
Malam dingin ini bersembunyi dari balik celah bayangan hitam sang rembulan, Aku memang wanita lemah dan di lihat dari sudut pandang mana pun, setiap cacian ini yang aku terima memang pantas bagiku. Betapa hina diriku ini membuatku melihat wajahku sendiri di depan cermin, Aku merasa sangat jijik.
Memang betapa sangat menyedihkan hidup, tak pernah adil bagi siapa pun juga, entalah apa hanya aku yang merasa seperti itu.
Begitu banyak gadis beruntung namun tidak denganku, aku sudah bersusah payah tetapi tetap mendapat jalan buntu, saat aku berlari ternyata aku mendapatkan suatu jalan, tapi jalan yang aku temukan ternyata jurang yang amat terjal menyapaku, seolah menertawai diriku yang sudah putus asa. Aku berteriak namun tak seorang pun mengulurkan tangan nya, padahal aku merasa sakit , maka aku pun ingin mengakhiri hidupku yang nista ini.
Aku melihat bayangan rembulan di atas air menarik salah sudut bibirnya, kemudian dia melirikku seolah ikut senang dengan semua penderitaanku.
Langit pun kini berubah menjadi kelam, sama dengan yang lainnya. Seolah mereka saling mengejekku. Dimana lagi aku akan melarikan diri, tak ada tempat lagi untukku bersembunyi
Pernah sekali saat aku terbangun dari mimpi burukku, aku berharap dunia akan hancur dan aku tidak merasa kesakitan lagi seperti ini.
Tetapi ternyata dunia ini tetap berputar, abai dengan semua yang terjadi kepadaku.
Tangisku pecah beberapa kali, perasaanku tak tertahan tidak ada salah satu pun yang dapat mendengarkanku, semua air mataku seakan tidak bisa mengering. Luka ku juga tidak mau menutup. Bagaimana ini..kenapa gadis yang sepertiku harus terlahir kedunia sedangkan hanya membuat goresan cerita kelam saja.
Aku sangatlah membencinya, membenci ...
Jalan buntu lagi aku dapati dalam hidupku, aku harap semoga di dunia ini tak akan ada gadis yang tak beruntung seperti diriku.
Setelah aku mengakhiri nya , mungkin rasa sakit ini akan benar-benar berakhir.
Berhenti sampai disini....
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
"Hei Alan, kenapa kau menggerutu sendirian disini?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba duduk di dekat Alan, lalu menaruh makanan tepat di atas meja.
"Tidak, aku tanya padamu, apa aku seorang polisi yang bodoh?" tanya Alan tiba-tiba.
Wanita itu hanya menggelengkan kepala dan mengacuhkan Alan.
"Apa yang kau katakan?, ckkk"
"Aku serius..."
__ADS_1
"Hmm, habiskan makananmu jangan banyak bicara." ucap wanita itu, lalu mulai melahap makanannya.
"Aku merasa kalau aku tidak begitu bodoh." ucap Alan menghibur dirinya sendiri, sangat percaya diri.
"Kau mau aku jujur padamu." ucap wanita itu dan menaruh sendok di piringnya.
"Tentu saja, ayolah katakan padaku." ucap Alan semakin penasaran atas jawaban dari wanita yang berada di sebelahnya itu.
Bak menantikan sebuah wahyu yang akan turun dari atas langit, Alan menunggunya dengan tidak sabar, semua kata yang akan keluar dari bibir wanita itu, di simak dengan cermat oleh Alan.
"Dengarkan baik-baik, kau itu pelupa, dan kau juga sangat lamban sekali, jika aku menyuruh mengambil barang atau sesuatu, pastilah kau salah mengambilnya, kau tak peka, tidak bisa membaca situasi, kondisi, kau amat bodoh, jika mengambil tindakan sangat gegabah."
"Dan lagi, kau tidak pandai dalam segala hal dan jika kau sampai detik ini masuk di dalam sini hanya untuk cadangan, semua kasihan kepadamu Alan, kau puas masih banyak lagi kau mau aku membicarakannya disini." ucap dari wanita itu sambil melahap makan siang.
"Kau tega sekali, aku jadi tak berselera makan semua orang sama menganggapku payah." ucap Alan kecewa.
