Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 16 "What"


__ADS_3

"Dimana kau?, aku akan mencarimu, jika aku menang kupastikan kakimu dulu yang akan aku potong, awas jangan lengah...." ucapnya dan menyeringai sambil mencari keberadaan pria itu. Berjalan tanpa alas kaki, telapaknya di penuhi lumpur dan juga terkena duri tetapi gadis itu tak terpengaruh sama sekali.


Lalu pria itu menutup mulutnya, karena nafas yang ia hembuskan masih saja bisa terdengar olehnya. Matanya pun terlihat ketakutan dan tubuhnya menggigil bergetar hebat, karena ia mendapati seorang gadis aneh yang bisa saja memutilasi tubuhnya kapan saja.


Dengan degup jantung yang terpacu makin kencang, ia merasa nyawanya sudah berada di ambang kematian, dan berharap bertemu dengan seseorang yang bisa menolongnya.


"Na...na...na....," sambil menyanyi dengan nada yang sedikit aneh, ia mencari pria itu layaknya teman bermain petak umpet.


Sambil menyeringai, dan juga telinganya yang peka berusaha mendengar degup jantung dan juga nafas yang tersengal itu.


"Jangan harap kau lepas dariku, pastikan kau tak tertangkap olehku, karena aku pasti akan memotong kakimu yang jenjang , he..he..he.." sambil terkekeh dia menyusuri tempat itu, dan membawa sebilah pisau di tangannya.


"Ya Tuhan, apakah dia adalah manusia?,atau dia malaikat maut yang menyamar sebagai manusia?" batin pria itu, menahan nafasnya


agar tak terdengar oleh gadis yang berbahaya


Pria itu sudah sangatlah berhati-hati saat dia bersembunyi, dengan menutup mulut rapat- rapat menahan suara nafasnya yang tidak beraturan. Degup jantungnya makin terpacu, keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya.


Tak itu saja beberapa kali ia menatap kakinya yang jenjang , setelah mendengar perkataan bahwa kakinya di potong hidup-hidup, pria itu nyalinya menciut seketika.


Badannya terasa amat lemas, tidak berdaya.


"Hai, dimana kau..??" ucap gadis itu, dan dia menyeringai menatap sebuah tempat yang bisa di jadikan tempat persembunyian.


Ketika ia masuk kedalamnya, ternyata tidak ada sama sekali orang ,bahkan seekor lalat pun.


"He...he...he... pandai juga kau bersembunyi, baru kali ini aku bermain petak umpet, tetapi ada yang bisa bertahan lama dariku."


"Lihat dengan teliti kakimu yang masih utuh itu, setelah ini kau akan merindukkannya di neraka, hihihi...." ucap gadis itu, matanya yang tajam sudah menuju satu arah.


Dan langkah kakinya terdengar pria itu, dan makin ketakutan di buatnya. Perlahan makin mendekat gadis itu ke tempat persembunyian pria itu.


"Tap...tap...tap.."


"Taraaaa..Aku menemukanmu.." ucap gadis itu dan seketika mencengkram pergelangan kaki dengan sekuat tenaganya.


"Lepaskan... Lepaskaaaaaannnn....!!!!" teriak pria dengan sekencang-kencangnya dengan nafas yang kelelahan dan tidak beraturan.

__ADS_1


Namun tetap saja tak menghiraukannya, di raihnya kapak besar miliknya yang berada di dekatnya, lalu dia mengayunkannya secepat kilat tepat di kakinya, dengan satu kali tebas.


Seketika darah terciprat dimana-mana. Kaki yang jenjang milik pria itu putus dan terlihat otot-ototnya, beserta tulang berbalut daging itu mencuat seketika itu juga.


Teriakkan yang keras menggema , namun tak terdengar orang lain, selain mereka berdua.


"Aaaaarrrrgggghhhh.....!!!" teriakkannya keras memenuhi semua sudut.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Ana beberapa kali menguap karena sudah tak tahan lagi, akan mengatupkan kedua kelopak matanya yang indah.


"Kenapa belum sampai juga?, apakah mereka tersesat??" gumam Ana, sambil mengusap kedua kelopak matanya.


Beberapa menit kemudian, tidak lama Jimmy dan Alan masuk kedalam rumah Ana, mereka membawa ayam krispy bersama nasi hangat.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Ana pada Jimmy.


"Ini untukmu, dia yang mengajak membeli beberapa makanan." ucap Jimmy sambil melirik ke arah Alan, lalu dia menyodorkan bungkusan untuk Ana.


