Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 28 "Predator"


__ADS_3

"Kenapa jangan sok suci?" ucap Ana lalu ia menyeringai ke arah Alan dan Jimmy.


"Padahal kalian sudah beribu-ribu , berjuta- juta kali melepaskannya kan , dasar pria otak kotor yang sok suci ..." ucap Ana dan pergi ke arah lainnya.


Jimmy kini menelan ludahnya dengan kasar, dia pun membersihkan ruangan yang lebih tepatnya bisa di sebut medan pertempuran .


Padahal sudah sering kali Ana di ingatkan tapi Ana tetap dengan kebiasaan buruknya selalu membuang benda sembarangan, tak itu saja tak pernah rapi sama sekali.


Bahkan Ana sangatlah menyukai beberapa sampah dan mengoleksinya, atau bungkus mie di simpan di lemari piring dengan rapi.


Pernah setelah ia membunuh seekor kecoak, dia tidak cuci tangan langsung melanjutkan makannya lagi. Padahal serangga yang satu itu dipenuhi bakteri serta sumber penyakit lainnya. Ana adalah gadis yang aneh dan juga jorok sekali.


Jimmy pun langsung mengambil japit , dan memasukan semua pakaian kotor Ana ke dalam keranjang bajunya.


"Jim, kau yakin dia adalah manusia ?" tanya Alan .


"Tentu itu lebih baik Alan , biarkan saja dia."


"Aku merasa Ana bukanlah manusia Jimmy, setahuku jika seorang gadis mengetahui ada pria masuk kedalam rumahnya pasti dia akan merapikannya dan juga memberi parfum, itu bertujuan agar image nya bagus , tapi untuk gadis satu ini aku tak tahu harus bicara apa ?" ucap Alan masih heran , dan tertunduk lemas.


"Menurutku dia hanya ingin mengusir kita ." jawab Jimmy lirih dan dia pun melanjutkan membersihkan rumah Ana , karena ia tak mau banyak kotoran membuat pandangannya tak nyaman sama sekali .


"Jim aku sebaiknya pergi saja ya ." Alan pun pamit kepada temannya itu.


"Baiklah terserah kau." jawab Jimmy .


Beberapa menit kemudian Ana pun duduk terlihat ia sangat serius membenahi tasnya.


"Kau sedang apa ?" tanya Jimmy .


"Aku hanya membenahi tas ini, kenapa kau masih disini ?, pulanglah ke rumah mewah mu , aku rasa disana lebih layak dan nyaman." usir Ana , sambil melihat ekspresi Jimmy .


"Ehm, terserah aku."


Terlihat Ana kali menjahit tali tasnya , dan dia memberikan peniti tepat di robekkannya agar bisa di gunakan lagi .


"Apa tidak sebaiknya kau membelinya lagi ?" tanya Jimmy , melihat keadaan tas Ana yang sudah tak layak .


"Ehm, aku tak menggunakannya hanya saja ini adalah tas pemberian almarhum ibuku ." jawab Ana.

__ADS_1


"Ehm , kalau begitu mau beli tas besok ?" ajak Jimmy kepada Ana , dia masih menatap tas yang di pegang Ana tersebut .


Ana menggelengkan kepalanya , lalu menaruh tas itu .


"Lalu kenapa tidak mau ?, apa kau tak punya uang ?" tanya Jimmy penasaran .


"Sebenarnya uang dari hasil kerja keras kedua orang tuaku itu , sudah ada di dalam rekening sebuah bank, beserta beberapa asuransi, tapi aku tak mau menggunakkannya Jim ." ucap Ana dan terlihat bersedih .


"Hemmm haaaa , pakailah mereka memberi agar kau bisa menggunakannya." ucap Jimmy


"Bukan begitu , ckk kau itu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku." ucap Ana lalu ia pun, menatap mata Jimmy dengan serius.


"Memang aku tak akan pernah tahu sampai kapan pun."


"Aku akan menggunakan uangku sendiri saja."


"Hmmm, terserah kau An."


"Oh iyaaa tempo hari kau juga memberiku ini, aku kembalikan ya , aku hanya membantumu saja , jadi tidak usah di lanjutkan beraktingnya ok. " ucap Ana sambil memberikan kartu pada Jimmy .


