Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 13 "Is"


__ADS_3

Kini Ana dan Jimmy sudah berhasil melewati rumah Andrew, karena sudah malam tentunya tempat kejadian perkara akan sulit di lihat oleh orang yang tak berkepentingan .


"Ana, bagaimana kalau aku menyelidikinya sendiri?, hari ini kau pulang saja, lihatlah kau terlihat kacau." ucap Jimmy karena memang sudah malam, lagipula baju Ana juga sangat kacau.


"Tapi Jim,"


"Kau pulanglah, aku akan menyelinap sendiri, dan lebih mudah ,kalau aku sendirian." ucap Jimmy, agar Ana bisa segera istirahat.


"Apa kau akan menginap di rumahku lagi?" tanya Ana.


"Tentu saja, sekarang aku akan mengantarmu pulang ok." ucap Jimmy.


Setelah Ana turun, dan Jimmy memastikan kalau Ana masuk ke dalam rumahnya dengan selamat. Dia memutar mobilnya ke arah tkp.


Karena waktu menunjukkan pukul 22.00 wib maka tidak banyak orang. Namun ada empat pria berjaga di tempat itu. Ada garis kuning pembatas dari kepolisian yang tidak boleh di lalui sembarang orang.


Jimmy memarkir mobilnya dengan rapi, dan berjalan ke arah tempat pembunuhan. Dia pun menghitung beberapa orang , yang berjaga di sekitar tkp.


"Aduh, aku harus memikirkan caranya masuk." batin Jimmy, lalu dia mulai berjalan memutar karena di belakang ada jendela yang bisa dan mudah ia lewati. Saat akan lewat Jimmy di kejutkan seorang pria yang menepuk pundak.


"Hei, mau kemana kau?" tanya pria itu dan suaranya yang serak tak asing bagi Jimmy.


"Alaan, bagaimana kau sudah mendapatkan informasi yang sudah aku suruh untukmu?" tanya Jimmy , lalu ia menatap wajah Alan dengan seksama.


Sebelum menjawab pertanyaan Jimmy, Alan sedikit berpura-pura tidak dengar dan pria itu menggaruk beberapa kali rambutnya.


"Apa kau tidak bisa mendapatkan informasi yang sudah aku berikan kepadamu??" tanya Jimmy makin penasaran.


"Maafkan aku Jim, aku tak bisa mendapatkan apa yang kau mau." jawab Alan, dan membuat Jimmy kecewa.


"Kau ini Alan, kenapa kau tak bisa berakting? aku tak janji bisa mengenalkan seorang gadis kepadamu..." ucap Jimmy, membuat Alan kini juga amat kecewa.


"Ayolah Jim, jangan pelit dong." ucap Alan.


"Aku memang tak bisa memberimu informasi tapi aku bisa membawamu masuk kedalam tkp bagaimana??" ide Alan seketika membuat Jimmy sumringah, dan puas sebagai gantinya


"Baiklah aku mau, cepatlah bawa aku masuk." ucap Jimmy tersenyum amat sumringah.

__ADS_1


"Tapi pakailah ini, dan ini." ucap Alan lalu ia memberi Jimmy kaca mata dan name tag palsu bukan nama Jimmy.


"Oh, pandai juga kau, I Like it...." ucap Jimmy pada Alan sambil menunjuk jarinya ke arah Alan.


Alan dan Jimmy pun berjalan ke arah tkp, dan sekarang mereka melewati pintu utama, para penjaga tidak curiga sama sekali karena Alan adalah seorang polisi, mereka mengira jikalau Jimmy adalah patner dari Alan.


Kini mereka pun berada di dalam,Jimmy amat senang karena mendapatkan teman seorang polisi, yang cukup bisa di andalkan baginya.


Jimmy dan Alan menyelidikki lagi kasus dari kematian seorang pria yang bunuh diri , dan mati karena akibat lilitan senar biola.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Di rumah Ana yang lapar membuat mie yang hangat, sambil beberapa kali menggosokkan tangannya yang kedinginan.


Di dekat mangkuk berisi mie yang baru saja ia buat, Ana duduk sambil agak melamun, tatap an matanya kosong, karena ia sedang berfikir sesuatu.


"Haa, apa yang sedang aku fikirkan?" gumam Ana, lalu mulai menyeruput mie buatannya sendiri, sesekali juga mengaduknya.


