Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 8 "Fiory 2"


__ADS_3

Di toko Ana yang di hujani pertanyaan Ralin, bingung harus menjawab apa. Karena Ana tak bisa menjawabnya dengan jujur.


"Ana, kau pelit sekali, bisakah kau berikan aku sedikit tips, agar aku tidak menjomblo." ucap Ralin, mengerucutkan bibirnya ke arah Ana .


"Aku tidak tahu Nona, maafkan aku." ucap Ana


"Dasar kau ini Ana, kenapa kau amat pandai sekali ?, dalam urusan asmara , bahkan aku tak pernah punya teman dekat pria bahkan satu sekalipun dalam hidupku ini." ucap Ralin kesal dan mengerucutkan bibirnya.


Padahal Ralin adalah gadis manja dari salah satu keluarga terpandang. Dia anak seorang petinggi di kota ini. Namun tidak tahu kenapa Ralin tidak pernah mendapatkan satu teman dekat pria dalam hidupnya.


Ana mendengar keluhan Ralin terhenyak.


"Nona kau kan cantik, elegan, dan juga kau berpendidikan tinggi, aku rasa pilihlah salah satu pria yanh tepat, dengan semua kriteria yang anda milikki mustahil para pria tidak mau menerimanya." ucap Ana tulus, dan ia tersenyum agar Ralin tidak sebal.


"Apakah kau sedang meledekku?, kalau aku gadis yang tak laku..." ucap Ralin makin sebal


"Bukan begitu Nona, kalau begitu mari kita makan bersama ." ajak Ana pada Ralin agar dia tidak berfikir macam-macam.


"Makanlah, aku membelikannya untukmu, aku rasa kau adalah gadis yang paling beruntung di dunia ini , dan yang pernah aku temui, tidak seperti aku." gerutu Ralin dan ia terlihat sedih.


"Sudah Nona, jangan berfikir macam-macam. Aku rasa kau itu hanyalah melihat dari sudut pandangmu saja." ucap Ana, dan tersenyum .


"Lihatlah, apa yang kurang darimu?, walau kau hidup sendiri betapa aku sayang padamu, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri Ingat, jika kau punya masalah harus bercerita padaku." ucap Ralin, ia mulai mengerucutkan bibirnya kepada Ana, lalu ia berjalan memutar musik di toko miliknya sambil berjoged riang


I could have my Gucci on, I could wear My Louis Vuitton, But even with nothin' on


But I made you look.


I'll make you double take, soon as I walk away Call up your chiropractor, Just in case your neck break.


Ooooh Tell me what you, what you, what you gon' do....oooohh.....


Yeah...... I Look good In My versacr dress Take it off , But I'm hotter when My morning hair's a mess.


Cause even with my hoodie on, but I made you look....


Made you look Meghan Trainor


Ralin merasa lebih baik setelah ia mendengar suara musik dari penyanyi kesukaannya. Dia tersenyum ke arah Ana.

__ADS_1


"Nona, aku kira kau lah gadis yang beruntung, bahkan kau memiliki semuanya, tidak seperti aku gadis miskin yatim piatu, hidupmu amat mewah, hingga semua gadis di dunia ini akan memimpikannya, bak seorang princess di film kartun. Bahagaia bergelimang harta, tak akan pernah ada ending sedih dalamnya, hanyalah sebuah kisah kebahagiaan yang kekal." batin Ana ,ia mengamati Ralin yang sedang asyik berjoged.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Di kantor Jimmy ia sedang asyik menikmati kudapan yang dibawakan Rena untuknya,dan sambil menatap layar di laptop miliknya itu.


Hingga secangkir kopi miliknya kini tak lagi hangat. Mendingin karena sudah lama tak ia minum. Tiba-tiba telephone di atas mejanya pun berbunyi.


"Tililit...tililit...tililit...tililit..."


"Hallo, iya apa?" tanya Jimmy , lalu wajahnya kini berubah serius.


"Begini, apa kemarin malam kau bermalam di rumah seorang gadis?" tanya dari seseorang di telephone itu.


"Iya kenapa?, memang penting bagimu??" tanya Jimmy, dan mencibirkan bibirnya .