"Aku berhutang padamu..." sambil menerima kartu miliknya sendiri.


"Satu lagi kenapa kau bisa mengenalku, dan tiba-tiba datang ke toko bunga milik Ralin ?" tanya Ana dengan penasaran.


"Sebenarnya aku tahu kau saat kau membeli sebuah makanan An, yang tepatnya di pinggir jalanan, kau sudah lupa dan aku tidak." jawab Jimmy dan tersenyum kecil .


"Membeli makanan di pinggir jalan , kapan?"


"Ckkk, begini suatu hari saat aku lupa bawa dompetku , kau membayarkan makananku , baru kali itu , seorang pria terlihat tak mampu di mata seorang gadis..." ucap Jimmy dan ia menggelengkan kepalanya .


"Kau membeli makanan apa ?" tanya Ana.


"Ehmm, aku membeli nasi goreng di pinggir jalan , ternyata aku lupa membawa dompet , lalu kau pun membayar makan malamku, kau lupa waktu itu memang agak gelap , kau pasti tak ingat wajahku .. Tapi aku mengingatnya."


"Kau sudah memastikan kalau itu aku?"


"Tentu saja , apakah kau sering seperti itu ?"


"Bukan begitu Jim , aku jarang sekali membeli nasi goreng, apalagi saat malam , apa kau tak salah orang ?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak An."


"Haaa, sudahlah kau membuatku bingung ."


Ana pun terdiam berusaha mengingat kapan ia bertemu Jimmy untuk pertama kalinya, dan malam saat membeli nasi goreng .


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Malam ini seperti biasanya predator sedang mempermainkan mangsanya . Terlihat kali ini adalah seorang wanita paruh baya kesakitan memegangi tangannya yang tinggal sebelah.


"He...he..he..." terkekeh tidak normal.


"A..apa yang...ka..kauu...mau?" tebata-bata dengan menatapnya ketakutan , karena yang ada di depannya adalah seorang pembunuh sadis .


"Kita bermain, kau pintar memilih tanganmu yang di potong terlebih dahulu , kali ini kau boleh berlari semampumu , dan semakin jauh itu lebih baik..." ucap sang predator menatap dengan tatapan senang juga tak normal.


"Ba...baiklah..." dengan nafas terengah-engah ia pun berlari karena kakinya yang masih utuh wanita itu bisa berlari dengan kencang .


"Baguuuuussssss , lari.... Larilaaaaah... Ha.. Ha... Ha.."


"Dasar gadis gila sialan !! , tanganku satunya hilang..." batinnya, sambil memegangi lengan nya yang sudah di potong terlihat tulang dan otot-otot mencuat dari balik bekas potongan, penuh darah yang masih menetes , ia berlari sekencang-kencangnya tetap berusaha tidak tertangkap gadis gila itu.


Namun karena tetesan darah memberikan jejak pada wanita itu maka gadis itu mulai menyusuri bekas darah yang menempel di bawah.


Dengan derap langkah kaki yang membuat jantung wanita paruh baya itu, yang semakin berdentum-dentum, beberapa kali juga ia pun menyeka wajahnya penuh dengan peluh .


"Ya Tuhan aku mohon , selamatkanlah aku , dari gadis gila ini..." ia pun berdoa di dalam hati kecilnya agar bisa lolos dari maut yang sedang menghampirinya saat ini.


"Dimana kauu ?, tunggu aku disitu , jika kau tertangkap boleh aku meminta satu kakimu saja. He...he...he.. " terkekeh sambil berjalan ke arah wanita paruh baya tersebut .


Padahal wanita itu sudah berusaha keras agar tak tertangkap , berlari cukup jauh agar ia bisa selamat dari gadis ini. Dengan nafas yang semakin tidak beraturan , tubuhnya di penuhi keringat dingin , dentuman jantungnya yang membuatnya semakin kebingungan .


Namun usahanya masih sia-sia , karena gadis itu berhasil menyusuri jejak tetesan darahnya.


"Ha... Kau tertangkap..." ucapnya, lalu dia kini mengayunkan satu tebasan kapak di kakinya.


"Daaaaaggggghhh..." suara kapak.


"Aaarrrrgghhh!!!!!" pekik wanita itu kesakitan kakinya yang sebelah lepas , dan darahnya kini berhamburan .

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2