"Memang kau payah, jadi nanti jika kau sudah bertemu seorang gadis buta, segera nikahi dia agar tak kabur darimu, selagi dia belum sadar Alan." ucapnya sambil tersenyum meledek ke arah Alan.
"Sialaaaan..." umpat Alan semakin kecewa.
Suasana kantin saat ini amat ramai, jadi tak ada yang mendengarkan obrolan mereka .
"Kenapa kau tak memakan makan siangmu?" tanya wanita yang tepat duduk di sampingnya dengan mengernyitkan kedua alisnya, melihat Alan aneh, dia mengerucutkan bibirnya.
"Terserah kau ..." ucap Alan tiba-tiba.
Beberapa detik setelah berlalu Alan diam,dan kini mengajukan pertanyan pada wanita itu.
"Ehm oh iya Shanon, bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Alan , dan ia terlihat sangat serius menatap wajahnya,tak berkedip sama sekali.
"Ada apa kali ini kenapa kau sangat serius?" jawabnya dan melirik ke arah Alan, sambil mengunyah makanan di mulutnya, heran.
"Tentu saja, aku mau tanya kepadamu?, ehm bagaimana hasil otopsinya, korban bunuh diri tempo hari kemarin?, ayolah Shanon berikan aku sedikit informasi nya, ok." ucap Alan yang memohon kepada wanita bernama Shanon.
"Itu bukan urusanmu Alan, kenapa kau sangat penasaran?, apa Jimmy tetap menjadikanmu sebagai mata-mata nya?" tanya Shanon.
__ADS_1
"Ckkk, kau ini pelit sekali padaku Shanon." ucap Alan dan mengerucutkan bibirnya .
"Serius Shanon, bagaimana kalau aku akan mentraktirmu makan yang enak di sebuah restaurant mahal, mau kaaan?" bujuk Alan.
"Ciiihhh.... Kau menyogokku..., sungguh kau sudah keterlaluan Alan, Kenapa Jimmy makin membuatmu kehilangan semua kesadaranmu saja... Haaaa.." sambil menghela nafas yang panjang.
"Hemmm, kenapa kau membenci Jimmy, kau kan dulu pernah suka padanya..?" ucap Alan dan mencibirkan bibirnya ke arah Shanon.
"Ciiihhh...itu hanya masa lalu saja, sekarang aku sudah tidak suka sama sekali, dan tidak akan pernah menyukai pria seperti dirinya." ucap Shanon dengan sedikit melamun.
"Heiiii, kalian sedang membicarakan siapa?" tanya Jimmy yang datang tiba-tiba duduk di samping Alan, dengan wajahnya yang segar dan berseri-seri.
Membuat Shanon dan Alan terkejut, seketika makanan yang berada di mulut Shanon kini membuatnya tersedak.
"Uhuk....uhuuuuukkkk..." batuk.
"Ada apa denganmu, hai perawan tua?" tanya Jimmy pada Shanon.
"Kau ini benar-benar pria seenaknya sendiri, pergilah dari hadapanku." ucap Shanon sebal.
"Hmmm, terserah aku wleeeekkkkk..." ledek Jimmy ke arah Shanon dengan menjulurkan lidahnya yang panjang.
Alan hanya diam melihat mereka berdua.
"Aku baru selesai olahraga Alan, kau makan apa siang ini?" tanya Jimmy dan melihat isi piring Alan.
"Astagaaa, kau makan ini, ini tak sehat sama sekali Alan, banyak lemak dan juga kau bisa terkena kolesterol tinggi, belum lagi penyakit jantung." ucap Jimmy dengan mencibirkan bibirnya ke arah Alan.
"Kenapa kau kemari?, seharusnya kau berada di kantormu saja, dan menyuruh sekertarismu membawakan makanan kesukaanmu, bukan kesini menggangguku saja ..." gerutu Alan.
"Lagipula kau kan bukan Dokter, jangan lupa kau hanya pengacara ingatt...!!!" ucap Alan.
"Kenapa hari ini kalian berdua kompak?, ahhh terserah aku, mau pergi kemana saja, jangan seenaknya mengatur pria tampan sepertiku." ujar Jimmy dengan rasa percaya dirinya amat tinggi.
__ADS_1
Setelah merangkai semua asa, tapi tetap saja tak menemukan titik temu, namun aku masih tetap mencobanya dengan pelan namun pasti
Pungkies.