
Setelah Alan menerima pesan dari Jimmy ia pun bingung harus berbuat apa, karena ia tak tahu keberadaan temannya sekarang sedang berada dimana. Dia pun menghubungi Ana.
"Ana kau berada di mana?"
"Aku berada di pemakaman Alan, ada apa?"
"Apa di pemakaman?, siapa yang meninggal?"
"Kenapa kau bertanya ?"
"Jawab dulu Ana siapa yang mati?, apakah Jimmy?" cecar Alan kebingungan karena dia baru saja mendapat pesan dari sahabatnya .
"Tentu saja bukan, aku tak bersama Jimmy."
"Lalu dimana dia ?, kau tahu sedang dimana dia berada ?"
"Haaa, lupakan Alan."
Ana pun mematikan panggilan ponselnya.
"Dasar semua para pria merepotkan sekali." ucap Ana, dan memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
Dia pun berjalan dengan sepatunya sedikit berbunyi, Rian yang tahu Ana tak jauh darinya menyusul dengan kaki jenjangnya melangkah dengan cepat agar bisa segera menyusulnya.
"Dengarkan, biarkan aku mengantarmu." Rian memegang lengan Ana, berharap dia tidak keras kepala meninggalkannya begitu saja.
"Aku sudah bilang , aku akan pulang sendiri, pergilah!" ucap Ana sedikit mengusir Rian.
"Ayolah, aku tak mau berdebat, disini kau tak akan menemukan sarana transportasi, kau mau bermalam di tempat seperti ini?" tanya Rian, menatap wajah Ana, terkena hembusan angin.
Semilir angin membuat kulit Ana yang putih sedikit terekspose, karena gaunnya dengan tak sengaja tertiup menyingkap, dan terlihat warna putih kulit Ana bagian paha sedikit pucat, namun Rian tak memanfaatkannya.
"Sialaaan," Ana membenahi gaunnya dengan cepat , karena gaunnya kebetulan berbahan dari kain yang tipis mudah terbawa angin .
"Pakailah ini." ucap Rian terdengar manis,dan lebih manis dari permen kapas, ataupun satu tetes madu langsung dari sarang lebahnya.
"Tak usah kau berbaik hati, minggirlah." Ana menepis tangan Rian yang hendak memberi jas yang ia lepas barusan.
"Hu, kau ini memang gadis yang keras kepala selain tak mau mendengar, kau juga tertekan aku tak bersimpati sama sekali, aku tahu kau merasa kesepian atas apa yang menimpamu, tetapi tidak banyak orang tahu kalau , semua orang tak sama Ana." ucap Rian , dan tetap tak mau meninggalkan Ana, bersikukuh.
__ADS_1
"Apa maksudmu?, aku hanya bersikap yang sewajarnya , aku hanya seorang pengantar bunga , lalu jika tugasku sudah selesai akan berakhir. Kau mau aku menerima kebaikanmu dan bersikap manis seperti gadis di jalanan yang siap menerima para lelaki." ucap Ana dan ia menyeringai ke arah Rian, lalu dia pun tersenyum miring.
"Ha, bukan itu, jangan menolak kebaikanku, aku hanya akan mengantarmu pulang saja."
"Tak usah, aku tak keberatan jika harus tidur di dekat pemakaman ini, kau tahu aku tidak takut sama sekali dengan para nyamuk dan semua mayat yang hidup kembali, bukankah itu lebih baik." ucap Ana kedua pupilnya itu terlihat melebar, dan kelopak matanya mulai terangkat,terlihat kedua alisnya juga bertemu menandakan ia marah.
"Kau berharap mereka akan hidup kembali, kau juga merindukan mereka?" cecar Rian ia menghentikan langkah Ana, sambil tertunduk
"Ya benar kau puaaaas...!" bentak Ana.
"Aku adalah anak yatim piatu, kau tahu dulu waktu sekolah semua orang menghindariku, aku hanya tinggal di sebuah yayasan itu pun kami harus saling berbagi, dan setelah aku dewasa aku mengetahui kedua orang tuaku tak mengharapkan sama sekali kelahiranku, mereka membuangku. Sejak itu lah aku tidak mau berhubungan lagi dengan kedua orang tuaku." ucap Rian.
"Aku ini adalah seorang anak dari hubungan gelap, aku tak perlu kehadiran kedua orang tuaku, menjijikkan." lirih Rian terdengar amat menyakitkan.