Glodaaakkkkk !!!!


"Suara apa itu?" ujar Ana amat terkejut, dan dia berjalan ke arah sumber suara terdengar keras di telinganya. Seperti benda berat yang jatuh.


Ponsel Ana bergetar, lalu dia membuka pesan ternyata dari Jimmy , ia akan pulang malam tak usah lagi menunggunya, dan jika tidak dia akan tidur di rumah temannya hari ini.


"Siaaaal, kenapa perasaanku takut?, ada apa ini?" batin Ana yang sedang berkecamuk, dan ia berjalan dengan pelan sambil mendekati sumber suara yang membuatnya terkejut itu.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Dan sekarang di malam yang gelap gulita ini, seorang pria berhasil di sekap oleh seorang gadis. Dia berada di sebuah tempat seperti gudang, lembab, kotor, juga sangat pengap di dalamnya. Dia membuka kelopak matanya .


Mengamati dimanakah dia sedang berada .


"Hm, kenapa aku berada disini?" gumamnya sambil berfikir keras apakah yang sebenarnya terjadi padanya .


Tik, tik , tik... Bunyi beberapa tetes air yang terdengar akibat sisa-sisa hujan yang lebat.


"Siapa yang menyekapku?, Ha, kenapa tangan ku tak bisa di gerakkan...???" gerutu pria itu sambil menggerak-gerakkan berusaha untuk melepas ikatan di tangannya dan juga di kaki nya.

__ADS_1


Karena mulutnya sedang di plakban, maka ia tak bisa berteriak meminta tolong.


Terdengar bunyi suara keras di dalam gudang membuat pria itu pun bertanya-tanya dalam benaknya, suara apakah yang membuat bulu kuduknya mulai meremang.


Di luar gudang ternyata seorang gadis berkulit pucat akibat berlama-lama bermain air hujan , dia sedang asyik memotong-motong sesuatu.


Dak...!!! daaaakkk!!!


Suaranya yang keras, hampir mirip seorang penjual daging ayam atau daging sapi ketika ia memotong jualannya .


Ternyata gadis itu asyik memotong bagian tubuh seseorang, dia memotong kaki dan juga tangan seorang manusia. Dengan pandangan tak wajarnya, seperti seorang gadis yang tak normal sekali. Setelah ia memotong-motong bagian berukuran kecil-kecil dia pun terdengar memanggil sesuatu .


"Swiiiiit..." bunyi panggilannya.


Ternyata ada beberapa hewan datang mulai mendekati gadis itu. Lalu ia memberikannya pada mereka. Yaitu potongan-potongan kecil tubuh seseorang.


"Makanlah, aku rasa kalian sudah tidak sabar." ucapnya sambil mengelus bulu hewan itu .


Mereka semua makan dengan lahap hanya menyisakan tulangnya saja. Hanya sekejap saja.


"Kalian boleh pergi, nanti aku akan memberi makanan penutup tunggu saja ." ucapnya dan tersenyum miring ke arah lainnya,dan dengan tatapan yang tidak normal.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Alan yang sedang fokus dan mengamati tiap detail tkp dari kasus bunuh diri ini. Sedangkan Jimmy sekarang sedang mencari sesuatu , terlihat ia sangat sibuk melihat-lihat semua kolong, dan juga memperhatikan meja, kursi, serta semua detail benda yang berada dalam ruangan itu.


"Apa yang kau lakukan Jim?" tanya Alan, dia melihat ekspresi Jimmy sangatlah fokus, dan raut wajahnya semakin serius, kedua alisnya mengernyit. Dan dia juga mengabaikan Alan, tak mendengar pertanyaannya.


"Jimmy, apa yang bisa aku bantu?" tanya Alan untuk kedua kalinya agar dia bisa mendengar pertanyaan darinya.


"Oooh, maaf ya Alan bisakah kau mencarikan benda ini?" ucapnya sambil memperlihatkan sebuah foto di ponsel miliknya pada Alan.


"Oh, ini , baiklah aku akan membantu mencari apakah benda penting untukmu?" tanya Alan.


"Tentu saja Alan, cepat bantu aku ok." ucap Jimmy, dan meneruskan pencariannya.


Mereka berdua mencari benda yang dicari oleh Jimmy, menurutnya itu adalah benda yang amat penting dan bisa untuk salah satu petunjuk kasus ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2