersih.


Terlihat terang nampak dari kejauhan, lalu Jimmy pun meminum es dingin untuk sedikit beristirahat, mengobrol dengan Rena, dia pun melepas dahaga di sela-selanya saat ini.


"Pak, kasusnya sudah selesai , aku mohon jika Bapak tidak lelah kali ini ada satu orang klien lagi, hendak bertemu Bapak." ucap Rena.


"Besok aja Rena, lagipula masih ada waktu atur ulang jadwalnya lagi, aku akan bertemu dengannya, tenang saja." ucap Jimmy.


"Iya, hari ini kau tampak seperti biasa, kau selalu baik." ucap Rena tersenyum alisnya mengernyit.


"Hem, benarkah?, pujiankah?, jangan terlalu sering memujiku, aku jadi malu Rena." ucap Jimmy menatap sekertarisnya tersenyum setelahnya.


"Pak, oh iya ada yang ingin ku tanyakan pada Anda?" tanya Rena dia melihat wajah Jimmy yang terkena sinar mentari hangat, dengan wajahnya yang bersih semakin tampan.


Kedua lesung pipinya terlihat menawan, tak itu saja gaya style rambut Jimmy amat rapi ala artis papan atas.


"Tanya saja, kau kan hafal watakku, jadi tanya saja Ren?" jawab Jimmy.

__ADS_1


"Beberapa hari ini kenapa menurut padaku?" tanya Rena, dia tersenyum hangat pada Boss nya itu. Tersirat kalau Rena itu mengaggumi bossnya.


"Ya karena tugasku harus segera selesai, dan kau tak memarahiku, kau selalu mengomel ini dan itu. Aku sudah memperbaikki diri Rena." ucap Jimmy.


"Baguslah kalau begitu." ucap Rena sedikit.


"Berikan jadwalnya padaku, aku akan segera membacanya, setelah semua tugasku kau jangan mengomeliku lagi." lirih Jimmy pada Rena, dan ia terlihat semakin maskulin.


Nampak dasi Jimmy yang bewarna maroon, dan kemeja putih di padu padankan dengan jas bagus, nampak serasi di pakai olehnya.


Di pergelangan tangannya melingkar arloji bewarna silver. Terlihat sangat pas di pakai oleh pria itu. Nampak elegan, tampan dan juga maskulin.


Jimmy duduk membaca jadwalnya hari ini sambil di terpa angin, bukankah waktu yang pas jika istirahat duduk dengan merasakan angin sejuk. Mengerjakan tugas terasa lebih ringan. Rena menemaninya karena tugasnya kali ini belum usai.Masih ada beberapa kasus lainnya.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Ana nampak keluar dari tokonya dan ia pergi untuk mengantarkan bunga pesanan seorang pria memesan bunga hari ini. Lalu Ana segera bergegas mengantarnya, dengan membawa buket bunga yang indah. Aroma bunga makin tercium, setelah beberapa menit tepat berada di depan rumah sang pemesan bunga, maka Ana memencet bel beberapa kali. Namun tak ada jawaban. Ana pun berjalan ke arah lain mencari pintu belakang namun masih tidak ada orang. Saat Ana berbalik arah ternyata ada seorang pria berdiri di dekatnya dengan suara khasnya serak itu. Menyapa Ana dan ia menepuk pundaknya satu kali.


"Hem, oh iya Nona, aku hampir lupa maafkan aku ya ." ucap Pria itu.


"Oh, iya bunganya itu sudah aku bayar kepada salah seorang karyawan lainnya ya, ehm jadi itu tinggalkan saja di kursi depan saja." ucap Pria yang memesan satu bucket bunga itu.


"Ehm... Baiklah aku akan menaruhnya disitu." ucap Ana dengan sopan.


Saat hendak berjalan ke arah lain, terdengar suara dari hewan yang mengerang kesakitan Ana mendengarnya, kedua netranya melirik ke arah kiri dan kanan. Mencari sumber suara itu


"Oh iya apakah kau tak mendengar suara dari hewan yang sakit?" tanya Ana.


"Ehmm, kenapa kau bilang demikian?" tanya balik pria itu dengan wajah yang datar.


"Aku rasa aku mendengar sesuatu, dari balik situ." ucap Ana , dia berjalan ke arah tempat sumber suara hewan yang merintih tersebut.


"Sudah, kemarikan bunga itu ..." ucapnya ia sedikit kebingungan, di rebutnya bunga dari Ana agar ia segera kembali.

__ADS_1


"Tapi kenapa Anda terlihat seperti itu?" tanya Ana.


"Sudah pergilah!!" ucapnya agak kasar.


"Baik-baik Pak, aku akan pergi terimakasih." ucap Ana.


Ana segera pergi dari rumah pria itu, namun hatinya masih berkecamuk suara rintihan dari hewan, sepertinya sedang kesakitan. Ana itu penasaran dalam benaknya pun berfikir apa ia harus berbalik arah ke arah sumber suara itu.


Tiba-tiba mobil datang dari arah lain, klakson dibunyikan beberapa kali ke arah Ana.


Tiin..tin..tin...


Suara bel klakson beberapa kali terdengar, lalu Ana menengoknya ternyata Rian sedang berada tak jauh dari Ana.


Rian keluar dan menutup pintu mobilnya, dia menyapa Ana sambil tersenyum renyah.


"Hei, An apa yang kau lakukan disini?" tanya Rian pada Ana.


"Hem, hanya mengantar bunga Rian, lalu kau tumben ada disini?, mau kemana kau?"tanya Ana dan menatap wajah Rian sangat ceria entah, apa yang di fikirkan olehnya.


"Aku senang bertemu dengamu, kali ini kau jangan menolak, aku akan mengantarmu dan sebagai gantinya ini buatku." ucap Rian lalu ia mengambil tisu yang di bawa Ana.


Karena Ana sudah sering membawa tisue untuk dibawa kemana-mana, ia bawa untuk membersihkan wajahnya saat panas.


"Baiklah, terimakasih karena kau sudah baik padaku, maafkan aku tempo hari jika aku sedikit menyinggung dirimu Rian, terkadang kita sebagai manusia tak sengaja berkata kasar dan sedikit berlebihan." ucap Ana pada Rian.


"Tentu saja, aku tahu memang perempuan itu lebih sedikit emosional daripada pria, walau begitu aku cukup mengerti. Terimakasih tisu ini aku gunakan, sekarang aku akan segera mengantarmu untuk kembali." ucap Rian dia sangay senang .


Ana masuk dalam mobilnya, selang beberapa saat mereka berdua kembali kedalam toko banyak karyawan sibuk untuk menata bunga.


"Hei, kenapa kalian lalu lalang?" tanya Ana pada salah satu pegawai toko.


"Kau baru kembali, ini banyak pesanan, ayo kita kerjakan bersama." jawab dari salah satu pegawai toko.

__ADS_1


"Baiklah." Ana pun berjalan mendekati mereka dan membantunya.


Bersambung...


__ADS_2