Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 44 "Couple"


__ADS_3

Ternyata Ana dan Ferdy mengabaikannya langsung melahab makanan itu dengan nikmat , tanpa berdo'a mereka lupa yang sedang mentraktir belum memulai tapi mereka sudah mengunyah makanan yang terhidang di meja.


Jimmy tersenyum dengan hangat, merasa heran kenapa tak ada satupun dari mereka yang mendengar ocehannya. Padahal dia ingin memberikan pelajaran tentang nilai makanan dalam setiap hidangan yang akan mereka makan.


"Ha... Terserah kalian lah, aku mau makan karena aku sangat lapar." ucap Jimmy, dan ia berdo'a setelahnya mendekatkan piring yang berisi makanan ke hadapanya.


Menikmati makanannya dengan perlahan, ia menatap Ana dan Ferdy seperti anak kecil yang makan es krim, karena makan es krim waktu kecil adalah hal yang luar biasa namun saat kita sudah dewasa, semua itu terlihat biasa-biasa saja.


Setelah selesai makan mereka bertiga lanjut pergi ke rumah sakit tempat Ferda di rawat. Gadis itu sedang tak sadarkan diri, Kakaknya menatapnya dengan penuh perasaan yang mendalam. Jimmy dan Ana melihat sedang terenyuh, karena akibat dari perbuatan bully yang selalu di lakukan setiap saat pada orang lain, imbasnya adalah anak yang lemah harus terbujur di kamar. Namun sang pembully dia hanya bisa bebas lepas seperti burung yang tak berada di dalam sangkarnya.


"Ada apa Jimm?" tanya Ana.


"Aku ikut prihatin, sekarang aku tanya padamu Ferdy, sejak kapan kejadian ini terjadi?" tanya Jimmy menatap Ferdy duduk di depannya.


"Ehm, ini karena kami yang tak punya orang tua Paman, jadi Ferda menjual dirinya untuk bertahan hidup. Celakanya aku tak tahu sama sekali perbuatannya itu, malahan sekarang ia menjadi korban bully an, Arkan dan gengnya." ucap Ferdy.


"Hem, kau mau apa?, apakah kau ingin Paman memasukkannya dalam penjara Ferdy?" tanya Jimmy, dan mengelus pundak Ferdy.


"Aku hanya ingin keadilan saja, kenapa para pembully bebas dari semuanya? sedangkan, kami korban mengalami gangguan mental, dan juga selalu harus menjadi makhluk lemah setiap saat di injak-injak seperti sepatu yang tak bisa di pakai kembali." ucap Ferdy lemas.


"Dengar, aku rasa dunia ini akan tahu kalau sepatu ada satu pasang, yang satu kiri, dan yang lainnya adalah kanan, makanya kau itu harus bersabar, aku yang akan menyelesaikan masalahmu ok." ujar Jimmy beberapa kali ia menepuk pundak Ferdy.


"Apakah, jika Paman menyelesaikan masalah aku harus membayarmu?" tanya Ferdy dan ia terlihat polos.


"Tentu, kau bisa menyicilnya mana ada orang bekerja tak dapat uang untuk hasil kerja keras nya selama ini, kau hanya perlu merawat adik mu ini sementara waktu, ok." ucap Jimmy.


"Baiklah Paman," ucap Ferdy dan mengusap pipinya yang ternyata meneteskan air mata.

__ADS_1


"Hemmm, kau menangis?, kau pria tak boleh sering menangis ingat." ucap Jimmy mulai menguatkan Ferdy agar tumbuh menjadi pria yang tegar.


"Ha...Kalian seemua para pria keluarlah, aku akan merawat Ferda sejenak, karena kalian hanya mengganggu saja." usir Ana dengan sedikit mengernyitkan kedua alisnya .


Tak lama setelah Jimmy dan Ferdy pergi, dia pun membersihkan badan Ferda, tak itu saja mengganti bajunya agar terlihat bersih dan cantik.


