
Fajar kini menyingsing di ufuk timur, mengusir hawa pagi , embun pagi segera merajuk akan ulah sang fajar. Dengan menundukkan wajah ia lemas namun dengan terpaksa pergi tetapi hanya untuk sementara saja karena keesokan paginya tentu ia akan datang kembali.
Fajar tersenyum amat manis dia pun berhasil mengusir embun dengan segera. Apa yang ia fikirkan sehingga senyumnya membuat para daun serta rumput kini bewarna kehijauan sembur keemasan sangat cantik di pandang.
Pagi ini Ferdy yang akan berangkat kesekolah mengemasi semua buku dalam tasnya. Lalu mengambil air hangat membersihkan tangan wajahnya Ferda dan yang sedang berbaring di kamarnya. Setelah menyekanya, membersih kan tubuh Ferda yang kotor, segera merapikan kembali menatap adiknya yang manis masih tak kunjung membuka matanya.
"Aku berangkat dulu ya, kau baik-baik." ucap Ferdy sambil mengecup kening adiknya.
Beberapa menit kemudian setelahnya Ferdy sudah masuk kedalam gerbang kelas , lalu ia berjalan menapakkan kakinya perlahan tetapi pasti. Akhirnya tepat di depan kelasnya ada seorang gadis berambut gelombang, kedua bola matanya bewarna hitam legam, dan pipi gadis itu terlihat memerah. Sangatlah cantik jelita, dengan seragam sekolah lengkap, dan juga memakai pemanis bibir bewarna pink terlihat senyumanya merekah.
Bak bunga sepatu warna kuning yang di terpa angin sepoi-sepoi.
"Ada apa?, kau pagi sudah ada di depan pintu kelasku?" tanya Ferdy pada gadis itu sambil mengamati gerak-geriknya.
"Ehm, aku hanya menunggumu Ferdy, oh iya bolehkah aku meminjam buku di tasmu itu?" tanya gadis itu.
"Apa yang kau maksud?, apakah kau belum mengerjakan pr?" kedua bola mata Ferdy pun seketika membulat.
"Iya, benar tadi malam aku ketiduran jadi aku lupa mengerjakannya." ucapnya gadis itu dan menggerak-gerakkan kedua kelopak matanya.
"Oew, lain kali jangan seperti itu." ucap Ferdy dan ia membuka tasnya mengeluarkan buku.
"Ini,"
"Makasih ya." ucapnya berterimakasih dan ia pun pergi.
Setelah beberapa menit pun berlalu bel pun berbunyi, datanglah seorang guru yang amat cantik, dengan wajah tirus pipinya bersih, dan mengenakan baju seragamnya rapi kemudian berdiri tegak, dengan menggunakan sepatu fantofel, tepat di depan papan white board .
"Selamat pagi semua, aku harap hari ini kalian bahagia selalu, serta sehat karena ibu guru akan mulai pelajarannya." ucapnya, lalu fokus menatap ke arah semua siswa dalam kelas.
Menggerakkan netranya, mengamati semua siswa yang ada di dalam kelas itu.
"Oh, jangan lupa pr nya kalian kumpulkan." ucap bu guru itu dengan lemah lembut.
__ADS_1
Setelah itu beberapa siswa menaruh bukunya di meja dengan rapi, bergantian lalu saatnya Ferdy menaruh tepat di meja buku pr miliknya dengan menundukkan wajahnya.
Terlihat wajahnya amat muram tanpa senyum sama sekali. Terlihat tertekan, dan juga masih ada beban di wajahnya.
"Sebentar, Ferdy kenapa hari ini kau sangat murung?" tanya Bu guru dengan menatapnya.
"Tidak apa-apa Bu, aku hanya sedang kurang fit." ucap Ferdy, berkilah berusaha menutupi perasaanya pada Bu Guru.
"Baiklah, aku kira kau berbohong cerita saja." ucap Bu guru dan mendekati Ferdy.
"Tidak Bu, tak apa-apa?" ucapnya dengan lirih.
"Baiklah aku tak memaksa, kalau begitu kau kembali ke mejamu silahkan ." ucap Bu guru.
Ferdy berjalan dan kembali duduk, saat itu ada seorang pria, yaitu siswa salah satu dari kelas Ferdy, berdiri dan kebingungan mencari sesuatu. Lalu mengacak-acak isi dalam tas miliknya semua barang di keluarkan tetapi tetap tak menemukan barang yang ia cari.