"Lalu,kenapa kau meminta bantuan padaku? jika kau tidak segera mengenalkan seorang gadis kepadaku, aku tak mau." ucapnya pada Jimmy, dengan ketus.


"Alaaaaaannn, ayolah kali ini sangat penting, aku minta bantuan ok, serius, nanti jika aku bertemu seseorang, aku akan mengenalkan kepadamu ." ucap Jimmy lembut, nadanya memohon.


"Awas kalau kau bohong..." ucap Alan.


"Tidak Alan, sudah kerjakan saja sesuai yang kuminta, sudah ya Alan, aku tutup telephone nya." ucap Jimmy lalu dengan cepat menutup telephone.


"Bwaaaaah....Kopinya kenapa tak enak sama sekali?, ckkkk apa yang dimasukkan Rena di dalam cangkir ini???" gerutu Jimmy menatap kopinya.


"Renaaaaaa !!!" teriak Jimmy.


"Iya Pak," jawab Rena.


"Kopinya kenapa tidak enak sekali?, gantilah yang baru." perintah Jimmy.


"Baik Pak." jawab Rena sekertaris Jimmy lalu ia pergi membuat kopi yang baru.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Di ruang otopsi, kini beberapa dari orang ahli forensik tengah melakukan tugasnya. Mayat yang kemarin mati akibat bunuh diri, sedang di otopsi mereka.


Mayat itu terlihat sudah kaku, dingin, bewarna kebiruan. Di lehernya ada bekas lilitan senar biola.

__ADS_1


Tak ada luka lainnya di tubuhnya, namun para ahli forensik tetap memastikan apakah mayat ini benar-benar akibat bunuh diri semata.


Mereka sangat serius dalam pekarjaannya.


"Apakah sudah selesai pekerjaanmu?" tanya salah satu pria yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan otopsi.


"Belum, kenapa kau masuk?, aku kan sudah bilang jangan mengganggu Alan." ucap dari salah satu ahli forensik, tetap fokus.


"Ayolah, aku hanya ingin melihat saja,aku janji tak akan mengganggu, lagipula kita berteman bukan?" ucap Alan hanyalah basa-basi, dan menyenggol bahunya.


"Haaa...Apa yang sebenarnya kau inginkan?, apakah kau di mintai tolong Jimmy??" tanya salah satu ahli forensik itu, lalu ia menatap ke arah Alan.


"Tidak, aku hanya akan menemanimu..." ucap Alan, lalu semua ahli forensik lainnya mulai menatap Alan.


"Kenapa dengan kalian???" tanya Alan dan ia menggerakkan beberapa kali kedua kelopak matanya.


"Keluarlaaaaahhh...!!!" teriak mereka kompak.


"Baiklah..." ucap Alan pasrah.


Lalu Alan pun keluar dari ruangan itu, dengan agak kecewa karena ia belum sempat sama sekali melihat mayat itu.


"Sialan, maaf Jimmy misi kali ini gagal ." ucap Alan yang menggerutu.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Di toko bunga kini kedatangan seorang pria memakai baju rapi, dengan warna jas hitam.


Pria itu memakai tongkat saat berjalan, dia mungkin berusia sekitar 80 tahunan, langkah kakinya agak gontai, mungkin karena dia tua maka tulang kakinya tak lagi kuat seperti saat ia muda dahulu.


Lalu ia mendekati Ralin dan Ana yang sedang asyik mengobrol. Karena toko masih sangat sepi, sebelum ia datang.


"Hallo selamat siang ." sapanya amat sopan


"Selamat siang juga ,oh iya Tuan, bisa saya bantu." jawab Ana amat sopan,ia mendekati pria itu.


"Aku akan membeli beberapa bunga, bisakah kau mengantarnya??" tanya pria itu lalu dia tersenyum ke arah Ana.


Ralin hanya diam namun ia melihat pria itu, mengamatinya, dan mengecilkan suara dari musik yang ia nyalakan.

__ADS_1


Sedangkan Ana sedang melayani pelanggan itu, dan dia memperlihatkan beberapa bunga yang bisa di beli oleh pria itu.


Bersambung...


__ADS_2