"Kenalkan namaku Alan." ucap Alan sambil melihat wajah Ana dengan seksama, teliti namun Ana terlihat mengabaikannya tanpa melihat wajah Alan.


"Iya, aku Ana ." jawab Ana menjabat tangan Alan, lalu melepasnya.


Kemudian mereka bertiga duduk di sebuah karpet, Alan mengamati rumah Ana, jauh dari kata layak, tidak ada hiasan. Berukuran kecil, kumuh, banyak barang kotor berserakkan dan seharusnya dengan keadaan ini Jimmy tak akan pernah mau tinggal di rumah milik Ana.


Beberapa kali Alan menggaruk rambutnya, walau tak gatal sama sekali, dan melirik ke arah Jimmy yang menatap fokus layar laptop miliknya.


"Ckkk, apakah aku bermimpi?, Jimmy tinggal di rumah yang kumuh ini, dan mau menginap dengan seorang gadis, bahkan ia tidak terlalu cantik." batin Alan, dan beberapa kali kelopak matanya di gerak-gerakkan.


"Kenapa kau diam saja? , makanlah katanya kau lapar." ucap Jimmy dan terus menatap layar laptop miliknya.


"Baiklah Jim, kau tak makan?" tanya Alan.


"Makanlah duluan." jawab Jimmy.


"Aku mengantuk, aku akan merebah sebentar kalian bisa tidur disini,oh iya dan aku sudah menaruh beberapa selimut di situ. " ucap Ana sambil menunjuk ke arah dekat Alan.

__ADS_1


Jimmy membalas ucapan Ana hanya dengan mengangguk saja.


Ana pun bergegas masuk kedalam kamarnya.


"Jim, apakah kau masih waras??" tanya Alan.


"Apa kau menghamilinya Jim?, atau kau di peras?, apa dia tahu rahasiamu?" tanya dari Alan, dengan suara yang amat lirih, agar tak terdengar Ana. Alan sangatlah kepo kepada sahabatnya itu.


"Diamlah mulutmu!, kau selalu saja berkata sesukamu, makanlah dengan kenyang lalu bantu aku." ucap Jimmy dengan serius pada Alan, tapi dengan suara lirih.


"Tapi..." sebelum Alan melanjutkan ucapan Jimmy memasukkan ayam goreng kedalam mulutnya agar berhenti bertanya.


Karena Jimmy sudah amat muak, atas semua pertanyaan Alan yang tidak berdasar.


"Aku kan hanya bertanya saja Jim, kenapa kau jahat sekali padaku??" ucap Alan sebal sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Alan makan tapi matanya tetap mengamati ruangan kecil yang saat ini ia tinggali, rumah Ana yang kumuh membuat Alan tak nyaman.


"Jika kau tak mau membantuku, kau pulang saja ..." ujar Jimmy dan menjitak kepala Alan.


"Argghhh, Jim aku serius tanya, apa otakmu tidak waras?" tanya Alan lagi dan mengelus kepalanya


"Lihatlah Jim, rumah ini lebih jelek dari rumah hantu, dan tidak layak sama sekali, bahkan itu wanita yang masuk dalam kamar itu, sangat.. dan itu bukan sama sekali tipemu." ucap Alan


"Syuuuuut... Diamlah, jika tidak aku robek..." ucap Jimmy dan mendekatkan jari telunjuk ke bibir Alan, dan dengan suara lirih.


"Apakah dia hamil??" tanya Alan lagi dengan ekspresi wajahnya, bak seperti seorang biang gosip menantikan kabar berita terbaru, siap akan mengedarkan keseluruh penjuru dunia.


"Haaaa Alan, aku rasa kau seharusnya tak memakai celana, mulai besok pakailah rok, dan jangan menjadi seorang pria lagi." ucap Jimmy dengan dinginnya, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Alan terdiam mendengar ucapan Jimmy, lalu melanjutkan mengunyah makanan miliknya di mulutnya itu.


Sedangkan di kamar Ana masih belum bisa menutup kedua kelopak matanya, dia masih bisa mendengar ucapan Alan, membuat gadis itu mengernyitkan kedua alisnya.


Sebenarnya apakah alasan Jimmy, sangat peduli dengan sosok Ana ini, mau tinggal di rumah kumuh, serta memberi banyak uang pada Ana, akan tetapi dengan tiba-tiba.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2