"Hem," Bu Guru berjalan mendekatinya.
"Benar ponsel milikku terbaru hilang pastilah Ferdy pelakunya..." ucap dari siswa itu sambil menyeringai.
"Hem, jangan begitu kau yakin kalau ponsel milikmu hilang bukan kau lupa menaruhnya?" tanya Bu Guru.
"Benar lihat saja, dalam tas tak ada , dalam saku celana juga tak ada." jawabnya sambil merogoh saku celana miliknya.
"Baiklah, hari ini Ibu mengurungkan pelajaran mencari ponsel milikmu, tapi ingat jangan kau menuduh sembarangan , lagipula kenapa kau langsung menunjuk Ferdy?" tanya Ibu Guru makin penasaran.
"Ehhm, aku yakin dia , kan dia siswa yang tak punya ponsel, dan iri dengan ponsel baruku." sambil melirik Ferdy.
Saat itu pun juga Bu Guru langsung membuka tas milik Ferdy dengan cepat, Bu Guru terkejut karena ponsel milik salah satu siswa itu ada di dalam tasnya.
"Hemmmm," menghembuskan nafas melalui hidung, Bu Guru menatap Ferdy, namun pria itu menunduk dengan lemas, dan tak berkilah.
"Ferdy, Ibu Guru mau tanyak?"
__ADS_1
Ferdy hanya mengangguk pasrah.
"Dengar, kenapa melakukan ini?, bukankah ini tindakan yang tak baik, bisa ceritakan kepada ibu lalu kenapa kamu mengambil barang milik orang lain?" Bu Guru, mendekati Ferdy dan ia melihat raut wajah Ferdy yang datar.
"Hem haa, aku akan berbicara jujur Bu, aku tak mengambilnya sama sekali. Aku tidak tahu kalau ponsel itu dalam tasku." ucap dari Ferdy singkat.
"Kau yakin, kalau begitu kalian berdua ikut Ibu ke ruang BK (Bimbingan Konseling)"
Akhirnya mereka berdua duduk di hadapan Bu Guru. Ferdy hanya menunduk dengan pasrah.
Sedangkan siswa satunya itu menatap Ferdy dengan tatapan ingin memukul amat geram.
"Hei Arkan, dengar apakah kau tak berbohong kepada Ibu Guru?" tanya Bu Guru dengan raut wajah serius, nampak alisnya mengernyit.
Menatap intens wajah Arkan, dan Ferdy tetap tenang karena ia merasa tak mencuri ponsel Arkan.
"Ckkk, untuk apa?, akulah seharusnya merasa rugi !, dan kenapa aku lihat Bu Guru memihak pria ini?" kilah Arkan mencibirkan bibirnya ke arah Ferdy, dengan kedua bola matanya yang merah, terlihat raut wajah bandelnya .
Ferdy hanya diam, tak membalas perkataan Arkan, membuat dirinya semakin enggan lalu Ferdy menaruh kedua tangannya diatas meja.
"Baiklah, aku paham tapi tak bisakah masalah ini di selesaikan baik-baik." ucap Bu Guru agar Arkan sedikit mengendurkan egonya.
"Aku tak mau, aku akan memberitahu kepada kepala sekolah saja, agar dia dapat hukuman." ucap Arkan menyilangkan kedua tangannya .
"Ini kan masalah sepele, aku kira hanya salah paham, dan yang penting ponselnya sudah di ketemukan iya kan." ucap Bu Guru begitu lirih dan lembut agar Arkan tak semakin tersulut emosi.
"Ckk, tak mau aku akan melaporkan tindakan ini, karena aku kira kau juga guru yang amat lamban, seharusnya Bu Guru, mendukungku." ucap Arkan, dengan sorot mata tajamnya.
"Aku tahu Arkan, maksud ibu kita selesaikan dengan cara baik-baik dulu, baru setelah itu kau melaporkan kepada kepala sekolah." Bu Guru, memberi saran bijak pada Arkan agar ia tak langsung bergegas melaporkan hal yang sepele ini.
Arkan tak mendengar kata-kata Bu Guru, dan malahan ia menggebrak mejanya beberapa kali.
Bersambung...
__ADS_1