"Itu urusanmu, bukan urusanku." ucap Ana acuh, tak peduli sama sekali dengan semua perkataan dari pria itu.
"Kau masih lebih baik dariku An, jika masa lalumu pahit, bukankah lebih baik harusnya kau sekarang berubah menjadi lebih baik."
"Omong kosong !!"
Drrrttttt....drrrtt... Getaran ponsel milik Ana, dia pun mengangkatnya lalu Alan lagi yang sedang menghubunginya.
"Ana, kumohon kau dimana?" ucap Alan lirih
"Ayolah An , Jimmy dalam keadaan bahaya."
"Mungkin dia sedang di rumahnya, kau coba pergi kerumahnya."
"Oh, iya juga kau sedang ada dimana ? , aku akan menjemputmu..."
Ana pun mengirimi lokasinya melalui ponsel pada Alan. Tidak Lama hanya memerlukan beberapa menit saja Alan sudah tiba parkir di depan gadis yang mengenakan gaun putih itu
"Ayo masuklah, kita segera menyelamatkan Jimmy ." ajak Alan dan melirik ke arah Rian.
Ana tak menjawab namun langsung maju dan membuka pintu mobilnya.
"Ayo kita pergi, cepatlah..." ujar Ana.
"Baiklah."
__ADS_1
Alan pun menekan pedal gas agak kencang, dia mengarahkan setir mobil ke arah rumah Jimmy. Sedangkan Rian menghela nafasnya dan menyayangkan sikap Ana kepadanya.
"Sialan, kenapa dia begitu keras kepala sama sekali tak mau mendengarkanku?"
Beberapa menit telah berlalu mereka berdua melihat seseorang yang berada tepat di atap gedung, entah wanita atau pria yang sedang mengarahkan tembak laras panjangnya ke arah rumah Jimmy.
"Lihat Ana, Jimmy sedang dalam bahaya."
"Kau yakin?, apa dia hanya menakutinya saja."
"Menakuti, untuk apa ?, pasti dia salah satu wanita yang di campakan oleh Jimmy , kau tahu hati wanita selembut sutra, namun jika marah dunia akan musnah An..." ujar Alan dia menatap ke arah Ana.
"Haaa, " menggelengkan kepala.
"Ayo kita selamatkan Jimmy."
Alan dan Ana, naik lift menuju lantai atas, dan ternyata dari lift terlihat penembak itu sedang mengarahkan senapannya ke arah kepalanya Ana.
Desiinnnngggg... Dan timah panas mengarah tepat ke kepala Ana, dengan sigap Alan lalu menariknya kebawah agar peluru itu meleset.
Peluru itu menembus kaca lift, dan sukses melubanginya dengan bulatan yang sangat sempurna diameter 2 cm , dengan jari-jari 1 cm. Mengagumkan dari arah kejauhan lalu menyeringai ke arah Ana.
"Kau masih diliputi keberuntungan, lain kali kau pasti mati ..." sambil tersenyum miring.
Sekarang pistol pun di arahkan ke Jimmy, tapi hendak ia menembaknya, pelacak suhu tubuh miliknya tak mendeteksi suhu panas manusia lalu dia pun bingung kemanakah perginya pria yang akan di bunuhnya.
"Sialan melarikan diri kemana dia?"
Saat ini Alan pun sudah berada di dekat pintu rumah Jimmy, tembakan pun beberapa kali melesat hampir mengenai tubuhnya.
Alan pun berjalan menjauh dari pintu rumah Jimmy.
"Dia tahu kalau aku dan kau berada disini, pasti dia menggunakan alat pelacak suhu tubuh Ana," ujar Alan dengan mengamati sekitar .
"Bagaimana kau tahu Alan?," tanya Ana baru pertama kali ia mendengar alat tersebut.
"Tentu saja, aku seorang polisi yang tangguh, cerdas dan berwibawa, aku ini salah satu dari mereka yang bisa menangkap musuh dengan mudah." ucap Alan dengan percaya diri tinggi tingkat dewa.
"Lalu ini, untuk apa mengajak wanita kemari Alan? , jika kau bisa menangkapnya dengan mudahnya." ledek Ana, karena tahu jika Alan hanya membual saja tak benar-benar serius.
__ADS_1
Terlihat Alan bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Ana, yang di lontarkan saat ini. Bahkan ia mengingat akan mengajaknya untuk menangkap pembunuh pada Jimmy beberapa hari yang lalu. Karena ingin sekali memanfaatkan kepintaran Ana.
Bersambung....