"Dengar, kau harus bertahan , bahkan hanya kematian tidak akan menghampiri manusia yang belum saatnya pergi." lirih Ana, dan ia mengusap kening Ferda, terlihat masih tak sadarkan diri.


"Apa yang dilakukan para berandal ingusan itu?, apa mereka bukan manusia lagi?" ucap Ana, dan ia pun membuka pintu rumah sakit.


Ternyata Ferdy dan Jimmy kini pergi mencari udara segar.


"Ha, baiklah aku juga akan duduk santai."


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Hari semakin gelap ketika banyak manusia pergi kedalam rumahnya itu dan menikmati waktu santai mereka.


"Aku, adalah pria hebat... Ha..ha..ha.., kenapa aku itu harus mengemis cinta pada seorang wanita?, kalau tak suka denganku, maka aku akan pergi... Ha...ha...ha..." menenggak lagi beberapa minuman alkohol, beberapa kali juga cairan itu menetes akibat jalannya yang sempoyongan.


"Dasar wanita kepa*at....!!!" umpatnya .


Melempar botol minuman alkohol pecah.


Pyar...


Setelahnya mengambil botol baru di minum lagi, dengan perlahan-lahan.

__ADS_1


Turunlah seorang wanita cantik seksi, dan juga menawan hati, dia memakai sepatu high heelsnya berjalan mendekat. Wanita itu pun semakin menatap pria itu dengan tatapan yang tak biasa.


"Hei, dengar ...!!" nadanya agak tinggi.


"Siapa kau?, aku sedang tidak ingin bicara dengamu enyah kau !!" dengan menenggak botol minuman alkohol di tangannya, sedikit limbung karena akibat efek minuman itu.


Pria itu antara sadar dan tidak, hanya separuh otaknya berfungsi akibat minumannya yang ia minum terlalu banyak. Beberapa kali juga ia mual, karena isi perutnya memberontak akan keluar dari tempatnya.


Hueeekkkk, Hueekkkk.


"Hei, kau mau aku ajak pergi?, kau mau kita bersenang-bersenang setelah itu kau boleh meminta padaku satu hal..." ucapnya dengan menggertakkan gigi putihnya terlihat berjejer rapi, tersenyum menatap pria itu.


"Kau siapaaa?, ckk aku tak tertarik pergi saja kau !!" bentaknya dan acuh kepada wanita itu.


"Jika kau sudah muak dengan dunia ini, aku bisa mengajakmu ke suatu tempat yang tidak bisa di jamah siapapun juga, kau mau??" lirih wanita itu, terlihat lipstik di bibirnya bewarna merah menyala, dalam gelap pun kini terlihat mencolok mata.


"Hm,aku bukan muak dengan dunia,tapi aku muak dengan istriku, dia selalu membuatku bingung , seenaknya sendiri dan aku sakit..."


"Maka dari itu, bagaimana kalau kau tinggal saja dunia ini ikut bersamaku ?" ajak wanita itu dengan senyuman ala wanita tengil, dan menggoda iman semua pria.


"Tapi, setelah aku ikut denganmu apakah aku tak merasa sakit ?" tanya pria itu, mengambil botolnya lagi.


"Tentu saja, aku akan mengirimmu ketempat yang seharusnya kau singgahi." ucap wanita itu,


"Tapi, aku tak mau aku hanya akan meminum semua ini, dan melupakannya besok." ujarnya.


"Terserah kau, ingat jika kau sudah tak mau, aku akan mengajakmu kesebuah tempat ok." ujar wanita itu, dan pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Berjalan dengan cepat, lalu ia pun hilang di bawah gelapnya malam, bayangannya saja tak nampak lagi. Pria itu pingsan karena ia sudah tak kuat menopang tubuhnya, lelah dengan semua yang ada , penat hampir ia ingin meninggalkan dunia ini, tapi ternyata ia masih tetap berharap merasakan sakitnya lagi, dan lagi atas perlakuan keras dunia ini.


Bersambung...


__ADS_2